
Setelah kepergian Bu Susan, Putri juga berpamitan kepada Rara yang kebetulan akan memandikan anaknya.
"Ra, aku pamit berangkat dulu yah." Putri berpamitan untuk berangkat kerja.
"Baiklah Put, eh kamu mau naik sepeda lagi? mending naik motor saja Put, biar lebih cepat nyampai ke tempat kerja. tidak seperti kemarin kamu telat gara-gara ban sepedanya bocor." Rara menyuruh Putri untuk mengendarai sepeda motor saja.
"Tapi aku merasa tidak enak Ra kalau pakai motor orang lain." ucap Putri merasa takut.
"Ngapain takut, lagian Bu Susan juga menyuruh kita memakai motor itu untuk bepergian." Rara meyakinkan Putri untuk tetap membawa motor itu
"Baiklah" Putri segera mengambil kunci motor matic yang ada di kamar Rara.
Setelah kepergian Putri, Rara segera memandikan anaknya.
Setelah selesai, Rara mencoba menimang-nimang anaknya agar tertidur. karena dia akan membuat kue goreng untuk di jual.
Rara memasukan kue goreng yang dia buat ke dalam wadah yang biasa dia pakai. lalu dia bersiap untuk mengantarkannya ke warung-warung. Rara melihat Baby Zie yang masih teetidur pulas. dia merasa tidak tega jika harus meninggalkannya walaupun hanya sebentar. biasanya dia selalu menitipkan Baby Zie kepada Nenek jika dia akan pergi keluar. karena jika hanya cuma mengawasi saja, Nenek masih bisa. tapi kali ini dirumah itu tidak ada siapa-siapa yang bisa dia minta tolong.
Akhirnya Rara membawa Baby Zie keluar rumah. dia menggendong Baby Zie dan tangan satunya menenteng wadah yang berisi kue goreng untuk dititipkan ke warung. di sepanjang perjalanan dia menyapa para warga yang sedang lewat. Rara memang terkenal ramah kepada semua orang.
Di perjalanan pulang, Rara berpapasan dengan segerombolan ibu-ibu yang sedang membeli sayur. salah satu dari ibu itu ada yang bertanya kepada Rara.
__ADS_1
"Eh Neng Rara, suaminya sudah pulang belum?" tanya ibu itu kepada Rara.
"Belum Bu, suami saya masih di luar kota." memang selama ini jika ada yang bertanya keberadaan suaminya, Rara selalu bilang jika suaminya sedang bekerja di luar kota.
"Suaminya kerja kok kamu masih harus kerja lagi Ra? memangnya uang yang di berikan suamimu tidak cukup untuk kalian?" tanya ibu-ibi lainnya kepada Rara.
Rara yang ditanya seperti itu tampak bingung. dia tidak mungkin bicara yang sejujurnya. akhirnya Rara berbohong lagi kepada mereka. ini juga demi kebaikannya.
"Cukup kok bu, hanya saja saya ingin mandiri dengan bekerja sendiri." Rara berusaha santai dalam menaggapi perkataannya.
"Hati-hati loh Ra, jangan sampai kayak tetangga saya. masih muda sudah punya anak satu. terus suaminya kerja di kota, eh tahu-tahu dia pulang bawa janda yang katanya calon istri barunya." sahut ibu-ibu lainnya.
"Suami saya tidak seperti itu kok bu." Rara berusaha kuat untuk tidak terpancing dengan omongan mereka.
••••
Siang harinya, Juna bertemu dengan klien barunya untuk membahas kerja sama. mereka bertemu di cafe dekat kantornya.
Dia adalah Devan Arganta yang merupakan pengusaha muda yang sedang dicari-cari. banyak sekali pengusaha terkenal yang meminta bekerja sama tapi Devan Arganta malah memilih bekerja sama dengan Dirgantara Group. tentu Juna menerimanya dengan tangan terbuka. karena dia sudah tidak meragukan lagi kemampuan seorang Devan Arganta.
"Terima kasih Tuan Juna, karena anda sudah mau bekerja sama dengan perusahaan kecil seperti milik saya." Devan berucap merendah di hadapan Juna.
__ADS_1
"Harusnya saya yang berterimakasih karena Tuan Devan mau bekerja sama dengan perusahaan saya." ucap Juna kepadanya. karena Juna sendiri merasa beruntung saat di ajak kerja sama oleh pengusaha muda yang sedang terkenal di kotanya.
Setelah tanda tangan kontrak, keduanya saling berjabat tangan. lalu Juna memilih kembali ke kantor. sedangkan Devan memilih untuk pulang ke Apartemen miliknya. setelah dia sampai di apartemen ternyata kekasihnya sudah berada disana.
"Kamu datang kapan sayang?" tanya Devan kepada kekasihnya yang tak lain adalah Luna.
"Tadi sayang, belum lama kok." Luna langsung menghampiri kekasihnya yang baru pulang.
"Tumben datang siang-siang seperti ini." Juna merengkuh pinggang kekasihnya. sekarang jarak keduanya sangat dekat.
"Entahlah, rasanya aku kangen sekali dimanja olehmu." Luna memang sedang merindukan Devan.
"Ya sudah ayo" Devan mengajak Luna memasuki kamar miliknya.
Setelah selesai urusannya dengan Devan, Luna memilih untuk kembali ke toko. karena Juna sudah memberitahukannya bahwa dia akan menjemputnya. beruntung jam tutup toko kurang dua jam lagi. Luna bisa menggunakan waktu dua jam ini untuk beristirahat karena dia cukup kelelahan.
Juna yang sudah sampai Luna Florist di sambut ramah oleh beberapa karyawan yang melihat kedatangannya.
dia segera berjalan menuju ruangan istrinya.
dia melihat istrinya yang sedang tertidur pulas di sofa yang berada di ruangan itu.
__ADS_1
Juna tidak berani membangunkan istrinya. dia membawa Luna ke dalam gendongannya. lalu Juna keluar dari ruangan itu menuju ke mobilnya. karyawan yang lainnya juga ikut pulang karena memang jam kerja mereka sudah berakhir.
Juna membaringakan istrinya di jok belakang mobilnya. "Ah kamu kok berat sekali sayang." Juna ikut duduk lalu memangku kepala Istrinya. Dia menyuruh Rio untuk segera mengemudikan mobilnya.