Hanya Istri Siri

Hanya Istri Siri
S2_Episode 16


__ADS_3

Tring


Pak Juna mendengar ponselnya berbunyi. dia mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja. ternyata orang suruhannya mengirimkan pesan. Pak Juna segera membuka pesan itu. dia melihat Foto Alvin dan Ibunya. ada juga foto ayahnya yang tak lain adalah Pak Devan, dan foto Bu Luna yang merupakan mantan kekasihnya dulu.


Jadi Alvin ini anaknya Devan, dan anak tirinya Luna. kenapa dunia sempit sekali? memang sebaiknya Zivana jangan berhubungan dengan keluarga itu." batin Pak Juna


Memang hubungan Pak Juna dan Bu Luna baik-baik saja. Pak Juna juga sudah memaafkan Bu Luna di masa lalu. hanya saja Pak Juna takut jika Istrinya salah paham jika dia dan Bu Luna menjadi besan. dan juga bisa saja Alvin itu seperti Devan yang mudah tergoda rayuan wanita. Pak Juna tidak mau anaknya di sakiti. dia ingin anaknya bahagia dan mempunyai pasangan yang setia.


Pak Juna segera mengirimkan sejumlah uang ke rekening orang suruhannya. dan juga Pak Juna kembali memintanya untuk menyelidiki gerak-gerik Alvin.


Terlihat Bu Rara menghampiri suaminya.


"Mas, tumben mainin ponsel," ucap Bu Rara kepada suaminya.


"Ini Mah, ada informasi dari orang suruhan Papah," jawab pak Juna


"Informasi apa Pah?" kini Bu Rara sudah duduk di sebelah suaminya.


"Mamah janji yah tidak akan cemburu sama Papah," ucap Pak Juna kepada Istrinya.


"Iya Pah, Mamah janji," ucap Bu Rara


"Ternyata Alvin itu anaknya Devan, dan dia itu anak tirinya Luna," ucap Pak Juna


"Yang benar Pah?"


"Benar Mah, Papah juga awalnya kaget tapi itulah kenyataannya," ucap Pak Juna


Pak Juna melihat Istrinya malah tersenyum.


"Mamah kok tersenyum? memangnya apa yang lucu?" tanya Pak Juna


"Tidak Pah, hanya saja lucu yah kita bisa berbesanan dengan mantanmu," jawab Bu Rara


"Kirain Papah, Mamah akan marah kalau tahu ini," kata Pak Juna kepada Istrinya.


"Tidak Pah, ngapain marah coba," ucap Bu Rara


"Tapi Papah harus menyelidiki Alvin, sebenarnya apa niat dia menikahi putri kita," ucap Pak Juna

__ADS_1


"Iya Pah, Mamah hanya takut jika ini ada kaitannya dengan kejadian 10 tahun yang lalu," ujar Bu Rara


"Iya Mah, jika memang iya berarti Alvin itu salah paham sama keluarga kita," kata Pak Juna


Setelah selesai berbicara dengan suaminya, Bu Rara memilih untuk kembali ke dapur. karena tadi dia sedang membuat makanan ringan.


°°°


Setelah menempuh perjalanan yang melelahkan, akhirnya Zivana dan Eza sudah sampai di vila keluarga mereka yang ada di puncak. Zivana keluar dari dalam mobil. dia merentangkan tangannya sambil menghirup udara segar. lalu dia menatap Eza yang kebetulan juga sudah keluar dari mobil.


"Za, bawa semua barang Kakak ke dalam!" ucap Zivana memerintah.


"Kok Eza sih? cape tahu Kak habis nyetir."


"Ya sudah kalau tidak mau biar nanti jangan di kasih uang jajan tambahan," kata Zivana mengancam Eza.


"Isshhhhhh iya deh," Eza langsung mengambil koper milik Zivana dan miliknya lalu dia membawanya ke dalam.


"Ini Vila kok bersih, padahal tidak ada yang tinggal disini," gumam Eza


"Ada yang bersihin Za, setiap hari ada yang datang hanya untuk beres-beres saja," ucap Zivana kepada adiknya.


Zivana dan Eza mencari kamar yang cocok untuk mereka.


"Eza, kamu cowok harus ngalah dong," ucap Zivana


"Yang ada Kakak yang harus ngalah sama adik sendiri."


"Iya deh Eza ngalah," Eza langsung menjauhkan diri dari Zivana. lalu dia turun ke lantai bawah. dia akan menempati kamar sebelah tangga saja dari pada dia berdebat dengan Kakaknya.


Setelah kepergian Eza, Zivana langsung masuk ke dalam kamar. ruangan itu terlihat bersih seperti terawat. bahkan horden yang menutupi jendela juga terbuka.


Sepertinya bisa langsung rebahan," gumam Zivana lalu dia memegang seprei kasur yang terlihat bersih.


Zivana merebahkan diri di atas kasur untuk beristirahat sebentar.


Karena kelelahan Zivana tertidur cukup lama. namun dia terbangun saat mendengar ketukan pintu dari luar kamarnya.


Tok tok

__ADS_1


Zivana mengerjapkan kedua matanya. dia beranjak dari tempat tidur.


Astaga pasti itu Eza, dasar anak itu mengganggu saja." batin Zivana lalu dia membukakan pintu kamarnya.


"Ada apa Eza?" tanya Zivana dengan suara khas bangun tidur.


"Lapar Kak, isi kulkas kosong, ayo makan di luar!" ajak Eza


"Kakak mandi dulu bentar," ucap Zivana lalu dia kembali menutup pintu kamarnya.


Kini Zivana dan Eza sudah rapih. mereka akan mencari restoran terdekat sekalian mampir belanja di supermarket.


Saat ini keduanya sudah ada di restoran. bahkan sedang menikmati makanan mereka. tiba-tiba ada yang menyapa Zivana sehingga dia menengok ke sumber suara.


"Nona Zivana," ucap seseorang dari samping Zivana.


Zivana menoleh dan melihat lelaki yang sepertinya pernah dia lihat sebelumnya.


"Siapa yah? kok sepertinya tidak asing?" tanya Zivana


Lelaki yang baru duduk di meja sebelah itu kembali berdiri. dia menghampiri Zivana dan duduk di sebelahnya.


"Saya Aldo yang kemarin malam mengantar Nona pulang," ucap Aldo


"Oh iya aku ingat, kok ada disini juga? lagi liburan?"


"Iya, lagi liburan tapi sendiri. ya jadinya begini nih kesepian sendirian," ucap Aldo


"Kak Aldo Vilanya dimana?"


"Tidak jauh dari sini sih," jawab Aldo


"Mending Kakak menginap sama kita saja, nanti Eza ada temannya. kalau sama Kakak Zie doang malas ah sukanya merintah-merintah mulu." ucap Eza


Zivana menatap tajam adiknya yang bicara blak-blakan di depan orang yang baru di kenal.


"Tidak perlu, biar nanti saya main saja ke vila kalian," ucap Aldo lalu dia menatap Zivana. "Maaf Nona Zivana, bolehkah saya minta nomor ponselnya? biar enak saja nanti bisa kasih kabar dulu kalau saya mau main ke Vila." ucapnya lagi


"Iya boleh," Zivana langsung mengambil ponselnya yang ada di dalam tas. lalu memberikannya kepada Aldo. Aldo mencatat sendiri nomor ponsel Zivana.

__ADS_1


Setelah meminta nomor ponsel, Aldo segera memesan makanan. dia makan bersama dengan Zivana dan Eza.


°°°


__ADS_2