Hanya Istri Siri

Hanya Istri Siri
S2_Episode 104


__ADS_3

Semakin lama kandungan Zivana semakin membesar. Saat ini usia kandungannya sudah memasuki usia delapan bulan. Semakin hari dia semakin manja saja. Beruntung Alvin selalu sabar dan menuruti semua keinginannya. Bu Rara juga menjaga Baby Rayan dengan baik. Bahkan baby Rayan sudah mau tidur sendirian. Hanya saja Bu Rara tidak tega jika membiarkannya tidur sendirian. Karena takutnya Baby Rayan jatuh ke lantai.


Zivana dan Alvin sedang bersantai sambil menonton televisi. Dan di tayangan televisi ada iklan es krim dengan varian rasa terbaru. Zivana merasa menginginkan es krim itu.


"Mas, Zie mau es krim itu dong," Zivana merengek sambil memegang tangan suaminya.


"Mau berapa, sayang? Nanti Mas beliin di supermarket depan." ucap Alvin.


"Mau satu saja," ucap Zivana.


"Baiklah, Mas langsung pergi nih," Alvin beranjak dari duduknya dan akan bersiap untuk pergi.


Setelah selesai bersiap, dia berpamitan kepada istrinya. Barulah dia pergi untuk membeli es krim.


Alvin sudah berada di swalayan depan, namun tidak ada es krim yang ada di tayangan televisi. Dia juga mencari ke swalayan lain dan toko-toko kecil. Tapi tetap saja es krim seperti itu tidak ada. Bahkan ada yang mengatakan jika es krim seperti itu belum ada di pasaran.


Alvin memilih mencari informasi perusahaan pembuat es krim. Dia memesan es krim yang saat ini sedang di inginkan oleh istrinya. Dia bahkan membayar dengan harga mahal. Tentu pemilik perusahaan begitu tertarik.


Alvin kembali pulang ke rumah. Zivana melihat mobil suaminya memasuki halaman rumah. Sejak tadi dia menunggu suaminya di depan rumah.


"Mas Alvin, es krimnya ada?" Zivana bertanya kepada suaminya yang sedang melangkah ke arahnya.


"Mas sudah mencari ke beberapa swalayan dan toko kecil, namun es krim yang seperti itu belum di jual di pasaran," ucap Alvin.


Zivana mendadak sendu saat tahu jika es krim yang dia inginkan tidak ada.


"Sayang, kamu jangan sedih dulu dong. Mas belum selesai bicara loh."


Zivana menatap suaminya dan bertanya,


"Memangnya Mas Alvin mau bicara apa lagi?"


"Mas tadi sudah menelpon perusahaan yang membuat es krim. Dan Mas sudah memesan es krim yang kamu inginkan." kata Alvin.


"Benarkah?"

__ADS_1


"Iya, sayang." jawab Alvin


Zivana langsung memeluk suaminya. Alvin merasakan perut istrinya mengganjal.


"Terima kasih, Mas. Nanti malam Zie kasih jatah deh."


Alvin melepaskan pelukan istrinya. Saat ini dia saling tatap dengan istrinya.


"Benarkah," Alvin terlihat senang karena jarang-jarang istrinya mau di ajak berhubungan selama hamil.


"Benar, Mas." jawab Zivana


Cup


Alvin mengecup singkat bibir istrinya.


Alvin dan istrinya masuk ke rumah dan menunggu es krim pesanan mereka datang.


°°°°


Terlihat Asisten Tio keluar dari gedung perusahaan. Di luar sudah gelap, karena sekarang pukul tujuh malam. Asisten Tio langsung masuk ke mobil lalu mengemudikan mobilnya menuju ke rumahnya. Di tengah perjalanan, dia melihat seorang wanita hamil yang akan menyebrang. Karena merasa tidak tega, Asisten Tio menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Dia berniat membantu wanita itu menyebrang.


"Maaf Bu,apakah mau menyebrang? biar saya bantu," ucap Asisten Tio yang saat ini berdiri di samping wanita itu. Karena cahayanya tidak terlalu terang, Asisten Tio tidak bisa melihat jelas wajah wanita itu.


Wanita itu menoleh, dan begitu terkejutnya saat melihat seseorang yang sudah lama tidak dia temui.


"Tidak usah, saya pergi dulu," ucap Desi dan hendak membalikan badannya. Namun Asisten Tio menahan tangan Desi sehingga dia belum sempat beranjak dari sana.


"Desi, kamu hamil?" terlihat kekecewaan di raut wajah asisten Tio. Karena wanita yang selama ini mengisi hatinya, ternyata tengah berbadan dua.


"Iya, aku permisi dulu," Desi mencoba untuk menghindari Asisten Tio. Karena dia merasa tidak pantas ada di dekatnya.


"Ternyata kamu sudah menikah, selama ini aku mencari kamu. Aku baru sadar jika aku mencintai kamu. Dan maaf saat itu aku mengataimu ja*lang." ucap Asisten Tio


Desi menghentikan langkahnya. Dia tidak bisa lagi membendung air matanya. Ternyata cintanya tidak bertepuk sebelah tangan. Walaupun awalnya dia menyangkal dengan perasaannya, tapi tetap saja itu malah semakin membuat rasa cintanya bertambah. Ingin sekali Desi membalikan badannya dan membicarakan semuanya kepada Asisten Tio, namun dia tidak berani.

__ADS_1


Desi kembali melanjutkan langkahnya tanpa menoleh ke belakang.


Kenapa Desi terlihat aneh? Kenapa dia menghindariku? Lalu, kenapa dia pergi malam-malam sendirian?" batin Asisten Tio


Asisten Tio memilih untuk mengikuti Desi. Dia sengaja mengendarai mobilnya dengan pelan agar Desi tidak curiga.


Kini Desi sudah sampai di rumah kardus yang selama ini dia tempati. Dia langsung masuk ke dalam untuk beristirahat. Karena kerja seharian membuatnya kelelahan.


Asisten Tio menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Lalu dia pergi ke rumah kardus. Dia melihat seorang wanita dewasa yang lewat di depannya.


"Bu, bolehkan saya bertanya?"


Wanita itu menghentikan langkahnya.


"Silahkan, Pak." ucapnya.


"Apa ibu tinggal di rumah kardus itu?" Alvin menunjuk deretan rumah kardus yang letaknya tak jauh dari tempatnya berdiri.


"Iya, memangnya kenapa yah?"


"Apa ibu mengenal Desi? wanita yang sedang hamil?"


"Iya, saya kenal. Saya merasa kasihan sama dia karena tidak punya siapa-siapa."


"Suaminya kemana?"


"Dia hamil di luar nikah, sampai saat ini saya juga tidak tahu siapa ayah anaknya. Kalau sudah tidak ada yang di tanyakan, saya permisi dulu. Kasihan anak saya belum makan dari siang." wanita itu pergi dari hadapan Asisten Tio.


Asisten Tio masih diam di tempatnya dan pikirannya berkelana entah kemana.


Apa aku temui Desi sekarang, tapi sepertinya mengganggu kalau malam-malam. Besok saja deh, sekarang aku pulang dulu." batin Asisten Tio


Asisten Tio kembali masuk ke mobil. Lalu mengemudikan mobilnya menjauh dari tempat itu.


°°°°

__ADS_1


__ADS_2