Hanya Istri Siri

Hanya Istri Siri
Part_72


__ADS_3

Pagi harinya, setelah Juna dan Rey berangkat ke kantor, Bu Farah ikut keluar rumah. dia berniat untuk pergi ke rumah Bu Finda untuk membicarakan masalah perjodohan anaknya.


Bu Farah sudah sampai di rumah Bu Finda. kedatangannya disambut hangat oleh Bu Finda.


"Pagi Jeng Farah" ucap Bu Finda menyambut kedatangan sahabatnya.


"Pagi Jeng, sepertinya rumah lagi sepi yah Jeng?" tanya Bu Farah


"Iya Jeng, suami lagi ngantor, kalau Putri menginap di rumah temannya. ayo langsung masuk saja Jeng." Bu Finda mengajak Bu Farah untuk masuk ke dalam rumahnya.


Kini keduanya sudah duduk di ruang keluarga. Bu Fibda memanggil asisten rumah tangganya untuk membuatkan minum dan membawakan suguhan lainnya.


"Jadi bagaimana Jeng, soal rencana kita? apa Jeng yakin mau menjodohkan Juna dengan anakku?" tanya Bu Finda


"Iya Jeng, menurut saya Juna dan Putri sangat cocok." ucap Bu Farah


"Bagaimana jika mereka bertunangan dulu. Apa Jeng Farah setuju dengan usul saya. lalu kapan waktu yang pas untuk melaksanakan acaranya?"


"Saya setuju Jeng, itu keputusan yang tepat sekali. bagaimana jika satu minggu setelah sidang akhir perceraian Juna." kata Bu Farah memberikan usulnya.


"Saya terserah Jeng Farah saja." Bu Finda yang mengikuti semua keputusan Bu Farah.


Memang kemarin sehabis Bu Farah menelpon Bu Finda, dia langsung mengirim pesan. mereka berniat membicarakan masalah itu secara langsung agar lebih jelas juga keputusan akhir mengenai niat mereka.


Cukup lama Bu Farah berada disana. dia dan Bu Finda hanya mengobrol saja. karena mereka memang sahabat yang sangat akrab.


°°°


Juna yang sedang bekerja medengar ponsel miliknya berdering. ternyata ada panggilan masuk dari Rara. dengan senang hati dia segera mengangkat panggilan itu.


📞"Hallo Ra." ucap Juna dari balik telpon.


📞"Hallo Mas Juna, maaf Rara mengganggu Mas. tapi ini Baby Zie nangis terus dari tadi. sepertinya dia ingin bertemu dengan Papahnya."

__ADS_1


📞"Masa sayangnya Papah baru kemaren ketemu sudah rindu lagi. hm.. coba dekatkan ponselmu Ra! Mas ingin bicara dengan Baby Zie." pinta Juna kepada Rara


📞"Sebentar Mas" ucap Rara lalu dia mendekatkan ponsel miliknya kepada Baby Zie. Juna mulai berbicara kepada anaknya. Baby Zie diam setelah mendengar suara Papahnya.


📞"Terimakasih Mas, Baby Zie sudah diam. dia tidak menangis lagi."


📞"Iya Ra, mungkin Baby Zie merindukanku. nanti sehabis pulang kerja aku langsug kesana Ra. kasihan Baby Zie kalau tidak ditengok Papahnya."


📞"Iya Mas, sekali lagi terimakasih. ya sudah Rara matikan telponnya." ucap Rara lalu segera mematikan panggilan telpon mereka.


Sehabis menerima telpon dari Rara, Juna kembali mengerjakan pekerjaannya. tiba-tiba terlintas wajah cantik anaknya. dia tidak ingin lagi jauh dari Baby Zie. apalagi akhir-akhir ini mereka selalu bersama. hubungan dia dan Rara juga sudah terjalin lebih baik lagi dari pada sebelumnya. Juna berniat untuk memperbaiki kesalahannya di masalalu.


Sepertinya setelah perceraikanku beres, aku harus segera melamar Rara. aku ingin selalu dekat dengan dia dan anakku." Juna memikirkan niatnya untuk melamar Rara setelah perceraiannya nanti.


Juna memang berniat untuk mengajak Rara rujuk. tapi dia menunggu waktu yang tepat. dia juga ingin membuat Rara merasa nyaman terlebih dahulu. makannya dia pelan-pelan mendekatinya. dia tidak ingin jika kehadirannya malah membuat Rara tidak nyaman apalagi jika dia begitu memaksa.


Seperti yang dia rencanakan, sore harinya Juna pergi ke Mess yang Rara tinggali. dia tidak membawa apa-apa karena tidak sempat singgah untuk membeli buah tangan. dikarenakan sekarang sedang hujan lebat. tadinya sempat ragu untuk pergi kesana karena cuacanya yang tidak mendukung. tapi karena dia sudah berjanji, dia memilih untuk tetap pergi.


Sekarang Juna sudah berada di Mess yang Rara tinggali. dia duduk sambil menggosok-gosokan tangannya karena merasa dingin.


"Terimaksih Ra" Juna langsung menyeruput teh itu untuk menghangatkan tubuhnya.


"Baby Zie dimana Ra?" tanya Juna


"Lagi tidur dikamar Mas." jawab Rara


"Loh, kok kamu tinggal sendirian?"


"Tidak kok Mas, ada Bu Susan yang jagain." ucap Rara


Setelah menanyakan itu, Juna hanya diam. keduanya tidak ada yang bersuara. Rara juga bingung ingin menanyakan apa kepada Juna.


Bu Susan yang sedang menggendong Baby Zie menghampiri mereka.

__ADS_1


"Lok kok pada diem-dieman?"


"Hehe iya Bu" ucap Rara menanggapi perkataan Bu Susan.


"Uluh-uluh sayangnya Mamah sudah bangun yah. sini sayang sama Mamah." Rara mengambil Baby Zie yang sedang di gendong oleh Bu Susan.


Oek oek


"Loh kok nangis sih sayang." Rara menimang-nimang Baby Zie.


"Uluh-uluh pengen nen yah cantik." ucap Rara lalu dia menatap Bu Susan dan Juna.


"Rara ke kamar dulu yah, sepertinya Baby Zie haus." Rara berpamitan kepada Bu Susan dan Juna, lalu dia segera masuk ke dalam kamarnya.


Kini hanya ada Juna dan Bu Susan yang berada di ruangan itu.


"Bu Susan, sebelumnya saya mau mengucapkan terimakasih."


"Terimakasih untuk apa Pak?" tanya Bu Susan yang tidak mengerti maksud dari pembicaraan Juna.


"Terimakasih karena selama ini sudah menjaga Rara."


"Itu sudah kewajiban saya Pak. lagi pula saya sudah menganggap Rara seperti adik sendiri."


"Maaf Bu, apa ibu mau menceritakan kepada saya saat-saat kehamilan Rara sampai lahirnya Baby Zie." Juna meminta Bu Susan untuk menceritakan hari-hari yang Rara lalui saat dia hamil Baby Zie.


"Baiklah Pak, saya akan ceritakan semuanya." lalu Bu Susan mulai bercerita saat dia mengajak Rara tinggal di Mess dan menyuruhnya bekerja di toko kue milik suaminya. dia juga bercerita saat melihat Rara yang selalu terlihat lemah. dan saat itu dia baru mengetahui jika Rara sedang hamil. hingga kepergian Rara menuju kampung halaman dan diusir dari rumah Nenek sehingga kini sudah kembali lagi ke kota. semuanya Bu Susan ceritakan kepada Juna.


Juna merasa sedih mendengar cerita itu. ternyata bukan hanya saat Rara masih menjadi istrinya, saat dia jauh dari dirinya juga hidupnya tetap memprihatinkan.


sekarang niatnya untuk mengajak Rara rujuk semakin mantap. dia akan berusaha untuk membahagiakan Rara dan Baby Zie. apalagi kebersamaannya selama ini sudah mulai ada rasa nyaman pada dirinya.


Karena asyik bercerita sampai-sampai mereka tak menyadari jika hari sudah petang. Juna memilih untuk shalat maghrib disana seperti sebelumnya.

__ADS_1


Setelah shalat, Juna ikut makan malam disana. seperti biasa, dia memakan masakan Rara yang begitu sederhana namun nikmat rasanya.


°°°°


__ADS_2