Hanya Istri Siri

Hanya Istri Siri
S2_Episode 82


__ADS_3

Beberapa hari ini Zivana merasa aman. Bahkan dia sering keluar rumah bersama anaknya. Tentu dia pergi dengan di dampingi oleh body guardnya.


Siang ini Zivana berniat untuk membawakan suaminya makan siang. Dia sedang berkutat di dapur memasak makanan kesukaan suaminya.


Bi Salma mendekati Zivana yang terlihat sibuk.


"Neng, mau Bibi bantu tidak?"


"Tidak usah, Bi. Zie bisa sendiri kok," ucap Zivana.


"Baiklah, kalau mau di bantu, nanti Neng Zie panggil Bibi saja yah."


"Iya, Bi." jawab Zivana


Bi Salma kembali pergi dari hadapan Zivana.


Kini Zivana sudah selesai memasak. Dia sudah memasukan masakannya ke dalam rantang kecil. Zivana melepaskan celemek yang dia pakai. Lalu dia pergi ke kamar untuk bersiap.


Zivana sudah keluar dari kamar dengan berpakaian yang rapih. Dia menghampiri Desi yang sedang bermain bersama Baby Rayan.


"Kak Desi, Zie pergi dulu yah. Kak Desi tolong jagain Rayan." pinta Zivana


"Baik Nona," jawab Desi


"Jangan bawa Rayan pergi yah, kalian di rumah saja," pinta Zivana.


"Baik Nona," jawab Desi.


Kini Zivana pergi ke dapur untuk mengambil rantang berisi makanan. Dia melangkah keluar rumah. Saat di depan rumah, kedua body guardnya menawarkan untuk ikut. Namun Zivana menolak, Zivana meminta agar mereka menjaga Rayan saja. Sedangkan dia sudah besar dan bisa menjaga dirinya sendiri.


Zivana pergi dengan mengendarai mobil sendiri.


Zivana mengemudiakan mobilnya melewati keramaian ibu kota. Beruntung jalanan tidak macet, jadi dia lebih cepat sampai ke kantor suaminya.


Saat ini mobil yang di kendarai Zivana sudah berada di parkiran kantor suaminya. Dia langsung keluar dari mobil dan melangkah masuk ke kantor. Kedatangan Zivana di sambut hangat oleh beberapa karyawan yang berpapasan dengannya.


Zivana melangkahkan kaki jenjangnya menuju ke arah lift. Dia masuk ke lift dan memencet tombol menuju ke lantai paling atas.

__ADS_1


Saat ini Zivana sudah sampai di lantai paling atas. Dia segera menuju ke ruangan suaminya. Kebetulan Zivana berpapasan dengan Asisten Tio.


"Nona Zivana, apa Nona mau ketemu Pak Alvin?" tanya Asisten Tio.


"Iya, apa suami saya ada di dalam?"


"Ada, tapi sedang ada calon sekretaris baru di ruangan Pak Alvin."


"Sekretaris? Maksudnya sekretaris untuk siapa?" tanya Zivana.


"Untuk Pak Alvin, Sebenarnya sih saya yang minta. Karena pekerjaan saya sangat menumpuk."


"Kalau anda yang butuh sekretaris, lalu kenapa seretarisnya malah untuk suami saya?"


"Iya sih, tapi Pak Alvin juga butuh sekretaeis baru. Jadi lebih baik untuk Pak Alvin dulu. Dan jika ada kandidat lain, nanti bisa di jadikan sekretaris saya."


"Oh seperti itu, ya sudah saya mau masuk dulu." Zivana melangkah begitu saja dari hadapan Asisten Tio.


Zivana sudah berdiri di depan pintu. Dia membuka pintu ruangan suaminya.


Cklek


"Apa-apaan ini?" Zivana terlihat marah melihat suaminya memeluk wanita lain.


Alvin segera menjauhkan diri dari wanita itu.


"Sayang, ini tidak seperti yang kamu pikirkan," ucap Alvin yang merasa takut jika istrinya marah kepadanya.


"Memangnya apa yang aku pikirkan?" Zivana melangkah masuk, dia mendekati mereka.


"Maaf Bu, saya tidak sengaja terjatuh dan Pak Alvin membantu saya berdiri," ucap wanita itu.


"Ibu? Memangnya tampang saya sudah tua?" Zivana menaruh rantang berisi makanan yang dia bawa di meja kerja suaminya. Lalu dia mendekati suaminya dan bergelayut manja di lengannya. "Mas, apa wanita ini calon sekretarismu?" tanya Zivana.


"Iya, sayang. Tapi kalau kamu tidak suka, biar jadi sekretaris Tio saja. Nanti Mas cari sekretaris lain." kata Alvin


Zivana menatap calon sekretaris suaminya yang berdiri di depannya.

__ADS_1


"Kamu," Zivana menunjuk wanita itu. "Pergi dari sini dan kamu di pecat di hari pertama kerja. Karena kamu sudah berani memeluk suami saya."


"Tapi saya tidak bersalah," ucapnya membela diri.


"Mau pergi sendiri atau saya panggilkan security?" Zivana memberikan pilihan.


"Baik, saya akan pergi," wanita itu langsung pergi begitu saja dengan perasaan tak terima karena merasa di perlakukan tidak hormat.


Setelah kepergian wanita itu, Zivana melepaskan tangan suaminya. Dia mengambil rantang makanan itu lalu membawanya menuju ke arah sofa. Zivana kembali menaruh makan itu di atas meja.


Zivana duduk di sofa sambil memangku sebelah kakinya.


Alvin menghampiri istrinya dan duduk di sebelahnya.


"Sayang, kamu bawa apa nih? pasti makanan enak nih," Alvin membuka rantang makanan yang di bawa oleh istrinya.


"Mas makan yah," ucap Alvin, namun istrinya masih diam tak mengatakan apa pun.


Zivana menatap suaminya yang duduk di sebelahnya.


"Mulai besok aku yang akan menjadi sekretaris Mas Alvin. Zie tidak mau jika Mas Alvin di dekati oleh calon-calon pelakor." ucap Zivana


"Tapi sayang, kamu itu harus mengurus Rayan loh."


"Nanti Zie ajak Rayan ke kantor, sekalian Desi di ajak juga. Tugas Mas Alvin hanya menyiapkan ruang bermain untuk Rayan di kantor ini."


"Baiklah, sayang. Kalau kamu yang jadi sekretaris, nanti Mas tidak akan menyuruh kamu kerja berat-berat. Paling suruh pijat plus plus." ucap Alvin


Zivana menatap tajam suaminya.


"Enak saja, di rumah sudah dapat jatah, kalau di kantor tidak ada jatah."


"Hehe Mas bercanda, sayang. Lebih baik sekarang kita makan saja yuk," ajak Alvin


"Suapin," pinta Zivana.


"Siap istri cantikku," Alvin memasukan nasi dan lauk ke dalam piring. Lalu dia mulai menyuapi istrinya.

__ADS_1


°°°


__ADS_2