
Sejak kemarin Juna tidak melihat keberadaan istrinya. dia mengira jika istrinya sedang berada di rumah Bu Sri tetangga dekat rumah. namun Rara tidak pulang-pulang juga. Juna juga sudah menengok kesana, namun tidak ada keberadaan istrinya disana. Bu Sri sendiri tidak tahu keberadaan Rara.
Juna teringat perkataan Rara kemarin.
Kemarin Rara mengajakku ke kota. apa dia pergi beneran ke kota? tapi, apa secepat itu perginya? sebenarnya Rara kemana? ah, bikin pusing saja." batin Juna
Juna sudah berpenampilan rapih. dia niatnya akan mengajak Sari pergi ke pantai. dia sengaja tidak memberitahukan dulu niatnya kepada Sari. kemarin dia sudah mengatakan kepada Sari bahwa dia akan mengajaknya ke pantai. namun Sari menolak dengan alasan akan tidur seharian dirumah. akhirnya Juna tidak jadi mengajaknya pergi. tapi sekarang dia berubah pikiran, walaupun Sari menolak, dia akan tetap mengajaknya pergi. Juna pergi diam-diam ke rumah Sari tanpa memberikan kabar terlebih dahulu.
Juna sudah sampai di depan rumah Sari. dia melihat ada mobil mewah asing yang dia lihat di halaman rumah. Juna bertanya kepada tetangga yang sedang menyapu halaman. namun Ibu itu mengatakan jika itu mobil milik tamu yang datang pagi sekali, namun belum pulang juga. Juna penasaran dengan tamu yang Ibu itu maksud. masa pagi-pagi sudah bertamu sedangkan penghuni rumah hanya Sari saja. kedua orangtuanya sedang berada di luar kota.
Tok Tok
Juna mengetuk pintu rumah itu. namun tidak ada jawaban. Juna mencoba membuka pintu namun terkunci dari dalam. Juna berjalan ke belakang. dia berniat masuk lewat pintu belakang. untung saja pintu itu tidak terkunci. Juna memanggil Sari namun tidak ada sahutan. dia berjalan menuju ke arah kamar Sari. di depan Pintu, dia mendengar suara.
Cklek
Juna melihat Sari dengan seorang lelaki sedang bercinta. dia merasa dibohongi oleh Sari. Sari yang beralasan ingin tidur seharian, ini malah bercinta seharian.😆😆
"Ekhm" Juna berdehem dan kedua orang itu langsung menengok ke sumber suara.
Sari membelalakan matanya melihat Juna sudah berdiri di depan pintu.
Ah sial, kenapa Juna kesini? gawat, belum juga aku dapat apa-apa dari dia, sudah ketahuan lebih dulu." batin Sari panik
"Jadi ini yang katanya mau tidur seharian di rumah." sindir Juna sambil menyilangkan kedua tangannya.
"Emm bukan seperti itu, tadi aku...hiks..hiks.." Sari langsung memulai dramanya. "Tadi aku diperkosa hiks hiks" Sari berpura-pura menjadi korban. sedangkan lelaki yang bersama Sari langsung menaikan sebelah alisnya.
"Ckckck alasan, mana ada diperkosa ceweknya agresif seperti itu. ah sudahlah, selamat bersenang-senang." Juna melangkah pergi meninggalkan mereka berdua.
"Arrghhh sial!" Sari berteriak karena mangsa selanjutnya sudah terlepas terlebih dahulu sebelum dia bertindak apa-apa.
Juna pergi menaiki motornya dengan kecepatan kencang. dia berniat pergi ke pantai sendirian untuk menenangkan pikiran. dia juga bingung, perasaan kagum dia terhadap Sari datang begitu saja. padahal status dia sudah memiliki istri. tapi sekarang, Sari membuatnya kecewa.
Setelah menempuh perjalanan selama dua jam, kini Juna sudah sampai di Pantai Indah Widarapayung. suasana yang sejuk dan pemandangan yang indah membuatnya lebih tenang.
__ADS_1
"Arrgghhhhhhh" Juna berteriak kencang.
"Lagi ada masalah Mas?" tanya seseorang dari arah belakang Juna.
Juna menengok ke sumber suara. dia melihat Pria dewasa yang berpakaian rapih yang sedang berjalan ke arahnya.
"Iya Mas, saya perlu menenangkan pikiran." kata Juna
"Hm, ceritalah, barangkali saya bisa kasih solusi." ucapnya.
"Memangnya Mas tidak sibuk?" tanya Juna sambil menatap lelaki yang kini sudah berdiri di depannya.
"Tidak, paling nanti sorean saya harus kembali. kasihan anak-anak nanti nyariin."
"Memangnya Mas punya berapa anak?" tanya Juna
"Baru satu, anak-anak yang saya maksud ini anak didik saya bukan anak saya yang berada di rumah."
"Owh jadi Mas ini mengajar? guru atau.." Juna tak lagi meneruskan perkataannya.
"Owh guru ngaji, maaf saya panggilnya Mas atau Pak Ustad?"
"Panggil saya Mas saja." ucapnya
Lalu mereka berdua saling bercerita. Juna menceritakan keluhannya beberapa minggu ini bahwa dia susah tidur dan keluhan-keluhan lainnya.
"Jadi, apa anda sedang mencintai atau mengagumi seseorang?" tanyanya
"Loh, apa hubungannya hal yang saya ceritakan tadi dengan mencintai seseorang?"
"Ada, menurut saya ada." ucapnya begitu yakin.
"Entah saya mau bercerita mulai dari mana. tapi saya memang beberapa minggu ini selalu memimpikan seorang wanita setiap malam. kami juga cukup dekat. perasaan itu datang begitu saja. bahkan disaat saya sudah menikah dan mempunyai anak." terang Juna.
"Lalu istri tahu jika Masnya mencintai wanita lain?" tanyanya
__ADS_1
"Saya tidak memberitahunya, tapi sepertinya dia sudah tahu."
Lalu orang itu menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Setelah saya mendengar cerita Masnya tadi, sepertinya Mas terkena guna-guna." ucapnya
"Guna-guna? mana mungkin?" ucap Juna meremehkan.
"Tidak ada yang tidak mungkin, dan saya lihat Mas itu tampan. jadi, wajar saja jika banyak kaum hawa yang tertarik hanya dengan melihat paras saja. apalagi ini dikampung, jadi wajar saja jika masih ada yang memakai ilmu sihir untuk memikat."
"Lalu, perasaan ini?"Juna tak mampu lagi mengucapkan perkataannya. dia masih heran di jaman modern ini masih ada guna-guna.
"Iya, itu semua karena pengaruh guna-guna. jika Mas berkenan, saya bisa menghilangkan sihir guna-guna itu." tawarnya
"Boleh, silahkan!" kata Juna
"Tapi setelah ini saya meminta agar Mas lebih mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa untuk menghindari dari pengaruh guna-guna. karena saya yakin, satu guna-guna telah hilang, bisa saja ada guna-guna lainnya. karena wajah andalah yang menarik kaum hawa untuk ingin memiliki."
"IYa Mas, terimakasih! jujur saya masih kaget dengan semua ini." ucap Juna yang memang masih tidak percaya dengan kenyataan ini.
"Sama-sama, Ayo Mas ikut saya dulu ke pesantren!" ajaknya, lalu Juna mengikutinya.
Beberapa hari Juna menginap di pesantren. dia menerima tawaran itu atas bentuk rasa terimakasihnya.
Tepat hari ke lima, Juna pulang ke rumahnya. dia sudah ingin cepat-cepat bertemu dengan anak dan istrinya. Juna memarkirkan motornya di depan rumah. dia cepat-cepat turun dan langsung melangkah memasuki rumah. dia memanggil-manggil anak dan istrinya namun tidak ada sahutan. rumah tampak sepi seperti tak berpenghuni. dapur rapih dan tidak ada tanda-tanda habis dipakai untuk memasak.
Perasaan Juna merasa tak enak. dia menyalahkan dirinya sendiri atas semua yang terjadi di dalam rumah tangganya.
Juna melangkah keluar rumah dan berniat menemui Bu Sri. dia melihat Bu Sri yang sedang menyapu halaman.
"Bu Sri, maaf, apa Ibu melihat istri dan anak saya?" tanya Juna
"Rara tidak kembali lagi dari saat Nak Juna menanyakan Rara kepada ibu. memangnya kalian ada masalah apa? kok Rara juga tidak pamitan kepada Ibu?" tanya Bu Sri
"Ceritanya panjang Bu, ya sudah saya pamit mau cari istri dan anak saya." ucapnya lalu dia pergi dari hadapan Bu Sri.
__ADS_1
Juna segera mengemasi semua pakaiannya. dia teringat perkataan Istrinya terakhir kali, bahwa Istrinya akan pergi ke kota. Juna akan menyusulnya ke kota dan meminta maaf atas semua masalah yang membuat istrinya pergi begitu saja. dia berharap jika istrinya masih mau memaafkannya.