Hanya Istri Siri

Hanya Istri Siri
Part_86


__ADS_3

Semuanya sudah berkumpul untuk sarapan bersama. karena di ruang makan hanya ada dua kursi saja, mereka memilih untuk makan dengan posisi duduk melingkar diatas tikar.


mereka hanya makan seadanya saja. Bu Susan hanya memasak capcay dan telor balado untuk mereka semua.


Juna dan Rara tampak mesra. Juna beberapa kali menyuapi Rara disela-sela kegiatan makannya. Baby Zie hanya tersenyum melihat Papah dan Mamahnya makan.


"Amah emam apah... " celoteh Baby zie yang melihat Juna menyupi Rara.


"Apa sayang?" Juna bertanya kepada anaknya yang sedang dipangku oleh Bu Susan.


"Amah emam apah hehehehehe..." Baby Zie tampak senang melihat Papah dan Mamahnya yang sedang suap-suapan.


"Baby Zie bilang kalau Mamah makan disuapin Papah." ujar Rara menjelaskan kepada Juna mengenai perkataan Baby Zie. karena Juna tidak mengerti bahasa Baby Zie.


"Oh jadi seperti itu, anak Papah ternyata semakin pintar saja yah sekarang." ucap Juna


"Iya sudah pintar, makannya jangan mesra-mesraan disembarang tempat." Rey menyindir Kakaknya.


"Sirik bilang bro, pepet saja tuh sebelah." kata Juna sambil menatap Rey dan Putri yang duduk bersebelahan.


"Aku sama dia...." ucap Rey dan Putri secara bersamaan. lalu mereka berkata lagi." Sorry tidak level." ucap keduanya


"Wih kompak sekali nih, kayaknya memang jodoh deh." ledek Juna


"Ah Kakak apaan sih, jadi tidak selera makan nih." ucap Rey yang masih sibuk makan.


"Nggak selera makan tapi dari tadi itu makanan masuk terus ke mulut. dasar perut gentong." ucap Putri mengatai Rey.


"Enak saja cowok tampan seperti ini dibilang gentong. kamu kali itu kurcaci berjalan." Rey yang tak terima dengan perkataan Putri langsung membalas mengatainya.


"Apa??? Kurcaci???? sembarangan sekali kalau bicara." Putri langsung memanyunkan bibirnya.


Putri memang lebih pendek dari Rey. dia juga lebih pendek dari Rara. Tinggi badan dia dan Rara beda 7cm.

__ADS_1


"Sudah diam! kalian kalau mau berantem terus langsung Kakak nikahkan. biar berantemnya di dalam kamar." ucap Juna melerai keduanya.


"Sorry Kak, aku nggak suka yang kurus, nggak kerasa." tolak Rey


"Aku juga nggak mau sama cowok cerewet banyak tingkah. paling baru masuk kamar saja sudah loyo." Putri ikut menimpali perkataan Juna.


"Wih jangan salah, ayo kita buktikan. aku jamin bisa bikin kamu lemes selama satu bulan."


"Sorry nggak minat" kata Putri


Ini cowok kalau bicara asal ceplos saja." Putri tampak malu karena semua orang yang berada disana menatap ke arahnya.


Ini cewek so jual mahal sekali. malu-maluin saja dia, masa nolak aku didepan Rara." batin Rey


"Sudah jangan bertengkar! ayo kita lanjut makan lagi." kini Bu Susan yang melerai keduanya.


Akhirnya mereka melanjutkan acara sarapan yang tertunda karena asyik melihat pertengkaran Rey dan Putri.


Setelah sarapan, Rara, Bu Susan, Putri dan Bu Sri memutuskan untuk membersihkan rumah Rara. dan mencuci peralatan yang kotor karena kemarin dipakai di acara pesta kecil-kecilan dirumah itu. sedangkan Juna dan Rey mengajak Baby Zie bermain bersama. Rey mengesampingkan dulu perasaanya. dia tidak ingin jika ada yang curiga jika dia menampakan rasa cemburunya.


"Sayang, kenapa tidak kamu titipkan saja Baby Zienya."


"Rara kasihan Mas sama Bu Susan jika harus menitipkan Baby Zie. nanti tidurnya malah terusik karena harus jagain Baby Zie." ujar Rara


"Jika ada Baby Zie disini kita tidak bisa menghabiskan malam kedua setelah pernikahan." ucap Juna


"Bisa kapan-kapan lagi Mas, tidak harus malam ini juga." Rara berkata kepada Suaminya.


"Tapi Mas ingin sekarang sayang." ucap Juna lalu dia mentap Rara dari atas sampai ke bawah.


Juna tampak menyunggingkan senyumnya.


lalu dia berkata kepada Rara.

__ADS_1


"Sayang, cepat kamu ganti pakaianmu dengan daster rumahan." pinta Juna


"Lah buat apa Mas? ini juga Rara juga sudah pakai baju loh." ucap Rara


"Tidak ada penolakan! nurut perintah suami dong, katanya istri sholelah." kata Juna


"Baiklah" Rara segera mengambil daster miliknya. lalu dia melepas baju lengan panjang dan celana kulot yang dia pakai.


"Sudah Mas, ayo tidur!" Rara yang sudah berganti pakaian langsung mengajak suaminya untuk tidur.


"Siapa juga yang menyuruh kamu untuk tidur. kita akan menghabiskan malam ini bersama sayang." ucap Juna sambil membelai wajah cantik istrinya.


"Tapi Baby Zie sedang tidur Mas." ucap Rara pelan, karena dia tidak ingin Baby Zie terusik dari tidurnya jika mendengar suaranya.


"Kita main cantik sayang." ucap Juna lalu dia keluar dari kamar.


Juna mengambil tikar yang tergeletak di ruang depan. Rara melihat suaminya yang masuk ke kamar dengan membawa tikar.


"Loh, itu untuk apa Mas?" tanya Rara


"Ini untuk kita pakai sebagai alas." lalu Juna menggelar tikar di atas lantai. setelah itu Juna mengajak Rara untuk duduk disana.


"Mas, ini tikar untuk apa?" Rara bertanya lagi kepada Juna.


"Untuk kita bermalam sayang." jawab Juna


"Nanti badan kita sakit Mas jika tidur di lantai."


"Kamu tidak akan sakit sayang, tenang saja yah." ucap Juna lalu dia mulai merebahkan diri di atas tikar.


Juna menyuruh Rara untuk duduk diatasnya. dia membiarkan dirinya yang sakit karena tiduran tanpa kasur. Juna mulai melakukan aksinya. dia menyuruh Rara untuk memulai permainan di malam kedua pernikahannya.


Rara berulang kali membekap mulutnya agar tidak menimbulkan suara yang bisa mengusik Baby Zie yang sedang tidur.

__ADS_1


°°°


__ADS_2