Istri Kecil MR. Arogant

Istri Kecil MR. Arogant
BAB 10 "Wanita Yang Menarik"


__ADS_3

DUAARRRR...


DUAAARRRR... DUAAARRR...


Suara yang begitu keras tepat setelah alunan music berhenti membuat semua pasang mata mengalihkan pandangnya. Para pasangan itu mendongak menatap pada langit yang dihiasi kembang api warna-warni di langit malam ini. Semua mata begitu terpana tak terkecuali dengan Nathan dengan Viona. Keduanya melihat langit tanpa melepaskan pelukannya. Mereka masih tetap berpelukan. Kembang api yang tidak henti diluncurkan kelangit menambah kesan romantis dalam perjalan kali ini.


"KKYYYYAAAAA!!!"


Jeritan histeris tiga orang pemuda menyita perhatian Nathan dan Viona yang masih saling berpelukan. Keduanya menoleh pada sumber suara dan mendapati tiga pemuda yang terlihat berbinar-binar ketika memandang langit. Nathan melepaskan pelukannya pada Viona dan berpindah , berdiri disampingnya. "Paman lihatlah. Indah sekali bukan." seru Rio dengan mata berbinar-binar.


"Rio, Frans, bagaimana jika kita mengabadikan moment ini." usul Satya pada Rio dan Fransl


"Aku rasa buka ide buruk." Jawab keduanya kompak.


"Hyung, kau dan Nunna cantik ini juga harus ikut." Satya menarik lengan Nathan dan Viona untuk berfoto bersama.


"Sebentar aku akan meminta seseorang untuk memfoto kita." Ucap Frans. Viona dan Nathan berdiri bersebelahan. Rio sedikit membungkukkan tubuhnya di depan Nathan dan Viona. Sementara Satya dan Frans berdiri disamping mereka berdua.


"Huaaa.. sangat bagus."


"Ngomong-ngomong siapa Nunna cantik ini, Hyung? Kami belum pernah melihatnya. Tidak masalah bukan jika kau kenalkan dia pada kami." ucap Satya sambil mengulum senyum tiga jari.


"Namanya Viona. Vio, perkenalkan. Mereka berdua adalah adikku sedangkan ini keponakanku. Putra kakak sulungku."


"Nunna, senang berkenalan denganmu. Kalian terlihat sangat seriasi, aku mendukung kalian."


"Bahkan Vio Nunna lebih cantik dari Cherly. Paman, aku berdoa supaya kau dan Cherly segera putus dan jadian dengan Vio Nunna." ucap Rio sambil tersenyum lebar.


Degg!!


Viona terkejut mendengar ucapan Rio. Bukan karna mendengar Nathan yang sudah memiliki kekasih, namun ia teringat pada Leo. Tidak seharusnya dia bersama pria lain sementara dia sendiri sudah bertunangan. Viona mundur beberapa langkah dan pergi meninggalkan pesta. Termasuk keempat pria itu yang menatap bingung kepergiannya, terutama Nathan.


"Hyung, ada apa dengan Vio Nunna? Kenapa tiba-tiba dia pergi? Mungkinkah kami bertiga sudah salah bicara?" ucap Frans sedikit kebibgungan. Nathan menggeleng.


"Aku tidak tau. Aku akan menyusulnya," ucapnya dan bergegas menyusul Viona. Jangankan mereka bertiga, Nathan sendiri pun sebenarnya penasaran kenapa Viona tiba-tiba saja pergi dan meninggalkan pesta. Dan dia akan mencari taunya.


-

__ADS_1


Nathan mendesah berat. Pria itu melepas jasnya dan menghampiri Viona yang tengah duduk termenung di dek kapal sambil menatap langit malam bertabur bintang. "Kau bisa kedinginan jika diam disini tanpa penghangat apapun." ucapnya sambil menyampirkan jasnya pada bahu Viona.


Viona terlonjak kaget, lantas dia mengangkat wajahnya dan terkejut melihat keberadaan Nathan disana. "Nathan," Nathan menarik sudut bibirnya dan tersenyum tipis. "Apa yang kau lakukan disini?"


"Tidak ada. Aku tidak sengaja melintas dan melihatmu disini." Dustanya. Padahal jelas-jelas jika Nathan sengaja menyusul Viona. Nathan memutar lehernya dan menatap sisi wajah Viona.


"Kenapa tiba-tiba kau meninggalkan pesta? Apa kau merasa tidak nyaman bersamaku disana?" tanyanya penasaran. Viona menggeleng. "Lantas?"


Viona menarik nafas panjang dan menghelanya. "Karna aku merasa yang kulakukan itu salah. Aku sudah bertunangan , tidak seharusnya aku bersama laki-laki lain di saat kami saling beejauhan." ujarnya sambil menatap kosong ke depan.


Nathan terdiam mendengar ucapan Viona , dia sungguh tidak menyangka jika gadis yang diam-diam telah mencuri hatinya ini ternyata benar-benar telah memiliki tunangan. "Tuan, Nathan, aku kembalikan jasmu. Maaf, aku harus pergi." Viona beranjak dari duduknya dan melangkah pergi sampai cengkraman pada pergelangan tangannya menghentikan langkahnya. Nathan bangkit dari posisi duduknya dan berdiri di depan Viona.


"Apa kau mencintainya? Maksudku, apa kau mencintai tunanganmu itu?"


"Tidak sopan, kenapa kau bertanya seperti itu? Memangnya apa hakmu memgetahui apa aku mencintainya atau tidak?" dari nada bicaranya, terdengar jelas bila Viona tidak suka dengan pertanyaan Nathan. "Lepaskan aku Tuan Nathan, dan biarkan aku pergi."


"Tidak, sebelum kau menjawab bertanyaanku. Apa kau mencintai laki-laki itu? Apa kau mencintai tunanganmu?" tanyanya sekali lagi. Mata Viona bergerak liar, dia bingung harus menjawab apa karna tidak mungkin Viona menjawab tidak.


"Aku-" Viona terlihat ragu untuk menjawab dan itu membuat seringai tipis terpatri dibibir kemerahan milik Nathan.


"Aku mencintainya atau tidak itu tidak ada hubungannya denganmu. Maaf, aku lelah. Aku ingin istirahat." Viona melepaskan cengkraman Nathan pada pergelangan tangannya dan melangkah pergi. Namun Nathan kembali menahan kepergiannya.


"Aku merasa lapar, temani aku makan. Kau juga pasti sedang kelaparan saat ini, karna saat dipesta tadi aku tidak melihatmu memakan makanan apapun." ujarnya dan membawa Viona meninggalkan tempat itu. Viona menghela nafas, dengan terpaksa Viona mengikuti Nathan.


-


Nathan memicingkan matanya saat Viona tiba-tiba saja menghentikan langkahnya dan menolak untuk diajak masuk kedalam restaurant yang semalam mereka datangi bersama


"Aku tidak mau jika harus makan di dalam sana, suasananya yang ramai membuatku tidak nyaman."


"Terus, kau ingin makan dimana? Apa kau ingin pesan agar diantarkan kekamarmu?" lagi-lagi Viona menggeleng dan membuat Nathan semakin bingung. "Lalu?"


"Aku ingin makan didek kapal. Disana suasananya lebih tenang dan kita bisa melihat bintang, lagipula di sana juga ada tempat untuk makan." ujarnya.


"Boleh juga."


Selama perjalanan, mereka saling bertukar cerita namun tidak sampai pada masalah pribadi. Jarak yang sempat tercipta diantara mereka berdua kini tidak lagi ada. Mereka saling berbincang dan bercerita, hanya sebatas cerita tentang kesukaan mereka dan apa yang tidak mereka sukai. Dan Nathan menahan diri untuk tidak tertawa saat mendengar bila Viona benci pada melon family, Viona yang tau jika Nathan membenci ketinggian.

__ADS_1


Viona tersenyum saat melihat seorang pelayan datang membawakan makanan pesanan mereka berdua. Tidak banyak orang yang makan didek itu selain Nathan dan Viona, meskipun hanya berdua saja namun mereka begitu menikmatinya. Dan makan malam mereka lewati dengan tenang diiringi perbincangan-perbincangan ringan namun menghanyutkan.


"Aku merasa aneh padamu, bagaimana mungkin kau bisa tidak suka melon dan membenci mentimun? Apa kau memiliki trauma pada buah dan sayur itu?" tanya Nathan penasaran.


Viona menggeleng. "Tidak, hanya tidak suka dan benci saja." jawabnya.


Nathan terkekeh mendengar jawaban Viona, tidak hanya cantik dan baik namun Viona juga begitu unik. Melihat Nathan tersenyum lembut membuat jantung Viona berdebar tidak karuan, buru-buru ia menundukkan wajahnya dan kembali menyantap makan malamnya.


Dan keheningan menyelimuti kebersamaan mereka berdua. Mereka sama-sama disibukkan dengan makan malamnya, sama-sama menikmati makan malam dengan tenang.


Trangg!!!


Nathan meletakkan sendok dan garpunya setelah menyelesaikan makan malamnya begitu pula dengan Viona. Namun mereka masih tidak beranjak dari sana.


"Jika kau tidak mencintai tunanganmu, lalu pria seperti apa yang mampu merebut hatimu? Apakah dia harus dari orang yang berada?"


"Apakah aku terlihat seperti gadis matre?" Viona menyela ucapan Nathan dan terkekeh. Tampak Viona berfikir, gadis itu mengangkat wajahnya dan menatap Nathan yang juga menatap padanya. Viona sedikit kebingungan. Kenapa Nathan harus bertanya langsung tentang hal itu? Dan sepertinya dia bukanlah tipe pria yang suka berbasa-basi seperti kebanyakkan pria yang dia kenal selama ini.


"Tidak ada yang khusus, yang penting dia bisa merebut hatiku dan membuatku jatuh cinta padanya." Jawabnya lalu menyesapmsedikit winenya.


Nathan menyeringai, mengangkat gelas winenya dan meneguknya. "Meskipun orang itu seorang penjahat? Seperti mafia contohnya, atau gelandangan sekalipun? Apa kau akan tetap menerimanya?"


Viona mengangkat bahunya acuh. "Tentu, selama dia bisa bersikap baik dan memperlakukanku dengan lembut. Kenapa tidak." jawabnya. Nathan berdecak kagum, Viona memang berbeda dari kebanyakkan gadis yang dia temui selama ini.


Di saat gadis lain menunjukkan ketertarikkan padanya secara terang-terangan, Viona malah bersikap biasa saja. Di saat gadis lain bahagia karna di belikan sesuatu yang mahal dan bermerek, Viona malah menolaknya. Sampai Nathan harus memaksanya. Dan penolakkan Viona hari itu bukan penolakkan yang di buat-buat. Tapi dia benar-benar menolaknyal


Nathan menarik sudut bibirnya. Dan entah ini sudah yang keberapa kalinya. Dan jika saja Bima ada di sini pasti dia akan langsung histeris karna melihat sahabatnya yang dingin seperti balok es bisa terasnyum lembut apalagi itu sampai di depan seorang gadis. Karna melihat seorang Nathan Lu tersenyum adalah sesuatu yang sangat langkah. Dan sebuah keajaiban pastinya.


"Kau memang wanita yang menarik, Viona Anggela" Nathan mengangkat gelas wine-nya lalu meneguknya hingga tandas tak tersisa dan menuangnya kembali pada gelasnya yang sudah kosong nyaris penuh. "Baiklah, bagaimana jika malam ini kita lewatkan dengan minum sepuasnya?"


Viona mendengus dan memutar matanya jengah. Mengangkat gelas wine-nya dan meminumnya tanpa berfikir panjang. Viona tidak pernah sadar jika pria dihadapannya itu bagaikan binatang buas yang sedang menunggu mangsanya lengah, untuk bisa melahapnya. Nathan menunggu saatnya, saat Viona membuka hatinya dan mempersilahkannya untuk masuk dan menjadi satu-satunya pria di dalam hidupnya.


.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2