
Di lain tempat, pasangan yang selalu terlihat romantis, sedang melakukan kegiatan panas mereka. Akhir-akhir ini Alvin selalu rutin bercocok tanam dengan istrinya. Dia sangat menginginkan jika istrinya hamil lagi.
"Mas cepatlahhhhh," Zivana meracau karena suaminya masih memacu tubuhnya dengan cepat.
"Sebentar sayang," ucap Alvin tanpa menghentikan aksinya.
Alvin semakin mempercepat temponya, namun ketukan pintu membuat mereka terganggu. Dan Alvin terpaksa harus menghentikan kagiatannya.
Sttt mengganggu saja," gumam Alvin.
Tok tok
"Nona Zie," terdengar suara Desi dari balik pintu.
Zivana juga mendengar tangisan anaknya.
"Mas, Rayan menangis tuh." ucap Zivana
"Tapi Mas belum tuntas, sayang." ucap Alvin lesu.
"Lalu bagaimana lagi?"
"Hm baiklah," Alvin melepaskan miliknya dari istrinya.
Zivana beranjak dari atas tempat tidur. Lalu dia mendekati pintu kamarnya.
"Sebentar, Kak." ucap Zivana lalu dia pergi ke kamar mandi untuk sekedar membasuh bagian tertentu.
Zivana kembali ke kamar dan segera memakai pakaiannya.
Alvin beranjak dari atas tempat tidur dengan lesu. Terpaksa dia harus menuntaskan hasratnya di kamar mandi.
Cklek
Zivana membuka pintu kamarnya. Dia mengambil Baby Rayan yang ada di gendongan Desi.
"Uluh uluh anak Mamah jam segini sudah bangun, haus yah sayang," Zivana mencoba untuk menenangkan Baby Rayan.
Zivana menatap Desi yang masih ada di depannya.
"Kak Desi, Kakak boleh pergi!"
"Baik, Nona." Desi melangkah pergi dari hadapan Zivana.
Zivana mengambil selimut dan seprei yang ada di atas tempat tidur lalu melemparnya asal. Dia menidurkan anaknya disana lalu memberinya ASI. Baby Rayan terlihat diam saat Zivana sudah tenang tak menangis lagi. Zivana menepuk-nepuk pelan pantat anaknya sehingga kini Baby Rayan kembali terlelap.
__ADS_1
Terlihat Alvin keluar dari kamar mandi dengan dan terlihat lesu. Dia duduk di sofa sambil mengeringkan rambutnya yang basah. Zivana hanya menatap suaminya tanpa berkata apa pun karena takut mengganggu ketenangan Baby Rayan.
Zivana beranjak dari atas tempat tidur saat melihat anaknya yang sudah lebih lelap.
"Mas," Zivana mendudukan dirinya di sebelah suaminya.
Alvin menoleh menatap istrinya.
Zivana terkekeh geli menatap raut wajah suaminya.
"Kamu kenapa Mas? Wajahnya di tekuk begitu?"
"Tidak di jawab juga pasti sudah tahu jawabannya," ucap Alvin.
"Sabar, Mas. Nanti kita bisa melakukannya lagi."
"Nanti kapan? Sekarang saja kita sudah harus bersiap pergi ke kantor."
Zivana hanya tersenyum menatap suaminya.
"Zie mandi dulu deh," Zivana kembali beranjak dari duduknya. Dia melangkah menuju ke kamar mandi.
°°°
Selama perjalanan tidak ada yang bersuara. Alvin yang biasanya mengajak istrinya mengobrol, kini terlihat diam karena masih ngambek dengan kejadian pagi tadi.
Tak terasa kini mobil yang di kendarai Alvin sudah sampai di depan kantor. Mereka segera keluar dan melangkahkan kakinya memasuki kantor.
Para karyawan yang berpapasan dengan mereka, menundukan kepalanya menandakan tanda hormat. Alvin dan Zivana membalasnya dengan senyuman.
Saat akan memasuki lift, Alvin meminta Desi untuk jangan naik dulu. Hanya Alvin dan Zivana yang memasuki lift.
"Mas, kok kita tinggalin Desi dan Rayan sih?" Zivana bertanya kepada suaminya.
"Sudah diam saja!" kata Alvin
Zivana kembali diam, dia menatap suaminya yang serius menatap pandangannya ke depan.
Ting
Pintu lift terbuka, Alvin menggandeng istrinya menuju ke ruang kerjanya.
Saat keduanya sudah berada di dalam ruangan, Alvin langsung menutup pintu dan menguncinya.
"Mas, kok di kunci?" Zivana merasa heran dengan tingkah suaminya di pagi ini.
__ADS_1
"Biarkan saja," kata Alvin
Alvin mendekati tembok kaca yang di jadikan sebagai dinding.
Srak
Alvin menyeret horden panjang lalu terlihatlah keindahan kota dan gedung-gedung menjulang tinggi di luar ruangannya.
"Sini!" Alvin menyuruh Istrinya untuk mendekat.
Zivana menaruh tas kerjanya lalu dia menghampiri suaminya.
"Ada apa, Mas?"
Alvin tidak menjawab perkataan istrinya. Dia malah menyerang istrinya. Zivana hanya menurut karena tak mau jika suaminya bertambah bad mood.
Tangan Alvin sudah menjalar kemana-mana. bahkan salah satu tangannya menyingkap rok yang di kenakan istrinya. Zivana merasakan jika suaminya sedang menarik penghalang terakhir yang menutupi bagian bawahnya.
Sejenak Alvin menghentikan aksinya lalu buru-buru melepaskan ikat pinggangnya.
"Mas, kita akan melakukannya disini?"
"Menurut saja."
"Tapi nanti terlihat dari luar loh," kata Zivana.
"Siapa yang mau melihat, kita ini di gedung paling tinggi.
Zivana hendak berkata namun tak jadi saat melihat suaminya sudah menaikan sebelah kakinya. Dengan sedikit menghimpit tubuh istrinya, Alvin mulai melakukan aksinya.
Lama kelamaan Zivana meraskan pegal karena terus berdiri. Sejenak Alvin menatap istrinya lalu menuntunnya menuju sofa. Dia langsung menidurkan istrinya disana lalu kembali melancarkan aksinya.
Di luar ruangan, Desi mencoba mengetuk pintu namun tidak ada jawaban dari dalam.
"Ngapain kamu disitu?" tanya Asisten Tio yang sedang melangkah menuju ke ruangannya.
"Mau menemui Nona Zie, tapi pintunya di kunci."
"Masa sih Pak Alvin mengunci ruangannya? biasanya tidak pernah loh." Asisten Tio terlihat bingung.
"Aku kembali saja deh ke ruangan sebelah," Desi pergi menuju ke ruang bermain Baby Rayan.
Asisten Tio masih berdiri di tempatnya. Dia menerka-nerka dengan apa yang sedang di lakukan oleh atasannya.
°°°°
__ADS_1