
Juna masih memikirkan kepergian Rara. dia heran kenapa Rara bisa pergi begitu saja. pasti itu ada alasannya. tidak mungkin Rara pergi tanpa alasan apapun. apalagi tidak berpamitan terlebih dahulu. karena sekarang sudah menjelang malam, Juna memilih untuk mencari Rara besok saja.
Keesokan harinya, Juna bersiap untuk pergi mencari keberadaan Rara. dia menyerahkan semua pekerjaan kantor kepada Rey. dan didampingi oleh Rio untuk menangani urusan kantor.
Bu Farah melihat Juna yang sudah berpakaian rapih. namun bukan memakai pakaian formal. Juna memakai pakaian santai yang biasa dia pakai untuk pergi keluar.
"Mau kemana kamu? kenapa tidak memakai jaz?" tanya Bu Farah karena dia melihat anaknya berpakaian santai.
"Mau pergi keluar." jawab Juna sambil melipat lengan kemejanya.
"Kenapa keluar? apa tidak pergi ke kantor?" tanya Bu Farah yang masih penasaran dengan anaknya. Juna memang tidak pernah seperti ini sebelumnya. Juna selalu saja ke kantor dan tidak pernah mengabaikan pekerjaan.
"Itu urusanku Mah, lagian ada Rey yang bisa mengantikanku saat aku tidak berada dikantor." ucap Juna
"Sebenarnya mau apa kamu keluar? kenapa sampai mengabaikan urusan kantor segala?" tanya Bu Farah kepada anaknya.
"Mau mencari calon istriku dan anakku." ucap Juna
"Juna Juna, Mamah heran deh sama kamu. bisa-bisanya kamu menganggap anak orang sebagai anakmu sendiri." Bu Farah tak habis pikir melihat Juna yang lebih mementingkan Janda anak satu dari pada pekerjaannya.
"Apa Mamah akan percaya jika Juna berkata yang sejujurnya." ucap Juna yang tampak berbicara serius.
Bu Farah melihat keseriusan anaknya. itu terlihat dari tatapan matanya.
"Bicaralah, Mamah ingin tahu apa yang akan kamu bicarakan."
"Sebenarnya Rara itu anak dari selingkuhan Papah." Juna berkata kepada ibunya.
"Jangan asal bicara, Mamah sudah mencari anak dari wanita itu tapi tidak ada jejaknya." Bu Farah tampak tak percaya dengan perkataan anaknya.
"Ini benar Mah, Rara memang anak dari wanita itu dan Juna pernah menikahinya untuk balas dendam. tapi ternyata Juna salah, dia wanita yang tanggung dan sangat sabar. dia masih tetap baik walaupun Juna sengaja menelantarkannya dan tidak memberikan nafkah." jelas Juna berbicara jujur.
"Jadi...." Bu Farah memegangi dadanya karena sakit karena terkejut.
__ADS_1
"Mamah kenapa?" Juna hendak membantu memapah Bu Farah. namun Bu Farah menolaknya.
"Jangan dekati Mamah! sekali lagi Mamah bertanya kepadamu, apa yang kamu katakan itu benar?" Bu Farah menatap lekat kedua mata anaknya.
"Benar Mah, dan satu lagi, anak yang bersama Rara adalah anak Juna."
"Kenapa? kenapa kamu seperti itu? kenapa kamu tega menyembunyikan itu dari Mamah? bisa-bisanya kamu bertindak ceroboh dengan menikahi anak dari wanita perusak keluarga kita." Bu Farah sudah memukul-mukul lengan Juna.
"Maafkan Juna Mah, Juna sudah bertindak tanpa persetujuan Mamah. tapi semuanya sudah terjadi. dan Juna harus bertanggung jawab kepada mereka. lagi pula Juna sudah mulai ada rasa cinta kepada Rara."
Bu Farah hanya diam saat mendengar pernyataan anaknya. dia memikirkan hal apa yang paling tepat utuk penyelesaian masalah.
"Tinggalkan wanita itu!" Bu Farah meminta Juna untuk menyudahi hubungannya dengan Rara.
"Mah, Juna tidak mau bertindak bodoh lagi. sudah cukup Juna membiarkan Rara hidup menderita."
"Ya sudah, cepat pergi jika kamu lebih memilih wanita itu. Mamah akan mencoret namamu dari hak waris. karena Mamah tidak mau punya menantu anak dari wanita yang sudah merusak keutuhan keluarga kita."
"Baiklah, Juna akan pergi sekarang juga." Juna kembali ke kamarnya untuk membereskan barang-barangnya. setelah membereskan semua barang-barangnya, Juna segera pergi meninggalkan rumah itu. Bu Farah hanya diam dan tidak mencegah kepergian Juna. dia yakin jika Juna tidak mungkin bisa hidup lama-lama diluar tanpa semua kemewahan. karena dari kecil, Juna selalu hidup berkemewahan dan selalu tercukupi semua kebutuhannya.
°°°°
"Amah...amah..." Bab Zie yang sedang bermain boneka memanggil-manggil Rara yang sedang menggoreng kue.
"Iya sayangnya Mamah, sebentar sayang." ucap Rara yang masih tampak sibuk.
"Amah...amah..." Baby Zie sudah menghampiri Rara dan memegang celana kulot yang Rara pakai.
"Eh, Sayangnya Mamah kok kesini sih. main saja yah sendiri."
"Main amah...main amah..." Baby Zie memberikan boneka kepada Rara. dia ingin main bersama Mamahnya.
"Baby Zie ingin main bersama Mamah? nanti dulu yah sayang. Mamah bentar lagi selesai kok." Rara memberikan pengertian kepada Baby Zie.
__ADS_1
"Huuwaaaa...Amah...." Baby Zie sudah menangis.
"Cup cup sayang, sini Mamah gendong." Rara segera menggendong Baby Zie yang sudah menangis.
"Assalamu'alaikum" terdengar ada yang mengucapkan salam dari arah depan rumah.
"Waalaikum'salam" jawab Rara yang sedang menggoreng kue sambil menggendong Baby Zie.
"Loh, kok Baby Zie digendong Ra?" tanya Bu Sri yang sudah masuk kedalam rumah. karena kebetulan pintu rumahnya tidak ditutup.
"Iya nih Bu, Baby Zie lagi rewel minta main bareng Rara." kata Rara
"Sini biar Ibu saja yang menggoreng Ra. cuma tinggal goreng saja kan?" tanya Bu Sri
"Iya nih Bu, tinggal dikit kok."
"Ya sudah biar Ibu saja yang selesaikan. kamu bermain saja sama Baby Zie. kasihan tuh sudah merengek." pinta Bu Sri
"Baiklah Bu." Rara segera meninggalkan dapur. dan Bu Sri mengambil alih untuk menggoreng kue yang tinggal sedikit lagi.
Rara mengajak Baby Zie bermain di ruang depan. mereka duduk di karpet yang digunakan sebagai alas diatas lantai yang masih tanah. Baby Zie tampak girang bermain bersama Mamahnya. Rara juga sangat bersyukur ketika Baby Zie mencari Papahnya, Rara langsung memberikan pengertian. untung saja Baby Zie mau menuruti semua perkataan Rara. Rara juga tidak menyebutkan Papah didepan Baby Zie. karena takut jika Baby Zie rewel dan minta bertemu Papahnya.
Setelah Bu Sri beres menggoreng dia berpamitan untuk pulang. tadi niatnya hanya datang sebentar untuk menengok Rara dan Baby Zie. tapi karena Rara tampak sibuk dan Baby Zie rewel, akhirnya Bu Sri membantunya.
"Ra, Ibu mau pulang dulu yah." pamit Bu Sri
"Loh, bentar dulu Bu, Rara mau ambilkan kue untuk Ibu." ucap Rara
"Tidak usah Ra." Bu Sri menolak karena tidak enak. hasil penjualan kue itu untuk biaya hidup Rara. jika Bu Sri menerima kue itu, berarti kue yang dijual akan berkurang.
"Tidak apa-apa, sebentar Rara ambilkan!" Rara pergi kedapur untuk mengambil beberapa kue untuk Bu Sri yang sudah membantunya.
Bu Sri akhirnya menerima kue itu. memang Rara seperti itu sama tetangga. suka berbagi walaupun hidupnya itu hanya pas-pasan.
__ADS_1
°°°°
Itu diatas penyebutan nama Juna memang dua kali.