
Pak Juna membisikan sesuatu kepada Alvin.
Alvin mendadak bingung setelah mendengar perkataan Pak Juna.
"Kok Papah bisa berfikiran seperti itu?" tanya Alvin sambil menatap Pak Juna yang ada di sampingnya.
"Papah kan dulu kenal Luna lama, jadi paham ekspresi saat dia tidak tahu apa-apa dan saat dia berbohong," ucap Pak Juna
"Tapi, Papah yakin?"
"Menurut Papah sih seperti itu," jawab Pak Juna
"Lalu kita harus cari pelakunya kemana lagi?"
"Entahlah, Papah juga bingung, tapi tetap kamu harus cari informasi apapun itu menyangkut 10 tahun yang lalu. baik di kantor ataupun di luar kantor yang menyangkut ayahmu."
"Baik Pah, nanti Alvin akan cari informasi itu," ucap Alvin lalu dia menatap orang suruhannya. "Lepaskan dia!" ucap Alvin sambil menatap Bu Luna.
Orang suruhan Alvin segera melepaskan ikatan di kaki dan tangan Bu Luna.
"Luna, kamu pulang sama saya," kata Pak Juna
"Terima kasih," jawab Bu Luna
Mereka segera keluar dari ruangan itu. Bu Luna berjalan di belakang mereka. jalannya sedikit pincang karena kakinya sakit. Pak Juna ataupun Alvin tidak ada yang membantu memapahnya.
"Vin, Papah pergi dulu yah," ucap Pak Juna yang kini sedang membuka pintu mobilnya.
"Iya Pah, Alvin juga mau langsung pulang," Alvin menunggu mobil Pak Juna terlebih dahulu pergi. baru dia masuk ke dalam mobilnya.
Alvin langsung mengendarai mobilnya menuju ke rumahnya. dia malas kembali ke kantor karena kebetulan hari sudah sore.
Alvin yang sedang mengendarai mobil tak sengaja melihat Zivana dengan seorang lelaki berada di sebuah restoran. kebetulan Alvin tadi sedang menengok ke samping.
Alvin langsung menghentikan mobilnya. dia mencari parkiran yang kosong.
Alvin keluar dari mobilnya untuk melihat Zivana dan laki-laki itu. Alvin duduk di salah satu kursi yang tak jauh dari tempat Zivana. dia memperhatikan lelaki yang kini sedang memegang tangan Zivana sambil menatapnya.
"Apa kamu yakin jika kamu mau bersamaku Zie?" tanya Aldo
"Aku yakin, dan aku sudah memikirkan itu," jawab Zivana
Bagaimanapun juga aku harus memberikan kesempatan untuk Kak Aldo," batin Zivana yang memang sudah menerima Aldo sebagai kekasihnya. walaupun hatinya sedikit ragu.
"Benarkah?" Aldo merasa senang mendengar jawaban Zivana.
Zivana hanya menganggukan kepalanya. Aldo beberapa kali menciumi punggung tangan Zivana. dia begitu senang saat Zivana juga membalas cintanya.
Kebetulan Alvin mendengar semua perkataan mereka. dia sangat marah saat tahu Zivana menerima cinta lelaki lain.
Sepertinya aku harus menghamilimu dulu biar bisa memilikimu seutuhnya." batin Alvin sambil menatap Ziavana.
Alvin segera pergi dari sana. dia malas melihat Zivana bersama dengan lelaki lain.
Alvin tidak benar-benar pergi. dia menunggu sampai Zivana dan lelaki yang bersamanya itu keluar dari dalam restoran.
__ADS_1
Cukup lama menunggu, kini orang yang Alvin tunggu keluar juga dari dalam. Alvin melihat lelaki yang bersama Zivana pergi ke arah toilet. Alvin langsung keluar dari mobilnya dan menghampiri Zivana.
"Ayo ikut!" Alvin memegang tangan Zivana dan hendak menuntunnya. namun Zivana tetap diam di tempat.
"Tidak mau," ucap Zivana dan hendak melepaskan tangan Alvin yang memegangnya.
Alvin langsung menggendong Zivana menuju ke mobilnya. Zivana sudah memberontak tapi tenaganya kalah dengan Alvin.
"Aku mau turun! kasihan Kak Aldo nanti mencariku," ucap Zivana
"Oh jadi lelaki itu bernama Aldo, nama yang jelek," kata Alvin
"Eh eh pakai ngatain nama orang segala," ucap Zivana
"Mana ponsel kamu," Alvin meraih tas milik Zivana,namun Zivana menahan tasnya sehingga Alvin tak bisa mengambilnya.
"Mas Alvin mau nyuri?"
"Astaga, ngapain pakai nyuri segala jika sudah kaya," kata Alvin
"Lalu?"
"Serahkan saja!" pinta Alvin
Zivana memberikan tas miliknya. Alvin langsung mengambil tas itu. lalu dia membuka tas itu dan mengambil ponsel milik Zivana. Alvin menaatap layar ponsel yang tak terkunci. dia langsung mencari kontak Aldo dan mengirimkan pesan jika Zivana pulang duluan. beberapa detik setelah mengirimkan pesan, ternyata Aldo langsung menelfon nomor itu.
"Siapa yang telfon?" Zivana bertanya kepada Alvin yang saat ini sedang memegang ponselnya.
"Hanya orang tidak penting?" jawab Alvin lalu segera menonaktifkan ponsel milik Zivana.
Alvin mengemudikan mobilnya menuju ke rumahnya. cukup lama mengemudi, akhirnya dia sampai juga di depan rumah mewahnya. Alvin segera turun dari mobil. begitupun Zivana yang juga ikut turun.
"Mau kemana?"
"Aku mau pulang, aku tidak mau di sini," ucap Zivana
"Hm, sepertinya harus aku gendong lagi biar menurut," Alvin langsung menggendong Zivana. dia berjalan masuk ke dalam rumah.
Bi Salma melihat kedatangan majikannya. Bi Salma langsung menyapanya. Bi Salma senang saat melihat Zivana juga ikut bersama Alvin.
Sepertinya hubungan Neng Zivana dan Tuan Alvin sedikit membaik." batin Bi Salma saat melihat Alvin menggendong Zivana.
"Kita mau kemana?"
"Ke kamarku," jawab Alvin
"Ngapain?"
"Nanti juga kamu tahu," jawab Alvin yang memang tak mau bicara panjang lebar.
Kini Alvin sudah sampai di kamarnya. dia langsung merebahkan Zivana di atas ranjang. lalu Alvin ikut naik ke atas ranjang.
"Mau ngapain?" Zivana menatap Alvin yang sedang membuka kancing kemejanya.
"Mau membuatmu hamil biar kamu tidak mesra-mesraan lagi dengan lelaki itu," ucap Alvin yang masih sibuk melepaskan kancing kemejanya.
__ADS_1
"Kamu gila?" Zivana memebelalakan matanya saat mendengar perkataan Alvin.
Alvin tak menjawab perkataan Zivana. dia malah menyerang Zivana.
Zivana memberontak meminta di lepaskan. namun dia tak bisa lepas begitu saja dari Alvin. kini Alvin mulai menyentuh bagian-bagian yang membuat wanita mabuk kepayang. Zivana yang sudah terbuai membiarkan Alvin melakukan aksinya. hingga dia tidak menyadari jika saat ini dia sudah tidak memakai sehelai benangpun yang menutupi tubuhnya.
"Awww" Zivana meringis saat merasakan ada yang menghujam miliknya.
"Sakit?" Alvin bertanya sambil menatap wajah Zivana dari jarak dekat.
"Sedikit," ucap Zivana lalu mengalihkan arah pandangnya.
Entah kenapa Zivana sebenarnya menginginkan sentuhan dari Alvin. beberapa hari ini memang dia sering menginginkan di peluk dalam tidurnya. dan saat ini Zivana merasa tenang ada di dekat Alvin.
Alvin langsung melakukan aksinya. saat melihat tidak ada penolakan dari Zivana, Alvin semakin bersemangat. namun dia menghentikan aksinya saat melihat Zivana mengaduh sakit.
"Aww perutku sakit," Zivana meringis mengaduh sakit.
"Maafkan aku, biar aku bawa kamu ke rumah sakit," ucap Alvin
"Aku tidak mau," ucap Zivana menolak.
"Tidak boleh menolak," Alvin turun dari ranjang untuk mengambil tisu. dia mengelap sisa-sia percintaannya yang menempel di tubuh Zivana. lalu dia buru-buru ke kamar mandi untuk membersihkan badannya.
Kini Alvin sudah keluar dari kamar mandi. dia langsung bersiap dan membawa Zivana ke rumah sakit. walaupun Zivana sudah menolak, namun Alvin tidak menghiraukannya.
Saat ini Alvin sudah sampai di rumah sakit terdekat. dia menggedong Zivana masuk ke dalam. Alvin meminta penanganan Zivana di lakukan secara cepat.
Akhirnya Zivana langsung mendapat penanganan. Alvin menunggu di dapan ruang pemeriksaan.
Cklek
Pintu ruangan terbuka dan terlihat Dokter keluar untuk menghampiri alvin.
"Bagaimana kondisi Istri saya Dok?"
"Mari Pak, ikut ke dalam karena ada hal yang ingin saya bicarakan," ucap Pak Dokter
Saat ini Alvin dan Zivana sudah duduk di hadapan Dokter itu.
"Sebelumnya saya mau mengucapkan selamat karena Ibu Zivana sedang hamil," ucap Pak Dokter
"Hamil?" Alvin dan Zivana sama-sama terkejut.
"Benar, namun saya mohon dengan sangat agar Bapak dan Ibu sedikit menahan. jangan dulu melakukan hubungan suami istri karena kandungan Ibu Zivana masing rentan. usia kandungannya masih lima minggu. untung langsung di bawa kesini, kalau tidak, mungkin akan berbahaya untuk kandungannya." jelas Pak Dokter
Zivana hamil? ini anakku atau anak lelaki itu?" batin Alvin
"Ini saya resepkan obat, untuk beberapa hari ke depan Ibu Zivana harus benar-benar istirahat. jangan banyak aktifitas dulu." ucap Pak Dokter sambil memberikan selembar kertas berisi resep obat kepada Zivana.
"Terima kasih Dok," ucap Zivana
"Sama-sama, Ibu jaga yah kandungan Ibu," kata Dokter
"Baik Dok," Jawab Zivana
__ADS_1
Kini keduanya langsung keluar dari ruangan itu setelah Zivana selesai pemeriksaan.
°°°