Istri Kecil MR. Arogant

Istri Kecil MR. Arogant
BAB 85 "Keresahan Hati Nathan"


__ADS_3

Malam kelam tanpa bulan dan tanpa bintang, membuat suasana malam yang sudah suram kian terasa mencekam. Meskipun banyak lampu-lampu kota yang telah dinyalakan, tapi hal itu tetap tidak bisa mengurangi kelamnya suasana malam ini.


Diantara gelapnya malam. Sosok tampan berparas rupawan berdiri dibalkon kamarnya. Ditangannya menggenggam sebuah gelas kristal berisi cairan berwarna kuning keemasan, iris kanannya yang dingin hanya menatap lurus ke depan dengan pandangan datar. Tidak ada emosi apapun yang terlihat pada raut wajah tampannya. Wajah tampan itu terlihat stoic.


Desiran angin malam yang berhembus menyapa dalam kesunyian. Perhatiannya sedikit teralihkan karna dering pada ponselnya. Pria itu lantas mengambil benda tipis yang tergeletak diatas meja sampingnya berdiri. Dan sebuah nama tertera menghiasi layarnya yang menyala.


"Ada apa kau menghubungiku malam-malam begini?" suara dingin terlewat datar itu langsung menyapa dan menyerbu indera pendengaran seseorang yang berada di seberang sana. Membuat orang itu sedikit menelan saliva, otaknya berfikir mungkin menghubunginya sekarang bukanlah waktu yang tepat. Sehingga tak sepatah kata pun keluar dari bibir si penelfon.


"Jika memang tidak ada hal penting untuk dibicarakan, sebaiknya aku tutup saja telfonnya," dan panggilan itu terputus sebelum pria itu membuka suaranya.


Pria itu 'Nathan' mematikan sambungan ponselnya. Ia menghela napas sejenak sambil memijat pelan dahinya. Kedua tangannya bertumpuh pada pagar besi yang terasa dingin dan keras. Pikirannya yang sedang kalut membuatnya tak dapat berpikir jernih untuk saat ini.


Jadi hanya terdengar bunyi jam dinding yg berdetak dan desiran angin malam yang semakin dingin dan terasa membekukam. Desahannya menjadi panjang dan berat setiap menitnya.


Matanya mengarah kelangit malam yang berselimut awan kelam. Ia tak habis pikir. Mengapa perasaannya mendadak tak nyaman. Entah apa yg ia resahkan. Hanya saja dibagian dadanya sana terasa ada yg mengganjal. Sejak sore fikirannya begitu tidak tenang, Nathan merasa jika sesuatu yang buruk akan segera terjadi.


"Oppa, apa yang sedang kau lakukan di sana?" tegur seseorang dari arah belakang. Sontak saja Nathan menoleh dan mendapati Viona berjalan menghampirinya. "Masuklah, kau bisa sakit jika terlalu lama berdiri di sini tanpa penghangat apapun," tandasnya. Pakaian yang Nathan pakai sangat kontras dengan udara malam ini, sebuah singlet hitam dan celana panjang berwarna hitam pula.


Tanpa mengucapkan sepatah katapun, Nathan menarik lengan Viona dan membawa wanita itu ke dalam pelukkannya. Kedua tangan Nathan memeluk tubuh itu dengan erat, mata kanannya tertutup rapat. Dan Viona yang tampak kebingungan dengan sikap Nathan terlihat mengangkat kedua tangannya dan membalas pelukkan suaminya.


"Semua baik-baik saja bukan?" tanyanya memastikan.


Nathan mengangguk. "Ya, dan biarkan aku memelukmu seperti ini. Dan Ini membuat perasaanku sedikit nyaman,"


Beberapa saat kemudian Viona melepaskan pelukkannya. Kedua tangannya menakup wajah Nathan dan mengunci mata kanannya yang tak menunjukkan emosi apapun. Wanita itu menghela nafas. "Kau terlihat sangat kacau Oppa, dan aku tau kau tidaklah baik-baik saja. Kau bisa membohongi semua orang, tapi kau tidak mungkin bisa membohongiku," ucapnya.


Nathan menutup sejenak matanya dan mendesah berat. "Aku hanya merasa sedikit buruk saja, selebihnya oke. Sebaiknya kita masuk sekarang, tiba-tiba aku mengantuk. Kau juga harus segera tidur. Begadang tidak baik untuk Ibu hamil sepertimu," ucapnya yang kemudian dibalas anggukan oleh Viona.


Nathan mengedong Viona bridal style lalu membaringkan di atas tempat tidur. Kedua mata Viona tertutup rapat saat merasakan benda lunak nan basah menyentuh dan menyapu permukaan bibirnya di susul kecupan-kecupan lembut namun memabukkan. Tapi sayangnya ciuman mereka tidak berlangsung lama, kemudian Nathan ikut berbaring disamping Viona.


"Tidurlah," bisiknya seraya mengusap helaian panjang Viona dengan lembut. Satu kecupan mendarat pada keningnya yang kemudian menghantarkan wanita itu menuju alam mimpi.


Meskipun sangat sulit, tapi Nathan tetap mencoba untuk tetap memejamkan matanya. Dia tidak boleh terlambat bangun karna lagi-lagi ada pertemuan pentinh dengan beberapa rekan bisnisnya.


.


.


.


Deg...


Nathan menghentikan langkahnya saat firasat buruk itu kembali datang dan merayapi perasaannya. Nathan mencoba mengabaikannya tapi tidak bisa. Perasaannya semakin tidak karuan ketika foto pernikahannya dengan Viona tiba-tiba saja terjatuh tanpa ada yang menyentuhnya.


Nathan terdiam dan hanya menatap gamang.


"Oppa," perhatian Nathan teralihkan. Pria itu lantas menoleh dan mendapati Viona berjalan menghampirinya. "Oppa, jangan di sentuh. Aku akan memanggil pelayan untuk membersihkannya."


Namun langkah kakinya terhenti, Viona tersentak kecil saat tiba-tiba Nathan menarik lengannya dan merengkuh tubuhnya kedalam pelukannya, membuat kepala Viona menabrak dada bidang yang tersembunyi dibalik kemeja hitamnya. Dengan sangat jelas, Viona dapat merasakan detak jantung Nathan yang berdetak sedikit lebih cepat. Viona merasa cemas.


Lantas Viona mengangkat kedua tanganya dan membalas pelukkan Nathan. "Ada apa, Oppa? Kenapa kau terlihat begitu cemas? Sungguh, semua baik-baik saja bukan?" tanyanya memastikan.

__ADS_1


Nathan menggeleng tak mengerti. "Aku tidak tau. Hanya saja aku memiliki sebuah firasat buruk. Biarkan aku terus memelukmu seperti ini, bahkan satu detik pun aku tidak ingin melepaskannya. Jadi jangan berniat untuk meninggalkanku dan menjauh dariku." Pinta Nathan dengan lirih.


Mendengar penuturan Nathan membuat Viona tersenyum lebar. Wanita itu mendongakkan kepalanya dan menatap kedalam manik kanan milik Nathan, yang juga menatapnya. Membuat pandangan mereka bertemu. "Bagaimana mungkin aku bisa meninggalkanmu, sedangkan kebahagiaanku ada bersama dirimu, dan selamanya aku ingin berada di sisimu." Balas Viona tanpa melepaskan kontak matanya


Nathan terasnyum simpul. "Dan itu juga yang aku inginkan." Sahut Nathan, dan detik berikutnya bibir Viona sudah berada dalam pagutan bibir Nathan. Nathan mencium bibir tipis nan ranum itu dengan hangat dan penuh kelembutan. Ciuman singkat yang sarat akan makna.


Nathan melepaskan ciumannya dan semakin mengeratkan pelukannya.


Mendengar ucapan Nathan membuat Viona merasa begitu bahagia, Ia merasa seperti ada ribuan kupu-kupu yang berterbangan di dalam perutnya. Sepanjang hidupnya, Ia tidak pernah merasakan sebahagia saat bersama dengan Nathan. Karna Viona lupa bagaimana caranya bahagia semenjak kepergian kedua orang tuanya sampai akhirnya Nathan datang membawa warna baru dalam hidupnya.


Ia sangat beruntung memiliki Nathan di sisinya, tapi di sisi lain Ia juga merasa sedih. Pasalnya Viona pernah kehilangan satu sahabat baiknya, yakni seorang pria bernama Jordy. Kini pria itu membencinya setelah Ia menolek cintanya beberapa tahun yang lalu. Wajah Viona tiba-tiba berubah murung ketika teringat dengan mantan sahabatnya tersebut.


"Ada apa, Sayang?" tegur Nathan saat melihat wajah murung Viona.


Wanita itu menggeleng. "Tidak apa-apa Oppa, hanya teringat pada teman lama. Dulu aku memiliki seorang sahabat yang begitu peduli dan selalu melindungiku. Tapi persahabatan kami berakhir ketika dia memutuskan untuk menjauh setelah aku menolak cintanya 7 tahun yang lalu," Viona menceritakan alasannya kenapa tiba-tiba dia menjadi murung.


"Dan kau menyesal sudah menolaknya?" Viona menggeleng. "Lantas kenapa tiba-tiba kau merasa sedih?"


"Aku hanya tidak menduga jika persahabatan yang kami bangun sejak sama-sama duduk dibangku sekolah menengah pertama akan kandas begitu saja hanya karna satu hal, cinta!! Bukankah itu sangat konyol? Kenapa cinta yang indah bisa jadi virus mematikan di dunia, sungguh tidak adil. Bukankah begitu?"


"Hn, aku rasa. Dan tidak perlu dipikirkan lagi. Apa sarapan sudah siap? Aku ada rapat satu jam lagi,"


"Untuk itu aku kemari, baiklah kita sarapan sama-sama," Nathan mengangguk.


"Baiklah,"


-


'Maaf Jordy, tapi aku tidak bisa, aku hanya bisa menjadi sahabatmu. Bukan kekasihmu'


Ucapan mantan sahabat yang merangkap sebagai cinta pertamanya itu masih sangat segar dalam ingatannya. Rasa sakit dalam hatinya semakin memuncak setiap kali Ia teringat ucapan yang terlontar dari bibir perempuan itu. dia masih saja tidak percaya bila pujaan menolak cintanya. Dia menghilang selama bertahun-tahun, berada ditempat yang sangat jauh supaya bisa melupakannya, tapi apa yang terjadi... rasa itu tetap tidak mau hilang dan membekas kuat di dalam hatinya.


Setelah 7 tahun, dia memutuskan untuk kembali. Berharap bisa memperbaiki semuanya dan memenangkan hati pujaannya. Bukan sesuatu yang baik, namun sesuatu yang membuat hatinya hancur leburlah yang dia dapatkan. Dia telah menikah dan kini tengah hamil anak dari suaminya, tidak ada lagi yang tersisa dalam hatinya selain kebencian dan rencana untuk balas dendam.


"Sial!! Kenapa semua harus berakhir seperti ini? Kenapa Vi, kenapa dulu kau menolakku dan sekarang kau malah bersama pria lain? Bahkan yang menjadi pilihanmu adalah seorang pria cacat! Kenapa kau membuat semua tak adil bagiku? Kenapa!!" pria itu melempar gelas winenya pada tembok hingga hancur berkeping-keping.


Kedua tangannya terkepal kuat dan matanya berkilat tajam. "Bila aku tidak bisa memilikimu, maka bajingan itu pun tidak boleh. Viona Anggella, kau harus mati." Jordy meremas kaleng minuman yang berada di tangannya dan membuatnya pesok seketika. Dan entah setan dari mana yang telah merasuki dirinya hingga Ia memiliki fikiran sejahat itu.


"Dan kau tidak akan bisa melakukannya tanpa bantuan diriku." sahut seorang wanita yang entah dari mana datangnya tiba-tiba sudah ada di hadapan Jordy.


Sontak Ia mendongakkan kepalanya dan mendapati sosok Shion berdiri di hadapannya.


"Shion? Sedang apa kau di sini? Wajah dan tubuhmu, kenapa bisa jadi mengerikan seperti itu? Apa kau habis diperko** lebah secarah berjanaah?" sinis Jordy meremehkan.


"Diam kau!!" bentak Shion. "Jangan mengingatkan aku pada peristiwa mengerikan itu!! Dan asal kau tau, aku di sini untuk membantunu!!


"Apa maksudmu?" tanya Jordy dengan tatapan dinginnya.


"Kita berdua memiliki tujuan yang sama Jordy Lim. Aku tau jika saat ini kau sedang sakit hati pada mantan sahabatmu itu, dan aku juga. Karna dia sudah merebut Nathan dariku, dan jika memang kau setuju. Segera kita akan menyingkirkannya, bukankah lebih cepat itu lebih baik." ujar Ahion di iringin smrik angkuhnya.


"Caranya?" Jordy menautkan kedua alisnya, dengan tatapan mata masih terkunci pada mata Shion yang membengkak. Bahkan sebelah matanya harus dililit perban.

__ADS_1


"Soal itu, serahkan saja padaku." balas Shion tersenyum.


Jordy menyipitkan matanya, Ia berusaha mencari jawaban di mata kakak tirinya tersebut mengenai rencananya untuk bisa melenyapkan Viona. Namun sayangnya Ia tidak menemukan apapun, selain sorot mata iblis yang terpancar dari manik hitamnya.


Shion dan Jordy memang bersaudara, tapi tiri. Jordy adalah putri kandung Sandora dengan Derry Ardinata, tapi sayangnya Dora merahasiakan hal tersebut dari Derry dan mengatakan padanya jika Leo adalah anak kandungnya. Sejak kecil Jordy sangat lemah dan tidak berguna, itulah kenapa Dora memilih merahasiakannya.


"Aku harap rencanamu ini tidak terlalu konyol yang nantinya akan menyeretku dalam masalah."


"Soal itu kau tidak perlu khawatir, karna aku sangat handal dalam hal semacam ini." balas Shion membanggakan diri.


Derry mendesah berat. "Baguslah." katanya dan berlalu begitu saja. Meninggalkan Shion sendiri.di sana.


"YAK JORDY LIM, KAU TIDAK BISA MENGABAIKANKU!!"


"Berisik!!"


"Awas saja kau, setelah aku berhasil menyingkirkan wanita itu. Selanjutnya adalah giliranmu!!"


-


"Dia kembali?"


Viona menghentikan gerakkan tangannya setelah mendengar ucapan Sunny. Dokter cantik nan sexy itu lantas mengangguk. "Aku dan Kirana tidak sengaja bertemu dengannya beberapa hari yang lalu. Dia banyak berubah dan tidak seperti yang dulu kita kenal. Dia menjadi sangat dingin, bahkan dia acuh padaku dan Kiran," ujar Sunny.


Mendengar ucapan Sunny membuat Viona terdiam. "Apakah sebesar itu rasa benci yang dia miliki?" batinya tak percaya. Viona mengangkat wajahnya dan menatap kedua sahabatnya bergantian. "Ini salahku, dia berubah karna diriku,"


"Tentu saja bukan!! Dia berubah bukan karna dirimu tapi karna keegoisannya. Dia terlalu kekanakan dan menganggap jika patah hati adalah akhir dari dunia. Bukankah itu sangat menggelikan?"


"Tapi tetap saja aku berperan penting dalam hal itu. Mungkin aku harus bertemu dengannya dan memperbaiki persahabatab kita yang berantakkan karna apa yang terjadi di masa lalu," tukas Viona dengan mata sayunya.


"Aku tidak setuju," Kirana menyahut cepat.


"Aku juga tidak setuju," begitu pula dengan Sunny. "Vio, kita tidak tau Jordy menjadi orang seperti apa saat ini? Bagaimana jika dia sudah menjelma menjadi seorang monster yang sangat mengerikan? Tidak.. Tidak.. Apapun alasannya kau tidak boleh menemuinya," tutur Sunny.


Viona tidak merespon lagi dan memilih diam. Selama ini Viona diam dan tidak pernah membicarakan tetantang mantan sahabatnya itu bukan karna dia sudah melupakannya.


Hanya saja dia terlalu sedih setiap kali mengingat tentangnya juga tentang lersahabatan mereka dimasa lalu. Dan baru semalam Viona berani membahas masalah Jordy di depan Nathan, sudah lama dia ingin memberi taunya tapi Viona merasa belum siap karna takut Nathan akan salah paham.


"Sudah siang, aku harus pergi sekarang,"


"Kenapa terburu-buru?"


"Maaf teman-teman, tapi aku tidak bisa membiarkan suamiku melewatkan makan siangnya."


"Huft, baiklah.. baiklah, kami mengerti. Lagian aku dan Sunny hanya bercanda tapi kenapa kau anggap serius?" keluh Kiran sedikit kesal.


Viona terkekeh. "Kekeke, ya sudah aku pergi dulu. Bye..."


"Hati-hati,"


"Pasti,"

__ADS_1


-


Bersambung.


__ADS_2