
Dua minggu sudah setelah kepergian Ayu. keluarga Dirgantara masih dalam suasana duka. khususnya Rey yang masih tak mengira akan kepergian istri yang sangat dia cintai. Rey begitu rapuh dan sedih. seakan hidupnya tak ada arah tujuan lagi. tapi dilain sisi dia harus kuat, ada malaikat kecil yang harus dia jaga. dia adalah putra pertamanya yang bernama Alfareza Putra Dirgantara.
Rara dan Bu Farah sangat bersemangat menjaga malaikat kecil itu. Rara menganggap Al ibarat anaknya sendiri.
Rey juga berniat untuk mencarikan Baby Sister untuk Al. dia merasa tidak enak karena harus merepotkan Rara. apalagi kasih sayangnya dibagi dua untuk Al dan Baby Zie. tapi Rara melarang Rey mencari Baby Sister. lagian Baby Zie juga tidak pernah melarang ibunya jika lebih memperhatikan Baby Al. Baby Zie malah ikut senang jika dia bisa bermain bersama Baby Al.
Semua keluarga Dirgantara sedang berkumpul diruang makan karena akan makan malam bersama. hanya Rara yang tidak berada disana karena sibuk mengurus Baby Al yang sedang rewel.
"Rey, kamu tidak kasihan sama Rara? dia begitu telaten mengurus anakmu. bahkan waktu istirahatnya saja berkurang." ucap Bu Farah
"Tapi Mamah dan Rara melarang Rey mencari Baby Sister untuk Al. lalu apa yang harus Rey lakukan?"
"Menikahlah dengan Putri sesuai permintaan terakhir Ayu."
"Tapi Mah, kita masih dalam suasana duka. tidak mungkin Rey menikah secepat itu." tolak Rey
"Rey, kalau menurut Mamah Putri itu wanita baik-baik dan pantas menjadi istrimu. bahkan sekarang dia berhijab."
"Tapi Mah, Rey tidak bisa." Rey tetap menolak permintaan Ibunya.
"Pikirkanlah dulu, nanti juga kamu membutuhkan Ibu sambung untuk Al."
"Bener tuh kata Mamah, aku juga butuh perhatian Rara." sahut Juna
"Terserah kalian" Rey meninggalkan ruang makan. padahal dirinya belum makan sama sekali.
"Yang sabar Mah, nanti juga Rey sadar sendiri jika dia membutuhkan Ibu sambung untuk Al. kalau sekarang mungkin terlalu cepat untuknya." ucap Juna mencoba menenangkan Bu Farah agar tidak terlalu khawatir dengan Rey.
"Iya, Mamah cuma kasihan sama Rara. dia terlihat kecapean sekali mengurus Al."
"Juna penasaran deh kenapa Mamah dan Rara melarang Rey mencari Baby Sister."
"Karena Mamah dan Rara menginginkan agar Rey segera menikahi Putri."
"Tapi Mamah terlihat antusias sekali loh."
"Ini juga demi Al, Mamah ingin Al merasakan kasih sayang seorang ibu dari sejak dini." ucap Bu Farah
"Jadi jika Rey tetap menolak, apa yang akan Mamah lakukan?" tanya Juna
"Nanti juga kamu tahu, sekarang lebih baik kita makan saja. kasihan nih makanan dianggurin dari tadi." ucap Bu Farah mengalihkan pembicaraan mereka.
Akhirnya Juna dan Bu Farah menghentikan pembicaraan mereka. lalu keduanya segera memulai untuk menyantap makan malamnya.
__ADS_1
Di dalam kamar, Rey tampak termenung. dia memikirkan perkataan Bu Farah. sebenarnya dia juga merasa kasihan sama Rara karena hampir setiap waktu disibukan mengurus anaknya. tapi jika dia menikah, dia belum rela. dia tidak mencintai Putri dan juga dia sudah berjanji kepada dirinya sendiri agar tetap setia mencintai Ayu. namun, apakah berdosa jika tidak melaksanakan permintaan terakhir istrinya? semua itu memenuhi pikiran Rey.
"Arrgghhhhhhh" Rey mengusap kasar wajah tampannya.
Bu Farah menghampiri Rara yang sedang menemai Baby Al.
"Ra, kamu makan malam dulu. biar Mamah yang jagain Al." ucap Bu Farah
"Iya Mah sebentar lagi."
"Jangan nanti-nanti loh, nanti malah sakit."
"Iya Mah, kalau begitu Rara titip Al bentar yah." ucapnya lalu Rara bergegas pergi keluar dari kamar Al.
Keesokan harinya, waktu subuh sudah terlewat. namun Rara belum juga bangun. Juna sendiri tidak tahu jika Rara belum bangun. karena memang mereka tidak tidur satu kamar. Rara tidur bersama Baby Al sedangkan Juna bersama Baby Zie.
"Mah, kok Mamah yang masak?" tanya Juna yang baru keluar dari kamarnya.
"Nggak masak kok cuma bikin roti bakar. sepertinya Rara belum bangun."
"Loh, waktu subuh bentar lagi habis loh. kok tumben sekali Rara belum bangun? ya sudah, Juna coba bangunkan Rara." Juna pergi dari sana dan melangkah menuju kamar Baby Al.
Cklek
"Sayang, cepat bangun" Juna menepuk-nepuk bahu istrinya. namun Rara masih tidak bangun juga. Juna memegang pipi istrinya. dia terkejut karena badan Rara terasa panas.
"Astagfirullahaladzim, sayang kamu sakit? sayang bangun dulu sayang." Juna menutup mulutnya karena nada suaranya sedikit meninggi. dia takut jika membangunkan Baby Al.
"Emm, jam berapa ini?" Rara terbangun dan yang pertama kali dia tatap wajah tampan suaminya.
"Sebentar lagi waktu subuh habis, ayo kamu bangun dulu sayang. kamu harus shalat subuh loh." bisik Juna dengan suara pelan agar Baby Al tidak terbangun.
Juna memapah Rara sampai ke kamar mandi karena Rara merasa pusing.
"Sudah Mas, kamu tunggu diluar saja. Rara masih kuat kok." ucap Rara
"Baiklah, tapi kalau kamu butuh bantuan, kamu panggil Mas saja yah."
"Iya Mas" Rara menutup pintu kamar mandinya dan membiarkan Juna tetap berjaga diluar.
Juna menatap istrinya yang sedang shalat subuh. dia sangat khawatir karena Rara sedang sakit.
"Sayang, kamu tiduran saja yah. biar Mas ke dapur dulu sebentar." pinta Juna
__ADS_1
"Iya Mas" jawab Rara
Juna menghampiri Bu Farah di dapur.
"Mah, bikinin bubur dong buat Rara. Rara sedang sakit, mungkin karena kecapean."
"Rara sakit? baiklah, Mamah buatkan bubur untuk Rara. sebaiknya kamu temani saja istrimu."
"Oke Mah, terimakasih yah."
"Sama-sama, Mamah juga kasihan sama Rara tiap malam berjaga kalau Al terbangun."
"Iya sih Mah"
"Harusnya suami istri tuh bergantian yang jaga anaknya. tapi Rey belum mau menikah lagi. sedangkan jika membantu Rara menjaga Al, rasanya tidak mungkin. masa Rey berduaan di dalam kamar sama kakak iparnya." ucap Bu Farah
"Lalu, apa yang akan Mamah rencanakan?" tanya Juna
"Karena Rara sedang sakit, Mamah juga mau pura-pura sakit. biar tahu rasa tuh Rey ngurus anak sendirian." Bu Farah tampak memikirkan rencananya.
"Terserah Mamah deh" Juna hanya menurut.
Rey sudah tampak rapih. hari ini dia akan pergi ke kantor. Rey berjalan menuju ruang makan untuk sarapan. disana sudah ada Juna yang sedang memakan roti bakar.
"Kenapa tidak ada masakan seperti biasanya?" tanya Rey kepada Juna.
"Siapa yang mau masak, Rara sama Mamah sedang sakit." ucap Juna
"Mereka sakit? lalu Baby Al siapa yang menjaga?"
"Itu urusanmu, kamu tidak kasihan sama Rara. gara-gara sibuk ngurus anakmu, dia sakit karena kecapean. bahkan Kakak saja tidak pernah dapat jatah karena Rara sibuk." ucap Juna
"Maaf Kak, nanti Rey akan pikirkan jalan yang terbaik."
Rey mengambil ponsel miliknya lalu dia menghubungi seseorang.
📲"Hallo, datanglah ke rumah saya sekarang juga!" ucap Juna
📱"Tapi--" jawab seseorang dibalik telpon.
📱"Tidak ada penolakan!" Rey segera mematikan panggilan ponselnya.
Rey langsung berangkat ke kantor tanpa sarapan. tapi sebelum itu, dia menengok Baby Al, Rara, dan Bu Farah. Rey meminta agar Rara tidak usah khawatir memikirkan Baby Al. karena dia sudah menghubungi seseorang untuk membantunya.
__ADS_1
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹