Hanya Istri Siri

Hanya Istri Siri
S2_Episode 91


__ADS_3

Eza berniat berbicara kepada orang tuanya sebelum Bu Luna yang terlebih dahulu bicara. Karena kesannya nanti Eza yang merasa malu. Apalagi jika Bu Luna menceritakan kejadian yang di lihatnya. Padahal yang di lihatnya itu tidak sepenuhnya memang terjadi.


Eza melangkahkan kakinya memasuki rumah. Dia melihat kedua orang tuanya yang sedang duduk di ruang keluarga.


"Za, baru pulang? Kok pakaian kamu beda?" Pak Juna melihat anaknya yang hanya mengenakan kaos pendek dan kolor.


"Iya, Pah. Tadi kehujanan, ini juga ganti pakaian di rumah Bu Luna."


Bu Rara menghampiri anaknya.


"Biar Mamah simpan baju yang basah ke belakang," Bu Rara mengambil kresek berisi baju basah yang di bawa oleh Eza.


"Terima kasih, Mah."


"Sama-sama, sayang." jawab Bu Rara


Eza pergi ke kamarnya untuk berganti dengan pakaian yang lebih hangat. Setelah itu dia pergi makan malam. Karena kebetulan belum makan.


Setelah selesai makan malam, Eza menghampiri orang tuanya yang masih berada di ruang keluarga.


Eza mendudukan dirinya di sofa. Lalu dia menatap kedua orang tuanya yang duduk di depannya.


"Pah, Mah, ada yang ingin Eza katakan sama kalian," ucap Eza dengan tatapan serius.


"Bicaralah!" pinta Pak Juna.


"Eza berniat untuk menikahi Lina," kata Eza.


"Menikah? Kamu tidak salah? Kamu itu belum mapan, Za." Pak Juna tampak terkejut saat mendengar penuturan anaknya.


Eza sudah menduga hal ini akan di katakan oleh ayahnya. Dia masih belum mapan, tidak punya tabungan, bahkan belum punya penghasilan tetap. Apalagi cicilan hutang yang harus dia bayar ke Zivana masih sangat banyak.


"Kenapa kamu tiba-tiba ingin nikah secepat ini?" tanya Bu Rara sambil menatap anaknya.


"Eza hanya berniat menjadikan Lina ibu sambung untuk Alana," kata Eza.


"Kamu mencintainya?" Bu Rara kembali bertanya.


Eza diam tidak bisa menjawab. Karena dia juga belum yakin dengan perasaannya ke Lina. Selama ini dia menganggap Lina hanya sebagai teman.


"Tuh kan tidak bisa menjawab, pasti ini ada apa-apanya," ucap Bu Rara.


"Bukannya Papah melarang kamu menikah, tapi apakah kamu tidak mau sukses dulu? Mau kamu kasih makan apa anak istri kamu?"


Eza hanya diam menunduk. Dia bingung mau mengatakan apa lagi agar orang tuanya mengijinkan dia menikah.


Apa aku harus bicara jika aku kepergok Bu Luna, tapi mau taruh dimana harga diriku?" batin Eza


Tring tring


Bu Rara mendengar ponselnya berdering. Ternyata itu panggilan masuk dari Zivana. Bu Rara saling mengobrol dengan Zivana. Bahkan juga mengatakan kepada anak sulungnya itu, bahwa Eza ingin menikah.

__ADS_1


"Pah, Mamah ke kamar dulu mau lanjut telfonan. Biar Papah yang urus Eza," Bu Rara beranjak dari duduknya.


"Baik, Mah." ucap Pak Juna.


Pak Juna kembali menatap anaknya yang duduk di depannya.


"Coba kamu katakan apa alasan kamu ingin cepat menikah!" pinta Pak Juna.


Terpaksa Eza harus berbicara jujur. Dia mengatakan jika dirinya dan Lina terpergok oleh Bu Luna. Dia juga berkata jika sebenarnya kejadian itu tanpa kesengajaan.


Pak Juna mengusap wajahnya kasar. Dia masih menatap anaknya.


"Pantas saja Luna menyuruh kamu untuk menikahi Lina. Kamunya yang tidak bisa menahan sih. Kalau begini kan mau mengulur waktu juga susah. Nanti takutnya kamu malah menghamili dia sih." kata Pak Juna.


"Pah, Eza tidak seperti itu." ucap Eza membela diri.


"Kalau tidak seperti itu, tidak mungkin lahir Alana." ucap Pak Juna.


Eza hanya menunduk merasa bersalah. Apalagi dia belum bisa membahagiakan kedua orang tuanya. Namun lagi-lagi dia hanya bisa menjadi beban.


"Kamu istirahatlah ke Kamar! Besok kita bahas lagi," kata Pak Juna.


"Baik, Pah." Eza langsung beranjak dari duduknya.


Pak Juna juga pergi menyusul Istrinya yang sudah berada di kamar. Begitu dengan Farizki yang juga ikut pergi.


Sejak tadi Fafizki hanya diam tak berkomentar apa-apa. Dia hanya berharap jika masalah yang Eza hadapi cepat selesai.


°°°


Bu Luna sudah berdiri di depan pintu masuk. Dia mengetuk pintu itu.


Tok tok


Kebetulan Bi Asih yang membukakan pintunya.


"Silahkan, Bu!" ucap Bi Asih


"Terima kasih, Bi." jawab Bu Luna


Ternyata di dalam, Bu Rara dan keluarganya sudah menunggu ke datangan Bu Luna. Bahkan Alvin dan Zivana juga sudah berada di sana.


Bu Luna dan Lina duduk di sofa yang sama.


Bu Rara melihat Bi Asih yang hendak ke belakang, namun dia menghentikan langkahnya.


"Bi, sini ikut duduk!" pinta Bu Rara.


"Tapi, Bu. Saya merasa tidak pantas," ucap Bi Asih.


Bu Rara menghampiri Bi Asih lalu menggandengnya dan mengajaknya duduk bersama.

__ADS_1


"Bibi itu sebentar lagi akan menjadi bagian keluarga saya, jadi tidak perlu sungkan."


Bu Luna langsung berbicara niat kedatangannya.


"Maaf jika kedatangan saya mengganggu, dan terima kasih sudah mengijinkan saya berkunjung. Entah sudah berapa tahun kita tidak pernah ketemu," Bu Luna tersenyum menatap Pak Juna dan Bu Rara yang duduk di depannya.


"Tidak sama sekali. iya Bu, saya juga merasa senang bisa ketemu Bu Luna lagi." ucap Bu Rara


"Mungkin Eza sudah mengatakan kepada kalian. Niatnya saya ingin Eza dan Lina segera menikah. Lina adalah Ibu sambung yang cocok untuk Alana. Apalagi dia sudah merawat Alana sejak lahir." ucap Bu Luna


"Kalau saya sih mengijinkan, tapi saya tidak yakin apa anak saya menyukai Lina atau tidak," kata Bu Rara.


"Saya bisa menjamin jika di antara mereka berdua sebenarnya ada rasa ketertarikan. Karena saya yang setiap hari melihat interaksi antara keduanya."


Bu Rara menatap suaminya yang duduk di sebelahnya.


"Sebenarnya hal yang masih membuat saya ragu itu, Eza yang masih belum berpenghasilan tetap. Bahkan dia baru buka usaha bengkel. Saya takut jika Eza tidak bisa memenuhi semua kebutuhan Anak dan Istrinya." ucap Pak Juna.


"Saya siap membantu kok, selama nafkah yang Eza berikan masih belum cukup, saya siap untuk membantu kebutuhan Lina." ucap Bu Luna


Bu Rara tidak menyangka jika Bu Luna akan berkata seperti itu. Demi menikahkan anak yang bukan siapa-siapanya, tapi dia berani menjamin kebutuhannya.


Pak Juna sedikit malu saat mendengar perkataan Bu Luna. Karena dia tidak menyetujui pernikahan anaknya karena belum mapan. Sedangkan Bu Luna yang hanya orang lain sudah siap membantu mencukupi kebutuhan calon menantunya.


"Maaf Pak, Bu, tapi saya merasa tidak pantas jika anak saya harus menikah dengan anak dari majikan saya sendiri. Kami hanya orang susah." ucap Bi Asih


"Bi Asih jangan bicara seperti itu, saya juga dulunya hanya orang miskin yang tinggal di kampung. Setelah saya menikah, kehidupan saya lebih terjamin." ucap Bu Rara


Pak Juna tampak memikirkan sesuatu. Mungkin baiknya jika dia merestui anaknya. Apalagi yang lainnya terlihat setuju dengan pernikahan itu.


"Baiklah, saya setuju. Saya siap menanggung biaya pernikahan Eza dan Lina. Tapi saya mau bertanya satu hal sama Lina," Pak Juna menatap Lina yang duduk di depannya. "Apa kamu mau menerima Eza yang masih belum punya penghasilan tetap?"


Lina tersenyum saat mendengar Pak Juna berbicara seperti itu.


"Saya siap menerima Kak Eza, bahkan dari Kak Eza yang tidak punya apa-apa, hingga dia sukses nanti.


Semua yang mendengar perkataan Lina merasa terharu.


"Kamu sendiri, Za. Apa kamu mau menerima Lina?" kini giliran Bu Rara yang bertanya kepada anaknya.


"Saya mau," Eza memantapkan diri untuk menerima pernikahan ini. Karena mungkin ini yang terbaik untuknya.


"Nanti setelah mereka menikah, saya minta Eza dan Lina tinggal di rumah saya. Begitu juga dengan Bi Asih. Saya hanya ingin dekat dengan keluarga saya, apalagi Alana." ucap Bu Luna.


"Eza setuju, Bu." kata Eza.


Bi Asih dan Lina juga setuju jika nantinya mereka akan menetap di rumah Bu Luna.


Mereka masih saling mengobrol. Semuanya terlihat bahagia karena sebentar lagi akan menjadi satu keluarga besar.


°°°

__ADS_1


__ADS_2