
Tak terasa sudah tiga bulan Eza membuka bengkel. Dan setiap harinya semakin banyak pelanggannya. Selain tempatnya yang strategis karena berada di daerah keramaian, Eza juga memasang iklan di media sosial. Dan masih seperti hari-hari sebelumnya, Lina selalu datang untuk mengantar makanan.
Hari ini Eza kedatangan calon karyawan baru. Dia sedikit kewalahan bekerja sendirian. Jadi dia memasang pengumuman mencari montir yang sudah berpengalaman untuk bekerja di bengkelnya.
"Selamat bergabung di bengkel saya, Al. Besok kamu mulai kerjanya," ucap Eza sambil menjabat tangan Alan yang merupakan karyawan barunya.
"Terima kasih, Pak. Kalau begitu saya pamit pulang dulu," ucap Alan.
"Sama-sama," jawab Eza.
Terlihat Lina turun dari mobil. Seperti biasa dia membawakan makan siang untuk Eza.
"Ekhm," Lina berdehem saat sudah ada di belakang Eza.
"Eh Lina sudah datang," Eza tersenyum menatap Lina.
"Iya nih, Kak."
"Ayo masuk dulu! Kita makan di dalam saja!" ajak Eza
"Memangnya aman kalau kerjaan Kakak di tinggal?"
"Aman kok, tenang saja ada cctv disini."
Lina mengikuti Eza masuk ke dalam. Mereka akan ke ruangan pribadi Eza yang ada di bangunan itu.
Seperti biasa, Lina menghidangkan makanan yang dia bawa ke atas meja.
"Tadi Bu Luna berpesan, nanti kalau Kak Eza pulang, Kakak mampir dulu ke rumah."
"Iya nanti Kakak mampir," ucap Eza yang sedang melahap makanannya.
Eza menaruh air dari aqua dingin ke dalam gelas. Namun airnya tumpah kemana-mana. Bahkan mengenai dres yang di pakai oleh Lina.
"Yah basah,' gumam Lina sambil mengambil tisu yang ada di atas meja.
"Biar aku saja," Eza merebut tisu yang sedang di pegang oleh Lina.
Eza mulai mengelap dres Lina bagian bawah. Namun dia tak sengaja mengelap paha Lina yang terlihat. Karena memang basah juga.
Aduh, kenapa aku mendadak merinding saat di sentuh Kak Eza.' batin Lina
Lina merasakan sensasi yang berdeda saat jari-jari Eza menyentuhnya. Apalagi jantungnya berdetak tak karuan.
Eza sedikit tak fokus karena pikiran liarnya.
Kenapa di dekat Lina membuatku sedikit berhasrat,' batin Eza sambil menatap paha mulus yang terpampang jelas di depannya.
__ADS_1
Eza buru-buru menjauhkan tangannya sebelum dia khilaf.
"Sudah," ucap Eza yang sedikit canggung.
Lina kembali ke posisi duduknya yang semula.
Keduanya terlihat diam karena sama-sama canggung. Lina memilih mengambil alat pel untuk mengepel lantai yang basah.
°°°
°°°
Menjelang malam, Eza memilih menutup bengkelnya. Karena cuaca juga sangat tidak mendukung. Di luar terlihat akan hujan deras.
Dan benar saja, baru juga dia naik ke atas motor, bajunya basah kuyup karena hujan turun tiba-tiba. Eza buru-buru memakai jas hujan miliknya. Walaupun pakaiannya sudah sedikit basah, namun lebih baik dia memakai jas hujan dari pada pulang hujan-hujanan.
Saat ini Eza sudah sampai di depan rumah Bu Luna. Dia mengetuk pintu dan kebetulan Bu Luna sendiri yang membukakan pintunya.
"Nak Eza hujan-hujanan?"
"Iya nih, di luar hujan deras." ucap Eza sambil melepas jas hujan yang dia pakai.
Bu Luna mengajak Eza masuk ke dalam rumah. Lalu menyuruhnya berganti pakaian. Kebetulan ada beberapa pakaian santai milik Eza yang dia tinggal disana.
"Lin, Lina," Bu Luna memanggil Lina.
"Tolong buatkan teh hangat untuk Eza. Kasihan tadi dia kehujanan. Saya mau ke kamar dulu menemani Alana."
"Baik, Bu." Lina melangkah menuju ke dapur.
Lina sudah kembali dengan membawa satu gelas teh hangat. Dia juga melihat Eza yang sedang duduk sendirian di sofa.
"Silahkan di minum, Kak!" Lina menaruh teh hangat di atas meja.
"Terima kasih, Lin."
"Sama-sama, Kak." jawab Lina
Tiba-tiba penerangan di semua ruangan padam. Lina merasa takut karena dia takut gelap. Dia diam di tempatnya sambil memejamkan kedua matanya.
"Lin, kamu dimana?" tanya Eza
"Aku disini, Kak, aku takut gelap." kata Lina
Eza beranjak dari duduknya. Lalu dia menghampiri Lina. Eza mengajak Lina untuk duduk di sofa.
Eza merasa kedinginan karena saat ini dia hanya memakai kaos pendek dan celana kolor.
__ADS_1
Lina mendengar Eza yang sedikit merintih karena merasa kedinginan.
"Kakak dingin?" Lina memegang tangan Eza yang menggigil.
"Iya, Lin." jawab Eza
"Biar Lina bantu," Lina mengusap-usap kedua tangan Eza untuk menyalurkan rasa hangat. Namun Eza terlihat masih kedinginan.
"Boleh aku memeluk kamu, Lin. Aku tidak kuat lagi."
"Tapi Kak..." Sejenak Lina diam karena dia tidak mau berbuat di luar batas. Tapi saat melihat Eza butuh pertolongan, mungkin tidak ada salahnya jika dia membantu. Apalagi hanya sekedar pelukan.
"Baiklah," ucap Lina pada akhirnya.
Eza langsung merengkuh Lina ke dalam pelukannya.
Lina merasa merinding saat merasakan deru nafas Eza di ceruk lehernya. Apalagi dia merasakan pelukannya yang begitu erat.
Eza merasakan aroma harum di ceruk leher Lina.
"Awww," Lina merasakan sedikit sakit saat merasakan gigitan di lehernya.
"Kak, apa yang Kakak lakukan?"
"Maaf, aku khilaf." ucap Eza
Lina mencoba melepaskan diri dari pelukan Eza. Namun Eza masih memegang sebelah tangan Lina. Akhirnya Eza ikut ke tarik. Lina hilang keseimbangan dan jatuh dengan posisi tertidur di atas sofa. Begitu juga dengan Eza yang jatuh menimpa Lina.
Terlihat semua lampu di ruangan sudah menyala.
Bu Luna melangkah keluar kamar dengan menggendong Alana. Karena Alana sedikit rewel, jadi mau meminta Lina menenangkannya. Namun yang dia lihat sangat mengejutkan. Eza dan Lina yang sedang berada di posisi sangat intim.
"Apa-apaan ini?"
Eza segera bangkit dari atas tubuh Lina. Begitu juga Lina yang kembali membenarkan posisi duduknya.
"Bu, ini hanya tidak sengaja," ucap Lina sambil menundukan pandangannya karena merasa malu.
"Bagaimana saya percaya jika ini tidak sengaja, sedangkan leher kamu saja sudah ada bekas kiss mark." ucap Bu Luna
"Bu, ini benar-benar ketidak sengajaan." ucap Eza
"Kalian tidak usah mengelak, besok saya akan bicara kepada orang tua kamu, Za. Kalian harus secepatnya di nikahkan. Saya tidak mau jika Lina hamil duluan."
Kenapa malah menjadi seperti ini," batin Lina.
°°°
__ADS_1