Hanya Istri Siri

Hanya Istri Siri
Part_117


__ADS_3

Hari ini Juna bekerja dengan penuh semangat. dia sangat bahagia mengingat Mamah dan Papahnya yang sudah berdamai.


Juna sedang duduk santai sambil menikmati secangkir kopi di sebuah cafe terkenal. beberapa menit yang lalu dia baru saja bertemu dengan klien. tapi dia memilih untuk bersantai dulu sambil menikmati secangkir kopi.


"Juna" seseorang memanggil Juna dari arah samping.


"Luna, benar kamu Luna?" Juna menatap perempuan yang merupakan mantan kekasihnya. perempuan itu juga menggendong seorang anak kecil.


"Iya aku Luna, kebetulan sekali kita ketemu disini." ucap Luna


"Itu anak kamu?" tanya Juna


"Iya, anakku bersama Devan."jawab Luna


"Sudah dulu yah, itu Mas Devan sudah nungguin di mobil." Luna berpamitan lalu segera melangkah pergi.


Rio masuk ke dalam cafe berpapasan dengan Luna. dia hanya menatap sekilas lalu melanjutkan kembali langkahnya.


"Pak" Rio memanggil Juna yang masih duduk disana.


"Eh Rio, sini duduk dulu sambil ngobrol. sebentar lagi yah, ini saya masih betah disini." ucap Juna


Rio memang tadi habis keluar mencari toilet terdekat. karena toilet di dalam cafe penuh semua.


"Baik Pak" jawabnya


"Kamu mau nambah pesanan atau tidak?" Juna menatap gelas milik Rio sudah kosong.


"Tidak usah Pak" tolaknya


Beberapa menit kemudian mereka segera undur diri. karena masih banyak kerjaan di kantor yang belum terselesaikan.


Hari ini sangat melelahkan bagi Juna. karena banyak pekerjaan yang menumpuk.


Juna merenggangkan otot-ototnya sambil berdiri dari kursi kebesarannya. dia melihat jam di pergelangan tangannya dan ternyata sudah sore. Juna segera bersiap untuk pulang.

__ADS_1


"Kak Juna" Rey memanggil Juna yang sedang berjalan di depannya.


"Ada apa Rey?" tanya Juna sambil menatap ke belakang.


"Apa kita akan tetap membiarkan Papah tinggal sendirian di kontrakan?"


"Emm, Papah sih maunya seperti itu. Mas juga sebenarnya merasa kasihan jika Papah tinggal sendirian."


"Mungkin Papah masih tak enak sama kita." ujar Rey


"Mungkin sih, kamu tenang aja, nanti kita bujuk Papah sama-sama agar Papah mau tinggal bareng Kakak." Juna merangkul bahu adiknya lalu mereka berjalan menuju ke arah Lift.


Juna sudah sampai di depan toko kue milik istrinya. dia mengajak Rara untuk pulang bersamanya. memang setiap sore sudah menjadi rutinitas Juna menjemput istrinya di toko.


Setelah menempuh perjalanan yang hanya beberapa menit, mereka sudah sampai di rumah. keduanya segera turun dari mobil.


"Mas, Rara mandi duluan yah. badan Rara sudah lengket semua nih." pinta Rara


"Emm, mandi bersama saja yah sayang." ucap Juna penuh arti.


Juna menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah istrinya yang tampak malu-malu. padahal dia sudah sering melihat istrinya polos tanpa pakaian, tapi Rara tetap saja masih malu-malu.


Kini keduanya sudah duduk bersantai di atas ranjang. Juna merebahkan diri di paha istrinya.


"Sayang" ucap Juna sambil mengelus wajah cantik istrinya.


"Hm" sahut Rara yang masih fokus memegang ponsel miliknya.


"Lihat apa sih sayang, serius amat."


"Ini loh, di Instagram ada rancangan baju pengantin bagus sekali." Rara memperlihatkan layar ponselnya.


"Wah iya sangat bagus, pasti cocok jika dipakai oleh istri Mas yang cantik ini. tapi sayangnya kita sudah resepsi." ujar Juna memuji istrinya.


"Oh iya, Mas sampai lupa mau mengatakan sesuatu sama kamu." ucap Juna

__ADS_1


"Mau bicara apa?" tanya Rara yang sudah beralih menatap wajah tampan suaminya.


"Tadi di kantor Mas dapat undangan pernikahan dari Rio dan Putri."


"Rio dan Putri? yang benar saja? kok Rara tidak pernah tahu jika mereka sedang dekat?" Rara terkejut mendengar penuturan suaminya.


"Iya sayang, memang mereka belum terlalu lama dekat. dan Rio memutuskan untuk menghalalkannya." ucap Juna


"Rara ikut bahagia Mas mendengar kabar bahagia ini. akhirnya sahabat Rara nikah juga. gimana jika besok kita beli kado mumpung hari libur. sekalian kita ajak Baby Zie jalan-jalan." ujar Rara antusias.


"Apa tidak terlalu cepat, sayang? bukankah masih ada waktu satu minggu lagi?"


"Tidak apa-apa Mas, Rara ingin mencari kado istimewa untuk Putri."


"Baiklah, sesuai keinginan kamu, sayang." ucap Juna lalu dia menarik tengkuk istrinya sehingga posisinya sedikit membungkuk. Juna langsung mengecup bibir manis candunya.


"Emm, Mas apa-apaan sih?" tanya Rara ketika sudah melepaskan diri dari suaminya.


"MumpungBaby Zie lagi dirumah Mamah, sekarang waktunya kita membuatkan adik." ucap Juna sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Tidak bisa besok saja yah?"


"Tidak sayang, Mas inginnya sekarang." Juna langsung memposisikan diri diatas istrinya. mereka menikmati malam yang panjang ini dengan penuh gairah.


Esok harinya, Juna terlebih dahulu bangun. dia menatap wajah cantik istrinya. beberapa kali dia mengecup kening, pipi, dan bibir istrinya secara bergantian.


"Cantik sekali, Mas tidak akan bosan jika melihat kamu secantik ini Sayang." guman Juna sambil menatap wajah cantik istrinya.


Juna mempunyai ide jahil untuk membangunkan istrinya. dia kembali memposisikan dirinya di atas istrinya dan mengulang percintaannya semalam.


"Emm eughhh" beberapa saat kemudian Rara membuka kedua matanya. dia melihat suaminya sedang asyik menjamah tubuhnya.


"Mas,apa yang Mas lakukan?" Rara terkejut melihat suaminya yang sudah berada diatasnya dan sudah menyatukan dirinya.


"Tentu mengulang kegiatan panas kita semalam, Sayang." ucap Juna lalu kembali bergerak aktif.

__ADS_1


Akhirnya mereka kembali mengulang memadu kasih untuk yang kesekian kalinya di pagi ini.


__ADS_2