Hanya Istri Siri

Hanya Istri Siri
Part_121


__ADS_3

Kini Rey dan Ayu sedang duduk di depan Dokter yang sudah memeriksa Ayu. mereka menunggu hasil X-Ray. Ayu memegang erat jari-jemari suaminya. dia begitu takut jika dia menderita penyakit yang serius.


"Bagaimana Dok?" tanya Rey saat melihat Dokter membawa hasil X-Ray milik istrinya.


"Maaf sebelumnya, menurut hasil pemeriksaan, Nona Ayu mengidap penyakit Leukimia stadium awal." ucapnya


"APA? Leukimia dok?" Rey tampak terkejut mendengar penuturan dari Dokter.


Begitupun Ayu, dia sudah menitihkan air matanya.


"Betul Pak Rey, tapi jangan khawatir. jika Nona Ayu mau rawat jalan, pasti penyakit ini bisa sembuh."


"Tolong lakukan yang terbaik untuk Istri saya, Dok. saya akan membayar berapapun biayanya." ucap Rey penuh harap.


"Itu pasti Pak, karena sudah tugas saya. tapi kalau boleh tahu, apakah Nona Ayu sedang mengandung?" tanya Dokter


"Tidak Dok, memangnya kenapa?" tanya Rey


"Sebaiknya Nona Ayu jangan hamil dulu sebelum benar-benar dinyatakan sembuh. karena itu akan berdampak kepada kondisi janin." ucap Dokter


Ayu sangat sedih, keinginannya untuk memiliki anak sangatlah besar. apalagi diusia pernikahannya yang sudah satu tahun lebih.


"Baik Dok, kami akan mengingatnya. terimakasih dan kami pamit untuk pulang." kata Rey yang ingin segera pulang. dari tadi dia tidak tega melihat wajah


Rey dan Ayu keluar dari ruangan Dokter. mereka menebus resep obat terlebih dahulu untuk Ayu. itu hanya obat untuk mengurangi rasa sakit di kepala. bukan obat untuk menyembuhkan. karena jadwal kemoterapi Ayu akan di jadwalkan minggu depan, jadi dia hanya diberi obat saja untuk mengurangi rasa sakit.


Kini keduanya sudah sampai di halaman rumah. Rey menggendong Ayu sampai


ke dalam Rumah.


"Bagaimana keadaan Ayu? dia sakit apa?" tanya Bu Farah saat melihat Rey menggendong Ayu.


"Ayu tidak apa-apa kok, dia hanya kecapean." ucap Rey berbohong. dia tidak mau jika Bu Farah tahu yang sebebarnya, itu akan mempengaruhi kesehatannya.


"Syukurlah jika hanya kecapean. sekarang kamu bawa Istrimu ke kamar saja untuk beristirahat." ujar Bu Farah

__ADS_1


"Baik Mah" Rey membawa Ayu menuju ke kamar mereka.


Sore harinya, Juna, Rara dan Baby Zie berkunjung ke rumah Bu Farah. Rara menenteng dua bungkusan yang berisi kue dan satunya lagi buah-buahan. sedangkan Juna menggendong Baby Zie.


"Assalamu'alaikum" ucap keduanya di depan pintu.


"Waalaikum'salam" jawab Bu Farah dan Rey yang sedang duduk di ruang keluarga.


Juna, Rara, dan Baby Zie masuk ke dalam rumah. mereka langsung ikut bergabung dengan Rey dan Bu Farah.


"Bagaimana keadaan Ayu?" tanya Rara


"Ayu tidak apa-apa kok, hanya kecapean saja." ucap Rey


Baby Zie merengek ingin bersama Bu Farah.


"Mah, sebaiknya Mamah bawa Baby Zie jalan-jalan di halaman rumah saja Mah." pinta Rey


"Tidak usah Rey, biar sama kita saja disini." kata Rara


"Mamah ajak Baby Zie jalan-jalan keliling kompleks saja, Ra. pasti dia akan senang karena di depan banyak anak-anak kecil bermain jika sore seperti ini." ujar Bu Farah


"Tidak kok Ra, justru jalan-jalan sore itu sehat." ucap Bu Farah


Bu Farah mengajak Baby Zie keluar dari rumah.


Kini tinggal mereka bertiga yang duduk disana. Juna melihat raut wajah Rey seperti terlihat cemas.


"Apa ada yang mau kamu katakan Rey?" tanya Juna saat melihat raut wajah Rey.


"Sebenarnya aku mau mengatakan mengenai penyakit Ayu." ucapnya


"Ayu sakit apa?" Rara sudah sangat penasaran.


"Ayu menderita penyakit leukimia stadium awal. dan dia harus rawat jalan."

__ADS_1


Juna dan Rara terlihat kaget. mereka ikut prihatin dengan penyakit yang di derita Ayu.


"Mas, aku ke kamar ayu yah." Rara memilih untuk menemui Ayu.


"Iya sayang" jawab Juna


Kini tinggal Juna dan Rey. Rey langsung mengatakan unek-uneknya.


"Kak, Rey sangat ingin mempunyai anak. namun keadaan Ayu malah seperti ini." ucap Rey kepada Juna


"Yang sabar Rey, lebih baik sekarang kita fokus untuk kesembuhan Ayu terlebih dahulu." ujar Juna


"Baiklah Kak, Rey akan melakukan pengobatan yang terbaik untuk Ayu." ucap Rey


Tanpa mereka sadari, Ayu mendengar perkataan yang diucapkan oleh suaminya. tadi Ayu baru saja bangun dari tidurnya. dia sangat haus dan pergi ke dapur. Ayu berjalan sambil berpegangan pada tembok. sesekali dia mengucap air matanya yang keluar.


Maafkan aku Mas, karena aku belum bisa menjadi istri yang sempurna. maafkan aku, karena aku hanya bisa menyusahkanmu dan keluargamu." batin Ayu


Rara mencari Ayu di dalam kamar dan kamar mandi yang ada di dalam kamar itu. namun dia tidak melihat keberadaan Ayu. Rara keluar dari kamar itu dan melihat Ayu sedang berjalan menuju kamarnya. Ayu berpegangan pada tembok.


"Ayu, kamu kemana saja? kamu lagi sakit loh." Rara menghampiri Ayu dan membantu memapahnya.


"Tadi Ayu haus, jadi Ayu pergi ke dapur mengambil minum." jawabnya


"Ya sudah, Ayo aku bantu kamu ke kamar." Rara memapah Ayu hingga sampai di ranjangnya. lalu dia membantu Ayu untuk tiduran.


"Sebentar, Mbak mau ke dapur dulu. kamu jangan kemana-mana loh." Rara berlalu pergi menuju ke dapur.


Rara menata buah-buahan yang dia bawa. dia juga memotong kue dan memasukannya ke dalam piring.


Rara kembali ke kamar Ayu dengan membawa nampan berisi kue, buah, dan air putih.


"Ayu, kamu makan ini yah. Mbak bawa kue yang sangat enak loh." ucap Rara


"Terimakasih Mbak, maaf yah sudah merepotkan." ucap Ayu sambil tersenyum memperlihatkan wajah pucatnya.

__ADS_1


"Tidak sama sekali kok, Mbak tidak merasa di repotkan."


Rara menyuapi Ayu memakan kue. dia terlihat sangat menyayangi Ayu seperti adiknya sendiri.


__ADS_2