Hanya Istri Siri

Hanya Istri Siri
Part_85


__ADS_3

Pagi harinya, Bu Susan dan Putri sudah bangun terlebih dahulu. Rara yang biasanya bangun sebelum subuh, kini belum kelihatan juga.


"Bu, ayo kita shalat subuh." Putri mengajak Bu Susan untuk shalat subuh bersama.


"Ayo Bu, Putri duluan yah, kebelet nih." ucap Putri


"Duluan saja Put, nanti Ibu menyusul." ucap Bu Susan yang sedang melihat sekeliling dapur. Bu Susan berniat untuk memasak makanan memakai bahan-bahan yang ada.


Putri sedang menuju ke kamar mandi. karena percahayaan yang kurang terang, Putri tidak terlalu jelas menatap sekitarnya. Putri melihat bayangan yang tampak sangat tinggi menuju ke arah kamar mandi. Putri mengambil sapu lidi yang ada di belakang rumah. lalu dia berjalan menuju bayangan itu. Putri bersembunyi sambil menunggu bayangan itu mendekat ke kamar mandi.


Ahh rasakan ini oh penampakan." Putri memukul bayangan itu dengan sapu lidi.


"Aww aduh apa-apan sih." Rey berteriak kesakitan.


Kok ada suaranya sih, memangnya hantu bisa bicara." gumam Putri


"Woy, ngapain pukul orang pakai sapu?" Rey tampak marah.


"Eh orang, kirain tadi hantu." kata Putri sambil cengengesan.


"Enak saja hantu, mana ada hantu cakep ginih." ucap Rey memuji dirinya sendiri.


"Iishh pede sekali ngaku cakep." Putri menyindir Rey.


"Matamu rabun kali, tidak bisa membedakan mana hantu serem mana hantu tampan."


"Mana hantu tampan?" tanya Putri


"Nih yang paling tampak sedunia maya dan dunia nyata." ucap Rey


"Nggak jelas banget sih." Putri langsung memasuki kamar mandi. sedangkan Rey masih berdiri di depan kamar mandi.


Terlihat Putri yang kembali membuka pintu kamar mandi. dia menatap Rey yang masih berada disana.


"Apa lihat-lihat?" tanya Rey


"Hehe mau minta tolong dong, mau yah." ucap Putri


"Minta tolong apaan sih?"


"Ambilin air dari dalam sumur timba. tanganku perih kalau buat ngerek." ujar Putri


"Dasar tuan Putri" kata Rey lalu dia langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk mengambilkan air.


"Sudah tuh" ucap Rey yang baru keluar dari kamar mandi.


"Kamu tidak berwudhu?" tanya Putri


"Nanti saja ada saatnya." setelah mengatakan itu, Rey segera pergi.

__ADS_1


Putri hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat Rey yang baru beranjak pergi.


Sebenarnya Rey sudah mulai rajin beribadah. itu semua demi cintanya kepada Rara. dia akan memantaskan diri untuk menjadi pendampingnya. tapi apalah daya, sekarang Rara sudah menjadi milik orang lain. dan orang lain itu adalah Kakaknya sendiri.


Bu Susan melihat Putri yang baru keluar dari kamar mandi.


"Put, kayaknya tadi seperti ada suara berisik. memang kamu mengobrol sama siapa?" tanya Bu Susan


"Itu tadi ada Kak Rey." ucap Putri


"Oh kirain siapa, habisnya heboh sekali suaranya kedengeran sampai ke dapur." memang tadi Bu Susan yang sedang berada di dapur mendengar suara orang seperti sedang berdebat.


"Ya sudah Bu, Putri duluan yah." Putri masuk ke dalam rumah untuk segera melaksanakan shalat.


Memang kamar mandi di rumah Rara berada di belakang rumah. ya memang seperti itu kondisi kamar mandi orang kampung. apalagi yang hidupnya masih kekurangan. ibaratnya hanya cukup untuk makan sehari-hari saja.


Setelah shalat subuh Bu Susan segera menuju ke dapur. dia niatnya akan memasak. dia paham jika Rara pasti bangun agak siangan. Bu Susan menyalakan api menggunakan kayu bakar. ya,karena Bu Susan juga aslinya orang desa jadi dia tahu kondisi di desa seperti apa. untuk itu dia tidak kaget lagi.


Di dalam kamar, Rara mulai mengerjapkan matanya. dia menoleh kesampingnya. dia melihat wajah suaminya yang sangat dekat. bahkan hembusan nafasnya terasa hangat.


Rara mengingat lagi percintaannya tadi malam. dia menyunggingkan senyumnya. Rara berharap jika pernikahannya kali ini akan selalu harmonis tanpa adanya pertengkaran bahkan perceraian.


Astagfirullah, jam berapa ini?" saking asyiknya memandang wajah suaminya, Rara sampai lupa sekarang sudah jam berapa.


Rara melihat jam yang ada di dinding kamar. ternyata sudah pukul 05:30 pagi.


"Ada apa dengan semalam? apa kamu akan mengulang kejadian semalam." ucap Juna yang sudah membuka kedua matanya.


"Mengulang, Mas tidak ingat jika semalam sudah bikin Rara tidak bisa tidur."


"Salah siapa bikin Mas ketagihan." ucap Juna


"Apaan sih, malu tahu" wajah Rara tampak merona didepan suaminya.


"Ngapain malu sih sayang." ucap Juna yang sudah mendekatkan wajahnya ke arah Rara.


"Iish Mas Juna jangan dekat-dekat, nanti malah keblabasan." Rara berkata kepada Juna


"Biarin keblabasan juga, sama istri sendiri inih. malah dapat pahala loh."


"Sudah ah Mas ngobrolnya, Rara mau mandi dulu."


"Yakin tidak mau mengulang kejadian semalam." Juna menggoda istrinya.


"Apaan sih Mas, ini juga masih sakit." ucap Rara


Juna melihat Rara yang akan keluar dari kamar.


"Kamu tidak akan mengajak suamimu ini mandi bareng." Juna tampak menggoda istrinya.

__ADS_1


"Apaan sih Mas, ada Bu Susan dan Putri loh dirumah ini."


"Emm memang kamar mandi dirumah ini tidak cocok untuk dipakai mandi berdua. nanti malah ada yang ngintip."


"Disini aman loh Mas, mana ada yang mau ngintip orang mandi."


"Ya tetap saja nanti suaranya kedengeran."


"Lah, orang mandi memangnya bersuara?" tanya Rara yang masih belum mengerti kata Juna.


"Ya kalau mandinya berdua pasti bersuara istriku sayang."


"Iish tahu ah, nggak jelas banget. mending Rara mandi dulu saja." Rara segera membuka pintu kamarnya. dia menuju ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Rara yang sedang berjalan ke arah belakang tak sengaja melihat Bu Susan sedang memasak.


"Bu Susan maafin Rara yah, Rara kesiangan jadi tidak sempat memasak sarapan."


"Tidak masalah Ra, lagian ada ibu yang bisa masak." ucap Bu Susan yang masih sibuk dengan kegiatannya.


"Terimakasih yah Bu, harusnya tuan rumah yang menyiapkan makanan. ini mah malahan kebalikannya."


"Tidak apa-apa Ra" jawab Bu Susan


Setelah itu Rara segera berjalan menuju kamar mandi.


"Huwwwaaaa...Ama..ama nen..." Baby Zie tampak menangis. Putri segera menggendongnya.


"Cup cup sayang jangan nangis lagi yah. ayo kita ke Mamah yah sayang." Putri menggendong Baby Zie dan keluar dari kamar untuk menemui Rara.


Putri menemui Bu Susan yang sedang berada di dapur.


"Rara sudah bangun Bu?" tanya Putri


"Sudah Put, lagi mandi." ucap Bu Susan lalu tatapannya beralih menatap Baby Zie yang sedang menangis. "uluh uluh gadis cantik tidak boleh nangis sayang." Bu Susan mencoba menenangkan Baby Zie yang masih menangis.


Beberapa menit kemudian Rara sudah selesai dengan mandinya. dia terburu-buru karena mendengar tangisan anaknya.


Juna juga segera keluar dari kamar saat mendengar tangisan anaknya.


"Sayang sini sama Papah Nak." Juna meminta agar Baby Zie mau bersamanya.


"Eh jangan" teriak Rara yang baru keluar kamar habis berganti pakaian.


"Kenapa Ra?" Juna bertanya mengapa istrinya melarangnya untuk mengendong Baby Zie.


"Mas masih kotor, cepat mandi! ucap Rara lalu dia segera menggendong Baby Zie yang ada di gendonan Bu Susan


....

__ADS_1


__ADS_2