
...Jangan lupa tinggalkan like dan koment setelah membaca. Bantu Author biar makin semangat ngetik lanjutannya....
-
"ARRKKKKHH..."
Jerit kesakitan menggema. Memenuhi seisi ruangan yang pengap dan kedap suara. Dua pria tengah berada diantara hidup dan mati setelah melewati tujuh jenis penyiksaan berat. Sekujur tubuh mereka dipenuh luka dan darah. Kedua tangan terikat dalam posisi terlentang.
Park Yoong menghampiri Alonso."Katakan siapa Boss besar kalian?Apakah orang itu adalah pria Doris Lu?" Ucap Park Yoong setenang mungkin, Park Yoong mencoba menahan emosinya yang hampir meledak, dia harus tenang menghadapi orang-orang seperti ini.
"Kami tidak akan memberitahukannya." Ucap salah satu dari mereka. Tidak ada ucapan balasan dari Park Yoong, dia hanya meminta para pengawal memukul mereka agar segera mengaku.
Park Yoong benar-benar sudah muak di buatnya. Dia tidak ada waktu. "Siksa terus sampai mereka mau mengaku,"
"Baik Tuan!!"
Park Yoong berjalan meninggalkan kedua pria itu, mereka akan tetap disiksa sampai mau mengaku. "Tunggu," seru Sam tiba-tiba membuat Alonso menoleh seketika.
"Mau apa kau?"
"Maaf Tuan, tapi saya sudah tidak sanggup lagi. Sa-saya tidak ingin disiksa lagi,"
"Brengsek!! Berani sekali kau menghinati organisasi!! Kau akan dihabisi,"
"Lebih baik aku mati dari pada harus disiksa seperti ini." Jawabnya. "Baiklah! Kami mengaku! Ya, Boss besar kami memang Doris Lu!" Teriak salah satu dari mereka berdua. Park Yoong menghentikan langkahnya dan berbalik menatap mereka.
"Boss besar menerintahkan supaya kami menebar terror pada pria bernama Nathan dan membuatnya masuk ke dalam perangkap yang telah dia persiapkan. Boss besar sedang menyelidiki dan mencari kelemahan pria itu dan menghancurkannya setelah menemukan titik kelemahannya," ujar Sam.
"KAU!!" teriak Alonso penuh amarah. "AKU AKAN MEMBUNUHMU PENGHIANAT!!"
"Berisik kau!!" sinis Park Yoong kemudian melepaskan dua tembakkan pada Alonso dan membuat pria itu meregeng nyawa detik itu juga.
"Aku sudah menberitaumu, bisakah kau membebaskanku sekarang?" tanya Sam memohon.
"Melepaskanmu," sahut seseorang dari arah belakang. Park Yoong membungkuk melihat kedatangan Nathan.
"Tuan, Anda sudah datang?"
"Hn,"
Nathan datang bersama Kai. "Bahkan kau sudah tidak ada berguna lagi untukku, jadi untuk apa aku melepaskanmu!!"
"Saya mohon Tuan, saya akan melakukan apapun untuk Anda jika Anda mau melepaskan saya dan mengampuni nyawa saya,"
"Benarkah? Apapun yang aku perintahkan kau akan melakukannya?" tanya Nathan yang kemudian dibalas anggukan oleh Sam.
"Ya Tuan, apapun perintah Anda, saya pasti akan melakukannya,"
__ADS_1
"Kalau begitu bunuh Doris Lu untukku!!"
-
"APA? ALONSO MENGHILANG SEJAK SEMALAM?"
Donny memekik sekencang-kencangnya setelah mendapatkan laporan dari anak buahnya jika salah satu orang kepercayaannya menghilang sejak semalam dan belum kembali hingga detik ini.
"Benar Tuan, kami sudah mencarinya tapi tidak ada jejaknya. Dan yang berhasil kami temukan hanyalah ponselnya yang tergelerak dilantai bar. Dan menurut informasi, semalam ada dua pria yang membawa beliau dan Sammy pergi setelah mereka cekcok dengan seorang Kakek tua,"
Donny meninju tembol dengan keras. Amarah terlihat dari sorot matanya yang berkilat tajam penuh emosi. Alonso adalah orang kepercayaannya dan satu-satunya tangan kanannya, tentu saja Donny begitu marah setelah mengetahui Alonso menghilang.
"Kerahkan semua anak buahmu dan temukan dia secepatnya. Bagaimana pun caranya dan apapun keadaannya, baik dalam keadaan hidup ataupun mati!"
"Baik Tuan,"
Donny bersumpah akan menghabisi siapa pun yang berani mencari masalah dengannya, dan masalah Alonso tentu saja bukanlah masalah yang ringan. Jika menggilangnya Alonso ada hubungannya dengan musuh Japok, maka itu artinya keberadaan mereka telah terendus.
"Aku akan menemui Boss keempat. Masalah disini aku serahkan padamu. Jika sudah mendapatkan informasi tentang Alonso dan Sammy, segera beritau aku,"
"Baik Tuan,"
-
Mata hitam kelamnya seakan terkunci pada jalanan yang menjadi titik fokusnya. Tangannya berkali-kali memutar stir yang ada di depannya. Mobil mewah yang dia kemudian memasuki gerbang utama sebuah perusahaan yang dipimping oleh sosok pria yang duduk di jok belakang.
Sapaan dari beberapa pegawai menghampirinya, meskipun terkadang ada yang memainkan mata genit dari kaum hawa. Namun Nathan tidak menghiraukan itu, justru Kai yang beberapa kali terlihat menggerlingkan mata pada wanita yang menurutnya cantik dan sexy. Langkahan kakinya terus melangkah tiada henti memasuki lift yang kosong.
TING!
Bel lift pun akhirnya berbunyi. Menandakan bahwa mereka sudah sampai di tujuan yang diinginkan. Nathan dan Kai menunggu pintu lift terbuka, kemudian keluar dari kotak bergerak tersebut.
Derap langkah kakinya teredam dengan karpet yang di kembangkan di sepanjang koridor kantor itu.Tangan kanan Kai menenteng tas kerja milik Tuan-nya yang terbuat dari kulit kerbau berwarna coklat bebas terayun-ayun di udara akibat dari gerakan refleks tangannya ketika berjalan.
"Selamat pagi, Presdir," sapa seorang office boy yang kebetulan berpapasan dengan Nathan dan Kai. OB tersebut terlihat membungkukkan badan pada Nathan dan Kai.
"Hn, selamat pagi," balasnya dengan penuh wibawa, tanpa senyuman di wajah datarnya.
Pria tampan itu memasuki ruang kerjanya. Kemudian berjalan mendekati meja kerjanya. Seketika manik kanan itu memancarkan kekesalan ketika ia melihat beberapa berkas yang bertumpuk di atas meja kerjanya. Terletak di setiap sudut meja seolah-olah sebagai hiasan meja yang terbuat dari kayu mahoni itu.
"Kai, kosongkan semua jadwalku hari ini. Aku tidak ingin menghadiri pertemuan apapun, batalkan pertemuan dengan Shinwa Group hari ini. Jika mereka tidak setuju, langsung batalkan saja kerjasamanya."
"Baik Tuan, kalau begitu saya permisi dulu,"
"Hn,"
Nathan menghempaskan tubuhnya pada kursi kerjanya. Sebelah tangannya memegang kepalanya yang terasa pusing. Wajar saja, ia baru terpejam selama satu jam setelah semalaman nyaris tidak tidur karna ulah sang istri tercinta yang melarangnya untuk tidur karna dia tidak bisa tidur.
__ADS_1
Nathan menarik nafas panjang untuk meredam sakit kepala yang semakin lama semakin terasa. Pandangannya pun terasa buram. Maka dengan tertatih-tatih Nathan berjalan kearah sofa yang ada di tengah-tengah ruangan. Kalau tidak salah kemarin ia menyimpan beberapa butir obat sakit kepala. Siapa tahu setelah meminum obat itu dan istirahat sebentar ia bisa merasa lebih baik seperti yang sudah-sudah.
.
.
.
Waktu berjalan begitu cepat. Jam dinding sudah menunjuk angka 12 siang. Yang artinya waktu makan siang sudah tiba. Orang-orang yang bekerja diperusahaannya berbondong-bondong menuju restoran hanya demi memuaskan perut mereka yang sudah tidak bisa lagi diajak kompromi.
Tapi, tidak untuk Nathan. Dia masih berkutat di meja kerjanya. Dengan kacamata dan sebatang pulpen ia pegang, ia membaca dan menandatangani dokumen itu. Sekali-sekali ia meneguk secangkir kopi yang di sediakan oleh sekretarisnya.
KRING!
Suara telepon berbunyi. Tangannya yang semula berada di atas kertas putih itu mulai berpindah. Mengangkat gagang telepon yang tak jauh darinya.
"Hn, biarkan dia masuk," katanya. Tanpa mengalihkan pandangannya dari objek kertas putih yang berisi rentetan kata itu.
BRAK!
"Sobat!" panggil seseorang atau lebih tepatnya teriakan. Seorang pria bertubuh jangkung membuka pintu kerja Nathan dengan keras dan saat ini dia berdiri di dekat pintu itu.
Nathan mengangkat wajahnya, sejenak menatap tamu yang di kenalnya itu. Kemudian kembali berkutat dengan pekerjaannya. Tangannya kembali sibuk menggerakkan pulpen hitam itu.
"Yakk!! Tega-teganya kau mengabaikkanku dan tidak menghiraukanku, dasar sahabat durhaka" keluh pria itu yang pastinya adalah Bima.
"Ck, dasar merepotkan. Apa tujuanmu kemari?" tanya Nathan to the point. Ia meletakkan kacamata yang ia pakai tadi di depannya dan mata kanannya menatap tajam pria jangkung dihadapannya.
"Aku ingin mengundangmu ke pestaku nanti malam," jawab Bima. Tangannya menarik kursi yang ada di depan Narhan, kemudian mendaratkan pantatnya dengan sempurna disana.
"Hn, aku sibuk," jawab Nathan dan kembali fokus pada dokumen-dokumennya.
Bima mencerutkan bibirnya. "Dasar sahabat durhaka. Padahal aku sengaja datang kesini dan mengundangmu tanpa perantara, dan dengan entengnya kau mengatakan kau sibuk. Sebenarnya di mana hati nuranimu sebagai seorang manusia, Nathan Lu!!"
"Xi Nathan, ingat baik-baik margaku karna margaku bukan lagi Lu melainkan Xi!!" trgas Nathan yang brgitu tidak suka ketika Bima memanggilnya dengan embel-embel marga Lu. Nathan tidak sudi lagi menggunakan nama marga yang sama dengan marga orang yang membunuh orang tuanya serta Ibu angkatnya.
"Hah, kau mengganti margamu? Kenapa?" tanya Bima penasaran.
"Panjang ceritanya.Aku pasti akan memberitaumu tapi tidak hari ini. Sebaiknya temani aku makan siang."
Bima yang mendengar ajakan sahabatnya langsung membangkitkan diri dari kursi yang dia duduki. Dia begitu bersemangat ketika mendengar kata makan siang. "Asal kau yang mentraktirku,"
"Hn, bukan masalah,"
-
Bersambung.
__ADS_1