
Langit menumpahkan tangisnya dengan tiba-tiba. Gelap nan suram menyelubungi langit kota Seoul malam ini. Mrmbuat suasana malam yang suram kian terasa mencekam. Angin bertiup dengan kencangnya membuat daun-daun kecoklatan berguguran dari dahannya, ranting-ranting kering patah dan berserakkan ditanah.
Di sebuah rumah yang tidak bisa dikatakan biasa-biasa saja. Terlihat seorang wanita berdiri di teras mansion mewahnya tanpa penghangat apapun. Pakaian yang dia kenakan sangat kontras dengan udara malam ini.
Sesekali wanita itu mengusap lengannya yang hanya tertutup kain tipis dressnya untuk mengurangi rasa ingin yang seolah membelenggu tubuhnya.
Petir dan guntur menyambar saling bersahutan membuat malam menjadi terang selama beberapa detik.
Wanita itu terlonjak kaget saat merasakan sesuatu yang hangat jatuh diatas bahunya. Sontak ia menoleh dan tampak seorang pria berdiri dibelakangnya.
"Viona, sebaiknya kau masuk sekarang, udara di sini sangat dingin. Kau bisa sakit, sebaiknya masuk ya," bujuk orang tersebut namun tak diindahkan oleh Viona. "Viona, Paman mohon!! Nathan bisa marah besar saat pulang dan melihatmu berdiri di sini karna menunggunya," bujuk pria tersebut yang pastinya adalah Hans.
Viona mendesah berat. "Baiklah," dan dengan terpaksa Viona pun menuruti Hans dan masuk ke dalam bersamanya. Selain karna tubuhnya sudah mulai mati rasa, Viona juga tidak ingin kena amukan Nathan nantinya. Apalagi ketika marah Nathan begitu mengerikan.
-
BRAKK...!!
Dobrakkan keras pada pintu mengejutkan seluruh penghuni rumah membuat mereka satu persatu berhamburan meninggalkan kamarnya. Lelah dan katuk terlihat jelas pada raut wajah mereka.
"Nathan ada apa? Kenapa kau datang malam-malam begini? Apakah kau bertengkar dengan Viona? Dan kenapa kau bisa basah kuyup seperti itu?" tanya Henry sambil sesekali mengucek matanya.
"Katakan dengan jujur, apa kalian sedang menyembunyikan sesuatu dariku selama ini?" tanya Nathan seraya menatap Henry dan Senna bergantian. "JAWAB!!" bentak Nathan dengan nada meninggi. Mereka merinding sendiri melihat kobaran amarah yang tersirat dari mata kanannya.
"Se-sebenarnya apa yang kau bicarakan?" tanya Senna dengan suara bergetar.
"Kalian, apa selama ini kalian tau jika aku bukanlah putra bungsu dalam keluarga Lu?"
Degg...
Kini giliran Senna dan Henry yang terkejut. Keduanya saling pandang dan kemudian menatap Nathan. "Nathan! Ba-bagaimana kau bisa tau soal itu?"
Nathan menyeringai tajam. Kecewa terlihat jelas dari sorot matanya yang dingin. "Jadi kalian sudah tau tentang kebenaran itu? Tapi kenapa selama ini kalian bungkam dan tidak mengatakan apapun padaku? Selama dua puluh delapan tahun kalian menyembunyikan sebuah fakta sebesar ini dariku, KENAPA!!" bentak Nathan. Nathan benar-benar kecewa pada Senna dan Henry. Orang yang paling dia percayai juga menghianatinya dengan menyembunyikan sebuah fakta darinya
Nathan menjatuhkan tubuhnya pada sofa yang ada di ruang keluarga. Dadanya sesak seperti terhimpit batu besar. Bahkan dua orang yang paling dia percaya pun ternyata menghianatinya.
"Aarrkkhhh," Nathan menggeram sambil mengacak rambutnya kasar.
Senna menitihkan air matanya. Senna memahami betul bagaimana perasaan Nathan saat ini. Wanita itu menghampiri Nathan kemudian berlutut didepannya. Senna meraih tangan Nathan dan memaksanya menatap padanya. "Nathan, kau boleh marah bahkan membenciku dan Henry. Tapi ketahuilah jika semua itu Nunna dan Hyung rahasikan darimu karna bagi Nunna dan Henry kau bukanlah orang lain meskipun kita berdua tau jika tidak ada darah sama mengalir dalam tubuh kita.
Kau tau bagaimana perasaan Nunna dan Henry pada saat itu? Pada saat Mama membawamu pulang kerumah ini untuk pertama kalinya, dada Nunna rasanya ingin meledak ketika melihat kau tersenyum pada Nunna untuk pertama kalinya ketika Nunna mencoba mengajakmu bermain. Hingga kemudian kasih sayang yang begitu besar tumbuh dihati Nunna untukmu. Meskipun bagi Papa kedatanganmu adalah sebuah petaka, tapi bagi kami bertiga kau adalah anugerah," Senna menyeka air matanya.
Senna menakup wajah Nathan dan menatapnya penuh kesedihan. "Ketahuilah adikku, siapapun dirimu dan bagaimana pun asal usulmu, bagi kami kau tetaplah bungsu dalam keluarga Lu yang paling berharga," ujar Senna.
Henry menghampiri Nathan. "Gege harap tidak ada yang berubah pada ikatan diantara kita bertiga setelah kau tau tentang kebenaran itu. Jujur saja Nathan, Gege sangat menyayangimu dan bagi Gege kau bukanlah orang lain, kau tetaplah adik kami yang paling menyebalkan," suara Henry terdengar parau seperti sedang menahan isakan.
Senna memeluk Nathan yang hanya diam tak bereaksi sedikit pun. Perasaan Nathan bercampur aduk menjadi satu hingga dia merasakan sesak yang luar biasa pada dadanya, dadanya seperti dihantam batu besar yang kemudian membuatnya sulit untuk bernafas.
Dan sementara itu. Rio, Satya dan Frans yang melihat semuanya sedang menangis tersedu-sedu di ujung tangga. Ketiga pemuda itu baru saja mendapatkan sebuah fakta yang begitu mengejutkan, jika ternyata Nathan bukanlah putra kandung dalam keluarga Lu.
Rio menyeka air matanya kemudian berdiri dan menghampiri Nathan. "Paman, Huaaa..." tubuh Nathan terhuyung karna pelukkan pemuda itu disusul Satya dan Frans yang ikut memeluknya juga. "Kami harap kasih sayang Paman pada kami tidak pernah berubah setelah semua ini. Kami sangat menyayangi Paman dan kami tidak ingin Paman pergi dari kami kemudian kembali pada keluarga Paman yang sebenarnya," ujar Rio ditengah isakannya.
Nathan mendongakkan kepalanya. Mata kanannya tampak berkaca-kaca. Dia sungguh tidak menyangka jika semua akan bereaksi seperti itu. "Paman tidak akan meninggalkan kalian. Kakek tua itu memang keluarga Paman, tapi kalianlah keluarga Paman yang sebenarnya," Nathan menbalas pelukkan Rio dan ucapan Nathan membuat pemuda itu semakin terisak keras.
Satya dan Frans sampai tidak bisa bersuara. Hanya isakan yang terdengar keluar dari sela-sela bibir mereka berdua. Senna dan Henry yang menyaksikan hal mengharukan itu juga tidak bisa menahan laju air matanya. Mereka ikut menangis.
Nathan melepaskan pelukkannya kemudian menunjukkan sebuah foto pada Senna dan Henry. "Dia masih hidup, orang yang selama ini kita fikir sudah tiada dan kita bela mati-matian ternyata masih hidup dan baik-baik saja. Dialah dalang dibalik kematian Mama, Doris Lu yang menciptakan skenario kematian itu karna Mama mengetahui sebuah rahasia besar yang dia sembunyikan dari dunia bahkan dari keluarganya. Rahasia yang sewaktu-waktu akan menghancurkan dirinya jika terungkap, dan itulah alasan kenapa dia menutup mulut Mama untuk selamanya,"
Dengan tangan gemetar Senna mengambil foto tersebut dari tangan Nathan. "Papa," gumam Senna lirih.
"Dan jangan pernah menghalangiku jika suatu saat nanti aku akan menghabisinya dengan tanganku sendiri. Karna aku tidak akan segan-segan untuk menyingkirkan siapa pun yang berani menghalangi jalanku bahkan itu kalian." Mata kanan Nathan berkilat tajam. Dendam dan kebencian tersirat jelas dari sorot matanya yang datar, berbahaya. "Kedua orang tua kandungku meninggal ditangannya dan wanita yang begitu menyayangiku juga mati ditangannya. Karna nyawa harus dibayar dengan nyawa!!"
__ADS_1
Senna menatap Nathan dengan mata sembabnya. "Nunna tidak akan menghalangimu, Nunna dan kami semua akan selalu berdiri dipihakmu. Karna keadilan memang harus ditegakkan!!"
"Hyung, kau jangan cemas. Kami siap berperang bersamamu. Dan jangan panggil kami bocah setan jika tidak bisa membuat orang jahat itu kocar-kacir." Ujar Satya yang kemudian dibalas anggukan oleh Rio dan Frans.
"Trio Setan..!"
"Huha,"
"Trio Setan..!"
"Huha,"
Nathan menatap mereka semua dengan haru. Betapa beruntungnya Nathan memiliki keluarga seperti mereka. Meskipun tidak ada darah yang sama mengalir ditubuh mereka, tapi mereka menyayanginya dengan begitu tulus tanpa ada pamrih.
"Sudah larut malam, aku pulang dulu. Mingkin Viona sedang cemas dan menunggu kepulanganku," Nathan bangkit dari duduknya dan pergi begitu saja.
Di dalam hatinya, Nathan bersumpah akan menemukan orang itu dan membunuhnya. Dan harga mahal yang harus Doris bayar karna sudah berani membuat masalah dengannya adalah dengan kematian. Nathan tidak akan membiarkan Doris Lu terus tertawa diatas dukanya.
-
"Nathan,"
Hans berdiri dari duduknya saat melihat kepulangan Nathan. Nathan terlihat begitu kacau, rambutnya berantakan dan pakaiannya setengah basah. "Nathan, apa yang sebenarnya terjadi padamu? Kenapa kau bisa basah kuyup seperti ini? Dan kau juga terlihat berantakkan, semua baik-baik saja bukan?" tanya Hans memastikan.
"Hn,"
"Viona sangat mencemaskanmu, berjam-jam dia berdiri diteras hanya untuk menunggumu pulang. Bahkan dia tidak peduli dengan hujan deras yang sedang turun dan hawa dingin yang sangat menusuk. Dia melawan rasa bencinya pada hujan hanya untuk menunggumu pulang." Ujar Hans panjang lebar.
"Apakah dia sudah tidur?"
"Dia baru saja tidur, dia tidur karna kelelahan dan Paman memindahkannya kekamar,"
Setibanya di kamar, Nathan mendapati Viona yang sudah terlelap sambil memeluk boneka taddy pemberiannya ketika mereka jalan-jalan kewahana bermain beberapa bulan lalu. Nathan menghampiri Viona kemudian duduk disamping wanita itu berbaring.
Nathan mengangkat tangan kanannya, jari-jarinya membelai kepala coklat Viona dengan penuh sayang. "Maaf, lagi-lagi aku membuatmu cemas," gumam Nathan penuh sesal. Nathan mengecup kening Viona sebelum beranjak dan pergi kekamar mandi. Mungkin air dingin bisa sedikit menyegarkan kepalanya.
.
.
Nathan membiarkan mengguyur air yang mengalir dari shower yang ada diatasnya terus mengguyur tubuhnya.
Tangannya memegang tembok di hadapannya sambil memejamkan mata kanannya. Helaan nafas berkali-kali keluar dari sela-sela bibirnya, dia sama sekali tidak berniat beranjak dari tempatnya berdiri, meski sudah satu jam dia berada disana.
Nathan hanya diam dan terusmerasakan dingin air yang begitu menusuk kulit bahkan sampai ke tulangnya. Ia kembali menutup mata, dan perlahan mendongakkan kepala, menerima air yang terus jatuh menerpa wajah tampannya. Berharap air dingin tersebut dapat menjernihkan segala pikiran yang berkecamuk dalam pikirannya.
Nathan kembali tertunduk dalam diam, dan dimatikannya shower dengan kasar.
Pria tersebut segera meraih handunya, membersihkan tiap tetes air yang masih mengalir menelusuri kulitnya. Setelah berpakaian lengkap, kemudian Nathan membaringkan tubuhnya disamping Viona yang sedang terlelap.
Nathan menatap lurus ke atas. Di tatapnya langit-langit kamar, helaan nafas berat berkali-kali keluar dari sela-sela bibir kissablenya.
Nathan memejamkan mata kanannya, berharap agar ia mampu tertidur lelap walau hanya sebentar. Meskipun dia tahu, bahkan sangat tahu, usahanya itu akan sangat sia-sia.
Nathan kembali membuka matanya, menatap kosong pada langit-langit kamarnya. Alisnya bertaut, kedua tangannya terkepal kuat. Fikirannya benar-benar sangat kacau, kebenaran yang baru saja terungkap seolah menampar Nathan dengan keras. Nathan berharap waktu berhenti detik ini juga supaya dia bisa bernafas dengan bebas walaupun hanya satu detik saja.
-
Bias mentari perlahan mulai merengsek masuk kedalam jendela kamar mewah tersebut. Namun tidak berlaku bagi wanita yang masih bergulung dalam selimut tebal miliknya. Dia masih tertidur nyenyak menyelami alam mimpinya.
Perlahan-lahan manik hazelnya mulai membuka untuk menampakkan manik teduh yang mampu membuat siapa saja yang melihatnya akan langsung jatuh kedalam pesonanya.
__ADS_1
Viona mengerjapkan kedua matanya yang terasa berat. Digulirkan pandangannya pada sosok yang tengah memuknya dengan hangat tersebut. Sudut bibir Viona tertarik keatas.
Wanita itu mengangkat tangannya dan jari-jarinya ia gerakkan disekitar wajah dan telinga Nathan sebelum akhirnya gerakkan jarinya berpusat pada benda hitam bertali yang menutup mata kiri suaminya yang tidak lagi sempurna. Sorot matanya berubah sendu.
"Viona, hentikan!" geram Nathan tanpa membuka matanya. "Apa kau ingin membunuhku dengan gerakkan jarimu?" dan mata itu kemudian terbuka, memperlihatkan coklat tajam namun menghanyutkan.
"Jam berapa kau pulang semalam? Apa kau tau berapa lama aku menunggumu? Apakh terjadi sesuatu sampai-sampai kau pulang sampai larut malam?" tanya Viona penasaran.
Nathan mengangguk. "Tapi aku tidak ingin membahasnya sekarang. Aku sangat lelah dan ingin tiduragi,"
"Kau tidak bekerja?" tanya Viona sambil mengunci manik kanan Nathan.
"Aku terlalu malas untuk pergi bekerja hari ini. Tidurlah lagi, dan jangan coba-coba untuk lari dariku,"
"Tapi Oppa,"
"Tidak ada tapi-tapian, tidur lagi," pinta Nathan yang terdengar seperti sebuah perintah. Dan apa yang dia katakan itu seolah adalah hal yang mutlak.
Viona mendengus berat. "Huft, baiklah," dan Viona hanya bisa pasrah. Ia tidak memiliki pilihan lain selain menuruti ucapan suaminya.
-
"KYYAA!! YAK, BOCAH HENTIKAN!! AHHH, BERHENTI MENGGELITIKKU, AKU BISA NGOMPOL!!"
Teriakkan Bima menggema dan memantul disetiap penjuru ruangan. Pria jangkung itu harus siap menerima hukuman dari Rio, Satya dan Frans karna kalah bermain kartu.
Saat ini mereka berempat tengah berada di mansion mewah milik Nathan. Rio yang mengusulkan untuk pergi ke sana. Rio tau jika saat ini Pamannya itu sedang dalan keadaan yang sangat buruk, dan memberinya sedikit hiburan mungkin akan membuatnya merasa lebih baik.
"Paman, berhentilah bergerak-gerak. Kau tau, kau itu sudah seperti cacing raksasa yang kepanasan,"
"Yak!!" Bima memekik tertahan. "Hahaha, Hyung jangan hanya menonton video laknat itu, hahaha selamatkan aku dari tangan ketiga anak iblis ini," seru Bima memohon. "Kkyyyaaa!! Apalagi yang kalian masukkan kedalam celanaku? Kenapa rasanya dingin dan lembek-lembek begini?"
"Bukan apa-apa Paman, hanya ulat bunga kenanga saja(Ulatnya hijau dan ukurannya bisa sebesar jari)" jawab Rio dengan santainya.
"A-apa? Ulat bunga kenanga? Huaa.. Kyyyaaa!! Kalian bocah setan, mati saja kalian bertiga!!"
"Hahahha!!"
Nathan dan Viona hanya bisa mendengus dan menggelengkan kepala melihat tingkah mereka yang begitu kekanakan. Dan lagi-lagi Bima-lah yang menjadi korban kenakalan mereka setelah mereka kehilangan mainan-mainan berharganya, yakni Shion dan Jordy.
Nathan memisahkan diri dari yang lain termasuk Viona untuk menerima panggilan yang masuk. Nathan membutuhkan privasi untuk saat ini dan dia tidak ingin seorang pun sampai mendengarnya.
"Bagaimana hasil penyelidikanmu?"
"Saya berhasil mendapatkan semua informasi yang Anda butuhkan, Tuan. Dan data-data yang Anda minta besok pagi akan sampai ketangan Anda,"
"Baiklah, kerja bagus. Selidiki terus tentang Doris Lu, dan galih informasi tentang orang itu dan segera laporkan padaku!!"
"Baik Tuan, Anda bisa mengandalkan saya,"
Nathan memutuskan sambungan telfonnya begitu saja kemudian memasukkan benda tipis itu ke dalam saku celananya. Tangannya terkepal kuat dan mata kanannya berkilat tajam.
"Doris Lu, tunggu dan nantikan kehancuranmu!!"
-
Bersambung.
Visual Doris Lu...
__ADS_1