
Mobil mewah milik Nathan mulai meninggalkan penginapan dan melaju tenang menuju jalan raya yang dipadati banyak kendaraan. Fokusnya tak lepas sedikit pun dari jalanan beraspal di depan sana. Tapi telinganya tetap mendengar ocehan wanita disampingnya tanpa lelah, dan sesekali Nathan menyahuti.
"Oppa, di Pulau Nami ini kan banyak sekali tempat yang bagus. Apakah tempat yang menjadi tujuan kita kali ini lebih baik dari tempat yang kita kunjungi sebelumnya? Aku tidak yakin jika tempat itu akan lebih indah dari pemandangan yang bisa kita lihat dari penginapan," ujar Viona panjang lebar.
Nathan menoleh sekilas dan menyeringai tipis. "Kau meragukanku? Kita lihat saja nanti," tantang Nathan lalu fokus lagi pada jalanan di depan sana.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan. Akhirnya pasangan itu tiba di tempat yang sedari tadi Nathan rahasiakan dari Viona. Nathan menoleh pada Viona yang kini tengah tertidur pulang, pantas saja wanita itu tidak bersuara lagi. Nathan tersenyum melihat wajah damai sang istri ketika sedang tertidur. Betapa Nathan sangat berterimakasih pada Tuhan karna tidak akan kehilangan wajah cantik itu.
"Sayang bangun, kita sudah sampai." Nathan mengusap pipi Viona dan membunuh jarak diantara mereka.
Sentuhan lembut pada pipinya memaksa Viona untuk membuka matanya yang semula tertutup rapat. Dan betapa kagetnya Viona saat mendapati wajah Nathan didepannya dalam jarak yang sangat dekat. "Oppa, kau mengejutkanku saja." dumalnya sambil mengelus dada.
Nathan tidak peduli dengan dumalan kesal Viona, jari-jarinya menarik tengkuk Viona agar lebih mudah menggapai bibir merah mudanya kemudian melum**nya dengan lembut. Viona menutup matanya dan menikmati ciuman tersebut, wanita itu mengangkat tangannya dan mengalungkan pada leher Nathan. Begitu larut mereka dengan dunianya hingga Nathan dan Viona tidak menyadari jika seseorang berdiri disamping mobilnya lalu mengetuk kacanya.
"Permisi, maaf Tuan. Apakah Anda ada di dalam?" tanya seorang laki-laki sambil mengetuk kaca mobil itu berkali-kali.
Kaca mobil yang gelap dan kedap suara sangat sulit untuk mengetahui apakah di dalam ada orang atau tidak. Nathan pun segera tersadar. "Ck, mengganggu saja," dengan terpaksa ia mengakhiri ciumannya meskipun tidak rela.
"Oh no!! Oppa, apakah orang itu melihat kegiatan kita?" panik Viona.
Nathan menggeleng. "Tenanglah, Sayang. Kaca mobil ini tidak tembus pandang dan tidak akan mudah terlihat dari luar. Kau tidak perlu khawatir." Ujar Nathan santai.
Setelah meyakinkan Viona, Nathan membuka kaca jendela mobilnya yang diketuk sedari tadi. "Ada apa?" tanyanya singkat, raut wajahnya berubah datar.
"Tuan Nathan ternyata Anda, saya fikir Anda tuan Henry karna yang sering datang ke Villa ini adalah beliau," ujarnya.
"Oh, kau pasti yang menjaga Villa ini 'kan?" tanya Nathan dan segera dibalas anggukan oleh laki-laki tersebut.
"Benar, Tuan."
Viona yang sedari tadi duduk disamping Nathan memilih tetap diam dan mendengar dua laki-laki itu yang saling bercengkrama. Ia terlalu malas mencampuri perbincangan suaminya. "Angkat koper-koper itu dan masukkan kedalam Villa. Siapkan kamar, aku akan mengajak Istriku jalan-jalan sebentar." ujar Nathan.
"Baik Tuan."
"Oppa memangnya kita akan jalan-jalan kemana? Memangnya ada tempat indah disekitar sini?" tanya Viona antusias.
"Ck, kenapa kau jadi sebawel ini, Viona Lu. Cepat turun dan ikut saja,"
Viona mencerutkan bibirnya mendengar omelan padanya. "Ck, dasar menyebalkan." dumal Viona sembari mencerutkan bibirnya. Nathan yang melihat hal itu hanya terkekeh lalu menggenggam tangan Viona dengan erat. Viona tidak tau kemana Nathan akan membawanya, tapi dia yakin bila suami tampannya itu memiliki kejutan manis untuknya.
__ADS_1
-
Viona menghentikan langkahnya saat merasakan getaran pada ponselnya. Wanita itu mengangkat wajahnya dan menatap sekilas pada Nathan yang sedang berbincang dengan seseorang. Viona menggeser tanda hijau pada layar ponselnya lalu menerima panggilan tersebut.
"Ada apa kau menghubungiku?"
....
"Kirimkan saja data-datanya padaku, mulai sekarang jangan sembarangan menghubungiku jika aku tidak menghubungi kalian lebih dulu. Aku tidak ingin membuat diriku sendiri berada dalam masalah karna keadaannya sekarang sudah berbeda,"
....
Pip...
Viona memutuskan begitu saja sambungan telfonnya. Raut wajahnya berubah seketika ketika melihat Nathan berjalan menghampirinya. Wanita itu tersenyum lebar menyambut kedatangan Nathan. "Maaf karna meninggalkanmu terlalu lama," ucap Nathan penuh sesal.
Viona menggeleng. "Tidak apa-apa. Oppa, bagaimana kalau kita jalan-jalan lagi? Aku masih belum puas menikmati keindahan tempat ini," renggek Viona sambil memeluk lengan Nathan dengan manja. Pria itu mendengus geli, entah hanya perasaannya saja atau memang benar adanya jika semakin hari Viona semakin menja padanya.
"Memangnya kau ingin pergi kemana?"
Viona menggeleng. "Entah, aku hanya menghabiskan banyak waktu bersamamu. Karna setelah kita kembali ke Seoul pasti Oppa akan lebih sering mengabaikanku , mengingat jika suamiku ini adalah seorang workaholic!!" Nathan terkekeh geli. Sepertinya istri kecilnya ini sedang cemburu pada pekerjaannya.
"Baiklah, ayo kita pergi,"
-
Penerangan dalam ruangan itu sudah dimatikan sejak beberapa saat yang lalu. Disamping komputer yang layarnya menyala terang, sedikitnya ada dua kaleng minuman bersoda yang telah kosong dan juga satu bungkus rokok yang isinya hanya tinggal separuh. Sepasang iris coklatnya menatap serius layar komputer yang dipenuhi huruf-huruf kecil yang nyaris tidak terbaca saking kecilnya. Sepuluh jarinya bergerak dengan lincah menekan setiap tuts pada keyboardnya.
Kali ini Nathan akan membiarkan sahabat kecilnya kembali bekerja untuknya. Virus ciptaannya akan membantu Nathan untuk mendapatkan data-data penting perusahaan milik Derry. Berterimakasihlah pada kemampuan luar biasa yang Nathan miliki hingga dia tidak perlu mengeluarkan sepeser pun uang untuk membayar seorang Hacker.
Meskipun Derry berkali-kali mendapatkan serangan tidak terduga dari Nathan. Tapi sayangnya dia tidak pernah tau siapa pria misterius yang selalu mengobrak-abrik sistem keamanan dan mencuri data-data penting perusahaannya. Pernah sekali Derry menyewa seorang Hacker kelas kakap dari America untuk melacak dan menemukan siapa orang misterius itu, namun sayangnya usaha Derry tetap tidak membuahkan hasil apapun, Hacker handal yang dia pekerjakan tidak cukup ahli untuk melacak jejak Nathan.
Tatapan matanya tampak tenang menatap layar PC di hadapannya. Raut wajahnya tetap datar meskipun jantungnya sedikit berdegup keras. Loading sudah masuk 89% ,itu artinya hanya tinggal satu langkah lagi. Seringai Iblis terlihat di sudut bibirnya saat layar menunjukkan kalimat...
Hacking Sucses....
Nathan menyandarkan punggungnya dan menatap puas pada hasil pekerjaannya. Data itu sudah berada di tangannya sekarang, sekarang sudah saatnya untuk tidur. Tubuhnya terasa sangat lelah setelah menemani Viona berjalan-jalan hampir seharian.
Nathan mematikan layar monitor itu lalu menghidupkan kembali penerang di kamarnya. Sudut bibirnya tertarik keatas melihat Viona yang sudah tertidur pulas lalu pandangannya bergulir pada jam yang menggantung di dinding kamar, waktu menunjuk angka 12 tengah malam.
__ADS_1
Laki-laki itu menyibakkan selimut yang menutupi sebagian tubuh Viona kemudian berbaring di sampingnya. Gerakan pelan pada tempat tidur membuat mata wanita itu terbuka, senyum lembut Nathan langsung menyambutnya. "Maaf, membuatmu terbangun." lirihnya penuh sesal. Jari-jarinya mengusap helaian panjang Viona dengan penuh sayang. Viona menggeleng, wanita itu menyandarkan wajahnya pada dada bidang suaminya yang tersembunyi apik dibalik tank top hitam yang melekat pas ditubuh kekarnya.
"Oppa bisakah kau memelukku sepanjang malam?" Viona mengangkat wajahnya dan menatap manik mata milik Nathan. Tanpa diminta pun Nathan pasti akan melakukannya.
Satu kecupan Nathan daratkan pada kening Viona lalu memeluk tubuhnya dengan hangat. "Tidurlah lagi, aku akan memelukmu sepanjang malam." Dan bisikan Nathan kembali mengantarkan Viona menuju alam mimpi.
Nathan menarik dirinya sesaat untuk menatap wajah damai Viona yang telah terlelap dalam pelukannya. Wajahnya terlihat begitu polos, Nathan menatap seksama wajah cantik itu sambil membelai pipinya secara terus menerus. Jari telunjuknya mengusap pipi seputih dan sehalus porselen itu dengan gerakan naik turun.
Sudut bibir Nathan tertarik keatas menciptakan lengkungan indah di wajah tampannya. "Apapun akan aku lakukan untuk selalu membuatmu bahagia, Viona Anggella." bisik Nathan dan segera menutup matanya sampai dia mendengar dering pada ponselnya. Laki-laki itu memindahkan kepala Viona keatas bantal kemudian bangkit dari posisinya. Nathan berjalan kearah balkon kamarnya sambil menerima panggilan itu.
"Hm, ada apa, Ge."
^YAKK!! NATHAN LU KENAPA PERGI TIDAK BILANG-BILANG? KAU MEMBUAT OTAKKU HAMPIR MELEDAK KARNA SEMUA PEKERJAAN YANG KAU TINGGALKAN." Nathan segera menjauhkan ponselnya mendengar teriakan dari seberang sana.
"Ck, berhentilah bersikap berlebihan, Ge. Bukankah kau sendiri yang mendesakku agar aku memberikan keponakan untukmu, jadi bersabarlah sampai kau mendapatkan hasilnya. Untuk sementara aku tidak bisa kembali ke Seoul. Jadi urus semua pekerjaan kantor, Kai akan membantumu."
Nathan memutuskan sambungan telfonnya begitu saja dan dia berani bersumpah jika di seberang sana pasti Henry sedang melemparinya dengan sumpah serapah. Namun Nathan tidak ingin terlalu ambil pusing, yang perlu dia lakukan sekarang hanyalah tidur. Ia terlalu lelah dan kepalanya masih sedikit pusing karna efek hantaman kemarin malam.
-
Pagi-pagi sekali Nathan dan Viona sudah pergi meninggalkan Villa. Tak lama setelah Henry menghubunginya. Orang lain juga menghubunginya dan mengatakan ingin bertemu dengannya. Nathan tidak tau dan tidak mengenal siapa orang itu, karna dia tidak mengatakan apapun selain hanya memintanya untuk bertemu.
Awalnya Nathan ingin meninggalkan Viona di Villa, tapi hal itu dia urungkan karna pasti wanita itu akan kesepian jika sendirian di sana. Selain itu, Nathan takut bila Viona sampai tersesat karna jalan-jalan sendiri tanpa ada yang menemani. Mengingat jika ini pertama kalinya Viona datang ke Villa pribadi milik keluarganya.
Setelah berkendara hampir 20 menit. Mereka tiba di sebuah cafe, tempat di mana Nathan dan pria misterius itu akan bertemu. Seorang pelayan menyambut kedatangan mereka berdua dan segera mengantarkan keduanya menuju ruang VIV. Di dalam ruangan itu ada empat pria yang sudah menunggu medatangannya, dan Nathan tidak mengenali mereka sama sekali.
"Selamat datang Tuan, Nyonya. Mari silahkan duduk," salah satu dari keempat pria itu mempersilahkan Nathan dan Viona untuk duduk. Pandangan pria itu kemudian bergulir pada Viona yang terlihat mengangguk samar.
"Aku tidak suka basa-basi. Siapa sebenarnya kalian dan apa tujuan kalian ingin bertemu denganku?" tanya Nathan pada keempat pria dihadapannya.
"Perkenalakan Tuan, nama saya Alex dan ini ketiga rekan saya. Kami berempat adalah anggota 'Black Rose' yang masih tersisa. Dan tujuan kami mengajak Anda bertemu karna kami ingin bekerja dan mengabdikan diri pada Anda, sesuai dengan permintaan Nona,"
Nathan memicingkan matanya 'Black Rose' nama itu terdengar tidak asing. Nathan seperti pernah mendengarnya tapi kapan dan di mana Nathan tidak bisa mengingatnya. Dan Black Rose sendiri adalah sebuah organisasi mafia yang pernah berjaya di masanya. Organisasi yang paling di segani dan di takuti oleh organiasi lain.
Organiasi ini dipimpin oleh seorang pria berdarah Korea-America. Tapi setelah pria itu meninggal, organisasi Black Rose sudah tidak pernah terdengar lagi. Tentang mereka hilang begitu saja seperti di telan bumi. Namun ada sebuah desas-desus yang beredar jika kepemimpinan Black Rose di ambil alih oleh putri pendirinya. Namun tidak ada yang tau pasti mengenai kebenaran dari berita tersebut, karna sejak peristiwa yang menimpa pemimpinnya. Black Rose hanya tinggal sejarah.
"Apa alasan kalian ingin bekerja dan mengabdikan diri padaku? Apa sebenarnya tujuan kalian dan siapa Nona yang kalian maksud?" tanya Nathan menuntut sebuah penjelasan.
"Kami sudah banyak mendengar tentang Anda Tuan, dan kami ingin membantu Anda. Dan mengenai siapa Nona kami, suatu saat Nanti Nona pasti akan membuka jati dirinya di depan Anda. Karna sesungguhnya Anda dan Nona memiliki dendam pada orang yang sama. Derry Ardinata!!"
__ADS_1
-
Bersambung.