
Hai riders, jangan lupa baca juga ya novel Author yang judulnya ISTRI CANTIK MAFIA KEJAM tinggalkan like koment-nyajuga. 🙏🙏🤗🤗🤗
-
Brugg ..
Tubuh Luna sedikit terhuyung karena tidak sengaja bertabrakan dengan seseorang yang berjalan berlawanan arah dengannya. Alhasil semua belanjaannya jatuh dan berserakan di aspal.
Luna mengangkat wajahnya dan menatap tajam pria yang berdiri dihadapannya. "Tuan, di mana mata dan kakimu saat berjalan? Lihatlah, karena ulahmu. Semua belanjaanku jadi rusak dan tidak bisa terpakai lagi," Luna memarahi pria itu karena kecerobohannya.
"Nona, aku sungguh-sungguh minta maaf. Aku tidak sengaja," ucap pria itu penuh sesal.
Luna mengangkat wajahnya dan menatap pria itu marah. "Apa kau bilang? Maaf? Jika kata maaf saja bisa menyelesaikan masalah. Pasti penjara tidak akan penuh!! Minggirlah," kemudian Luna memunguti semua barang belanjaannya yang berceceran diaspal.
Pria itu merasa bersalah dan hendak membantu Luna, tapi tangannya segera ditepis kasar oleh wanita itu. "Tidak usah," sinisnya tajam.
"Nona, tolong lebih sopan sedikit pada, Tuan Derby. Dia tidak sengaja dan dia sudah meminta maaf padamu," protes seorang pria karena tidak terima melihat Tuannya di salahkan oleh Luna.
"Memangnya siapa yang memintamu untuk bicara. Dan aku juga tidak akan menyalahkannya jika dia berjalan menggunakan mata dan kakinya. Dan kau.." Luna menunjuk pria itu tepat di depan mukanya. "Sebaiknya tidak usah ikut campur." Luna mendorong pria itu dan pergi begitu saja.
Buru-buru pria itu menghampiri tuan mudanya dan memastikan apakah dia baik-baik saja atau tidak. "Tuan Muda, apakah Anda baik-baik saja?" tanyanya memastikan.
"Jangan berlebihan, Eric. Aku tidak apa-apa dan aku baik-baik saja. Cari tau tentang wanita itu. Setelah sekian lama, akhirnya aku bertemu dengan wanita yang berhasil menggetarkan hatiku hanya dengan menatap matanya. Dan hebatnya lagi, dia adalah wanita pertama yang tidak terpukau dengan ketampananku."
Pria bernama Eric itu membulatkan matanya."Tapi Tuan-"
Derby mengangkat tangannya dan memberi kode pada Eric supaya dia diam. "Aku tidak ingin berdebat denganmu, ayo pergi." Ucapnya.
Eric menghela nafas. "Baik, Tuan,"
-
"OPPA,"
__ADS_1
Zian yang sedang meeting bersama para koleganya sedikit terkejut dengan kedatangan Luna yang sangat tiba-tiba. Dan hal serupa pun ditunjukkan oleh Luna. Luna segera membungkuk dan meminta maaf pada para Kolega suaminya.
Luna merasa tidak enak, dia tidak tau jika Zian sedang ada pertemuan penting dengan beberapa rekan bisnisnya. Akhirnya Luna memilih untuk pergi dan menunggu Zian di ruangan Reno sampai meetingnya selesai.
"Sepertinya kau datang di waktu yang tidak tepat." Ucap Reno sambil meletakkan minuman kaleng dingin di atas meja depan Luna duduk.
Luna membuka tutup minuman tersebut lalu meminumnya sedikit. "Ya, aku rasa begitu,"
"Ngomong-ngomong ada apa dengan wajahmu itu? Kenapa kusut seperti baju yang belum disetrika?" tanya Reno penasaran.
Luna mendesah berat. "Hari ini aku bertemu dengan dua manusia menyebalkan yang berhasil menghancurkan moodku. Karena ulahnya itu, barang-barang belanjaanku jadi rusak dan tidak bisa terpakai lagi,"
"Dan kau tidak meminta ganti rugi?" tebak Reno 100% benar.
Luna menggeleng. "Lagipula untuk apa juga aku minta ganti rugi dari manusia menyebalkan seperti mereka. Itu tidak ada untungnya juga bagiku."
"Lalu apakah kau mengenal mereka? Bukan,, bukan,, maksudku nama dan identitas meraka?"
Luna tampak berfikir kemudian menggeleng. "Aku rasa tidak mengenal mereka dan aku juga belum pernah bertemu dengan mereka sebelumnya. Tapi kalau aku tidak salah ingat. Anak buah dari orang yang menabrakku itu memanggilnya dengan sebutan tuan Derby. Ya, tidak salah lagi. Orang itu memanggilnya, tuan Derby," Luna mengangguk mantap. Dia yakin tidak salah mengingat nama.
Luna mengedipkan matanya dan menatap Zian sedikit bingung. "Oppa, ada apa denganmu? Apa kau mengira aku selingkuh darimu?" tanya Luna dengan polosnya.
"Bukan itu. Sudah jawab saja dulu. Siapa nama pria itu?" tanya Zian sekali lagi.
"Aku juga tidak tau. Tapi asistennya memanggilnya, tuan Derby,"
Zian mendesah berat. "Usahakan agar kau tidak pernah bertemu lagi dengan orang itu. Dia bukan pria baik dan dia sangat berbahaya." Luna memicingkan matanya dan menatap Zian sedikit bingung. "Ck, sebenarnya apa sih yang kau makan pagi ini? Kenapa hari ini agak sulit bicara denganmu!!" Zian tampak geram. Dia kesal bicara dengan Luna. "Intinya, kau harus menghindar jika kau bertemu dengannya lagi,"
Luna terkekeh geli melihat ekspresi Zian saat ini. Wanita itu bangkit dari duduknya dan melompat ke dalam gendongan Zian. Kedua tangannya mengalung pada leher Zian. "Kau sangat menggemaskan, Oppa. Tidak perlu menjelaskannya berulang-ulang, karena aku sudah paham." Ucapnya kemudian mengecup singkat bibir Zian. Membuat Reno yang juga berada di dalam ruangan itu melongo di buatnya.
"Jadi kau hanya mengerjaiku saja?" Zian menatap Luna tak percaya.
Wanita itu terkekeh. "Ya, anggap saja begitu." Ucapnya.
"Dasar nakal, untuk itu kau harus dihukum,"
__ADS_1
"Aku tidak takut. Bagaimana kalau hukumannya di sini saja. Biar BU-DI nelangsa melihatnya,"
Luna melirik Reno dan mengedipkan mata padanya. Membuat mata Reno membelalak dibuatnya. Baru saja dia hendak melayangkan protesnya. Namun hal tersebut Reno urungkan ketika melihat Luna dan Zian berciuman dengan panasnya.
Posisi mereka tidak lagi berdiri melainkan duduk dengan Luna berada di atas pangkuan suaminya. Berkali-kali Reno sampai menelan ludah melihat bagaimana panasnya ciuman mereka berdua.
Tampak cairan merah keluar dari sela-sela bibirnya melihat pergulatan panas bibir pasangan itu. Sungguh betapa buruknya nasib Reno karena harus menyaksikan sebuah live kiss sepasang suami-istri tepat di depan matanya.
"HUAAA.... DASAR SAHABAT TAK ADA AKHLAK, KENAPA KALIAN MALAH CIUMAN DI DEPAN BU-DI SEPERTIKU INI? IBU... AKU INGIN PUNYA PASANGAN JUGA!!!"
.
.
Tiga puluh menit setelah pergulatan panas bibir mereka di ruangan Reno. Saat ini Zian dan Luna sudah berada di ruang kerja pria bermarga Qin tersebut. Zian juga sudah mengatakan alasan dan memberi tau Luna siapa pria bernama Derby itu, dan kenapa dia harus menjauhinya.
Lagipula tidak ada alasan bagi Luna untuk tidak menjauhi manusia menyebalkan seperti Derby Qin. Bahkan Luna berharap supaya mereka tidak pernah bertemu lagi, meskipun itu hanya kebetulan sekalipun.
"Oppa, apakah pekerjaanmu masih banyak?" tanya Luna. Wanita itu mulai dilanda rasa bosan, pasalnya Luna tidak melakukan apapun selama berada di ruangan Zian. Dia hanya diam seperti orang bodoh.
"Tidak, hanya tinggal beberapa berkas lagi yang perlu aku periksa dan aku tandatangani. Kenapa? Apa kau merasa bosan?"
"Menurutmu? Lagipula bagaimana aku tidak bosan jika hanya diam saja tanpa melakukan apa-apa. Oppa, aku ingin makan ice crem. Bagaimana kalau kita mampir dulu ke kedai bibi Nam saat pulang nanti?" Luna menatap Zian penuh harap.Dan anggukan kecil itu membuat Luna berjingkrak kegirangan. Luna tau jika suaminya itu tidak mungkin bisa menolak permintaan kecilnya.
"Oppa, kau memang yang terbaik. Aku semakin mencintaimu, kau adalah suami terbaik dan terhebat di dunia ini. Terimakasih," Luna berhambur ke dalam pelukan Zian.
Zian menarik sudut bibirnya dan tersenyum tipis. Mengangkat kedua tangannya dan dengan senang hati Zian membalas pelukan Luna. "Sama-sama, Sayang." Dan lagipula permintaan Luna bukanlah sesuatu yang sulit apalagi mustahil untuk dikabulkan. Dan selama dia mampu, pasti Zian akan memberikan apapun yang Luna inginkan.
Zian melepaskan pelukkan Luna. "Kalau begitu aku akan menyelesaikan pekerjaanku dulu. Setelah ini kita pergi ke kedai ice cream di kedai bibi, Nam."Luna tersenyum dan mengangguk dengan sangat antusias.
Zian memang yang terbaik dan dia tidak mungkin menolak permintaan kecilnya, dan Luna tau itu. Luna sangat bahagia karena yang menikahinya adalah Zian. Ya, meskipun terkadang dia bersikap dingin dan acuh.
-
Bersambung.
__ADS_1