Hanya Istri Siri

Hanya Istri Siri
S2_Episode 93


__ADS_3

Hari yang telah di tunggu-tunggu akhirnya datang juga. Yaitu hari pernikahan Eza dan Lina. Acara pernikahan di lakukan di sebuah hotel mewah. Tentu semua itu Pak Juna yang menyiapkannya. Pak Juna ingin yang terbaik untuk pesta pernikahan anaknya. Banyak tamu yang datang, termasuk teman-teman Eza dan rekan bisnis Pak Juna.


Terlihat Eza dan orang tuanya yang baru datang. Mereka duduk di kursi yang sudah di sediakan.


"Pah, Mamah mau lihat Lina dulu yah," ucap Bu Rara.


"Iya, Mah." jawab Pak Juna


Bu Rara berlalu pergi ke kamar hotel tempat Lina di rias.


Saat ini Bu Rara sudah ada di depan kamar hotel.


Tok tok


Kebetulan Zivana yang membukakan pintunya.


"Eh, Mamah sudah datang. Ayo masuk, Mah!"


Bu Rara masuk ke kamar itu. Dia melihat Lina yang sedang bercermin di depan kaca. Sedangkan perias yang merias Lina, sedang memakaikan mahkota di atas kepala. Tentu itu membuat penampilan Lina lebih sempurna. Layaknya ratu dari khayangan.


"Kamu cantik sekali, Lin." Bu Rara memuji Lina.


"Terima kasih, Bu. Ibu Rara juga cantik."


"Jangan panggil Ibu dong, mulai sekarang panggil Mamah seperti Eza." pinta Bu Rara


"Baik, Mah."


Tring tring


Bu Rara mendengar ponselnya berdering. Lalu dia mengambil ponselnya yang berada di dalam tas. Ternyata itu panggilan masuk dari suaminya.


📞"Hallo, ada apa, Pah?" tanya Bu Rara.


📞"Ini loh pak penghulunya sudah datang. Sebaiknya Mamah menyuruh Lina bersiap-siap."


📞"Oke, Pah. Ini kita langsung kesana," ucap Bu Rara

__ADS_1


Kini keduanya sudah selesai bertelfonan.


"Lin, kamu sudah selesai kan? Kita sekarang ke tempat acara karena pak penghulu sudah datang." kata Bu Rara


"Baik, Mah." Lina beranjak dari duduknya.


Lina dan yang lainnya keluar dari kamar hotel. Lina berjalan di apit oleh Bi Asih dan Bu Luna yang ada di sebelahnya. Sedangkan Zivana dan Bu Rara berjalan di belakang mereka.


Pintu ballroom hotel terbuka lebar. Semua mata menatap ke arah pintu masuk. Mereka terkesima melihat kecantikan Lina. Lina dan yang lainnya berjalan di atas karpet merah. Terlihat senyum kebahagiaan terpancar dari wajahnya. Bu Luna dan Bi Asih mengantar Lina hingga dia duduk di depan Pak penghulu. Karena wali dari Lina tidak ada, Bi Asih memasrahkannya kepada wali hakim.


Eza menatap Lina yang duduk di sebelahnya. Dia tersenyum menatap calon istrinya yang terlihat sangat cantik.


"Apa bisa kita mulai?" tanya Pak penghulu kepada Eza.


"Silahkan, Pak." ucap Eza.


"Bagaimana dengan mempelai wanita, apakah sudah siap?"


"Siap," jawab Lina.


Pak penghulu mulai menjabat tangan Eza dan menikahkannya. Eza melafadzkan ijab qabulnya dengan benar hanya sekali ucap.


Eza menyematkan cincin berlian di tangan Lina. Lalu Lina mencium punggung tangan suaminya. Eza beralih mencium kening istrinya.


Setelah pelaksanaan ijab qabul selesai, kini keduanya duduk di pelaminan. Sekarang saatnya Sesi foto-foto. banyak keluarga yang bergantian berfoto dengan kedua mempelai. Beberapa tamu undangan memilih untuk naik ke atas panggung dan memberikan selamat. Padahal acara belum selesai. Sedangkan tamu yang lainnya asyik menikmati hidangan yang sudah di sediakan sambil mengobrol.


°°°


Terlihat semua tamu undangan satu persatu meninggalkan ballroom hotel. Bu Rara menyuruh Eza untuk mengajak Lina beristirahat di kamar pengantin mereka. Karena Lina terlihat sangat cape.


"Za, sebaiknya kamu ajak istrimu ke kamar. Lagian tamunya juga tinggal beberapa saja."


"Iya, Mah. Tapi tidak apa-apa nih?"


"Tidak apa-apa, kalian istirahat saja, pasti cape."


"Oke, Mah." ucap Eza

__ADS_1


"Za, Kakak punya kado nih. Di jamin cocok untuk malam pertama kalian," Zivana memberikan kado yang dia pegang kepada Eza.


"Makasih, Kak."


"Satu lagi, ini dari aku." Alvin memberikan kotak kado yang sangat kecil.


"Apa itu, Vin? Kecil sekali," Bu Rara yang merasa heran karena baru pertama kalinya melihat ukuran kado sekecil itu.


"Rahasia dong, Mah." kata Alvin


"Paling kunci mobil yang di bungkus kado," sahut Pak Juna yang sedang memperhatikan mereka.


"Kali ini tebakan Papah salah," ucap Alvin.


"Rahasia anak muda loh, Pah. Papah sama Mamah tidak perlu tahu." ucap Zivana.


"Iya deh, iya." ucap Pak Juna


Setelah selesai mengobrol, Eza dan Lina segera pergi menuju ke kamar pengantin mereka.


Pak Juna dan yang lainnya juga bersiap untuk pulang, saat melihat ballroom hotel sudah kosong tidak ada tamu.


Lina memegangi dadanya yang sejak tadi berdetak tak karuan. Dia sedikit malu karena masuk ke dalam kamar yang sama dengan Eza.


"Mau kamu atau aku duluan yang mandi?" tanya Eza.


"Kakak duluan saja," ucap Lina.


"Baiklah," Eza berlalu pergi memasuki kamar mandi.


Lina mengganti pakaiannya selagi Eza tidak ada di kamar. Lalu dia menyiapkan pakaian yang akan di kenakan oleh lelaki yang sekarang menjadi suaminya itu.


Lina duduk di pinggir ranjang sambil menunggu Eza selesai mandi. Dia menatap bunga mawar yang di tata bentuk love. Dia tidak menyangka karena sekarang sudah sah menjadi istri dari lelaki yang dia cintai.


Terlihat Eza keluar dari kamar mandi. Lina beranjak dari duduknya lalu mendekatinya.


"Kak, pakaiannya sudah aku siapin yah, aku mau mandi dulu," setelah mengatakan itu, Lina berlalu pergi dari hadapan suaminya.

__ADS_1


"Ternyata dia perhatian juga," gumam Eza sambil menatap kepergian istrinya.


••••


__ADS_2