
Saya terima nikah dan kawinnya Zivana Afrera binti Arjuna Dirgantara dengan Mas kawin tersebut di bayar tunai." ucap Alvin dengan lantang.
Sah
Kata itu terlontar dari mulut para tamu undangan.
Zivana dan Alvin saling tukar cincin. tak lupa, Zivana bersalaman dengan suaminya dan mencium punggung tangannya. Alvin juga mengecup singkat kening Istrinya.
Saat ini mereka sedang berbahagia. begitupun seluruh negeri ikut berbahagia saat mengetahui pernikahan Zivana yang merupakan salah satu anak dari pebisnis terkaya di kotanya. namun di tengah-tengah kebahagiaan itu ada sedikit rasa kurang bahagia karena Alvin hanya datang sendiri tanpa keluarganya. hanya rekan bisnis dan karyawan kantornya saja yang dia undang.
Alvin selalu mengaku jika dia anak sebatang kara yang sudah tidak memiliki keluarga. Pak Juna juga sudah menyelidiki identitas Alvin namun tidak menemukan apapun. mungkin Alvin ini memang sebatang kara.
Kedua pengantin yang sudah sah ini berdiri di pelaminan sambil bersalaman dengan tamu yang berdatangan untuk memberikan selamat. pernikahan itu juga di liput oleh beberapa media. bahkan live langsung di salah satu saluran televisi.
Alvin melihat Istrinya yang terlihat lelah berdiri. apalagi Zivana memakai high heels yang lumayan tinggi.
"Sayang, kamu lelah?" Alvin bertanya kepada Istrinya.
"Iya nih, kakiku pegal-pegal." jawab Zivana
"Kamu istirahat dulu yah, biar Mas saja yang menyambut para tamu."
"Terima kasih Mas, kalau begitu Zie mau istirahat dulu sebentar. nanti kalau sudah tidak lelah, Zie kembali lagi kesini." ucap Zivana berpamitan.
"Iya sayang, mau Mas antar atau tidak?" Alvin menawarkan diri untuk mengantar istrinya.
"Tidak usah Mas" ucap Zivana sambil tersenyum menatap suaminya.
Alvin menatap Istrinya yang semakin menjauh.
Bu Rara mendekati Alvin yang berdiri sendirian di pelaminan.
"Vin, dimana Zie?" tanya Bu Rara
"Zie sedang istirahat Mah, jadi Alvin sendirian disini." jawab Alvin
"Biar Mamah temenin yah," ucap Bu Rara yang sudah berdiri di samping menantunya.
"Iya Mah, tapi bagaimana dengan Papah?"
"Biarkan saja, Papah masih asyik mengobrol dengan rekan bisnisnya."
Tring
__ADS_1
Terdengar ponsel milik Alvin berbunyi. Alvin segera mengambil ponsel yang dia simpan di saku celananya.
"Mah, Alvin mau angkat telfon dulu." ucap Alvin sambil menoleh menatap Bu Rara.
"Iya Nak" Bu Rara tersenyum kepada menantunya.
Alvin mengangkat panggilan telfonnya saat dia sudah menjauh dari keramaian.
📱"Hallo Tante" ucap Alvin dari balik telfon.
📱"Sudah Mamah bilang jangan panggil Tante. saya ini Mamah kamu juga loh." ucap wanita yang merupakan Ibu tiri Alvin.
📱"Ada apa menelfon?" Alvin bertanya langsung pada intinya.
📱"Kamu benar-benar melakukannya? kamu menikahi anaknya Juna?"
📱"Iya Tante, mending Tante diam! tidak usah campuri urusan Juna." pinta Juna
📱"Apa harus menikahinya Vin? apa tidak ada cara lain?"
📱"Sudahlah, biar ini jadi urusan Alvin. Tante duduk cantik saja tidak usah memikirkan hal ini." Alvin langsung mematikan panggilan telfonnya begitu saja.
Alvin segera kembali ke pelaminan setelah dia selesai bertelfonan.
Tak lama, Zivana juga kembali ke pelaminan untuk menemani suaminya.
°°°
hanya beberapa orang saja yang masih ada disana.
Bu Rara menyuruh anak dan menantunya untuk beristirahat di kamar. karena Bu Rara melihat wajah keduanya terlihat kelelahan.
"Nak, ajak Istrimu ke kamar. kalian istirahat saja karena tamu juga tinggal sedikit." ucap Bu Rara kepada menantunya.
"Baik Mah" jawab Alvin dan langsung mengajak Zivana ke kamar hotel yang merupakan kamar pengantin mereka.
Kini keduanya sudah sampai di dalam kamar. Alvin terlebih dahulu membersihkan diri. sedangkan Zivana memilih untuk membersihkan make up di wajahnya.
Ting tong
Terdengar bel kamar berbunyi. Zivana segera membuka pintu kamar itu. ternyata yang datang petugas layanan hotel.
"Maaf dengan Nona Zivana?"
__ADS_1
"Iya saya Zivana, ada apa yah?"
"Ini pesanan untuk Nona dari Ibu Rara."
"Baiklah, bawa ke dalam!"
Wanita itu sudah keluar dari kamar setelah menata semua makanan yang di bawanya.
Terlihat pintu kamar mandi terbuka dan Alvin keluar dari dalam. Alvin mencium aroma makanan. dia menatap meja panjang yang ada di kamar itu sudah penuh dengan makanan.
"Siapa yang bawa makanan?" Alvin bertanya kepada Istrinya yang sedang duduk di pinggiran ranjang.
"Tadi petugas hotel yang mengantar. katanya Mamah yang pesankan makanan itu." jawab Zivana sambil beranjak dari duduknya. "Aku mau mandi dulu." ucap Zivana kepada suaminya.
Zivana berlalu pergi menuju ke kamar mandi.
Setelah memakai pakaian, Alvin memilih untuk bersantai sambil memainkan ponselnya. hingga saat Zivana keluar dari kamar mandi juga Alvin sama sekali tidak menoleh dan menatapnya.
Zivana melihat suaminya yang sedang tiduran sambil memainkan ponsel miliknya.
"Mas, ayo kita makan!" Zivana mengajak suaminya untuk makan bersama.
"Kamu duluan saja!" ucap Alvin yang hanya menoleh sekilas ke arah Istrinya.
"Ya sudah, aku juga nanti saja nungguin Mas Alvin" Zivana memilih untuk ikut berbaring di atas tempat tidur.
Kruyuk kruyuk
Zivana memegangi perutnya yang berbunyi karena kelaparan.
Alvin menghela nafasnya, lalu dia beranjak dari atas tempat tidur.
"Ayo makan!" ajak Alvin
Zivana ikut beranjak dari atas tempat tidur. dia mengikuti suaminya yang mendekati makanan di atas meja.
Alvin mulai memasukan nasi dan lauk ke piringnya. begitupun Zivana yang sejak tadi sudah merasa lapar.
Zivana merasa jika suaminya sedikit berbeda dari biasanya. Alvin yang selalu bersikap hangat kini terlihat dingin.
Apa Mas Alvin sedang ada masalah?" batin Zivana sambil menatap suaminya.
°°°
__ADS_1
Like, komennya jangan lupa 😊😊
biar semangat UP😊