
Keesokan paginya, Ayu bangun terlebih dahulu. dia segera membersihkan dirinya, karena harus beres-beres rumah dan memasak sarapan. setelah membersihkan diri, dia membangunkan suaminya. Ayu menunggu suaminya untuk shalat berjama'ah.
Ayu keluar dari kamar Rey. dia berjalan santai saja karena biasanya jam segitu Bu Farah belum bangun.
"Hey" seseorang mengagetkan Ayu yang baru saja menutup pintu.
Ayu menengok ke sumber suara. ternyata dia adalah Bu Farah.
Kenapa jam segini Bu Farah sudah bangun?" Ayu bingung dan tidak tahu harus mengatakan apa.
"Ngapain pagi buta seperti ini kamu keluar dari kamar anak saya?" tanyanya
"Ssaayaaa, emm itu" Ayu gugup tak bisa menjawab perkataan Bu Farah.
"Kenapa gugup? apa yang kamu sembunyikan? kamu itu shalehah loh, tapi kenapa main masuk kamar orang?"tanya Bu Farah
Ayu tak bisa berkata apa-apa. Bu Farah menerobos masuk kamar anaknya. Ayu hanya diam mematung di depan pintu.
"Rey sayang, kamu dimana Nak?" Bu Farah sudah masuk kedalam kamar namun tidak melihat Rey.
Bu Farah mendengar suara sower menyala dari dalam kamar mandi. mungkin Rey sedang mandi." pikirnya
Bu Farah berjalan menuju ranjang karena hendak menunggu anaknya keluar dari kamar mandi sambil duduk santai di tepi ranjang. namun pandangannya tertuju pada bantal dan selimut yang tampak berantakan. dia mencoba membereskan tempat tidur anaknya.
"Apa ini?" Bu Farah melihat sedikit noda merah di seprai warna putih yang dia pegang.
Lalu dia mulai memutar otak. dia tahu betul jika anaknya tidak pernah mandi pagi buta seperti ini. ditambah lagi dia melihat Ayu yang baru keluar kamar itu. dan noda merah yang dia lihat sekarang ini, sunggung membuatnya semakin curiga kepada anak dan pembantunya itu. memang akhir-akhir ini Bu Farah juga sering melihat anaknya bersikap manis dan perhatian kepada Ayu. menurutnya itu masih wajar-wajar saja namun kali ini sepertinya memang ada sesuatu diantara keduanya.
"Loh Mamah, pagi-pagi kok sudah ada di kamar Rey?"
"Terserah Mamah dong, lagian ini rumah Mamah." jawab Bu Farah sambil menyilangkan kedua tangannya di dadanya.
Rey mengambil pakaian miliknya yang hendak ia kenakan. sedangkan Bu Farah menunggu anaknya dengan masih tetap berada di tempat semula. yaitu duduk dipinggir ranjang.
"Coba jelaskan semuanya! ada hubungan apa antara kamu dan Ayu?" tanya Bu Farah saat melihat anaknya yang sudah selesai berganti pakaian.
"Maksud Mamah apa?" tanya Rey pura-pura tak mengerti maksud Ibunya.
"Ayu, sini kamu!" Bu Farah memanggil Ayu yang masih diam mematung di depan pintu.
"Iya Nyonya" Ayu langsung masuk menghampiri Bu Farah.
__ADS_1
"Mamah tanya sekali lagi, ada hubungan apa antara kalian berdua?" Bu Farah menatap sinis anak dan pembantunya.
"Maksud Mamah apa sih? Rey tidak mengerti."
"Lihat ini, noda apa ini?" Bu Farah menunjukan seprai putih yang sudah dia lipat.
Rey dan Ayu keduanya sama-sama terkejut. mereka tidak berhati-hati. bisa-bisanya semua rahasia terbongkar dalam sekejap mata. mau berbohong percuma, Bu Farah sudah mencurigai mereka.
"Kenapa kalian diam? benarkah semalam kalian habis melakukan hubungan terlarang?"
"Mah,aku dan Ayu memang melakukannya. tapi kita..." belum juga Rey menyelesaikan perkataannya, Bu Farah sudah menyerobotnya.
"Oh, jadi dibalik hijabmu itu kamu hanya seorang wanita penggoda. kamu menggoda anak saya agar mau menidurimu." ucap Bu Farah dan perkataannya yang begitu menyakitkan membuat Ayu tak bisa lagi membendung air matanya. Ayu keluar dari kamar itu dengan menahan isak tangisnya.
"Ayu, Tunggu!" teriak Rey namun Ayu tidak mendengarkannya. Rey hendak mengejar Ayu namun Bu Farah memanggilnya.
Rey menengok dan melihat Bu Farah yang sedang memegangi dadanya.
"Mah, Mamah kenapa?" Rey merasa panik, hal yang dia takutkan akhirnya terjadi juga.
Bu Farah tak sadarkan diri. Rey menggendongnya dan merebahkan Bu Farah di ranjang miliknya. lalu dia segera menghubungi dokter untuk memeriksa keadaan ibunya.
Entah kemana tujuannya sekarang. Ayu masih bingung mau mencari tempat tinggal. sewa kost di kota lumayan mahal sedangkan dia sekarang sudah tidak mempunyai pekerjaan. Ayu menaiki angkot yang kebetulan lewat di depan gerbang masuk kompleks perumahan. dia tidak tahu harus pergi kemana. yang penting dia sudah pergi dulu dari kompleks perumahan itu.
Ayu melihat toko kue yang sudah buka. padahal sekarang masih pagi sekali. karena penasaran, dia langsung turun dari angkot lalu berniat berkunjung ke toko itu.
"Assalamu'alaikum" Ayu mengucapkan salam saat memasuki toko itu.
"Waalaikum'salam" jawab seeorang di dalam sana yang tak lain adalah Rara.
"Ini tokonya memang sudah buka?" tanya Ayu
"Iya Mbak, silahkan dipilih-pilih jika ada yang ingin dibeli."
"Sebenarnya saya hanya penasaran. kok ada yah toko yang sudah buka pagi sekali seperti ini."
"Ya, memang saya lebih suka buka toko lebih awal. karena bisa lebih bersantai juga. sambil bikin kue disambi jaga toko." kata Rara
"Memang bikin kuenya disini juga?" tanya Ayu
"Iyah, kebetulan ada dapur khusus. oh iya, ayo kita duduk dulu." Rara mengajak Ayu untuk duduk disalah satu kursi yang ada di ruangan itu.
__ADS_1
"Sebentar" ucap Rara lalu dia mengambil kue di etalase untuk dihidangkan.
Rara memotong kue itu lalu dia hidangkan ke dalam wadah yang sudah disediakan.
"Oh iya, dari tadi kita ngobrol tapi belum sempat kenalan. kalau boleh tahu, nama kamu siapa?" tanya Rara
"Saya Ayu mbak, kalau mbak?"
"Saya Mutiara, panggil saya Rara saja."
"Wah namanya cantik sekali seperti orangnya."
"Amah amah" terdengar Baby Zie berteriak memanggil Rara.
"Sebentar yah, anak saya terbangun." ucap Rara kepada Ayu lalu Rara pergi ke ruangan khusus yang dipakai Baby Zie untuk tidur.
Rara kembali dengan menggendong Baby Zie.
"Anaknya cantik sekali, mirip seperti ibunya." Ayu memuji kecantikan Baby Zie.
"Terimakasih kakak, kakak juga cantik." jawab Rara menirukan suara anak kecil.
"Panggil nama saja mbak, sepertinya saya lebih muda dari mbak Rara."
"Okeh Ayu, tapi kalau di depan anak saya. saya tidak mungkin manggil nama dong. nanti bisa-bisa dia menirunya."
"Maaf mbak kalau saya lancang, tapi saya mau bertanya. disini ada lowongan pekerjaan tidak? kebetulan saya lagi butuh pekerjaan." Ayu menatap Rara dengan serius.
"Hm pekerjaan yah, boleh juga, kebetulan saya tidak ada yang membantu."
"Terimakasih mbak, kalau begitu saya permisi dulu mau cari kontrakan baru. nanti saya kembali lagi untuk bekerja."
"Tidak usah, mending kamu tinggal di Mess khusus karyawan saja atau bisa tinggal bareng dirumah saya."
Ayu merasa senang karena tidak usah mencari kontrakan. dia merasa bersyukur sudah dipertemukan dengan orang sebaik Rara.
"Makasih ya mbak, saya akan tinggal di Mess saja."
Setelah cukup lama mengobrol, Rara mengajak Ayu ke Mess yang akan
di tempatinya. karena kebetulan belum dibersihkan, mereka bergotongroyong untuk membersihkan setiap sudut ruangan yang ada di dalam ruangan itu.
__ADS_1