Hanya Istri Siri

Hanya Istri Siri
S2_Episode 89


__ADS_3

Sesuai janjinya, Alvin mengajak anak dan istrinya ke taman bermain. Baby Rayan terlihat senang saat menaiki berbagai wahana permainan anak. Dia juga senang bisa berbaur dengan anak-anak kecil seusianya.


"Sayang, sudah dulu yah bermainnya. Kamu pasti cape loh," ucap Zivana kepada anaknya yang sedang bermain di sekitar perosotan.


Baby Rayan hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.


Zivana tersenyum menatap anaknya yang terlihat begitu pintar. Bahkan saat di ajak bicara juga sudah mengerti.


"Ya sudah, kalau tidak mau turun nanti Mamah tinggal sendirian disini," Zivana mendekati suaminya yang sedang berdiri di sebelahnya. "Ayo Mas kita pergi, Rayan di tinggal saja," ucap Zivana lalu membalikan badannya.


huwa huwa


Baby Rayan menangis saat Zivana meledeknya.


"Kenapa menangis, sayang? Katanya tidak mau ikut sama Mamah?" Zivana mendekati anaknya.


Baby Rayan merentangkan kedua tangannya karena ingin di gendong oleh Zivana.


"Uluh uluh anak Mamah jangan nangis dong, malu tuh di lihatin cewek cantik," Zivana menggendong Baby Rayan. Lalu mengusap sudut matanya yang basah.


Baby Rayan terlihat tenang saat Zivana menimang-nimangnya.


"Sayang, kita mau langsung pulang? cuacanya sudah panas sekali loh,"kata Alvin sambil mengelap keningnya yang berkeringat.


"Kita cari makan dulu saja, Mas. Zie lapar nih," ajak Zivana.


"Baiklah, ayo kita cari restoran terdekat," Alvin menggandeng tangan istrinya, lalu melangkah pergi.


Alvin dan Zivana pergi ke restoran yang tak jauh dari taman bermain. Mereka memesan menu favorit.


Saat sedang enak-enaknya makan, tiba-tiba ada seorang waiters yang menumpahkan air di celana Alvin. Kebetulan Zivana sedang berada di toilet bersama anaknya.


"Maaf Mas, saya tidak sengaja," pelayan wanita itu langsung menyambar tisu yang ada di atas meja. Lalu mengelap celana Alvin yang basah.


"Saya tidak apa-apa kok, saya bisa sendiri," Alvin mencoba menyingkirkan tangan wanita itu.


"Ada apa ini? kenapa kamu pegang-pegang suami saya?" Zivana datang dengan menggendong anaknya. Dia sangat tidak menyukai pemandangan yang di lihatnya saat ini.


Wanita itu menjauhkan tangannya dari Alvin.


"Maaf Bu, saya tidak sengaja." ucapnya sambil menunduk.

__ADS_1


"Sudah-sudah, kamu pergi saja!"


Wanita itu langsung pergi dari hadapan Alvin dan Zivana.


Zivana menatap suaminya yang sedang mengelap celananya dengan tisu.


"Mas ayo pulang!" ajak Zivana.


"Kok cepat sekali sih, sayang."


"Ngapain juga lama-alam disini, yang ada kamu tuh di godain cewek-cewek," Zivana terlihat cemburu.


"Dia tidak sengaja loh, kamu jangan cemberut seperti itu."


"Mas itu tidak tahu sih trik anak muda jaman now, sudahlah kita pulang saja," Zivana melangkah pergi terlebih dahulu.


Alvin membayar makanan di kasir. Setelah itu, dia menyusul istrinya yang sudah melangkah terlebih dahulu.


Alvin sudah berada di mobil. Dia melihat istrinya yang menatap kendaraan yang berlalu lalang dari balik kaca mobil. Alvin hanya diam, dia merasa senang melihat istrinya sedang cemburu. Alvin mulai mengemudikan mobilnya menjauh dari depan restoran.


°°°


Bu Luna menghampiri Lina yang sedang menemani Alana di ruang keluarga.


"Boleh, Bu. Memangnya membantu apa?" tanya Lina.


"Hari ini Eza sedang sibuk tuh buka bengkel baru. Kamu antar dia makan siang yah, kasihan dia pasti lapar." pinta Bu Luna yang berniat mendekatkan Eza dan Lina.


Lina tampak berpikir, namun pada akhirnya dia menerima permintaan Bu Luna.


"Baik, Bu. Kalau begitu Lina bersiap dulu," Lina memberikan Alana kepada Bu Luna.


"Ibu sudah siapkan pakaian untuk kamu Lin, kamu pakai yah," pinta Bu Luna.


"Tapi, Bu. Lebih baik saya pakai pakaian saya sendiri saja, Bu."


"Jangan menolak, tidak baik loh menolak rejeki."


"Baikah, jika ibu memaksa saya hanya bisa menurut."


Bu Luna tersenyum menatap Lina. Lalu dia pergi ke kamarnya untuk mengambil dres pendek yang beberapa hari yang lalu di belinya.

__ADS_1


Setelah memberikan dres kepada Lina, Bu Luna pergi ke dapur untuk mengambil rantang berisi makanan yang sudah di siapkan. Kebetulan semua menunya masih hangat.


Bu Luna melihat Lina yang baru keluar dari kamar. Lina terlihat lebih cantik menggunakan dres berwarna dusty pink.


"Ini Lin, kamu kasihkan ke Eza yah. Ingat loh, kamu jangan pulang dulu sebelum Eza memakan makanan ini." Bu Luna memberikan rantang yang sedang dia pegang.


"Baik, Bu. Kalau begitu Lina pamit pergi dulu." Lina mengambil rantang itu. Dia langsung pergi.


Lina pergi di antar oleh supir pribadi Bu Luna.


Saat ini Lina sudah sampai di depan bengkel milik Eza yang baru buka hari ini. Lina turun dari mobil. Dia tidak melihat siapapun kecuali Eza yang sedang duduk sendiri. Memang Eza belum mencari karyawan karena dia belum mampu untuk menggaji.


Lina menghampiri Eza yang sedang duduk sendirian.


"Kak Eza," ucap Lina memanggil Eza.


Eza mendongkakan kepalanya. Dia melihat Lina di depannya dengan penampilan yang tidak seperti biasanya.


"Lina, kok kamu bisa tahu alamat ini?"


"Iya, Kak. Bu Luna yang memberitahu dan menyuruhku mengantarkan makanan ini." Lina ikut duduk di sebelah Eza. dia membuka rantang berisi makan siang untuk Eza.


"Terima kasih, yah. Sepertinya ini enak loh," Eza terlihat berselera melihat makanan yang terhidang di depannya.


"Kakak makan deh, biar Lina tungguin," ucap Lina.


"Kita makan sama-sama yah, kebetulan ini banyak. Tidak mungkin habis kalau di makan sendirian."


"Baiklah," Lina menerima tawaran dari Eza. Karena kebetulan dirinya juga belum makan.


Lina diam-diam memperhatikan Eza yang sedang makan.


Uhuk uhuk


Eza keselek karena makan terlalu terburu-buru.


"Hati-hati, Kak. Ini minumnya," Lina menyodorkan aqua dingin kepada Eza.


"Terima kasih," Eza langsung meneguk air itu.


"Sama-sama," ucap Lina sambil tersenyum menatap Eza.

__ADS_1


Keduanya kembali menikmati makan siang mereka. Lina akan menjadikan hari ini sebagai momen terindah dalam hidupnya. Karena setelah sekian lama, dia bisa sedekat ini lagi dengan Eza.


°°°°


__ADS_2