
Rara masih memikirkan perkataan Bu Sri. memang dari gerak-gerik Juna mulai berubah. suaminya itu lebih sering sibuk dengan ponselnya dari pada anak dan istri. Rara hanya mengira jika mungkin saja suaminya itu capek berjualan. sehingga sudah jarang perhatian kepada anak dan istrinya. memang disisi lain dia mencurigai suaminya main serong. namun dia menepis semua pemikiran itu. perkataan Bu Sri kepadanya sudah memperjelas semuanya.
Rara yang sedang melamun, tersadar karena mendengar deringan ponsel miliknya.
tilulit tilulit
"Hallo Assalamu'alaikum" ucap Rara kepada lawan bicaranya.
"APPAAAA?????" Rara sudah tidak bisa lagi membendung air matanya.
Mengapa semua orang yang Rara sayang pergi satu persatu." batin Rara dalam isak tangisnya.
Huwwaaaaa
Terdengar tangisan Baby Zie dari dalam kamar. Rara menghapus air matanya lalu dia bergegas memasuki kamarnya.
"Uluh uluh anak mamah jangan nangis dong." Rara mencoba untuk menenangkan Baby Zie.
Rara membawa Baby Zie ke dalam gendongannya. Baby Zie tampak diam setelah digendong.
Hari sudah mulai sore, seperti biasa Rara beres-beres rumah. sesekali dia menengok ke arah luar rumah. dia menunggu suaminya itu pulang. tapi tak juga kelihatan tanda-tanda jika Juna telah pulang.
Setelah selesai membersihkan semua sudut ruangan rumahnya, Rara bergegas untuk memasak makan malam. dia hanya memasak seadanya. oseng kangkung, sambal goreng kesukannya. dan itu juga masakan kesukaan suaminya.
Tepat adzan maghrib Juna sudah pulang ke rumahnya. Rara yang akan shalat mengajak suaminya untuk berjama'ah.
"Baru pulang Mas? Ayo kita shalat berjama'ah." ajaknya
" Nanti saja" jawabnya lalu Juna pergi keluar kamar setelah dia mengambil handuknya.
Rara melihat suaminya itu berjalan ke arah belakang. mungkin saja suaminya itu mau mandi. Rara memutuskan utuk shalat sendiri tanpa menunggu Juna selesai mandi.
Keesokan harinya, Rara berniat untuk berbicara kepada suaminya. namun Juna tampak sibuk dengan ponsel miliknya.
"Mas Juna, Rara mau bicara sesuatu." kata Rara
"Hm, apa?" tanyanya tanpa mengalihkan pandangan dari ponsel yang dia pegang.
"Nanti siang Rara mau pergi ke kota, ayo kita siap-siap Mas." ajak Rara
"Ngapain? Mas tidak mau! lagian, ngapain ke kota? bukankah kita sudah hidup tenang disini."
"Bu Susan dan suaminya meninggal Mas. Rara sebagai orang yang pernah dekat, tak enak jika tidak melayat. dan juga selama ini mereka sudah banyak membantu Rara sampai Rara melahirkan Baby Zie." ucap Rara
__ADS_1
"Pergilah jika memang mau pergi, tapi Mas tidak ikut."
Rara begitu kecewa mendengar jawaban dari suaminya. dia memilih tetap disini dari pada ikut menemani istrinya pergi.
Dimana hati nuranimu Mas? mengapa kamu jadi seperti ini? kenapa bisa sedingin ini sikapmu padaku." batin Rara
Rara bergegas ke kamarnya setelah mengatakan perkataannya. dia akan tetap pergi ke kota dengan atau tanpa suaminya. baginya yang terpenting dia sudah meminta izin. Rara menyiapkan beberapa pakaian miliknya dan pakaian Baby Zie yang akan dia bawa.
Siang harinya, Rara dan Baby Zie pergi dengan menaiki ojek menuju ke terminal. ya, karena suaminya sudah pergi keluar rumah beberapa saat yang lalu. jadi dia memilih untuk menaiki ojek. di dalam perjalanan, Rara memangku Baby Zie yang sedang tidur di dalam pangkuanya. sedangkan Rara sendiri tidak biasa tidur jika dalam kendaraan. dia hanya menatap kendaraan yang berlalu lalang dari dari arah luar jendela Bus.
Pikirannya saat ini hanya ingin cepat-cepat sampai ke kota. sedangkan mengingat sikap Juna kepadanya, dia mencoba masa bodo.
Rara sudah cape selama ini bersabar tapi akhirnya suaminya itu masih saja bersikap semaunya. apalagi sekarang sudah ada orang ketiga diantara mereka. Rara hanya mampu berdo'a saja. do'a terbaik hanya ingin keluarga yang utuh. entah nanti akan tetap utuh atau bercerai-berai hanya Alah SWT yang menentukan. setidaknya dia sudah berusaha. walaupun dia tidak tahu usahanya itu akan membuahkan hasil atau hanya sia-sia.
Setelah menempuh perjalanan yang panjang kini akhirnya Rara sudah sampai di kota. dari terminal, Rara mencari angkutan umum untuk dia naiki sampai ke alamat Bu Susan. hanya membutuhkan waktu 45menit, Rara sampai ke tempat tujuan.
"Puuttrriiiiiii" teriak Rara yang baru datang.
"Stt jangan teriak-teriak, ya ampun Ra." Putri langsung memeluk Rara.
"Hiks hiks hiks kenapa Bu Susan pergi begitu cepat *Pu*t." Rara tak bisa lagi menahan isak tangisnya.
"Ini sudah takdir sang kuasa Ra, kita sebagai orang yang ditinggalkan harus ikhlas dan tabah."
"Tapi hiks hiks hiks" Rara masih saja menangis.
"Ehh sayangnya ateu sudah bangun. yuk sama ateu sayang." Putri mengambil Baby Zie dari gendongan Rara.
"Hehehe" Baby Zie tampak girang berada di gendongan Putri.
"Ya sudah Ra, aku bawa Baby Zie jalan-jalan sekitar sini. lebih baik kamu masuk saja bergabung sama yang lain." ucap Putri
Rara menghapus air matanya lalu dia masuk ke dalam. tatapannya tertuju pada dua jenazah yang saling berdampingan dan sudah tertutup rapat.
"Itu dia datang Bu" ucap seseorang kepada ibunya yang sudah sepuh.
"Rara, sinih Nak!" pintanya
Rara berjalan menuju ke seseorang yang tadi memanggilnya.
"Iya Bu, Ibu memanggil saya?" tanya Rara
"Iya Nak, perkenalkan saya Bu Sukma, Ibu dari Sam dan ini Reza adiknya Sam." ucap Bu Sukma memperkenalkan dirinya dan memperkenalkan anak bungsunya.
__ADS_1
"Ya sudah, karena Nak Rara sudah datang, acara pemakanan langsung disegerakan."ucap Bu Sukma dan beberapa orang disana langsung bersiap dengan tugasnya masing-masing.
Rara ikut mengantarkan Jenazah Bu Susan dan Pak Sam hingga peristirahatan terakhir. dia tetap berada disamping Bu Sukma dan Reza selama perjalanan hingga sampai ke makam. Reza melihat wanita disampingnya itu tampak terpukul.
Rara,jadi kamu orang yang selama ini dibicarakan oleh kakak." batin Reza
Memang selama ini dia sering mendengar kakap iparnya membicarakan Rara dan memuji-mujinya. dan kali ini dia sudah mengetahui wanita itu. ternyata cantik dan tampak shalehah.
Setelah acara pemakaman selesai, Bu Sukma mengajak Rara untuk pulang.
Kini ketiganya sudah sampai dirumah milik Pak Sam. disana masih ada beberapa kerabat yang akan menginap.
Terlihat Putri yang baru memasuki rumah sambil menggendong Baby Zie.
"Put, kamu dari mana saja?" tanya Rara
"Aku habis bawa Baby Zie jalan-jalan sekitar sini Ra."ucapnya
"Kenapa kamu tidak ikut ke pemakaman?" tanya Rara
"Aku tidak kuat Ra, aku tidak sanggup melihatnya."ucap Putri dan keluarlah air mata dari sudut matanya.
Putri sengaja tidak ikut ke pemakaman karena dia tidak sanggup melihat kenyataan bahwa orang yang dia sayangi sudah pergi untuk selamanya.
Malam harinya setelah acara tahlilan, Bu Sukma mengajak Rara untuk berbicara. Reza dan Putri juga berada disana.
"Nak Rara, sesuai wasiat anak dan menantu saya. rumah ini dan toko kue milik anak saya akan diwariskan kepada Nak Rara." ucapnya
"Loh, kok saya?" tanya Rara yang masih bingung.
"Iya, menurut anak dan menantu saya, Nak Rara lah yang cocok untuk mengelola toko kue itu. dan keputusan ini sudah disetujui oleh kita selaku pihak keluarga." ucapnya lagi
"Tapi saya tidak berhak, harusnya Ibu yang mewarisi semua itu." kata Rara
"Tidak Nak, saya dan anak saya Reza cukup mengelola restoran kecil-kecilan milik kami. dan juga tidak ada waktu lagi untuk mengurus toko kue."
"Bagaimana jika saya bekerja saja ditoko, mungkin itu ide bagus." kata Rara
"Tidak Nak, wasiat tetaplah wasiat. itu permintaan terakhir dari anak dan menantu saya. jadi harus secepatnya diurus."
"Makasih Bu" Rara berucap syukur lalu dia berterimakasih kepada Bu Sukma. walaupun dia merasa tidak enak karena ini bukan haknya, tapi dia tidak bisa menolak.
"Okeh, untuk surat wasiat akan diurus besok oleh Reza. dan mulai malam ini Nak Rara tinggalah disini." pinta Bu Sukma
__ADS_1
"Sekali lagi terimakasih Bu." ucapnya lagi
Setelah selesai membicarakan wasiat, mereka segera beristirahat di kamar mereka masing-masing yang sudah di siapkan.