Hanya Istri Siri

Hanya Istri Siri
Part_89


__ADS_3

Pagi ini Juna mulai melakukan rutinitas barunya. dia akan berjualan kue goreng yang dibuat oleh istrinya.


"Mas, ini Rara pisahin yah jadi dua wadah. soalnya rasanya ada dua varian." ucap Rara


"Iya sayang, kalau gitu Mas pergi dulu yah." Juna berpamitan untuk pergi berjualan.


"Iya Mas, hati-hati yah dijalan." kata Rara


"Iya sayang" lalu keduanya saling bersalaman. sebelum pergi, tak lupa Juna mencium kening istrinya dan dia beralih mengecup singkat pipi Baby Zie yang ada di gendongan Rara.


Juna berjualan hingga ke kampung sebelah. tentu semua jualannya laris manis. pembelinya kebanyakan para gadis dan ibu-ibu hits. mereka terkesima dengan ketampanan Juna. maka dari itu beberapa dari mereka memborong banyak kue yang dijual oleh Juna.


Juna pulang lebih awal karena dagangannya sudah ludes. dia mampir ke warung untuk membeli kebutuhan dapur yang sudah habis. Juna membeli telor dan beras. jujur saja saat di kampung, untuk makan telor saja sangat jarang. apalagi daging, biasanya Rara makan daging satu bulan sekali jika ada acara bulanan di kampung.


"Assalamu'alaikum" Juna yang baru pulang mengucapkan salam.


"Waalaikum'salam" jawab Rara yang sedang menemani Baby Zie bermain diruang depan.


"Mas Juna sudah pulang? bawa apa itu Mas?" Rara melihat Juna menenteng kresek hitam di tangannya.


"Ini Mas habis belanja loh sayang. ini kamu simpan dulu, Mas mau ngambil beras yang masih diluar." Juna memberikan bungkusan kresek hitam itu kepada istrinya.


Rara menerima kresek hitam yang berisi telor dan bumbu dapur. lalu dia membawanya ke belakang.


Juna menghampiri istrinya yang ada di dapur. dia memeluk pinggang ramping istrinya.


"Eh, Mas Juna ngapain peluk-peluk?" tanya Rara


"Mas kangen sayang, biarkan seperti ini dulu sebentar." ucapnya sambil memeluk Rara dari belakang.


"Mas, Baby Zie lagi main di depan loh.


Rara mau nengok dulu ke depan." Rara menghawatirkan anaknya yang main sendirian.


"Tenang sayang, Baby Zie sudah Mas titipkan kepada Bu Sri." ucap Juna lalu dia melepas jilbab instan yang dipakai istrinya.


"Loh, kenapa jilbab Rara dilepas?" tanya Rara namun Juna tidak menjawab. Juna malah menarik Rara hingga memasuki kamarnya.


"Sayang, apa kamu tidak mau cobain kasur baru? pasti rasanya lebih empuk." ujar Juna yang sudah medudukan istrinya di atas kasur.


"Apaan sih Mas?" ucanya sambil menatap lekat wajah tampan suaminya.


Juna mendorong Rara hingga terlentang di atas kasur. dia langsung memulai aksinya.


"Emm...." Rara melenguh saat suaminya menciuminya.


Tak terasa Juna sudah melepaskan pakaian bagian atas istrinya. dia mulai menurunkan ciumannya. saat Juna memegang celana kulot yang dipakai Rara, Rara mulai tersadar.


"Maaf Mas, Rara lagi datang bulan." ucap Rara dan seketika Juna menghentikan aksinya.


"Kapan selesainya?" Juna bertanya kepada istrinya.


"Paling satu minggu lagi Mas, soalnya baru semalam datangnya." ucap Rara sambil memakai baju atasnya.


"Kenapa lama sekali? apa tidak bisa jadi tiga hari saja?"


"Ya tidak bisa lah, kamu ini gimana sih mas."

__ADS_1


"Ya sudah, nanti kalau sudah selesai, kamu bilang Mas yah." pintanya


"Mas mau gempur kamu sehari semalam." ucapnya lagi.


Rara bergidig ngeri mendengar perkataan suaminya.


"Mas Juna tidak kasihan melihat istri sendiri sakit?" tanya Rara


"Apa hubungannnya di gempur sama sakit?"


"Ya itu, kalau digempur terus ya pasti sakit. Mas gimana sih, masa mau nyiksa istri sendiri." ujar Rara


"Iya iya sayangku, nanti Mas sayang sayang kok. mana tega Mas nyiksa istri secantik kamu." ucap Juna menggoda istrinya.


"Iish apaan sih" Rara tampak malu-malu mendengar perkataan suaminya.


"Ayo sayang kita keluar saja." pinta Juna lalu dia berkata lagi. "Di kamar juga tidak bisa ngapa-ngapain."


"Hahahahaha itung-itung puasa Mas." Rara menertawakan suaminya.


Rara dan Juna kembali keluar dari kamar. mereka berniat untuk makan siang bersama.


mereka membiarkan Baby Zie tetap bersama Bu Sri. karena memang akhir-akhir ini Bu Sri jarang bermain bersama Baby Zie.


°°°°


Di Ibukota


Sore itu Bu Farah sedang arisan bersama teman-teman sosialitanya. mereka menanyakan keberadaan Juna. memang berita menghilangnya CEO Dirgantara Group secara tiba-tiba sudah tersebar dimana-mana. banyak juga relasi Bisnis yang bertanya-tanya kepada Rey. namun Rey menjawab jika Kakaknya itu sedang ada urusan di luar negeri.


"Bagaimana mengenai pertunangan Putramu Jeng? apa akan dilanjutkan lagi?" tanya salah satu teman Bu Farah.


Bu Farah bingung mau menjawab apa mengenai pertanyaan sahabatnya. dia terpaksa berbohong dari pada teman-temannya tahu kepergian Juna yang sebenarnya. nanti malah akan menjadi gosip trending topik.


"Juna lagi pergi berlibur ke Luar Negeri Jeng." ucap Bu Farah


"Oh berlibur, sama siapa Jeng?" tanyanya


"Sama temannya Jeng." jawab Bu Farah


"Atau mungkin sama calon istri." tanya ibu-ibu yang lainnya


"Ya seperti itulah." Bu Farah hanya mengiyakan supaya teman sosialitanya tidak bertanya yang lebih lagi.


Bu Farah pulang dengan sedikit lesu. dia sudah bingung mau menjawab apa jika ada lagi orang yang bertanya mengenai putranya.


dia kira Juna akan kembali pulang ke rumah setelah semua fasilitas yang dimiliki sudah ditarik semua olehnya. namun nyatanya tidak, Juna masih bisa hidup di luaran sana tanpa bantuan Bu Farah dan tanpa kemewahan yang selama ini dia nikmati.


Bu Farah melihat Rey yang baru menutup pintu rumahnya.


"Rey, kamu mau kemana?" tanya Bu Farah yang baru datang.


"Bukan urusan Mamah." jawabnya dan dia berlalu pergi.


Akhir-akhir ini memang Rey sering keluar rumah dan pulang tengah malam. yang Bu Farah lihat sepertinya anak bungsunya itu sedang ada masalah. tapi setelah Bu Farah bertanya kepada Assten Rio, dikantor Rey tidak ada masalah apapun.


Rey datang ke tempat langganannya yang dulu sering dia datangi.

__ADS_1


"Hey Bro, sudah datang rupanya." sapa teman Rey yang merupakan pemilik club malam.


"Iya Bro, gue bosen dirumah terus." ucap Rey


"Lupakanlah Bro, wanita masih banyak di luar sana. jangan lemah hanya karena satu wanita.


"Entahlah Bro, rasanya masih sulit untuk pindah ke lain hati." jawab Rey


"Ya sudah, loe duduk saja dulu. gue mau siap-siap buka club." ucapnya


"Oke Bro" Rey hanya sekedar duduk saja sambil memainkan ponselnya.


sudah dua jam Rey disana. dia hanya duduk santai saja tanpa memesan minuman apapun. banyak wanita malam yang mendekatinya. namun Rey cuek dan mengusir mereka agar jauh-jauh darinya.


"Arrrggghhhhh"Rey frustasi karena ditempat yang seramai itu dia masih tidak bisa melupakan Rara.


Rey akhirnya memesan minuman beralkohol untuk menenangkan pikirannya. minuman yang sudah berbulan-bulan yang lalu dia jauhi sekarang dia konsumsi lagi.


"Bro, sudah jangan minum lagi!" ucap pemilik club yang merupakan temannya.


"Rara...."Rey mengigau memanggil Rara.


"Sudahlah, biar gue suruh supir untuk antar loe pulang." lalu dia memapah Rey hingga ke parkiran.


Rey sudah berada di dalam mobil. dia duduk di kursi kemudi.


Toktoktok


"Pak buka pintunya, saya mau keluar sebentar." pinta Rey sambil menggedor-gedor kaca pintu mobil.


Ciittttttt


Pak supir mengerem mendadak. saking takutnya dia jika Rey mengahancurkan mobil itu. karena Rey terus mengetuk-ngetuk kaca pintu mobil cukup keras.


Putri yang sedang berjalan-jalan malam tak sengaja melihat lelaki yang tampak sempoyongan baru keluar dari mobil. karena merasa kasihan dan takutnya terjadi apa-apa, akhirnya Putri menghampiri lelaki itu.


"Maaf Kak, apa Kakak tidak apa-apa?" tanya Putri yang belum melihat wajah Rey.


"Tidak" ucap Rey yang sudah membalikan badan. Rey terus tersenyum menatap Putri.


Putri kaget saat mengetahui jika lelaki itu adalah Rey.


"Maaf Nona, Pak Rey ini sedang mabuk." ucap supir yang bicara lewat jendela kaca mobil yang sedikit dia buka.


"Apa Bapak mau mengantarkannya pulang?" tanya Putri


"Iya Nona, tapi dari tadi dia menggedor-gedor kaca mobil. saya takut jika mobilnya bisa rusak. karena ini mobil Bos saya." ucapnya.


"Ya sudah, biar saya saja yang antar karena kebetulan saya mengenalnya." ucap Putri


"Ya sudah, kalau begitu saya permisi." lalu supir itu kembali mengemudikan mobilnya menjauhi Putri dan Rey.


"Kak Rey, apa Kakak masih bisa naik motor. soalnya kalau naik taxi nanti motor Putri gimana?"


"Terserah" kata Rey lalu dia hilang keseimbangan dan terjatuh dalam pelukan Putri.


"Ahh berat sekali sih, sudah ditolong malah nyusahin." gumam Putri

__ADS_1


Akhirnya mau tidak mau Putri mencari taxi untuk mengantarkan mereka pulang. dengan terpaksa dia meninggalkan motor matic kesayangannya dipinggir jalan.


°°°


__ADS_2