
Setelah selesai shalat subuh, Rara segera membangunkan Putri. tak lama kemudian, Putri bangun dari tidurnya. lalu dia diantar oleh Rara ke belakang untuk berwudhu.
"Yang benar saja Ra, masa wudhu disini sih?" Putri tampak terkejut karena di rumah itu tidak ada kamar mandinya.
"Iya Put, mending cepetan wudhu deh tidak usah banyak tanya. biar kita cepat-cepat ke sungai juga untuk mandi."
"Kamu bilang sungai, tidak salah dengar nih." Putri tak habis pikir jika untuk mandi juga sesulit ini.
"Lebih parah dari toilet umum ini mah." ucapnya lagi
"Sudahlah Put kita syukuri saja.
Setelah Putri shalat subuh, keduanya pergi ke sungai untuk mandi. disana sudah ada beberapa ibu-ibu yang sedang mengantri untuk mandi juga. setelah mengantri cukup lama akhirnya mereka bisa mandi juga.
Rara berjalan berdampingan dengan Putri. mereka sudah tampak segar dan wangi.
di perjalanan menuju rumah nenek, mereka berpapasan dengan petani yang akan pergi ke sawah.
"Neng siapa? kok saya baru lihat?" tanya petani itu.
"Saya Rara pak dan ini Putri teman saya. kami baru sampai kampung ini malam tadi." jelas Rara kepadanya.
"Oh pendatang, pantas saja wajahnya bening sekali." ucapnya lalu arah pandangnya menatap ke arah perut buncit Rara.
"Neng lagi hamil? suaminya ikut kesini juga neng?" tanyanya penasaran
__ADS_1
"Oh tidak ikut, ya sudah neng saya permisi dulu." lalu petani itu pergi meninggalkan mereka berdua.
Keduanya sudah sampai di rumah nenek. mereka masuk dan melihat nenek sedang memasak.
"Mau saya bantu tidak Nek." Rara menawarkan diri untuk membantu.
"Masak sayur neng" jawab nenek
"Nek, Nenek mau saya bantu?" Rara kembali bertanya dengan nada suara keras.
"Tidak usah neng, ini sudah selesai kok. "jawab Nenek yang sudah mendengar perkataan Rara.
"Kalau gitu Rara nyapu di depan saja Nek." lalu Rara pergi meninggalkan dapur.
"Ini keras sekali Ra "sambil menepuk-nepuk kursi kayu yang sedang di dudukinya.
"Ya keras Put, namanya juga kayu." timpal Rara yang sedang menyapu.
Putri mengambil ponsel miliknya lalu di membuka pesan whatshap.
"Duh ini sinyalnya hilang sih." Putri tampak sibuk dengan ponsel miliknya.
"Lagi ngapain sih Put? dari tadi sibuk terus lihat HP." ucap Rara yang ikut duduk di depan Putri.
"Ini loh Ra masa tidak ada sinyal disini." Putri tampak boring karena tidak bisa memainkan ponselnya.
__ADS_1
"Mungkin disini memang susah sinyal." ucap Rara
"Kamu kok santai sekali Ra? tidak ada panik-paniknya sama sekali." tanya Putri yang melihat Rara tampak biasa-biasa saja."
"Apa yang perlu di panikin coba, kita jalanin saja hari-hari kita disini dengan tenang."
"Tapi Ra aku bosan jika kita harus diam-diam saja disini.
"Ti.."Rara belum sempat meanjutkan peekataannya karena nenek sudah terlebih dulu angkat bicara.
"Ayo neng kita sarapan bersama. kebetulan Nenek sudah sekesai memasaknya."
"Baiklah Nek, ayo kita makan sama-sama." lalu Rara dan Putri mengekor nenek menuju ruang makan berukuran kecil.
Rara tampak berselera melihat makanan yang terhidang di depannya. sedangkan Putri menatap aneh karena baru pertama kalinya melihat makanan itu.
"Ini bisa di makan Ra?" tanya Putri saat melihat menu masakan yang terhidang di atas meja.
"Memangnya kamu belum pernah makan makanan seperti ini?" Rara bertanya balik kepada Putri.
"Belum pernah Ra, ini pertama kalinya aku melihat makanan seperti ini. memangnya ini apa namanya?" Putri tidak tahu nama masakan itu.
"Ini sayur lompong, emm ini enak loh Put." ucap Rara yang sudah mencicipi sayur lompong itu.
Putri mulai mengambil nasi dan sayur. dia merasa aneh dengan rasa sayur lompong yang dia makan. walaupun rasanya aneh karena baru pertama kalinya, tapi dia tidak mau berkomentar. Putri sudah lelah berkomentar sejak tadi.
__ADS_1