
Rara berniat pergi ke Kebun untuk mencari kayu bakar. dia berpamitan dengan Juna yang sedang bermain dengan Baby Zie.
"Mas, Rara mau ke kebun dulu yah mau cari kayu bakar." Rara berpamitan kepada Juna.
"Kalau begitu Mas ikut Ra." Juna berniat untuk ikut bersama Rara.
"Tidak usah, Mas Juna di rumah saja bersama Baby Zie."
"Ya sudah kalau begitu hati-hati. jangan lama-lama yah."
"Iya Mas, Rara hanya sebentar kok."
Setelah berpamitan, Rara segera pergi. kebun milik Rara tak jauh dari rumah. hanya jalan kaki 15 menit saja sudah sampai.
Rara yang sudah sampai di kebun segera mengumpulkan ranting yang berjatuhan dibawah pohon. setelah merasa cukup, dia mencari sayur-sayuran untuk dia masak nanti. karena sayuran yang berada di lahan kosong belakang rumahnya tinggal sedikit. Rara juga memetik cabe yang sudah tampak memerah. memang selama Rara tidak ada, kebunnya diurus oleh Bu Sri. dan hasilnya dibagi dua.
Setelah memetik sayuran dan cabe, Rara segera bersiap-siap untuk pulang. dia menaruh kayu bakar yang sudah dia kumpulkan kedalam gendongannya.
Rara pulang dengan menggendong kayu bakar di punggungnya dan juga satu tangannya menenteng sayuran dan cabe yang sudah dia masukan ke dalam kantong yang dia bawa dari rumah.
Juna yang masih bermain bersama Baby Zie, melihat Rara yang baru pulang. dia menggendong Baby Zie dan berjalan keluar rumah menghampiri Rara.
"Sini biar Mas bantu." Juna membantu Rara menurunkan kayu bakar yang ada di gendongannya.
"Terimaksih Mas" ucap Rara sambil mengelap keringat di dahinya.
"Ayo masuk Ra, biar nanti Mas yang masukan kayu bakarnya ke dalam rumah." Juna mengajak Rara untuk masuk ke dalam rumah.
Lalu mereka berjalan masuk ke dalam rumah.
Baby Zie yang masih digendongan Juna meminta untuk turun. Juna langsung menurunkan Baby Zie yang tidak bisa diam.
"Amah...amah.."Baby Zie menghampiri Rara sambil merentangkan tangannya.
"Duh sayangnya Mamah nanti saja yah Mamah gendongnya. Mamah bajunya kotor loh. Mamah mandi dulu yah sayang."
Baby Zie menggelngkan kepalanya. dia tetap merengek ingin di gendong oleh Rara.
Rara yang melihat Baby Zie merengek merasa tidak tega. tapi mau bagaimana lagi, dia menggendongnya, nanti Baby Zie gatal karena baju Rara yang masih kotor dan berkeringat.
"Mas, Baby Zie sama kamu dulu yah. Rara mau mandi dulu sebentar." Rara meminta Juna untuk menggendong Baby Zie.
__ADS_1
"Iya Ra" ucap Juna lalu tatapannya beralih kepada Baby Zie yang masih merengek. "Sayangnya Papah, sama Papah dulu yuk gendongnya. nanti sama Mamahnya kalau Mamah sudah mandi." Juna membujuk Baby Zie agar mau bersamanya.
"Amah andi?" Baby Zie bertanya kepada Juna. karena sejak tadi dia tampak menyimak perkataan Juna.
"Iya sayang, Mamah mau mandi." Juna menggendong Baby Zie yang sudah mau menurut.
Setelah selesai mandi, Rara ikut bergabung bersama Juna dan Baby Zie yang sedang duduk diatas tikar sambil memainkan boneka.
Juna yang melihat Rara segera angkat bicara.
"Ra, aku mau bicara sesuatu sama kamu." kata Juna
"Bicara apa Mas?" Rara penasaran dengan apa yang akan dikatakan oleh Juna.
"Mas ingin kita segera menikah."
"Tapi bagaimana dengan restu Ibunya Mas? masa kita menikah tanpa restu." kata Rara
"Kamu tahu sendiri kan jika Mamah tidak menyukaimu. Mas yakin kok suatu saat Mamah akan menerimamu sebagai menantunya."
"Tapi Mas....." Rara merasa tidak tenang jika tidak mendapat restu dari Ibunya Juna.
"Ya sudah deh, jika itu maunya Mas. tapi kalau Rara undang Bu Susan dan Putri boleh tidak?"
"Boleh Ra, ya sudah kita tentukan tanggal baiknya." Juna mengucapkan pendapatnya.
"Rara terserah Mas saja." Rara memasrahkan semuanya kepada Juna.
"Bagaimana jika 2 hari lagi Ra."
"Apa itu tidak terlalu cepat Mas?"
"Lebih cepat lebih baik Ra, untuk menghindari fitnah karena kita tinggal berdua. ya mungkin untuk saat ini orang-orang kampung mengira kita masih suami istri. tapi tidak tahu kan kalau nanti. jadi kita ambil solusi terbaiknya saja." ujar Juna
"Ya sudah Mas, tapi bagaimana dengan persiapannya?" Rara bertanya kepada Juna mengenai persiapan pernikahan yang mendadak ini.
"Maaf Ra, Mas tidak bisa mengadakan acara resepsi pernikahan yang mewah. mungkin hanya ijab qabul saja seperti dulu. tapi kamu tenang saja, pernikahan kali ini akan disahkan secara agama dan negara."
"Terimakasih Mas" Rara sangat senang akhirnya bisa kembali lagi bersama Juna. dan juga Baby Zie mempunyai orangtua yang lengkap yang selalu mendampinginya setiap saat.
Setelah Juna selesai mengatakan itu, Rara segera bersiap-siap untuk menyiapkan makan siang.
__ADS_1
°°°°
Sore harinya Rey yang baru pulang kerja segera menghampiri ibunya. karena tadi ibunya menelpon dan meminta Rey pulang cepat. Rey juga sudah menanyakan keberadaan Juna sejak kemarin. namun Bu Farah tidak mengatakan apa-apa. dia hanya mengatakan jika besok saja dikasih tahunya.
Rey dan Bu Farah sudah duduk berhadap-hadapan.
"Jadi apa yang akan Mamah katakan kepada Rey?" Rey bertanya kepada Bu Farah.
"Kakakmu sudah keluar dari rumah ini. dia lebih memilih wanita itu dan anaknya. jadi mulai sekarang kamu yang akan memimpin perusahaan. dan juga jangan pernah kamu membantu Kakakmu diluar sana. biarkan saja dia hidup susah. pasti nanti juga dia kembali lagi kerumah ini karena tidak kuat hidup diluaran." ujar Bu Farah menjelaskan kepada anak bungsunya.
"Baik Mah, Rey akan turuti semua kemauan Mamah." Padahal Rey kasihan kepada Juna. tapi karena dia sedikit kecewa dengan Juna yang ternyata menjalin hubungan dengan Rara, Rey akan bersikap acuh saja.
"Ya sudah, hanya itu saja yang ingin Mamah bicarakan."
Setelah selesai mendengarkan perkataan Bu Farah, Rey segera pergi menuju kamarnya.
Rey yang baru saja masuk kedalam kamar, mendengar ponsel miliknya berbunyi.
📞"Hallo" ucap Rey
📞"Hallo Rey, Kakak mau bicara penting sama kamu."
📞"Bicara apa Kak?"
📞"Kamu bisa tidak jika besok lusa pergi ke Kampung Cemara untuk menghadiri acara pernikahan Kakak. Kakak ingin kamu menjadi saksi dipernikahan Kakak." pinta Juna
📞"Nikah? Kakak mau nikah sama Rara?" tanya Rey
📞"Iya, jadi bagaimana? apakah kamu mau menjadi saksi Kakak di pernikahan?"
📞"Rey usahakan yah Kak kalau tidak ada pekerjaan mendesak." ucap Rey
📞"Oke, Kakak tunggu." lalu Juna mematikan panggilan ponselnya.
Setelah menerima telpon dari Juna, Rey tampak berpikir. dia bingung mau datang atau tidak untuk menyaksikan pernikahan Kakaknya dengan wanita yang dia cintai.
Apa aku harus pergi? tapi rasanya malas sekali apalagi melihat Kakak bersanding dengan Rara. dan Juga Mamah pasti bertanya jika aku pergi dan meninggalkan pekerjaan kantor. apa aku bicara saja yah sama Mamah mengenai pernikahan Kakak dan Rara." Rey masih bergelut dengan pikirannya. dia masih bingung mau pergi atau tidak.
°°°°
Mohon maaf baru pulang lembur jadi baru bisa UP. ya, karena mulai hari ini saya sudah kembali bekerja. berangkat pagi pulang sore dan malam lembur.
__ADS_1