
Setelah kepergian Bu Sri, Rara segera memasukan kue goreng yang dia buat kedalam wadah yang biasa dipakai untuk tempat kue.
setelah itu dia segera pergi untuk menitipkan kue itu diwarung. sebenarnya dia ingin berjualan berkeliling. namun karena masih lumayan cape karena habis perjalanan jauh, jadi dia urungkan niatnya.
"Ayo sayang kita pergi dulu." Rara menggendong Baby Zie. dan tangan satunya membawa cangkingan berisi kue.
Rara hendak menyebrang jalan. namun Baby Zie tampak tidak bisa diam di gendongan.
"Sayangnya Mamah diam dong. Mamah susah nih kalau Baby Zie tidak bisa diam."
"Ulun amah ulun..."Baby Zie minta diturunkan dari gendongan.
"Sayang, nanti kamu jatuh loh. nanti saja yah turunnya." ucap Rara memberikan pengertian.
"Ulun amah ulun..."Baby Zie sudah berkaca-kaca.
"Iya iya sayang cup cup jangan nangis dong." Rara menurunkan Baby Zie lalu dia menuntun Baby Zie. dia berjalan dengan berhati-hati sambil sesekali mengawasi Baby Zie.
Rara sudah sampai di warung untuk menitipkan kue.
"Assalamu'alaikum Bu" sapa Rara yang baru datang.
"Waalaikum'salam, eh Rara sudah datang. siapa nih cantik bener." ucap Ibu pemilik warung. kemudian pandangannya beralih kepada Baby Zie.
"Ini Zivana Bu, anaknya Rara. panggilannya Baby Zie. ucap Rara
"Hallo Baby Zie cantik." Ibu warung merasa gemas. dan dia hendak memegang pipi Baby Zie. namun Baby Zie bersembunyi di belakang Mamahnya.
"Eh sayang, kok menghindar sih." Rara melihat Baby Zie yang bersembunyi
di belakangnya.
"Mungkin masih belum terbiasa dengan orang baru Ra." ucap Ibu warung
"Maaf yah Bu"
"Tidak apa-apa Ra, nanti lama-lama juga terbiasa."
Setelah menitipkan kue, Rara kembali pulang ke rumah. memang bisanya Rara menitipkan kue ke beberapa warung. namun kali ini dia membuat kue sedikit. jadi hanya dititipkan
di satu warung saja.
••••
Juna sedang menuju ke kontrakan yang pernah dia tinggali bersama Rara. dia akan mencari Rara disana. Juna turun dari mobil dan segera memasuki area kontrakan. Juna bertanya kepada beberapa penghuni kontrakan disana. namun mereka tidak tahu keberadaan Rara. Juna juga singgal di warung untuk bertanya kepada Ibu pemilik warung. barangkali Ibu itu pernah melihat Rara disekitar situ.
"Permisi Bu" Juna menyapa Bu Helda yang sedang duduk di dalam warungnya.
"Eh, kamu? bukankah kamu suaminya Rara?" tanya Bu Helda
"Mantan Bu, tapi akan segera rujuk kembali. maaf Bu, apa saya boleh bertanya sesuatu?" tanya Juna
"Boleh, mau tanya apa?"
"Apa ibu pernah lihat Rara lewat daerah sini?" Juna bertanya kepada Bu Helda.
"Saya tidak pernah melihat Rara disekitar sini. terakhir kali saya melihatnya sebelum Rara pergi dari kontrakan."
"Begitu yah, ya sudah Bu terimakasih."
"Memangnya ada apa dengan Rara?"
"Rara pergi dari rumah kemarin pagi Bu. dan sekarang saya sedang mencarinya. tapi bingung saya mau mencari kemana. Rara tidak bicara apa-apa dulu. dia pergi begitu saja." ucap Juna
"Apa bisa saja Rara pulang kampung atau menginap dirumah temannya mungkin." ucap Bu Helda
"Saya tidak tahu Bu, ya sudah Bu, saya pergi dulu." setelah berpamitan, Juna segera beranjak pergi.
Juna tampak berpikir, mungkin ada benarnya juga yang dikatakan oleh Bu Helda. Juna berniat untuk pergi kekampung halaman.
dia akan mengemudikan mobilnya sendiri. mobil itulah satu-satunya harta yang dia bawa pergi dari rumahnya.
Juna yang pergi ke kampung halaman Rara, beberapa kali dia singgah di tempat peristirahatan. karena dia merasa cape dan tidak terbiasa mengemudi jarak jauh.
Setelah menempuh perjalanan jauh akhirnya kini Juna sudah sampai di kampung halaman. dia sedikit bingung karena sudah lama tidak pernah melewati jalan daerah sana. tapi dia mencoba mengingat-ingat lagi. akhirnya Juna samapai juga walaupun kini hari sudah malam. karena Juna tadi berangkat siang hari dan beberapa kali singgah. itu yang membuatnya lebih lama sampai ditempat tujuan.
Juna sudah berdiri di depan rumah Rara. rumah itu terlihat masih sama seperti dulu. sederhana namun tampak terawat.
Tok tok (Juna mengetuk pintu rumah yang terlihat sedikit reot.)
__ADS_1
Mungkin karena sudah tengah malam jadi Rara tidak membukakan pintu. Juna mengetuk pintu jendela kamar. dia tahu jika dulu, itu kamar kamar milik Rara.
Tok tok
Rara yang sedang tidur merasa terusik mendengar jendela kamarnya di ketuk dari luar.
"Eughh...siapa sih yang ketuk jendela malam-malam." Rara mendudukan dirinya diranjang. lalu dia segera berdiri dan melihat dari celah kecil dari balik jendela kayu itu.
Mas Juna, apa aku tidak salah lihat? apa ini hanya halusinasiku saja." Rara menepuk-nempuk pipinya dan ternyata ini bukan mimpi.
Rara tidak membuka jendela itu tapi dia pergi kedepan untuk membukakam pintu. Rara melihat sosok lelaki yang mirip Juna masih berdiri didekat jendela kamarnya.
"Mas Juna" Rara memanggil Juna dan Juna langsung menoleh.
"Kamu ternyata disini Ra. aku sudah mencarimu dikota tapi kamu tidak ada."
"Mas Juna kenapa kesini?" tanya Rara saat Juna sudah berjalan mendekatinya.
"Mas ingin selalu bersama-sama denganmu dan Baby Zie." kata Juna
"Ya sudah, ayo masuk dulu Mas." Rara mengajak Juna untuk masuk kedalam rumah.
Rara menyuruh Juna untuk beristirahat di kamar lain. kamar itu tidak ada kasur dan ranjangnya. hanya ada tikar yang tergeletak sebagai alasnya.
"Maaf Mas, tapi disini tidak ada ranjang dan kasur." ucap Rara saat sudah berada di depan kamar itu. kebetulan dikamar itu tidak ada pintunya. hanya ada horden yang dipakai untuk menutupi bagian depan pintu masuk.
"Iya Ra, tidak apa-apa kok. ya sudah cepat kamu kembali istirahat. Mas juga mau istirahat." pinta Juna menyuruh Rara untuk kembali beristirahat dikamarnya.
Rara segera kembali kekamarnya. dan juna duduk di tikar untuk betistirahat. beberapa saat, Rara kembali membawakan bantal dan selimut yang tipis berbahan kain batik untuk Juna.
Juna segera merebahkan dirinya. ya memang rasanya dingin sekali dan juga tidak nyaman. tapi dia berusaha memejamkan kedua matanya.
°°°
Keesokan harinya, Rara bangun lebih awal. dia membangunkan Juna untuk pindah ke kanarnya menemani Baby Zie. karena kebetulan dia akan segera memasak makanan untuk sarapan.
Setelah Juna pergi kekamarnya, Rara segera menuju ke dapur. dia menyalakan api menggunakna kayu bakar. kebetulan kemarin Bu Sri yang habis dari kebun memberinya kayu bakar. Rara sendiri belum bisa pergi ke kebun karena jika harus mengajak Baby Zie sudah pasti Baby Zie akan rewel.
Setelah memasak nasi, Rara memasak sayur daun katuk yang merupakan sayuran kesukaannya. kebetulan di belakang rumahnya ada lahan tanah kosong yang khusus ditanami sayur-sayuran.
Setelah selesai memasak, Rara segera menghidangkan masakannya. lalu dia segera bergegas untuk shalat karena waktu subuh hampir habis. tapi sebelum itu dia membangunkan Juna terlebih dahulu untuk mengajaknya shalat bersama.
Juna tidak terbiasa dengan semua itu. namun dia harus membiasakannya. karena niatnya, dia ingin selalu bersama Rara dan Baby Zie dalam keadaan susah dan senang.
"Amah...amah..."Baby Zie terbangun dari tidurnya dan memanggil Rara.
Rara yang mendengar itu segera menghampiri Baby Zie di dalam kamar. karena dia khawatir jika Baby Zie akan turun sendiri dari kamar.
"Sayangnya Mamah sudah bangun." Rara menggendong Baby Zie yang sudah terlihat berkaca-kaca.
"Amah..nen...amah..." Baby Zie tampak merengek.
"Baby Zie mau nen? ya sudah, tapi jangan rewel yah." ucap Rara dan Baby Zie hanya mengangguk.
Setelah menyusui Baby Zie, Rara membawa Baby Zie keluar kamar. dia menghampiri Juna yang sedang duduk di ruang depan.
"Mas, Rara titip Baby Zie dulu yah. Rara mau mandi dulu."
"Iy Ra, biar Baby Zie bersamaku dulu."
Baby Zie yang sedang menengok kebelakang segera menoleh saat dia mendengar suara Papahnya.
"Apah...apah..." Baby Zie tampak merentangkan tangannya karena ingin digendong oleh Juna.
"Sayangnya Papah sudah bangun. sini sama Papah sayang." Juna mengambil Baby Zie dari gendongan Rara.
Setelah menyerahkan Baby Zie kepada Juna, Rara segera pergi mandi.
Rara, Juna dan Baby Zie sudah berada di ruang makan yang berukuran kecil. mereka segera memulai untuk sarapan. Juna tampak lahap memakan masakan Rara. bahkan dia kembali menambah porsi makannya.
Setelah selesai sarapan, Juna mengajak Rara untuk duduk santai sambil mengobrol.
"Ra, kenapa kamu pergi begitu saja dari rumah?" tanya Juna
"Tidak apa-apa kok Mas, Rara hanya ingin pergi saja." ucap Rara
"Junjur saja sama Mas, Mas tidak ingin ada yang kamu tutup-tutupi." Juna meminta Rara berkata jujur.
"Ya sudah sekarang Rara yang bertanya. kenapa Mas Juna tunangan tidak bilang-bilang dulu sama Rara?" Rara bertanya karena memang dia ingin mendengar kejujuran dari Juna.
__ADS_1
"Jadi kamu pergi karena tahu Mas bertunangan." Juna menyunggingkan senyumannya.
"Kenapa malah senyum-senyum?" tanya Rara yang sudah memanyunkan bibirnya.
"Jadi sekarang kamu cemburu sama Mas." ucap Juna menggoda Rara.
"Apaan sih, kalau memang cemburu juga tidak ada gunanya." ucap Rara
"Kata siapa?" Juna masih memandang wajah Rara.
"Mas tidak jadi tunangan kok, Mas tidak tahu apa-apa sebelumnya mengenai acara pertunangan itu." ucap Juna
"Maksudnya?"
"Mamah yang menjodohkan Mas dengan Putri. Mas dan Putri sama-sama tidak menyetujui perjodohan itu." Juna mencoba menjelaskan yang sebenarnya kepada Rara.
"Putri yang Mas maksud itu Putri teman Rara bukan?" tanya Rara
"Iya, itu adalah Putri teman kamu." kata Juna
Rara hanya menganguk-angguk saja mendengar perkataan Juna. dia tidak bertanya yang lebih lagi.
"Kamu tidak bertanya kenapa Mas menolak perjodohan itu."
"Tidak perlu, lagian Mas dan Putri juga tidak melanjutkan pertunangannya." kata Rara
"Ya sudah, sekarang Mas mau membicarakan yang lebih penting." ucap Juna dan Rara kembali menatap ke arahnya.
Juna mulai berbicara kepada Rara. dia mengatakan jika dirinya sekarang sudah tidak punya apa-apa lagi. karena dia sudah dicoret dari ahli waris. dan juga dia berbicara bahwa dia sudah mengatakan kepada ibunya mengenai status Rara dan Baby Zie.
Setelah Juna selesai berbicara, Rara segera bertanya kepadanya.
"Kenapa Mas lebih memilihku dan Baby Zie? bukankah keluarga Mas dan perusahaan lebih membutuhkan Mas?"
"Keluarga Mas itu kalian. Mas ingin selalu bersama kalian berdua." ucap Juna
"Terus bagaimana dengan Ibu Mas dan Mas Rey?"
"Mas yakin jika suatu saat Mamah akan menerima kalian. tapi tunggu dulu, sejak kapan kamu tahu jika Rey itu keluargaku dan Juga kenapa kamu memanggilnya dengan sebutan Mas?" tanya Juna
"Beberapa waktu yang lalu Mas Rey pergi
ke rumah yang ditinggali Rara. kalau panggilan Mas itu karena Mas Rey lebih tua dari Rara jadi Rara panggilnya Mas.".
"Ngapain Rey pergi kerumah itu? bukankah yang mengetahui rumah itu hanya kamau dan aku." Juna merasa heran mengetahui jika Rey pergi kerumah barunya.
"Rara juga tidak tahu Mas."
"Ya sudah tidak apa-apa. tapi Mas minta agar kamu tidak memanggilnya Mas lagi. hanya aku, Arjuna Dirgantara yang boleh kamu panggil Mas." ucap Juna
"Memangnya kenapa?"
"Tidak usah bertanya, ini perintah!"
"Baiklah Mas" Rara tidak berani bertanya lagi.
Setelah mengobrol cukup lama dengan Juna, Rara segera beranjak pergi untuk memandikan Baby Zie. Juna yang sama sekali tidak pernah memandikan Baby Zie, ikut melihat Rara memandikan Baby Zie. Baby Zie tampak senang bermain air. dia tidak mau keluar dari tempat mandi bayi yang dia pakai untuk mandi.
"Sayang, mandinya sudah selesai loh. ayo Mamah gendong, nanti kamu masuk angin kalau lama-lama di air."
"Apah...apah..." Baby Zie mencipratkan air dan mengenai Juna.
"Aduh sayang, kok nakal sih." Juna langsung menjauh dari Baby Zie.
"He..he..he...."Baby Zie masih asyik bermain air.
Rara segera mengangkat Baby Zie dari dalam air. namun Baby Zie malah menangis.
"Uluh uluh sayangnya Mamah jangan nangis dong. masa nangis sih, malu tuh dilihatin papah." ucap Rara
Rara mencoba menenangkan Baby Zie namun masih menagis juga. akhirnya Juna ikut bertindak. dia mengambil alih Baby Zie didalam gendongan Rara.
"Cup cup sayangnya Papah jangan nangis lagi yah. nanti Papah temani main loh. Baby Zie mau kan main sama Papah?" Juna menatap Baby Zie yang sejak tadi tampak mendengarkan perkataannya.
"Ain apah ain apah"Baby Zie akhirnya menurut setelah Juna mengatakan ingin bermain dengannya.
"Ayo kita main sayang, tapi Baby Zie pakai baju dulu yah." Juna membawa Baby Zie kedalam Rumah. dan Rara mengikuti mereka dari belakang.
Juna tampak telaten mengoleskan bedak dan minyak telon ke badan Baby Zie. lalu dia memakaikan baju kepadanya. setelah selesai memakaikan baju, Juna mengajak Baby Zie untuk bermain di ruang depan.
__ADS_1