Hanya Istri Siri

Hanya Istri Siri
Part.148


__ADS_3

Flashback


Juna sejak tadi sudah menunggu Rara di restoran. namun Rara tak kunjung datang. Juna di beritahu oleh salah seorang waiters yang katanya melihat wanita hamil hendak masuk namun tak jadi. Juna sudah menduga jika itu pasti Istrinya.


Lalu Juna keluar dari restoran itu. dia tak menghiraukan acara kejutannya yang gagal. yang penting saat ini dia menemui Istrinya. Juna melihat orang sedang berkerumun. karena penasaran Juna bertanya kepada seorang perempuan muda yang barusan ikut berkerumun.


"Maaf Nona, itu ada apa yah kayaknya banyak orang?"


"Oh itu tadi ada kecelakaan Mas."


"Kecelakaan? apa korbannya selamat?"


"Korbannya terluka parah Mas."


"Apa dia seorang perempuan?"


"Dia laki-laki bernama Junaedi. kalau yang saya dengar sih tukang parkir di daerah sini." ucap wanita itu


Jangan-jangan Rara menyangka jika itu aku." Juna mengusap kasar wajahnya.


"Bolehkah saya tanya kemana korban kecelakaan itu dibawa?"


"Ke Rumah Sakit Pelita." jawab wanita itu


"Terima kasih Mba" ucap Juna lalu langsung mengemudikan mobilnya menuju ke Rumah sakit pelita.


Juna sangat khawatir kepada Istrinya yang sedang hamil tua. entah kenapa perasaannya tidak enak.


Juna sudah sampai di depan Rumah Sakit. dia langsung memarkirkan mobilnya lalu masuk ke dalam. Juna sudah bertanya dimana tempat korban tabrak lari bernama Junaedi. lalu Juna dengan tergesa-gesa berjalan menuju ke ruang UGD. dan benar saja dugaannya, dia melihat wanita yang di cintainya sedang menangisi seseorang yang terbaring di ranjang pasien.


Juna sudah berdiri di depan pintu masuk. baru saja dia akan memanggil Istrinya, terlebih dahulu Rara tak sadarkan diri. Juna langsung berlari dan menopang tubuh Istrinya yang hendak terjatuh.


Flashback off


"Rara bangun Ra, maafin Mas gara-gara kejutan itu kamu jadi seperti ini sayang." Juna sangat sedih melihat Istrinya tak sadarkan diri.


Juna segera keluar dari ruangan itu dengan menggendong Istrinya. Juna meminta bantuan dan beberapa perawat datang dengan mendorong brankar pasien.


Sekarang Rara dibawa ke ruangan bersalin. karena kondisi Rara yang syok berat tak memungkinkan jika dia melahirkan secara normal. jadi terpaksa Rara harus di operasi sesar.


Juna tampak sibuk menghubungi keluarganya. mereka semua segera menuju ke Rumah Sakit setelah mendengar kabar itu dari Juna.

__ADS_1


Bu Farah menghampiri anaknya yang sedang mondar-mandir di depan ruang bersalin.


"Juna bagaimana kondisi Rara?" tanya Bu Farah kepada anaknya.


"Rara sedang di operasi Mah. dia melahirkan sekarang."


"Terus bagaimana acara dinnernya?" sahut Putri ikut bertanya.


"Acaranya gagal, Rara mengira jika aku kecelakaan di depan restoran. padahal bukan aku karena aku saat itu berada di dalam sedang menunggunya." jelas Juna


"Loh kok bisa?"


"Iya Mah, yang kecelakaan itu namanya Junaedi panggilannya Juna. mungkin Rara mengira jika itu aku. aku jadi merasa bersalah Mah. karena salah mengira akhirnya Rara yang menjadi korban. andai saja aku tidak menyuruhnya pergi sendirian pasti semuanya akan baik-baik saja." ucap Juna yang merasa bersalah.


"Yang sabar Nak, kita do'akan saja semoga Rara dan bayinya selamat." Bu Farah mencoba menenangkan Juna. padahal dirinya juga tak kalah khawatir.


"Amin Mah"


Setelah menunggu cukup lama akhirnya ruangan itu terbuka. Dokter menghampiri mereka untuk memberitahukan kondisi pasien.


"Dok, bagaimana keadaan Istri dan anak saya?" tanya Juna yang sudah panik.


"Kritis Dok?" Juna kaget dengan penuturan Dokter. dia semakin bersalah kepada Rara.


"Lalu kapan Istri saya akan bangun Dok?"


"Kita tunggu saja, karena pasien sepertinya dalam kondisi syok dan kehilangan semangat hidup. entah terjadi hal apa sebelumnya. namun itu mempengaruhi kondisinya semakin down." jelas Dokter


"Terima kasih Dok"


"Kalau begitu saya permisi." ucap Dokter


Jum semakin lesu setelah mendengar penuturan Dokter. dia semakin menyalahkan dirinya sendiri. andai saja waktu bisa di putar kembali, dia tidak akan menemani Istrinya bukannya menyuruh Istrinya datang sendiri.


Rey menghampiri Juna dan mencoba untuk menguatkannya. sedangkan Bu Farah sudah sejak tadi menangis di pelukan Putri.


"Kita do'akan saja yang terbaik untuk Rara, Kak. sekarang kita tengok si kembar saya ayo." ajak Rey


"Iya Rey, Rara pasti selamat. Rara tidak mungkin membiarkan anak-anaknya tumbuh tanpa seoarang Ibu." ucap Juna


"Mah, ayo kita lihat si kembar." Juna juga menajak Ibunya untuk ikut bersamanya.

__ADS_1


"Iya Nak"


Mereka berempat berjalan menuju ke ruangan bayi. mereka melihat bayi kembar yang begitu tampan.


"Anak kamu laki-laki, kamu mau kasih nama siapa?" tanya Bu Farah


"Entah Mah, Juna belum memikirkan nama."


"Mamah juga bingung cari nama untuk si kembar."


"Tampan sekali dua-duanya mirip." ucap Putri yan sedang menatap wajah tampan bayi lelaki itu secara bergantian.


Cukup lama mereka disana. mereka kembali untuk menengok Rara. karena Rara sudah boleh di temui.


Cklek


Secara perlahan Juna masuk ke dalam ruang istrinya. kebetulan Istrinya sudah dipindahkan ke ruangan lain. bukan di ruangan bersalin lagi. itu semua atas permintaan Juna saat tadi membayar administrasi. sekalian dia meminta Istrinya di pindahkan ke ruangan terbaik.


"Sayang, bangun dong sayang. apa kamu tidak mau melihat si kembar. ayolah sayang, apa kamu tidak rindu di peluk sama Mas lagi. kalau kamu tidur terus disini siapa yang akan Mas peluk saat tidur." oceh Juna


"Rara, si kembar butuh kamu Ra. kamu cepat sadar yah." ucap Putri yang juga sedang berdiri di samping Rara.


"Put, kamu pulang saja sama Rey. tidak baik Ibu hamil berlama-lama di rumah sakit." pinta Bu Farah


"Iya Mah nanti Putri akan pulang kok." kata Putri


"Mamah saja sama Putri yang pulang. biar Rey disini sama Kak Juna." sahut Rey ikut berbicara.


"Kamu saja Rey, tidak apa-apa Mamah disini sama Juna." Bu Farah tetap ingin berada disana menemani Juna.


"Baiklah Mah, kita pulang dulu yah." Rey berpamitan untuk pulang.


"Hati-hati Nak" ucap Bu Farah


"Assalamu'alaikum" ucap Rey dan Putri


"Waalaikum'salam" jawab Bu Farah dan Juna


Setelah kepergian Rey, Bu Farah langsung beristirahat di sofa. sedangkan Juna duduk di samping Istrinya.


"Sayang cepat bangun yah, Mas kangen kita mesra-mesraan lagi." ucap Juna lalu dia memposisikan diri untuk tidur sambil duduk dengan kepalanya di pinggir ranjang.

__ADS_1


__ADS_2