
Mereka berempat sudah berdiri di depan pintu masuk kamar inap Bu Farah. hanya Rey sendiri yang bersikap tenang. Juna, Rara dan Ayu merasa kurang nyaman berada disana. Juna mengingat terakhir kalinya dia memutuskan keluar dari rumah dengan peedebatan yang cukup hebat dengan Mamahnya.
"Ayo masuk!" Rey mengajak ketiga orang itu yang masih saja berdiri di depan pintu untuk ikut masuk.
"Kakak takut kalau Mamah tak mau menemuiku." ucap Juna
"Harusnya Rara yang berkata seperti itu Mas." sahut Rara
"Rey, lebih baik kamu masuk duluan saja. kamu berbicara kepada Mamah bahwa kami mengunjunginya. lebih baik kamu bicara dulu dari pada nanti Mamah lihat kami masuk malam terkejut." pinta Juna
"Baiklah, Rey akan bicara sama Mamah." Rey menghampiri Bu Farah yang sedang terbaring diranjang pasien.
"Mamah, Rey mau bicara!" Bu Farah melihat Rey tampak serius.
"Ada apa sih Rey? kamu baru datang, tapi sepertinya mau bicara serius."
"Mah, di depan ada Mas Juna, Rara, Baby Zivana, dan Ayu istriku. mereka mau menjenguk Mamah. tapi, Rey tidak maksa jika Mamah tidak mau menemui mereka."
Seketika Bu Farah terdiam. dia bingung mau berkata apa. jujur saja dia merindukan keluarganya bisa berkumpul bersama lagi. tapi dia belum bisa menerima dua menantunya yang menurutnya bukan levelnya. namun, jika saat ini dia mengusir Rara dan Ayu, sama saja dia membuat kedua Putranya pergi meninggalkannya. dia tidak ingin Rey pergi maninggalkannya. apalagi Juna, anaknya yang sudah lama tidak berjumpa. disaat sedang sakit seperti ini, dia ingin kedua anaknya yang mengurusnya.
Dengan berat hati Bu Farah mengijinkan mereka untuk masuk.
"Suruh mereka masuk!" Bu Farah berkata kepada Rey.
Lalu Rey segera berbicara kepada mereka agar ikut masuk ke dalam.
"Mah, Mamah sakit apa?" Juna sudah merasa panik melihat Ibunya terbaring di ranjang Rumah Sakit.
"Mamah tidak apa-apa kok." Bu Farah langsung menerima pelukan anaknya.
"Maafin Juna Mah, Juna sudah egois dan pergi meninggalkan Mamah." Juna berkata dengan posisi yang masih memeluk Ibunya.
"Mamah juga minta maaf Nak, karena sudah membiarkanmu hidup susah." Bu Farah mengusap kepala anaknya.
__ADS_1
"Mah, lihatlah! itu cucu Mamah, apakah Mamah mau menggendongnya?" Juna menunjuk Baby Zie yang berada di gendongan Rara.
"Nanti saja, Mamah mau beristirahat." Bu Farah masih belum mau menerima Baby Zie dan Rara.
Rara yang mendengar penolakan itu merasa sadar diri. dia paham jika Bu Farah butuh waktu untuk bisa menerima kehadirannya dan Baby Zie.
"Tapi Mah--" Juna angkat bicara karena merasa tak enak kepada istrinya.
"Sudahlah Mas nanti saja, biarlah Mamah beristirahat dulu." lalu tatapannya beralih mantap Ayu." Ayo Yu, kita duduk dulu saja di sofa itu." Rara mengajak Ayu untuk duduk di sofa yang ada di ruangan itu.
Juna dan Rey ikut bergabung dengan istri mereka. sesekali mereka tertawa karena mendengar celoteh Baby Zie yang menurut mereka sangat lucu.
Bu Farah menatap mereka berempat yang terlihat bahagia.
Demi kedua Putraku, Mamah terpaksa menerima kalian sebagai menantu." Batin Bu Farah sambil menatap mereka.
Seorang perawat masuk ke dalam ruangan itu membawa makan malam untuk Bu Farah. kebetulan Rey dan Ayu sedang keluar dan Juna sedang berada di toilet. Rara mengambil makanan itu dan ingin menyuapi Bu Farah.
"Mah, Rara itu sayang sama Mamah. jadi, ijinkan Rara membantu merawat Mamah." perkataan Rara membuat Bu Farah menengok dan menatapnya.
Bu Farah mengijinkan Rara untuk menyuapinya. namun dia masih saja menampakan aura dinginnya.
Rara akan tetap sabar menghadapi Bu Farah. karena dia tahu, jika menerima seseorang untuk masuk kedalam kehidupannya itu sulit. apalagi seseorang yang sejak awal tidak dia sukai.
Juna yang baru keluar dari toilet, melihat Istrinya tampak telaten menyuapi Mamahnya. dia ikut senang melihat Mamahnya sudah mau menerima Rara.
"Sayang, anak kita mana?" tanya Juna kepada istrinya. karena dia tidak melihat keberadaan Baby Zie.
"Ikut sama Ayu pergi keluar Mas." jawab Rara
"Oh, ya sudah Mas juga keluar yah sayang. mau beli makan malam untuk kita." ujar Juna
"Tidak usah Mas, tadi Rara sudah nitip sama Ayu."
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, Rey, Ayu dan Baby Zie sudah datang. kebetulan juga Rara sudah selesai menyuapi Bu Farah. jadi dia bisa langsung menikmati makan malam bersama suaminya.
Rey dan Ayu kebetulan sudah makan diluar. Ayu memberikan Baby Zie yang ada didalam gendongannya kepada Rey. lalu dia memberanikan diri untuk menghampiri Bu Farah.
"Nyonya, saya--" Ayu hendak berkata namu Bu Farah terlebih dahulu memotong perkataannya.
"Jangan ganggu Saya! Saya mau istirahat!" tolak Bu Farah yang tak mau berbicara dengan Ayu.
Ayu mengurungkan niatnya untuk berbicara. dia berjalan menunduk dan kembali menghampiri suaminya.
"Sudahlah sayang, mungkin Mamah mau istirahat. nanti saja kamu coba dekati Mamah lagi kalau suasana hatinya lagi baik." ujar Rey menenangkan istrinya.
Juna dan Rara memutuskan untuk pulang karena mereka membawa Baby Zie. jadi tidak mungkin jika mereka menginap di Rumah Sakit.
"Sayang, malam ini Mas boleh tidur sama kamu kan?"
"Tidak ada yang namanya tidur bareng selama satu bulan. itu hukuman dari istri yang sudah Mas selingkuhi."
"Tapi sayang, mana tahan jika Mas tidak tidur sama kamu." Juna mendengus kesal
"Harus tahan dong, sanah tidur peluk guling saja."
"Issh, yakin tidak mau di peluk sama Mas." ucap Juna sebelum dia benar-benar keluar dari kamar istrinya.
"Yakin lah, Rara tahan walaupun tidur sendirian." ucapnya sambil membuka tiga kancing teratas sehingga memperlihatkan dada mulusnya. dia sengaja bertingkah seperti itu agar suaminya kepanasan.
Juna masih berdiri mematung sambil menatap istrinya.
"Ngapain masih disitu? cepat keluar!" Rara mengusir suaminya yang sedang menatapnya dengan tatapan lapar.
Juna masuk ke dalam kamar lain untuk beristirahat. berulang kali dia berguling diatas ranjang karena merasa tidak bisa tidur. Juna masih saja membayangkan dada mulus istrinya yang tadi dia lihat.
"Arrgghhhhhh lihat saja Ra, jika saatnya tiba, aku tidak akan melepaskanmu dari kamar selama satu minggu." gumam Juna lalu dia mencoba memejamkan kedua matanya.
__ADS_1