
Cahaya pagi menyongsong dari sela sela tirai rumah sakit. Perlahan-lahan, mata Viona mulai membuka. Dan hal pertama yang tertangkap oleh sepasang iris hazelnya adalah keberadaan seorang wanita yang wajahnya sangat tidak asing baginya.
"Pagi, Nona muda." Sapa seseorang disampingnya itu.
"Cherly? Sedang apa kau disini? Ehh, ada Alex Oppa juga." Viona beranjak ingin duduk namun dicegah oleh Cherly.
"Yakk!! Apa yang kau lakukan? Kau baru saja melahirkan! Tidak seharusnya kau banyak bergerak dulu apalagi kata Kakek kau nyaris saja meregang nyawa ketika melahirkan anakmu!! Jadi tetaplah berbaring dan jadilah seorang pasien yang patuh!!"
"Oh, astaga!! Kenapa kau semakin cerewet saja, Cherly Park? Dan bagaimana Alex Oppa bisa betah pada wanita bawel sepertimu?"
"Ck, dasar wanita kejam. Begini-begini aku lebih tua satu tahun darimu," cibir Cherly sambil mencerutkan bibirnya.
"Hahahha," alih-alih minta maaf, Viona malah tertawa terbahak-bahak. Dan tanpa sadar suara tertawanya yang keras malah membuat baby Laurent yang berada dalam dekapannya menangis keras.
"Ooee... Ooee... Ooee..."
"Lihatlah, suara tertawamu yang mirip nenek lampir itu malah membuat Baby Laurent menangis," cibir Cherly melihat ulah barbar Viona.
"Ck, diamlah wanita Tua!! Cup..cup..cup... Anak Mama yang cantik, jangan menagis lagi ya. Nanti kalau sudah besar Mama akan membelikanmu ice cream. Cup..cup..cup... diam ya, Sayang," bujuk Viona sambil menimang-nimang putri kecilnya. Sedangkan Lucas tampak nyaman dalam gendongan Cherly.
"Nona, di mana Tuan? Kenapa saya tidak melihatnya?"
"Dia pergi kerumah sakit jiwa untuk menemui Henry Oppa, mungkin dengan cara itu dia akan kembali sembuh dan bisa seperti sedia kala," tutur Viona.
Cherly mendesah berat. "Aku turut berduka dengan apa yang menimpanya. Aku tidak menyangka jika wanita itu akan menghianati keluarga Lu dan menghancurkan Henry Oppa padahal dia begitu mencintainya. Wanita iblis itu benar-benar keterlaluan!" geram Cherly yang merasa kesal setengah mati pada Tiffany.
"Sayang, kau masih ingin di sini atau pulang? Aku harus kembali bekerja,"
Cherly mengangkat wajahnya. "Aku akan tetap di sini. Kau bisa menjemputku sore nanti," ucap Cherly yang kemudian di balas anggukan oleh Alex.
"Baiklah,"
Tak lama setelah kepergian Alex, Kirana dan Sunny datang sambil membawa Teddy Bear berukuran besar dan mobil-mobilan. Keduanya begitu bahagia melihat Viona baik-baik saja, Kirana dan Sunny sungguh menyesal karna baru bisa menjenguk sahabatnya itu sekarang.
Visual Lucas...
Visual Laurent...
"Kkyyyaaaa!! Jadi ini keponakan-keponakan Bibi yang cantik dan tampan," seru Kirana begitu heboh. "Oh, astaga Vi. Bagaimana caranya kau bisa melahirkan sepasang mahluk yang begitu sempurna seperti mereka berdua? Bibit unggul memang beda. Dan melihat mereka membuatku merasa iri. Ahhh, aku jadi ingin cepat-cepat menikah dan kemudian punya anak."
"Yang benar saja. Calon saja tidak punya, bagaimana kau akan menikah? Menikah dengan tiang? Dasar Miss halu," cibir Sunny.
"Ti-ti-tiang tiang listrik katakanlah padanya. Jaga hati baik-baik jangan lirik lainnya. Ti-ti-tiang tiang listrik kuatkanlah hatiku. Beri cinta terbaik hanya untuk diriku,"
__ADS_1
"Hadehhh. Malah nyanyi," Sunny menepuk jidatnya.
"Habisnya kau menyindirku menikah dengan tiang listrik," jawab Kirana tak mau kalah.
"Huh, terseralah." Sunny melipat kedua tangannya sambil membuang muka kearah lain.
Sedangkan Viona dan Cherly hanya menggelengkan kepala melihat tingkah Sunny dan Kirana. Mereka memang selalu heboh dalam segala hal.
-
Doris hanya bisa menatap datar mansion mewahnya yang kini telah rata menjadi tanah. Baru beberapa jam Doris pergi, tapi ketika dia kembali mansion mewahnya sudah hancur lebur. Ia tak hanya kehilangan tempat tinggalnya saja, tapi juga seluruh harta bendanya yang ikut terbakar bersama mansion mewahnya.
Kini hidup Doris tak jauh lebih baik dari para gelandangan yang tak lagi memiliki tempat tinggal, karna sejak semalam dia tidur diantara puing-puing bangunan mansionnya.
"Aarrkkhhh.. Sial, kenapa semua jadi seperti ini? Siapa yang sudah berani menghancurkan tempat tinggalku!!"
Doris menjatuhkan tubuhnya diantara puing-puing bangunan itu. Pria yang biasanya terlihat arogan itu terlihat menitihkab air mata. Bukan karna sedih, tapi dia menangis karna kesal sekaligus marah.
Perhatian Doris teralihkan oleh deruh suara mobil yang memasuki halaman yang tak lagi berbentuk tersebut. Seorang pria terlihat keluar dari mobil tersebut dan menghampiri Doris, seringai meremehkan tercetak di sudut bibinya.
"Bagaimana rasanya berada di titik terendah, Doris Lu?" tanya pria itu dengan seringai yang sama.
Doris berdiri dan menatap marah pria yang ada dihadapannya. "Siapa kau?"
"Ini aku," Pria itu melepas kaca mata hitamnya dan sepasang mata hitamnya menatap Doris dengan penuh dendam dan kebencian. "Kau tidak mengingatku?Kawan lama!"
"Sudah mati?" pria itu menyela cepat. Seringai tak lepas sedikit pun dari wajah tampan yang tak lekang oleh waktu. "Jadi kau berfikir jika aku sudah mati?"
"Ta-tapi bagaimana mungkin kau masih hidup?" Doris menatap pria itu tak percaya.
"Karna Tuhan lebih menyayangiku dari pada harus berpihak pada iblis sepertimu!!" jawab Pria itu.
Doris menarik pakaian yang pria itu pakai. "Katakan! Apakah ini adalah perbuatanmu? Apakah kau yang melakukannya karna dendam kesumatmu padaku?" tanya Doris meminta penjelasan.
Pria itu menyentak tangan Doris dengan kasar. "Jika aku mengatakan bukan bagaimana? Kau akan percaya? Saran kecil dariku. Sebaiknya pikir baik-baik dengan otak tumpulmu, siapa saja orang yang pernah kau sakiti dan kau hancurkan hidupnya, karna bisa saja itu adalah perbuatan mereka!!" pria itu memakai kembali kacamatanya dan melenggang pergi. Bahkan dia tidak peduli dengan teriakkan Doris yang memintanya untuk berhenti.
"AARRRKKHH!!! AWAS SAJA KALIAN SEMUA. TUNGGU DAN LIHAT SAJA, BAGAIMANA AKU AKAN MENGHANCURKAN KALIAN SEMUA!! AARRKKHH..!! BRENGSEK!!"
-
Dugaan Nathan ternyata benar, Henry tidak pernah terkena gangguan jiwa apalagi gila.nDia memang mengalami depresi setelah apa yang dia alami, tapi hal tersebut tidak sampai melukai mentalnya. Dan Doris-lah yang mengirim Henry ke rumah sakit jiwa.
"Gege sungguh tidak menyangka jika kau masih hidup, adikku! Maafkan Gege-mu ini, Gege begitu bodoh karna terlalu mempercayai wanita itu. Dan Gege juga minta maaf karna sangat tidak berguna, karna kelemahan Gege, Senna.. meninggal dunia!!"
Nathan memejamkan matanya. "Itu semua bukan salahmu, lagipula semua sudah terjadi. Disesali pun juga percuma, semua tidak akan kembali seperti sedia kala," ujar Nathan.
Hati Nathan seperti tercabik-cabik setiap kali mengingat setiap kali mengingat hal buruk yang menimpa keluarganya. Senna telah tiada, dan Nathan akan memastikan jika orang itu akan membayar mahal untuk semua perbuatannya. Dan nyawa Senna, Doris akan membayarnya dengan sangat mahal.
__ADS_1
"Semua orang sudah menunggu kepulanganmu. Satya, Frans, Rio dan keponakkan kembarmu. Semua menunggu kepulanganmu,"
"Ke-keponakkan?" ulang Henry. Nathan mengangguk.
"Viona melahirkan semalam dan bayi kami terlahir kembar." Jawab Nathan. Bibirnya mengulum senyum lebar.
"Benarkah?" Nathan mengangguk. "Astaga, rasanya aku tidak percaya jika kau sudah menjadi seorang Ayah. Ini sangat luar biasa. Bisakah kau membawaku pergi sekarang juga? Aku sudah tidak sabar untuk segera melihat mereka,"
"Tentu. Aku sudah membawakan pakaian ganti untukmu. Ganti sekarang, aku akan menunggumu di luar,"
Henry mengangguk. "Baiklah,"
-
Brugg..
"Aduhhh...!
Tubuh Luna terhempas ketanah setelah tanpa sengaja menubruk punggung seorang pria yang tiba-tiba saja berhenti di depannya. "Yakk!! Pria menyebalkan, kenapa kau harus berhenti tiba-tiba? Lihatlah, aku terjatuh karna ulahmu!!" amuk Luna pada pria tersebut.
"Baiklah, aku akan menghubungimu lagi nanti," pria itu memutuskan sambungan telfonnya kemudian berbalik dan menatap dingin pada Luna. "Apa?"
"Apa?" Luna mengulangi kalimat pria itu dan mendesah marah. "Apa kau buta? Karna ulahmu pinggangku jadi sakit!! Aku tidak mau tau, cepat minta maaf sekarang!!" pinta Luna menuntut.
"Kalau aku tidak mau bagaimana?"
"Aku akan menuntutmu kepengadilan,"
"Lakukan saja, kau fikir aku takut," sinis pria itu memyeringai.
"Yakkk!!"
"Tuan Jakson, Tuan besar sudah menunggu Anda. Kita harus pergi sekarang,"
"Baiklah, kau duluan saja," pria itu mengangguk. Jakson melemparkan sebuah kartu nama pada Luna.
"Itu kartu namaku, kau bisa menghubungiku jika pinggangmu benar-benar patah," ucap Jonas kemudian mencium singkat bibir Luna sebelum akhirnya pergi begitu saja. "Ngomong-ngomong bibirmu sangat manis."
"PRIA MESUM!! BERANI SEKALI KAU MENGAMBIL CIUMAN PERTAMAKU!!"
-
Bersambung.
Visual Jakson Wang...
__ADS_1