
Hanya satu minggu Juna dan keluarganya berlibur. begitupun Rey dan Putri yang berbulan madu memilih untuk pulang bareng keluarganya. beruntung Baby Al anteng bersama Inara. jadi sama sekali mengganggu aktifitas kebersamaan Rey dan Putri.
Kini semuanya bersiap untuk memasuki mobil yang akan mengantar mereka ke bandara.
"Rey, kenapa Putri terlihat lemas sekali?" tanya Bu Farah yang melihat Putri tampak kelelahan.
"Biasa Mah, Rey kurung di kamar sehari semalam."
"Astaga Rey kamu benar-benar yah. jangan di ulangi lagi tidak baik untuk kesehatan kalian. tidak kasihan itu Putri sudah pucat sekali." ujar Bu Farah
"Maafin Rey Mah"
"Jangan minta maaf sama Mamah, minta maaf sama Putri." kata Bu Farah
Rey menatap Putri dan kebetulan Putri juga sedang menatap suaminya. jadi mereka saling tatap.
"Put, maafin aku yah sayang."
"Iya Kak, Putri sudah memaafkan."
"Jangan segampang itu dong Put, hukum saja tuh Rey biar tidur sendirian kedinginan." sahut Juna ikut berbicara
"Put, pokoknya kalau Rey macam-macam kamu lapor saja sama Mamah." ucap Bu Farah kepada Putri.
"Iya Mah" jawab Putri
"Nih Rey, Kakak kasih tahu yah. kalau Kakak sama Rara itu tidak seharian full melakukan itu seperti kamu. tapi kita itu sering melakukan dalam sehari. misal malam mau tidur, terus bangun tidur. nah kalau lagi libur pagi, siang, sore, malem. tapi tidak lama paling hanya satu jam." jelas Juna
"Pantas saja cepet jadi." sindir Rey
"Iya dong" jawab Juna
"Hiiss kebiasaan kalian dimana-mana bahas urusan ranjang. lihat tuh supir senyum-senyum mendengar pembicaraanmu." sahut Bu Farah yang tak habis fikir dengan kedua anaknya yang selalu membahas urusan ranjang sesuka mereka.
Juna hanya menatap malu kepada supir. begitupun Rara yang sudah menatap Juna dengan tatapan sinis.
"Mas Juna mah buka kartu di tempat umum." bisik Rara kepada suaminya.
"Bukan buka kartu sayang, hanya saja untuk mengajari Rey." bisik Juna di telinga istrinya.
__ADS_1
"Tapi bisa nanti saja di rumah bahasnya." Rara kembali berbisik.
Mobil yang mengantar mereka sudah sampai di bandara. mereka naik pesawat dengan tujuan Ibu Kota Jakarta.
Rara beberapa kali muntah. padahal saat berangkat liburan Rara baik-baik. tapi saat pulangnya Rara muntah-muntah. padahal sama saja naik pesawat.
Juna memijat tengkuk Istrinya. dia begitu kasihan melihat Istrinya beberapa kali menahan mual.
"Sayang, kamu tidur saja yah." ucap Juna sambil memakaikan Rara jaket tebal. dan menyandarkan kepala Istrinya di bahunya.
Juna mengusap-usap kepala Rara dan akhirnya Rara tidur juga. Juna terus membuat Rara nyaman agar tidurnya tidak terusik.
Hanya beberapa jam saja pesawat sudah mendarat. Juna membangunkan Istrinya untuk mengajaknya turun.
"Sayang kita sudah sampai ayo bangun dong." Juna mencoba untuk membangunkan Istrinya.
"Euughh" Rara mengerjapkan kedua matanya.
"Sudah sampai yah?"
"Iya sayang, ayo kita turun." Juna mengajak Rara untuk turun.
"Rara, kamu kenapa sayang?" Juna menggendong Istrinya dan mengajaknya berbicara.
"Juna, ayo cepat kita bawa Rara ke Rumah Sakit." Bu Farah panik melihat menantunya pingsan.
"Rey, Putri, Inara, kalian pulang saja yah. biar Mamah dan Juna yang ikut." ucap Bu Farah
"Tapi kami juga khawatir Mah." ucap Rey
"Sudahlah mending kalian pulang saja. nunggu kita di rumah saja. lagian kalian juga pasti capek."
"Iya sih Mah" jawab Rey
Rey, Putri, Inara, Al, dan Baby Zie pulang diantar oleh supir yang menjemput mereka. sedangkan Bu Farah dan Juna mengantar Rara ke Rumah Sakit menaiki Taxi.
Setelah sampai di Rumah Sakit, Juna memanggil perawat untuk membantunya membawa Rara. beberapa perawat mendorong brankar pasien mendekati Juna. lalu Rara di tidurkan di atasnya.
Rara dibawa ke ruang UGD. setelah selesai memeriksa, Dokter keluar dari ruangan itu.
__ADS_1
"Bu Rara hanya kelelahan saja. kondisi kedua janinnya juga baik-baik saja. tapi tolong yah jangan ajak Bu Rara pergi perjalanan jauh dulu." jelas Dokter
"Baik Dok, lalu kapan istri saya boleh pulang?" tanya Juna
"Lusa sudah boleh pulang." jawab Dokter
"Terima kasih Dok" ucap Juna
Rara sudah di pindahkan ke ruangan VVIP dengan fasilitas lengkap. Juna dan Bu Farah setia menemaninya.
Bu Farah tampak sedang mengupas buah apel. dia mengambil buah apel di dalam kulkas yang ada di ruangan itu. bukan hanya buah apel saja, berbagai buah dan yang lainnya komplit di dalam kulkas itu.
Juna melihat Rara mulai membuka matanya.
"Sayang kamu sudah bangun?"
"Aku dimana Mas?" tanya Rara saat baru membuka matanya.
"Kamu di Rumah Sakit sayang." jawab Juna
"Ini sayang tadi Mamah habis potongin buah. kamu coba makan yah." Bu Farah sudah menghampiri Rara dan juga menawarkan buah apel miliknya.
"Tidak mau Mah, Rara mual sekali." tolak Rara
"Justru itu sayang, makan buah bisa mengurangi rasa mual." ucap Bu Farah
Akhirnya Rara memakan buah itu. awalnya dia hanya mencicipi saja. namun dia begitu lahap bahkan Bu Farah kembali mengambilkan buah di dalam kulkas.
Setelah memakan buah Rara kembali tidur.
Juna menyuruh Bu Farah untuk pulang. karena dia tidak ingin Ibunya menginap di Rumah Sakit.
"Yakin nih Mamah pulang." ucap Bu Farah kepada anaknya.
"Iya Mah, lebih baik Mamah pulang saja. udara Rumah Sakit kurang baik untuk kesehatan Mamah."
"Baiklah, tapi kalau ada apa-apa kamu hubungi Mamah."
"Baik Mah" jawab Juna
__ADS_1
Bu Farah segera pulang setelah berpamitan.