Hanya Istri Siri

Hanya Istri Siri
S2_Episode 70


__ADS_3

Bu Luna sudah berada di rumah sakit. Jujur saja dia sangat terpukul mendengar kabar jika anaknya sedang sakit keras. Selama ini Sela tidak pernah mengatakan apa pun kepadanya.


Bu Luna masuk ke dalam ruangan anaknya. Disana sudah ada Lina yang sedang duduk di dekat Sela yang sedang berbaring.


Bu Luna mengusap pucuk kepala anaknya. Namun ternyata rambut palsu yang di pakai oleh Sela terlepas. Bu Luna menutup mulutnya, dan kini matanya terlihat berkaca-kaca. Rasanya begitu perih melihat anak semata wayangnya sedang berjuang antara hidup dan mati.


"Ini sejak kapan? Sejak kapan Sela rambutnya rontok?" Bu Luna mengelap sudut matanya yang terus meneteskan air mata.


"Sudah lama, Bu. Non Sela tidak ingin Ibu khawatir, jadi Ibu tidak di beritahu mengenai penyakitnya," ucap Lina


Bu Luna tidak menyangka jika anaknya mampu melewati cobaan hidup yang begitu pahit. Apalagi tanpa dukungan keluarga. Semenjak hamil, Sela terlihat berbeda. Dia lebih dewasa dan tidak lagi mengganggu kehidupan orang lain.


Terlihat Dokter masuk ke ruangan dengan membawa surat persetujuan yang harus di tanda tangani oleh Bu Luna.


"Permisi, dengan keluarga pasien," ucap Dokter yang baru masuk.


"Saya Ibunya, Dok." ucap Bu Luna sambil mengelap sudut matanya yang basah.


"Ini saya membawa surat persetujuan yang harus di tanda tangani oleh Ibu," ucap Dokter.


Bu Luna mengambil selembar kertas yang di berikan oleh Dokter. Lalu membaca dan menandatanganinya.


"Lakukan, Dok! Saya ingin anak saya segera ditangani," ucap Bu Luna.


"Baik, anak ibu akan di pindahkan ke ruang operasi," setelah mengatakan itu, Dokter keluar dari ruangan. Karena akan memanggil perawat yang akan membantu memindahkan Sela.


Bu Luna dan Lina mengikuti kemana Sela dibawa.


Kini keduanya berdiri di depan ruang operasi.


"Lin, apa saya boleh meminta tolong?" Bu Luna menatap Lina yang sedang berdiri di sebelahnya.


"Boleh, Bu. Minta tolong apa?"


"Tolong kamu ke rumah Eza dan memberitahukan keadaan Sela saat ini. Suruh Eza untuk datang kesini. Tadi saya sudah mencoba untuk menghubunginya, namun nomor ponselnya tidak aktif."


"Saya mau sih, tapi tidak tahu alamat rumahnya," kata Lina.


"Nanti di antar supir, saya mau menelpon supir saya dulu untuk menyuruhnya kesini," Bu Luna mengambil ponselnya yang ada di dalam tas.

__ADS_1


Kini Lina sudah pergi bersama supir pribadi Bu Luna. Tujuannya ke kediaman Dirgantara.


Tak terasa sudah lama mereka menempuh perjalanan. Kini mobil itu sudah sampai di depan kediaman Dirgantara. Lina begitu kagum saat pertama kali melihat bangunan mewah itu. Karena ini pertama kalinya dia datang ke rumah majikannya. Selama ini dia tahunya hanya bangunan Vila milik keluarga Dirgantara.


Lina berjalan semakin mendekati bangunan mewah itu. Saat ini dirinya sudah berdiri di depan pintu masuk.


Tok tok


Lina mengetuk pintu itu. Bu Rara yang sedang bersantai mendengar ketukan pintu dari depan rumahnya.


Cklek


Bu Rara melihat seorang wanita muda sedang berdiri di depan rumah.


"Cari siapa yah? Eh tunggu dulu, sepertinya kita pernah bertemu," Bu Rara mengamati wajah Lina yang menurutnya tak asing.


"Saya Lina, Bu. Saya yang bekerja di Vila bersama Ibu saya Bi Asih."


"Oh iya iya, saya baru ingat. Terakhir kali ketemu sepertinya beberapa tahun yang lalu. Sekarang sudah dewasa ternyata, Lin. Ayo silahkan masuk!" Bu Rara menyambut hangat kedatangan Lina.


Lina mengekor Bu Rara masuk ke rumah. Dia kembali kagum melihat keindahan rumah itu.


Saat ini Lina dan Bu Rara duduk saling berhadapan.


"Sama sekali tidak mengganggu. Tapi kok Nak Lina jauh-jauh dari puncak kesini mau ngapain?"


"Ceritanya panjang, Bu. Sekarang saya tinggal disini bersama Non Sela. Saya kesini untuk menemui Kak Eza. Kasihan Bu sekarang Nona Sela sedang sakit keras. Saya di suruh Bu Luna untuk meminta Eza datang ke rumah sakit."


"Memangnya sakit apa?"


"Kanker otak, tapi sudah parah. Dari awal Dokter sudah memberinya penawaran untuk pengobatan. Namun Nona Sela menolak karena akan membahayakan janinnya. Dan jika saat itu Nona Sela mau melakukan pengobatan, itu berarti janinnya harus di gugurkan. Namun Nona Sela lebih memilih untuk mempertahankan janin itu."


Bu Rara yang mendengar cerita itu tak menyangka jika Sela mau lebih mempertahankan janinnya dari pada pengobatan penyakitnya.


Apa selama ini Aku dan keluargaku sudah berbuat jahat, dengan memisahkan Sela dan Eza.' batin Bu Rara


"Tapi kenapa Eza? Dia bukan siapa-siapanya Eza."


"Kak Eza dan Nona Sela sudah menikah siri. Tapi mereka tidak seperti layaknya suami istri lainnya. Mereka tinggal terpisah."

__ADS_1


"Menikah? saya baru tahu loh," Bu Rara tak habis pikir karena anaknya menyembunyikan sesuatu sepenting itu. "Saya mau memanggil Eza dulu," Bu Rara beranjak dari duduknya. Lalu memanggil Eza yang sedang berada di kamarnya.


Kini Bu Rara sudah kembali ke ruang keluarga bersama dengan Eza. Eza terkejut saat melihat ada Lina disana.


"Lina, ngapain kamu kesini?"


"Maaf Kak, tapi aku kesini karena ada sesuatu yang penting. Nona Sela sakit parah dan saat ini sedang melakukan operasi persalinan."


"Bukannya masih dua bulan lagi? Kenapa melahirkan sekarang? Sela sakit apa?"


"Itu karena penyakitnya yang semakin parah membuatnya harus melahirkan lebih awal," sejenak Lina menghentikan perkataannya. "Non Sela menderita kanker otak," ucapnya lagi.


"Kanker otak?" Eza terkejut karena baru tahu jika Sela sedang sakit. Selama ini Sela tidak pernah mengatakan apa pun. Satu-satunya keinginan dia, saat meminta Eza untuk menikahinya. Sela tidak pernah bercerita atau mempunyai keinginan apa pun lagi.


"Eza, Papah sudah tahu yah kalau kamu diam-diam menikah," terlihat Pak Juna melangkah masuk ke dalam rumah di ikuti oleh Farizki.


Bu Rara menghampiri suaminya lalu bersalaman dan membawakan tas kerjanya.


"Papah kecewa sama kamu karena kamu tidak bicara dulu jika akan menikahi wanita itu," ucap Pak Juna sambil melangkah mendekati Eza.


"Pah, sudahlah jangan membahas itu dulu. Sekarang ada hal yang lebih penting. Eza mau pergi dulu, Pah." kata Eza lalu dia menoleh menatap Lina. "Ayo kita pergi, Lin!"


"Iya, Kak." Lina mengikuti Eza yang sudah melangkah terlebih dahulu.


"Za, Papah belum selesai bicara?" Pak Juna berteriak sambil menatap kepergian anaknya.


"Pah, biarkan saja Eza pergi. Lagian kasihan sekarang Sela butuh Eza."


"Kok Mamah jadi belain wanita itu sih?"


"Sela sedang sakit parah, Pah. Sekarang juga sedang melakukan operasi persalinan."


"Sakit apa?" tanya Pak Juna


"Kanker otak, lebih baik sekarang kita bersiap pergi ke rumah sakit untuk melihatnya. Lagian sekarang kita itu mertuanya." ucap Bu Rara


"Mamah sudah mau nih jadi mertuanya?"


"Sudahlah, Pah. Ini bukan saatnya kita bercanda. Mamah mau bersiap dulu," Bu Rara melangkah pergi menuju ke kamarnya.

__ADS_1


Pak Juna juga mengikuti Istrinya menuju ke kamar


°°°


__ADS_2