
Satu minggu sudah Bu Farah dirawat dirumah sakit. selama satu minggu itu pula, Rara dan Ayu selalu bergantian untuk menjaganya.
Hari ini hari kepulangan Bu Farah. Juna dan Rey membereskan semua barang mereka yang akan dibawa pulang. sedangkan Rara dan Ayu hanya menatap suami mereka yang tampak sibuk. Juna dan Rey memang tak mau membiarkan istri mereka kecapean.
Bu Farah menatap kedua Putranya yang tampak sibuk. dia bisa menebak bahwa kedua putranya sangat mencintai istri mereka.
Juna dan Rara memutuskan untuk pulang ke rumah yang Rara tinggali. padahal Bu Farah sudah menyuruhnya untuk tinggal di kediaman Dirgantara. namun Juna menolak dengan alasan akan sering menengok Mamahnya. Juna tidak mungkin menyuruh Rara untuk pindah ke rumahnya. karena dia tahu jika Rara sudah diamanahkan untuk menempati rumah Alm.Bu Susan.
Bu Farah sudah sampai dirumahnya. dia menggunakan kursi roda dan Rey membantu mendorongnya. kini mereka sudah berada di ruang keluarga.
"Ayu, siapkan air hangat! saya mau mandi." pinta Bu Farah
"Biar Rey saja Mah, biar Ayu istirahat saja."
"Oh ya sudah sana istirahat, mentang-mentang mendadak jadi istri jadi seenaknya saja."
Ayu yang mendengar perkataan Bu Farah merasa tak enak. memang sudah kewajibannya merawat Ibu mertuanya. apalagi sekarang sedang sakit.
"Sudahlah Mah, Mamah harus mengontrol emosi agar tidak mempengaruhi sakit Mamah." ucap Reyhan
Ayu segera menuju ke kamar Bu Farah untuk menyiapkan air hangat untuknya.
Sore harinya, Rara, Juna dan Baby Zie datang menengok Bu Farah. sesampainya disana, Juna disambut hangat oleh Mamahnya. sedangkan Rara, dia melihat sikap Bu Farah masih tampak dingin.
Juna dan Mamahnya duduk di sofa ruang keluarga. sedangkan Rara pergi ke dapur untuk memotong kue yang dia bawa.
"Ayu lagi ngapain?" tanya Rara kepada Ayu yang sedang bwekutat di dapur.
"Ini tadi Nyonya minta dibuatkan teh hangat." jawab Ayu
"Kok manggilnya Nyonya sih bukan Mamah?" tanya Rara dan seketika Ayu menunduk.
Rara mengerti kenapa Ayu tiba-tiba menunduk seperti itu.
"Yang sabar Yu, Mbak juga paham apa yang kamu rasakan. kita harus sabar menghadapi Mamah. pasti lama-kelamaan Mamah akan menerima kita sebagai menantunya." ujar Rara agar Ayu tidak khawatir lagi.
"Iya Mbak, Ayu juga berharap seperti itu."
Setelah memotong kuenya, Rara mengajak Ayu untuk ikut bergabung di ruang keluarga. kini semuanya sudah berkumpul disana. Bu Farah langsung berbicara serius kepada Juna.
__ADS_1
"Juna, mulai besok kamu kembali bekerja di kantor yah." pinta Bu Farah
"Tapi Mah, sudah ada Rey juga yang mengurus perusahaan. lebih baik Juna cari kerjaan lain saja."
"Kamu harus membantu Rey, kalian berdua itu berhak atas perusahaan itu." ujar Bu Farah
"Benar apa yang dikatakan Mamah Kak. aku juga tidak mau jadi CEO. lebih baik Kakak saja yang jadi CEO." ucap Rey
"Loh, bukannya kamu menginginkan jabatan iti Rey?"
"Itu dulu Kak, tapi kalau sekarang Rey pengennya Kak Juna saja yang menjadi CEO. nyatanya perusahaan tidak ada perkembangan berada di tanganku."
"Tuh kan, adikmu juga tidak keberatan jika kamu kembali menggeser posisinya." ucap Bu Farah
Juna menatap ke arah istrinya untuk meminta jawaban. Rara hanya mengedipkan kedua matanya. Juna yang melihat itu tahu jika istrinya pasti setuju saja apapun keputusan yang akan diambil oleh suaminya.
"Baiklah, Juna mau Mah." Juna akhirnya menerima tawaran untuk bekerja kembali diperusahaan. tapi dia sedikit tidak enak kepada Rey karena dia menggeser posisi adiknya sebagai CEO di perusahaan.
"Yes, akhirnya aku bebas. mulai besok tidak usah keluar kota segala dan jauh dari istri."
"Oh jadi kamu tidak mau jadi CEO karena tidak mau sering bepergian." ucap Juna
"Hahaha, kayaknya tiap malam juga begadang. lihatlah, wajah istrimu kelihatan kurang tidur." ucap Juna saat dia menatap Ayu.
"Rara juga kayaknya kurang tidur tuh." ucap Rey
"Mana ada kurang tidur? kamar juga pisahan." kata Juna
"Kasihan amat Kak, makannya jadi suami jangan macam-macam."
"Kalian ngomongin apa sih?" tanya Bu Farah sambil menatap kedua Putranya.
"Tidak Mah, biasa urusan lelaki." jawab Rey menimpali perkataan Ibunya.
"Oh begitu, ya sudah Mamah kedalam dulu. nanti kalau mau makan malam, jangan lupa panggil Mamah." pinta Bu Farah
Rey membantu memapah Bu Farah berjalan sampai ke kamarnya.
Juna, Rara dan Baby Zie memutuskan untuk makan malam disana. itu semua atas keinginan Rey dan Ayu yang memintanya makan bersama. karena kebetulan Ayu sudah memasak banyak karena dia tahu akan kedatangan tamu.
__ADS_1
•••••
Juna sudah bersiap dengan pakaian kerjanya. dia tampak semangat di hari pertamanya bekerja.
"Apah apah, mamam apah." Baby Zie menarik-narik celana Papahnya. dia mengajak Papahnya untuk sarapan.
"Uluh-uluh anak Papah sudah wangi." Juna mengangkat Baby Zie kedalam gendongannya dan menciumi wajah mungil anaknya.
Juna menggendong hingga keluar kamarnya. dia melihat istrinya sedang menghidangkan masakannya diatas meja makan.
"Sayang, kita sarapan apa pagi ini?" tanya Juna
"Rara cuma masakin nasi goreng saja Mas." jawab Rara sambil mengambil nasi goreng dan memasukannya ke piring.
"Apapun Mas suka, asal itu masakan istri Mas." ucap Juna lalu dia ikut duduk di depan istrinya.
Rara menaruh piring yang sudah diisi nasi ke depan suaminya.
"Makasih sayang, sepertinya nasi goreng ini enak." Juna tampak berselera menatap nasi goreng buatan istrinya.
"Sama-sama, ayo kita makan!" ajak Rara yang sudah bersiap untuk menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.
"Apah apah, apah anti tidul baleng Zie." Baby Zie berucap sambil menatap Juna.
"Tidur bareng Baby Zie? berarti tidur bareng Mamah juga dong."
Baby Zie hanya menganggukan kepalanya. memang sudah lama dia tidak tidur bareng Papahnya. mungkin sebabnya tiba-tiba dia berkata seperti itu.
Juna menatap Rara yang tersedak makanan. lalu dia menyodorkan minuman kepada istrinya.
"Pelan-pelan dong sayang kalau makan." ucap Juna
Kenapa Baby Zie pakai gagalin rencanaku segala? lihatlah, wajah Mas Juna tampak penuh kemenangan. aiisshhh, bisa-bisa gagal hukuman selama satu bulannya." batin Rara sambil menatap ekspresi wajah suaminya yang tampak bahagia.
Punya anak pengertian sekali sama Papahnya. tahu aja kalau Papahnya tersiksa tiap malam harus tidur peluk guling." batin Juna sambil sesekali mengecup kening anaknya.
Baby Zie tampak girang di perlakukan seperti itu oleh Papahnya. bahkan dia juga meminta Juna untuk menyuapinya.
Rara ikut bahagia melihat Baby Zie yang terlihat sangat menyayangi Papahnya, dan begitupun sebaliknya.
__ADS_1