Hanya Istri Siri

Hanya Istri Siri
Part_77


__ADS_3

Rey yang baru pulang dari kantor tak sengaja mendengar suara ibunya yang sedang telponan dengan seseorang. Rey mendengar jika ibunya itu terlihat sangat akrab ketika berbicara lewat telpon.


"Ya sudah Jeng, saya matikan dulu telponnya." ucap Bu Farah berbicara dengan lawan telponnya.


Rey menghampiri ibunya yang baru saja selesai berbicara.


"Siapa Mah yang telpon?" tanya Rey


"Oh, ini loh sayang, Jeng Finda tadi telpon Mamah."


"Siapa itu Jeng Finda? kok Rey tidak tahu."


"Teman Mamah, sekaligus calon besan. ups" Bu Farah menutup mulutnya sendiri karena keceplosan.


"Calon besan? maksudnya apa Mah?"


"Tidak kok sayang, tadi Mamah hanya salah bicara saja."


"Lebih baik Mamah jujur deh sama Rey. jangan bilang jika Mamah mau menjodohkan Rey."


"Tidak kok sayang, Mamah mau menjodohkan Kakakmu dengan Putri anaknya Jeng Finda."


Kak Juna mau dijodohkan, apa itu artinya aku ada peluang untuk mendapatkan Rara." Rey tampak tersenyum dan masih bergelut dengan pikirannya.


"Kenapa kamu senyum-senyum?" tanya Bu Farah kepada anaknya yang senyum-senyum sendiri.


"Tidak kok Mah, Rey hanya ikut senang jika Kak Juna akan dijodohkan. Rey percaya jika pilihan Mamah pasti yang terbaik." ucap Rey memberikan dukungan.


"Baguslah kalau kamu juga setuju. tapi Mamah minta kamu jangan bicara yah sama Kakakmu. kalau dia tahu rencana Mamah pasti dia langsung menolak."


"Memangnya Kak Juna tidak tahu jika akan dijodohkan?" tanya Rey


"Tahu kok, hanya saja Kakakmu itu menanggapinya cuek karena dia tidak tertarik dengan perjodohan ini." jelas Bu Farah.


"Lalu apa yang akan Mamah lakukan?" tanya Rey


"Nanti juga kamu tahu sendiri." ucap Bu Farah lalu dia beranjak pergi dari hadapan Rey.


Kira-kira apa yah yang Mamah rencanakan? ah sudahlah ngapain juga aku mikirin itu. lebih baik sekarang mikirin bagaimana caranya untuk lebih dekat dengan Rara. lagian Kak Juna juga pasti tidak berani menentang Mamah mengenai perjodohan ini." batin Rey


Juna baru pulang kerumahnya. dia tampak letih karena sejak tadi mengendong Baby Zie yang terus merengek tidak mau diturunkan.


°°

__ADS_1


Pagi harinya setelah sarapan, Bu Farah mengajak Juna untuk berbicara serius. kini keduanya sudah duduk di ruang keluarga.


"Jadi, apa yang akan Mamah katakan?" tanya Juna


"Mamah hanya ingin mengajak kamu besok malam untuk menemani Mamah pergi ke acara teman Mamah yang ulang tahun." ucap Bu Farah mengajak anaknya.


"Ngapain ngajakin Juna sih, biasanya juga Mamah pergi sendiri." Juna sebenarnya agak malas jika harus datang ke tempat perkumpulan ibu-ibu.


"Pokoknya harus ikut! Mamah tidak terima penolakan."


"Baiklah Mah, ya sudah Juna berangkat kerja dulu." Juna berpamitan untuk berangkat kerja.


Setelah berpamitan, Juna segera pergi ke kantor.


Rey yang kebetulan akan berangkat kerja,


di cegat oleh ibunya. Bu Farah yang masih duduk di ruang keluarga menyuruh anaknya untuk terlebih dahulu menghampirinya sebelum pergi.


"Sini Rey!" pinta Bu Farah


"Ada apa sih Mah?"


"Bagaimana penyelidikanmu, apa kamu sudah tahu seperti apa kekasih kakakmu itu?" tanya Bu Farah


Rey tampak berfikir, tidak mungkin jika dia berkata bahwa kekasih Kakaknya adalah Rara.


"Apa kamu tidak mengikuti kemana Kakakmu pergi sesuai dengan apa yang Mamah perintahkan."


"Rey ikuti kok Mah, hanya saja Rey tidak melihat Kak Juna bertemu dengan seorang wanita."


"Hm baiklah, kamu boleh pergi." setelah bertanya kepada anaknya, Bu Farah menyuruh Rey untuk pergi.


Juna yang sudah berada di kantor mendapatkan panggilan video call dari Rara. lalu dia mengangkat panggilan itu.


"Hallo sayang" Juna langsung berbicara kepada Baby Zie yang sudah terlihat dilayar ponsel.


📞"Apah...apah..." Baby Zie tampak girang melihat Papahnya ada di layar ponsel.


📞"Sayang, jangan diputar- putar dong ponsel Mamah." Rara berkata kepada anaknya.


📞"Apah..amah...apah...amah..."Baby Zie menunjukan wajah Juna yang ada dilayar ponsel.


📞"Hallo sayangnya Papah, kok sibuk sendiri sih?" Juna menatap Baby Zie yang sedang memainkan ponsel Rara.

__ADS_1


📞"Sayang jangan cuekin Papah dong." ucap Juna yang masih menatap Baby Zie dari layar ponselnya.


Akhirnya Rara memegangi ponsel yang sedang dimainkan oleh anaknya.


📞"Maafin Baby Zie Mas, tadi dia ingin melihat papahnya. tapi dia malah mainan ponsel."


📞"Iya tidak apa-apa Ra, mungkin Baby Zie heran melihat wajahku di layar ponsel."


📞"Iya mungkin Mas, Mas Juna lagi sibuk yah?" tanya Rara


📞"Tidak kok, baru mau mulai kerja nih."


📞"Ya sudah biar dimatikan saja panggilan telponnya."


📞"Oke, aku matiin dari sini yah, Assalamu'alaikum."


📞"Waalaikum'salam" lalu panggilan telpon itu berakhir.


Sore harinya, Baby Zie meminta main di depan rumah. dia ingin menyambut kedatangan Papahnya.


"Sayang ayo masuk ke dalam. nanti juga Papah datang kok." Rara mengajak anaknya untuk masuk kedalam.


"Apah...apah..apah" Baby Zie terus memanggil nama Papahnya.


"Iya sayang, nanti juga Papah datang kok. kita masuk dulu yah." Rara membujuk anaknya agar mau masuk kedalam.


Akhirnya Baby Zie menurut untuk ikut masuk kedalam.


Juna dan Rey yang baru pulang kerumah, kedatangannya sudah ditunggu oleh Bu Farah.


"Juna, Rey, sini Nak!" pinta Bu Farah yang sedang duduk bersantai.


"Kenapa Mah?" tanya Juna yang sudah berjalan menghampiri ibunya.


"Ini ambilah! kalian berdua pakai setelan jas ini nanti malam." Bu Farah memberikan paperbag untuk Juna dan Rey.


"Memangnya nanti malam Rey ikut juga Mah?" tanya Rey


"Ikut dong, anak Mamah keduanya harus ikut."


"Kalau tidak mau?" Rey bertanya kepada ibunya.


"Harus ikut, tidak ada penolakan!"

__ADS_1


"Hm, baiklah Mah" jawab Juna dan Rey yang tampak lesu karena malas ikut dengan Mamahnya. paling yang mereka temui nanti perkumpulan ibu-ibu sosialita.


°°°


__ADS_2