Hanya Istri Siri

Hanya Istri Siri
S2_Episode 109


__ADS_3

Tak terasa waktu berlalu bergitu cepat. Beberapa hari lagi usia kandungan Zivana memasuki usia sembilan bulan. Zivana masih ikut pergi ke kantor. Padahal Alvin sudah melarangnya.


Saat ini Alvin dan beberapa karyawannya sedang meeting. Zivana juga ada disana. Baru beberapa menit duduk, dia merasakan sakit di perutnya.


"Aduh duh..." Zivana merintih sambil memegangi perutnya.


Semua yang ada di sana menatap ke arahnya. Dua orang yang duduk di dekatnya mendekati dia.


"Sayang, kamu kenapa?" Alvin melangkah mendekati kursi tempat istrinya duduk.


"Perutku sakit sekali, Mas." ucap Zivana.


"Sepertinya Nona Zie mau melahirkan, Pak." ucap salah satu karyawan wanita.


"Satu orang bantu saya," ucap Alvin sambil menunjuk karyawan perempuan.


"Saya, Pak." ucap salah satu dari mereka.


Alvin menunda meetingnya, dia mendorong kursi yang di duduki istrinya menuju ke luar. Kebetulan kursinya yang ada rodanya. Sedangkan satu karyawannya memegangi Zivana agar tidak terjatuh. Mereka langsung masuk ke lift. Niatnya Alvin akan langsung membawa istrinya menuju ke rumah sakit.


Saat ini Alvin sudah ada di perjalanan menuju ke rumah sakit. Dia terlihat panik melihat istrinya yang terus merintih. Dengan sedikit menambah kecepatan, kini Alvin sudah sampai di depan rumah sakit.


Alvin menggendong istrinya menuju ke dalam. Dia meminta bantuan perawat yang lewat. Zivana langsung di bawa ke ruang persalinan. Alvin mengurus administrasi dan meminta agar penanganan istrinya di lakukan dengan cepat. Dia bahkan sudah memesan kamar terbaik untuk ruang inap istrinya.


Alvin sudah berada di depan ruang persalinan. Dia mengetuk pintu yang tertutup. Salah satu perawat membuka pintunya.


"Saya mau temani istri saya," ucap Alvin.


"Oh iya, Pak. Ayo silahkan masuk!" ucapnya.


Alvin mengikuti perawat itu masuk ke dalam. Alvin langsung berdiri di samping ranjang istrinya.


"Dok, apa istri saya akan melahirkan normal?"


"Iya, Pak. Istri bapak akan melahirkan secara normal." ucapnya, lalu Dokter itu menatap Zivana.


Dokter itu langsung memberi arahan kepada Zivana. Alvin merasa kasihan melihat istrinya yang sedang berjuang untuk melahirkan anaknya.


Oek oek


Akhirnya anak kedua mereka telah lahir ke dunia. Dokter mengambil bayi mungil itu lalu membersihkannya.


"Dok, apa jenis kelaminnya?" tanya Alvin.

__ADS_1


"Perempuan, Pak." ucapnya lalu segera membersihkan bayi mungil itu.


Alvin mengelap kening istrinya yang berkeringat. Lalu dia mengecupnya singkat.


Cup


"Terima kasih, sayang. Kamu sudah menjadi istri paling sempurna."


"Sama-sama, Mas. Terima kasih juga sudah menjadi ayah yang baik untuk aku dan anak kita."


"Pak, ini anaknya di adzankan dulu," ucap Dokter.


Alvin langsung mengadzankan anaknya.


°°°


Saat ini Zivana sudah di pindahkan ke ruang perawatan. Alvin juga sudah menghubungi keluarganya, dan mereka sudah ada di dalam perjalanan.


Tok tok


Terdengar ketukan pintu dari luar ruang inap Zivana. Alvin segera membuka pintu. Dia melihat Bu Rara dan yang lainnya berdiri di depan pintu.


"Silahkan masuk Mah, semuanya," ucap Alvin sambil menatap mereka.


"Sayang, wah akhirnya kamu bisa melahirkan secara normal juga." ucap Bu Rara.


"Iya nih, Mah. Alhamdulilah kali ini bisa normal."


"Oh iya, anak kamu mana?" tanya Bu Rara.


"Ada di ruang bayi, Mah."


"Ya sudah, Mamah lihat cucu Mamah dulu yah." Bu Rara langsung pergi ke ruangan anaknya bersama dengan suaminya. Sedangkan Eza dan Lina nanti saja, karena tidak boleh berkerumun di ruangan bayi.


"Selamat yah, Kak. Eza tunggu anak


ke tiganya," ucap Eza.


"Astaga, memangnya Zie itu mesin pencentak anak." ucap Zivana


"Tidak apa-apa, sayang. Biar rumah kita rame. Kan ada pepatah mengatakan jika banyak anak itu banyak rezeki." ucap Alvin


"Tapi ya jangan banyak-banyak, Mas. Nanti kita malah kerepotan."

__ADS_1


Lina juga memberikan selamat kepada Zivana. Dia berharap, persalinannya nanti juga bisa lancar dan dia bisa melahirkan secara normal.


Bu Rara dan suaminya sudah kembali ke ruangan Zivana. Kini giliran Eza dan Lina yang pergi melihat anak Zivana.


Bu Rara mendekati Zivana lalu duduk di kursi yang ada di samping ranjang pasien.


"Sayang, cucu Mamah mau di kasih nama siapa?" tanya Bu Rara


"Belum tahu, Mah." ucap Zivana lalu menatap suaminya yang sedang berdiri.


"Mas juga belum cari nama untuk anak kita sayang," ucap Alvin.


"Astaga kalian ini bagaimana sih, kalau begitu biar Mamah yang cari nama."


"Jangan, Mah! Biar Zie saja yang kasih nama," ucap Zivana.


"Ya sudah deh."


Tring tring


Alvin mendengar ponselnya berbunyi. Ternyata itu panggilan masuk dari Asisten Tio. Dia langsung mengangkat panggilan telfon itu. Ternyata Asisten Tio mengatakan jika ada klien penting dari luar negeri dan ingin langsung bicara dengan Alvin.


"Mas, kamu kenapa? Kok raut wajahnya terlihat sedih?" Zivana bertanya kepada suaminya.


"Ini tadi Asisten Tio bilang jika ada rekan kerja dari luar negeri yang datang ke kantor untuk ketemu aku." ucap Alvin


"Yah, masa sudah pergi saja sih."


"Sudahlah Zie, biarkan saja suamimu pergi. Lagian disini ada Mamah." ucap Bu Rara.


"Benar, Nak. Kebetulan Papah juga sudah mau ke kantor lagi nih." sahut Pak Juna.


"Kok gitu, Pah?" Bu Rara menatap suaminya yang berdiri di sebelahnya.


"Iya nih Asisten Papah sudah kirim chat sejak tadi. Katanya Papah di suruh cepat kembali karena ada hal penting juga.


Bu Rara menatap Zivana lalu berbisik di telinganya. Zivana hanya tersenyum saat mendengar perkataan Ibunya.


"Kalian kenapa pada senyum-senyum?" tanya Pak Juna.


"Tidak kok, ini privasi antar wanita." ucap Bu Rara.


Alvin dan Pak Juna langsung berpamitan untuk pergi.

__ADS_1


°°°


__ADS_2