Istri Kecil MR. Arogant

Istri Kecil MR. Arogant
BAB 87 "Tanpa Salam Perpisahan"


__ADS_3

Dering pada ponselnya mengalihkan perhatian Nathan dari file-filenya. Mata kanannya memicing melihat nomor tanpa nama tertera dan menghiasi layar ponselnya yang menyala terang. Awalnya Nathan berniat mengabaikannya. Tapi karna penasaran akhirnya Nathan memutuskan untuk mengangkatnya.


"Siapa ini?"


'Kami dari kepolisian. Apa banar ini dengan keluarga Nona Viona Anggella?'


"Ya, aku suaminya. Memangnya ada apa dengannya sampai-sampai polisi menghubungiku? Apakah Istri kecilku menimbulkan masalah dan saat ini ada dikantor polisi?" tanyanya penasaran


"Tuan, kami hanya ingin mengabarkan jika istri Anda telah menjadi korban pembunuhan. Jasadnya di temukan tenggelam di sungai Han,'


Jlederr...


Seperti disambar petir di siang bolong. Hati Nathan hancur berkeping-keping setelah mendengar berita yang baru saja polisi sampaikan. Tanpa membuang banyak waktu lagi, Nathan segera pergi untuk memastikannya. Apakah mayat yang ditemukan itu adalah Viona atau bukan.


Sepuluh menit kemudian Nathan tiba dilokasi. Garis kuning telah di pasang, orang-orang tampak berkerumun dan beberapa petugas kepolisian juga ada di sana. Nathan berlari membelah lautan manusia itu dan menghampiri mayat yang baru saja dievakuasi dari dalam sungai.


"Viona," ucapnya lirih.


Nathan seperti kehilangan sel-sel dalam tubuhnya saat melihat sosok wanita yang terbaring dalam keadaan sudah tak bernyawa di sebuah kantong mayat. Dengan langkah sedikit di seret, Nathan menghampiri jasad itu lalu memeluknya.


"Tidak.. tidak.. tidak... ini tidak mungkin. Sayang, katakan jika ini hanya bercanda. Viona cepat bangun dan buka matamu. Ini benar-benar tidak lucu, Viona bangun, aku mohon," Nathan terus memanggil nama Viona dan memintanya untuk bangun. Tapi tidak ada respon.


Nathan menepuk-nepuk pipi jasad itu. "Viona bangun, jangan membuatku semakin takut. Hei bangun, Viona aku mohon buka matamu. Viona bangun, VIONA BANGUN!!" teriak Nathan di akhir kalimatnya. Nathan memeluk tubuh tak bernyawa itu dengan erat, air mata sudah membasahi wajahnya sejak beberapa menit yang lalu. "ARRKKKHHHH!!!"


"Tuan kendalikan diri Anda, sebaiknya jangan mempersulit pekerjaan kami. Biarkan kami membawa-"


"Diam kau!" sinis Nathan menyela ucapan petugas yang berdiri dibelakangnya. "Aku tidak akan membiarkan kalian membawanya!!"


"Tidak Tuan, kami harus melalukan-"


"Berani melangkah satu langkah lagi, aku tidak akan segan-segan untuk menembak mati dirimu," sorot matanya begitu tajam dan berbahaya, membuat nyali para petugas itu langsung ciut karnanya.


"Aku tidak mengijinkan jasad istriku di sakiti hanya untuk membuktikan dia benar-benar di bunuh atau tidak. Karna aku sendiri yang akan menemukan semua pelakunya dan menghukum mereka semua," Nathan mengangkat jasad itu dan membawanya pergi meninggalkan lokasi.


Dan apa yang Nathan lakukan hanya mampu membuat para petugas terpaku. Sepanjang mereka menjadi polisi, baru kali ini mereka merasa takut pada pria hanya dari tatapan matanya. Nyali mereka menciut dan mereka tidak berkutik.


"Siapa pun yang melakukannya. Aku pasti akan menemukannya. Bahkan jika aku harus mencari di ujung neraka sekali pun. Karna nyawa harus di bayar dengan nyawa!!"


-


Awan bertumpuk menghiasi langit. Tidak berarak pelan, tidak pula dilatarbelakangi langit yang bersih. Awan-awan itu tampak terburu-buru dikejar oleh angin yang menerbangkan mereka.


Langit sore hari ini tak secerah biasanya. Mendung dan awan hitam menggulung di ujung cakrawala. Angin musim dingin berhembus lembut menerbangkan daun-daun kering diarea pemakaman.


Nathan masih belum mau beranjak dan diam terpaku di depan gundukan tanah basah didepannya, mata kanannya hanya menatap datar gundukan tanah basah di itu.


Bibirnya terkatup rapat, pandangannya kosong. Wanita yang sangat dia cintai telah pergi dan meninggalkannya untuk selamanya, menyisahkan luka yang mendalam di hati Nathan. Rasanya baru kemarin mereka bercanda tawa, saling memadu kasih tapi secepat angin Tuhan merenggut dia dari sisinya.


Masih sulit dipercaya bila wanita yang selama dua tahun mendampingi hidupnya tiba-tiba pergi meninggalkan dirinya untuk selamanya.


Hari-hari yang seharusnya dipenuhi senyum dan tawa bahagia justru berubah menjadi hari yang penuh air mata karna kepergian Viona yang begitu tiba-tiba.


Tak jauh dari pemakaman, terlihat dua orang wanita berdiri di balik pohon besar. Kedua wanita itu melihat proses berjalannya pemakaman jasad Viona yang sebenarnya adalah palsu.


Salah satu dari kedua wanita itu tak kuasa menahan air matanya melihat keadaan Nathan saat itu, ingin rasanya Ia berlari menghampiri Nathan kemudian memeluknya dan mengatakan jika sebenarnya Ia baik-baik saja dan yang ada di bawah sana bukanlah dirinya. Namun dia harus bisa menahan diri demi mencapai tujuannya.


"Kita pergi sekarang , Vi. Bahaya jika ada yang melihatmu di sini." Seru wanita bersurai hitam pekat bergelombang yang ada di samping wanita itu 'Viona'


"Baiklah Eonni."


Keduanya pun berjalan beriringan meninggalkan area pemakaman. Viona kembali menghentikan langkahnya dan menatap Nathan dengan sendu. "Maaf Oppa, jika aku harus melakukan ini padamu, jika semuanya sudah selesai. Aku pasti akan kembali padamu, tunggu aku sebentar lagi. Saranghae."


Seseorang yang sedari tadi berdiri di samping Nathan menepuk bahunya seraya berucap lembut. "Sudah hampir malam, sebaiknya kita pulang." ucap orang itu namun tidak mendapatkan respon dari Nathan.


Dan kediaman Nathan, Hans anggap sebagai jawaban.

__ADS_1


Menatap sekilas gundukan tanah itu sebelum pergi dari sana. Dengan berat hati Nathan meninggalkan area pemakaman, tempat di mana jasad istrinya di semayamkan.


Semua terjadi begitu cepat. Jika saja ia bisa lebih menjaga Viona, pasti kecelakaan maut yang melibatkan istrinya tidak akan terjadi. Wanita itu dan bayi yang berada dalam kandungannya pasti masih ada dan baik-baik saja hingga detik ini. Nathan tidak hanya kehilangan istri tapi juga calon anak mereka.


Selama perjalanan pulang. Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibir Nathan. Nathan hanya menatap kosong keluar jendela sambil menyandarkan punggungnya pada sandaran jok mobilnya. Bukan hanya Nathan yang merasa sedih dan kehilangan atas kepergian Viona, tapi semua orang juga ikut merasakannya. Terutama Rio, Satya dan Frans. Ketiganya tak henti-hentinya menangis, bahkan Rio sampai jatuh pingsan.


Langit ikut merasakan kepedihan hati Nathan dengan menumpahkan air matanya dalam jumlah besar. Tetesan demi tetesan bening itu terus berjatuhan dari langit menuju bumi, menghantarkan hawa dingin yang sedikit menusuk hingga sampai ketulang.


Liquid bening menetes dari pelupuk mata kanan Nathan yang semakin lama semakin tidak terhitung jumlahnya. Perlahan Nathan menutup matanya dan saat membuka kembali mata itu, Nathan berharap yang baru saja terjadi hanyalah sebuah mimpi buruk. Karna sampai kapan pun Nathan tidak akan menerima kepergian Viona dari sisinya, tidak akan pernah bisa. Dia tidak akan menerima kepergian cintanya yang kini telah menyatu dengan tanah.


Nathan mengeluarkan ponselnya dan menatap sendu pada foto Viona yang sedang tersenyum manis ke arah camera.


"Kenapa kau harus mengingkari janjimu, Viona Lu? Bukankah kau sendiri yang berjanji untuk selalu berada di sisiku, tapi mana buktinya?" Nathan menutup matanya, sesak serasa menghimpit dadanya. Hatinya hancur berkeping-keping, dia benar-benar tidak bisa menerima kepergian Viona.


Kedua tangannya terkepal kuat. Nathan pasti akan menemukan mereka semua, dan dia bersumpah akan menghabisi mereka yang sudah berani merenggut Viona dari sisinya. Tidak ada maaf bagi mereka, karna nyawa harus dibayar dengan nyawa.


-


-Lima Bulan Kemudian-


Angin malam berhembus perlahan, membuat udara malam yang sudah dingin menjadi lebih dingin lagi. Dan udara malam itu membekukan hampir semua aktifitas di kota Seoul. Keadaan kota tak seramai biasanya, karna orang-orang lebih memilih berada di dalam rumah untuk menghanggatkan diri di depan perapian sambil menyesap secangkir coklat panas, di bandingkan harus berada di luar rumah.


Namun hal itu tidak berlaku pada seorang pria yang sedang duduk termenung di sebuah taman diarea Sungai Han. penampilannya sangat kontras dengan udara malam ini.


Sebuah singlet putih dan kemeja hitam lengan terbuka membalut tubuh atasnya, dan celana bahan hitam terlihat menggantung dipinggulnya.


Wajahnya mendongak, menatap langit malam tanpa bintang. Hidup yang dia jalani saat ini terasa begitu berat tanpa adanya belahan jiwa yang menjadi sandaran hatinya. Rasa sakit itu seperti mengoyak hatinya, seperti ditaburi garam di atas lukanya yang masih terbuka, meninggalkan rasa perih yang memicu air mata.


Kebahagiaan yang datang dalam hidupnya seolah tak bertahan lama. Hanya sesaat, dan ketika kebahagiaan itu dirampas menyisahkan sesak yang serasa menghimpit dadanya. Kehilangan belahan jiwanya membuat hidupnya serasa tak berarti lagi. Semuanya di bawah takdir tanpa mengucapkan selamat tinggal.


Desiran angin malam yang berhembus lirih seolah menjadi harmonisasi dengan suara binatang malam, tak pelak membuat rumput-rumput bergoyang.


Langit kelabu di atas sana seolah membawa pria itu tenggelam dalam rasa hampa yang perlahan merambat ke dalam hatinya.


"Apa kau sudah mendapatkan semua informasi yang aku minta?"


'Belum Tuan, kami belum bisa menemukan informasi mengenai kematian, Nyonya!!'


"BODOH!! KENAPA KAU SEMAKIN LAMBAN SAJA, AKU TIDAK MAU TAU, SEGERA TEMUKAN SEMUA PELAKUNYA DAN SERET MEREKA KEHADAPANKU!!"


'Ba-baik Tuan,'


"AARRKKHH!! KENAPA SEMUA ORANG BEGITU TIDAK BERGUNA!!"


Emosi kembali mengusai diri Nathan. Semua selalu salah dimatanya. Tak ada satu pun yang benar. Dan beginilah Nathan sekarang, dia menjadi sosok yang semakin mengerikan semenjak kepergian Viona beberapa bulan yang lalu.


Nathan melanjutkan langkahnya tanpa melihat kanan kiri terlebih dulu. Bahkan dia tidak sadar jika ada sebuah truk bermuatan penuh yang hilang kendali melaju kencang kearahnya sampai akhirnya...


"TUAN, AWAS!!"


Seorang wanita menjerit keras setelah melihat ada sebuah truk besar yang berjalan kearah Nathan, tanpa membuang banyak waktu. Wanita itu pun berlari menghampiri Nathan dan menyembar tubuhnya hingga membuat keduanya terjatuh dan menabrak trotoar jalan.


"Ahhh, sial." Sebuah unpatan keluar dari mulut Nathan saat merasakan pusing yang luar biasa pada kepalanya. Nathan mencoba untuk bangkit dari posisinya namun sesuatu menahannya. Seorang wanita jatuh diatas tubuhnya, dia adalah orang yang baru saja menyelamatkan nyawa Nathan dari maut. "Kau tidak apa-apa?"


Degg..


Dan wanita itu tersentak kaget setelah mendengar suara orang yang baru saja Ia selamatkan. Suaranya begitu familiar dan tak asing baginya. Dengan ragu dan perasaan tak yakin, wanita itu menolehkan kepalanya dan..


'Nathan Oppa,' lirihnya membatin.


Kedua mata wanita itu tampak berkaca-kaca setelah mengetahui siapa sosok yang ada dihadapannya, antara senang dan sedih. Dua perasaan itu kini menyiksa perasaannya. Tak ingin Nathan melihat wajahnya, wanita itu segera memasang kembali maskernya. Kemudian membantu Nathan untuk berdiri.


"Aku tidak tau apa masalahmu Tuan, sampai-sampai kau memiliki keinginan untuk bunuh diri. Aku beri tau padamu ya, jika kematian tidak akan bisa menyelesaikan masalah. Yang ada justru membuat masalah itu semakin rumit." ujar wanita itu menasehati.


"Memangnya siapa yang ingin bunuh diri?" sinis Nathan seraya menatap wanita dihadapannya. Sayangnya Nathan tidak tau seperti apa rupa wanita itu karna wajahnya tertutup masker dan kaca mata. "Kau terlalu mengada-ada," lanjutnya dan pergi begitu saja.

__ADS_1


Selepas kepergian Nathan, wanita itu melepaskan kembali masker dan kacamata yang di kenakannya. Kedua matanya menatap pada Nathan yang semakin menjauh dengan tatapan yang sulit di artikan.


"Oppa, aku merinduknmu," lirihnya sambil menekan dada kirinya dan meremasnya.


"Viona," merasa namanya di panggil. Sontak saja wanita itu yang tak lain adalah Viona menolehkan kepalanya dan menatap pada sosok pria yang berdiri di belakangnya.


"Sean Oppa," serunya.


"Kita harus pulang sekarang, jika kau pulang terlambat. Nona Tania bisa sangat mengkhawatirkanmu."


"Baiklah Oppa." Balas Viona dan berlalu dari hadapan Sean.


Namun sebelum masuk ke dalam mobil milik Sean, Viona menyempatkan dirinya untuk menenggok kebelakang dan menatap punggung Nathan yang semakin menjauh dengan sendu.


"Maaf Oppa, jika aku harus bersikap sekejam ini padamu, aku harap kau tidak pernah membenciku. Dan semua ini aku lakukan semata-mata untuk membalas perbuatan mereka padaku tanpa harus melibatkan dirimu, karna aku ingin menghancurkan mereka berdua dengan tanganku sendiri!!"


Ponsel dalam genggaman Viona tiba-tiba berdering dan nama seseorang menghiasi layar ponselnya yang menyala terang. Alih-alih menerimanya. Viona malah menolak panggilan itu dan memasukkan kembali ponselnya ke dalam tasnya. Dia terlalu malas untuk bicara dengan siapa pun saat ini. Suasana hatinya benar-benar tidak dalam keadaan baik.


-


"Bibi Viona,"


Rio berseru lirih saat melihat seorang wanita yang wajahnya bak pinang dibelah dua dengan Viona baru saja memasuki cafe yang berada di seberang jalan. Tanpa menghiraukan kedua paman kecilnya, Rio bergegas pergi menuju cafe tersebut untuk menemui wanita yang dia duga sebagai Viona.


"Rio Lu, kau mau kemana? Yakk! Bocah, tunggu kita!!"


Brugg..


Tubuh wanita yang Rio yakini sebagai Viona sedikit terhuyung kebelakang karna ulah Rio yang memeluknya dengan tiba-tiba. "Hiks, aku tau jika Bibi masih hidup. Karna tidak mungkin Bibi pergi begitu saja meninggalkan kami semua, paman Nathan terutama. Sejak awal aku menang tidak percaya jika yang dimakamkan hari itu adalah Bibi, dan keraguanku kini terjawab. Huaa... Bibi, aku merindukan Bibi," tangis Rio pecah, pemuda itu memeluk Viona dengan erat.


Viona terpaku. Sebisa mungkin dia mencoba untuk tenang. "Hei, Nak. Sepertinya kau salah mengenali orang. Namaku bukan Viona, tapi Ellena,"


Rio menggeleng. "Tidak.. Tidak... Aku tau ini kau Bibi. Mungkin kau bisa membohongi semua orang termasuk paman Nathan. Tapi kau tidak akan pernah bisa membohongi diriku, karna aku mengenal dirimu dengat sangat baik. Hiks, Bibi aku sangat-sangat merindukanmu," ujar Rio kembali terisak.


"Rio," lirih Viona bergumam.


Dan sementara itu. Satya dan Frans yang juga ada di sana hanya mampu diam membantu melihat sebuah kebenaran yang ada di depan matanya. Antara percaya dan tidak percaya dengan apa yang disaksikan oleh mata mereka. Viona yang selama ini diyakini telah tiada ternyata masih hidup dan dia baik-baik saja. Dia hanya berganti nama dan merubah total penampilannya menjadi lebih berani serta warna pada rambut panjangnya.


Satya dan Frans saling bertukar pandang. "Nunna...!" Dan keduanya pun berlari kearah Viona kemudian memeluknya. "Kami merindukanmu," Viona benar-benar tak kuasa menahan air matanya.


Dan sepertinya tidak ada gunanya juga Viona tetap menyembunyikan rahasianya pada mereka bertiga. Karna mereka tidak akan mempercayai ucapannya begitu saja, mereka terlalu jelih dan sulit dibohongi. Dan Viona mengenal mereka dengan sangat baik.


.


.


"Apa?Jadi semua ini adalah perbuatan Shion dan mantan sahabatmu itu?" Rio, Satya dan Frans memekik sekencang-kencangnya setelah mendengar cerita Viona tentang apa yang sudah menimpa dirinya.


"Wahh... Benar-benar cari mati mereka berdua rupanya. Ini tidak bisa dibiarkan. Mereka harus di beri pelajaran," ucap Satya berapi-api.


Frans mengangguk. "Aku sependapat denganmu. Nunna, kau tidak perlu cemas. Kami pasti akan membantumu membalas dendam, sama-sama kita hancurkan mereka berdua!!"


"Dan aku memilili rencana untuk hal itu. Bukan hanya secara fisik, kita juga akan menyiksa mereka secara mental!!" Rio menyeringai.


"Dan bisakah kalian berjanji satu hal padaku?" Viona menatap ketiganya bergantian.


"Berjanji tentang apa Nunna?"


"Tolong rahasiakan dari semua orang dan jangan beri tau siapa pun jika aku masih hidup termasuk Nathan Oppa. Aku harus menyelesaikan semuanya dan menghukum mereka yang berdosa." Tangan Viona terkepal kuat


Ketiganya saling bertukar panjang dan mereka bertiga mengangguk dengan kompak. "Ya, kami berjanji!!"


-


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2