
Rintik hujan menyapa bumi dengan di iringi semilir angin yang berhembus kencang hingga membuat setiap tengkuk yang dilewatinya bergidik kedinginan.
Luna terus memeluk tubuhnya yang hanya terbalut kain tipis dress yang membingkai tubuh rampingnya, tapi sayangnya hal itu tidak bisa mengusir rasa dingin tersebut untuk enyah dari tubuhnya. Hujan gerimis terdengar begitu merdu bak shimphony indah yang menenangkan jika, tapi sayangnya Luna tidak menyukai suara hujan apalagi kedatangannya. Karna baginya hujan adalah sebuah petaka.
Gadis itu mendesah berat, rasanya ia ingin sekali mengutuk langit yang menumpahkan tangisnya dengan begitu tiba-tiba. Jika kebanyakkan gadis menyukai hujan, maka tidak halnya dengan Luna, gadis itu justru sangat membenci hujan, karna kedatangan hujan hanya akan menghambat aktifitasnya saja.
"Aarrrkkhh, kenapa harus hujan segalah sih?" Keluhnya sambil menatap nanar tetesan demi tetesan yang jatuh dari langit dan mengguyur bumi. Aroma tanah basah yang begitu khas terasa kuat ketika ia menarik nafasnya.
Hujan yang awalnya hanya rintikan-rintikan kecil saja kini menjadi begitu lebatnya, menari dengan kasar di antara pepohonan dan bunga-bunga yang berdiri tegap menahan kencangnya angin yang bertiup. Deras air hujan yang menyerang tanah dengan kasar menghasilkan aroma khas tanah basah dan Luna semakin membencinya.
"Sampai kapan kau akan berdiri di sana dan membiarkan tubuhmu membeku karna udara dingin?" Suara dingin yang begitu khas berkaur di dalam indera pendengarannya sontak membuat permata coklat itu menoleh pada sumber suara. Iris coklat langsung bersiborok dengan mutiara abu-abu milik orang itu.
"Zian, sejak kapan kau berdiri di sana?" Alih-alih menjawab, Luna malah balik bertanya dan menatap serius pada pria yang berjalan menghampirinya.
Rasa dingin yang sempat menggerogoti tubuhnya sirna seketika, ketika sesuatu yang hangat jatuh di atas bahunya."Hehehe. Gomawo, kau tau saja jika aku hampir mati membeku di sini." Ucapnya dan mengurai senyum lebar.
"Sudah tau udaranya sangat dingin, tapi masih nekat berdiri di sini," alhasil satu jitakkan mendarat mulus pada kepala coklat Luna.
"Aawww...!! Zian, sakit," jerit Luna sambil mengusap kepalanya yang baru saja dijitak oleh Zian.
"Siapa suruh kau begitu keras kepala," sinis Zian tak mau kalah. Kemudian Zian berdiri disamping Luna.
Gadis itu mengangkat wajahnya dan melihat pemilik iris abu-abu yang berada di sampingnya. Mata yang terkadang menatapnya datar, terkadang menatapnya penuh cinta, dan terkadang menatapnya penuh dengan kelembutan yang membuatnya terpanah dan sungguh menawan. Mata yang terlihat sangat tajam namun cenderung sinis dan menyiratkan keangkuhan yang tidak bisa di jelaskan dan penuh tanda tanya.
"Aku benci hujan?" Zuan memicingkan mata kanannya mendengar umpatan yang terlontar dari bibir gadis di sampingnya.
"Kenapa?"
Luna mendengus kasar. "Karna hujan membuat bintang tidak pernah muncul setelah kedatangannya." Mutiara itu bergulir ke depan dan menatap kecewa pada langit.
"Sungguh alasan yang konyol." Zian menyahut dingin. "Dan bukankah bintang masih dapat muncul satu persatu setelah hujan reda? Lalu kenapa kau tidak menyukai hujan?" Dahinya menyernyit heran dan bertanya pada hati kecilnya mengapa gadis di sampingnya ini sangat tidak menyukai hujan.
Luna menarik nafas panjang lalu menghelanya. "Hujan hanya akan membawa kita pada biasan memory yang telah memburam. Meskipun tidak bisa di pungkiri jika banyak manusia di dunia ini yang berharap akan datangnya hujan agar mereka bisa merakan banyaknya perasaan dan kenangan yang terpedam. Entah itu kenangan manis atau pahit sekalipun." Ujar Luna panjang lebar.
Zian terdiam selama beberapa saat."Sebenarnya apa yang salah dengan datangnya hujan? Bukankah hujan bagaikan sihir dari langit, datangnya hujan selalu membawa manusia kembali ke dalam memory dan ingatan serta kehangatan yang dibalut oleh suara rintik air hujan? Hujan adalah tentang memory, rindu dan harapan yang terpecik dari setiap tetesnya." Zian berujar.
Meskipun tidak dapat di pungkiri, jika sebenarnya Zian sendiri sangat membenci hujan, tanpa dia ketahui alasannya. Hanya saja dia selalu melihat bayang-bayang kenangan buruk masa lalu ketika menyaksikan hujan turun.
Tapi Zian tidak ingin terlalu lama terlarut dalam kenangan buruk masa lalu yang kelam, ia ingin bisa melupakan dan melanjutkan hidupnya dengan tenang.
Luna menutup matanya. Baginya, hujan adalah sebuah bencana meskipun bagi orang lain hujan adalah anugerah. "Udara di sini sangat dingin, sebaiknya kita masuk." Ucap Zian yang kemudian di balas anggukan oleh Luna.
.
__ADS_1
.
.
Hujan tak kunjung berhenti meskipun sekarang sudah hampir tengah malam. Dan karna hujan itulah dia harus terjebak dan tidak bisa pulang. Saat ini Luna sedang berada di rumah Zian, setelah pergi berkeliling tanpa tujuan, Zian malah membawa Luna pulang kerumahnya.
Malam sudah semakin larut. Namun gadis itu masih tetap terjaga. Berkali-kali Luna mencoba menutup matanya tapi selalu tidak bisa.
Bukan karna suara hujan yang mengguyur kota sejak sore tadi. Tapi Luna tidak bisa tidur karna merasa lapar.
Gadis itu menyibak selimutnya dan menghampiri Zian yang mungkin sudah tidur nyenyak dikamarnya. Tapi dugaan Luna salah, karna ternyata Zian masih belum tidur dan sibuk dengan laptopnya.
"Kau belum tidur?" Zian menutup laptopnya lalu meletakan di samping dia duduk.
"Zian, aku lapar. Buatkan makanan untukku," renggek Luna memohon.
Zian mendengus berat. Pemuda itu terlihat bangkit dari duduknya dan menjitak gemas kepala coklat Luna. "Kau ini seorang gadis, tapi kenapa kau sama sekali tidak berguna?" cibir Zian dan melewati Luna begitu saja.
Luna mencerutkan bibirnya. "Dasar mahluk kutub menyebalkan. Selalu saja bersikap jahat dan kejam padaku," Luna mencerutkan bibirnya. Mulutnya terus berkomat-kamit tidak jelas.
"Ck, berhentilah menggerutu Leonil Luna," cibir Zian seraya menatap Luna tajam.
Luna nyengir kuda memperlihatkan deretan gigi putihnya. Gadis itu kemudian berdiri dan mengambil tempat di samping Zian. "Memangnya apa yang akan kau masak untukku?" tanyanya memastikan.
"Tidak masalah, yang terpenting ada yang bisa dimakan." Jawab Luna dengan penuh semangat. "Kalau begitu aku akan memotong daun bawangnya," ucap Luna yang kemudian di balas anggukan oleh Zian.
Setelah mencucinya dengan bersih. Luna memotong daun bawang itu dengan hati-hati sambil bersenandung pelan. Karna terlalu fokus sampai akhirnya...
"Aaahh,,"
Luna menjatuhkan pisau ditangannya begitu saja, setelah tanpa sengaja menggores jari manisnya. Darah segar tampak mengalir dari lukanya yang terbuka. Zian langsung mematikan kompornya dan menghapiri Luna. Zian menghirap darah segar yang keluar dari luka di jari Luna lalu meludahkannya.
"Dasar ceroboh. Seharusnya kau bisa lebih berhati-hati. Lihatlah karna kecerobohanmu ini," Luna mencerutkan bibirnya. Dia benar-benar kesal karna lagi-lagi Zian mengomelinya.
"Iya, iya. Dasar rusa menyebalkan," Zian memutar jengah matanya. Mengabaikan gerutuan Luna, pemuda itu melanjutkan kegiatannya yang sempat tertunda.
-
Samar-samar Nathan mendengar derap langkah kaki seseorang yang semakin lama semakin terdengar jelas dan tanpa melihatnya pun, tentu saja dia sudah bisa menebak siapa yang datang
Cklekk..!'
Pintu terbuka dan sosok Viona-lah yang dalam balutan dress hitamnya memasuki kamar tersebut dan menghampiri Nathan yang masih bergeming dari tempatnya berdiri. "Oppa, ada apa? Kenapa wajahmu terlihat kusut begitu? Apakah ada masalah?" Tanya Viona memastikan.
__ADS_1
Nathan menggeleng meyakinkan. "Lantas kenapa kau terlihat kacau sekali pagi ini? Atau mungkin ada yang mengganggu fikiranmu?" Lagi-lagi Nathan menggeleng dan membuat Viona semakin tidak mengerti.
"Aku tidak apa-apa, hanya saja kepalaku sedikit pening."
"Itu karna terlalu banyak hal yang kau fikirkan." Viona menyela cepat.
Wanita itu menarik laci didepannya kemudian mengeluarkan beberapa butir obat yang kemudian ia berikan pada Luhan "Minum dulu obatnya, dan sebaiknya kau jangan terlalu banyak pikiran." Lanjutnya.
Nathan menerima obat itu kemudian menegaknya secara bersamaan.
Tidak bisa Nathan pungkiri jika akhir-akhir ini dia memang sering pusing karna terlalu banyak yang dia likirkan, tapi obat yang Viona berikan cukup membantu.
Betapa Nathan merasa beruntung karna memiliki seorang Istri yang penuh pengertian dan selalu sigap dalam segala hal. Dan Viona merupakan anugerah terindah yang Tuhan berikan untuknya.
Nathan memicingkan matanya melihat Viona terlihat celingukkan seperti sedang mencari sesuatu.
Wanita itu beranjak dari hadapan Nathan dan berjalan mondar-mandir kesana-kemari membuat pria itu semakin kebingungan dibuatnya. "Sebenarnya apa yang kau cari?" tanya Nathan penasaran. Wanita itu lantas menoleh dan menatap Nathan sekilas.
"Oppa, apa kau melihat ponselku?"
"Ponsel? Sepertinya tidak, memangnya kau meletakkannya di mana?" Alih-alih menjawab, Nathan malah balik bertanya.
"Jika aku ingat, pasti aku tidak akan bertanya." Jawabnya.
"Memangnya kau ingin menghubungi siapa? Bukankah kau masih bisa menggunakan ponsel milikku."
"Bukan itu masalahnya. "Bukan itu masalahnya," Viona menjawab cepat."Bagaimana jika pihak rumah sakit tiba-tiba menghibungiku karna ada situasi yang darurat." Tukasnya menuturkan.
"Jadi itu masalahnya?" Viona mengangguk.
Nathan meraih ponsel miliknya yang tergeletak di atas nakas kecil samping tempat tidur. Dia mulai menguatak-atik benda tipis super canggih tersebut dan mencari kontak nama sang istri kemudian menggeser tanda hijau pada layar touch-nya.
"Eo?"
Viona tersentak mendengar dering pada ponselnya tersebut. Ia beranjak dan mencari dari mana sumber suara itu berasal, suara itu berasal dari arah kamar mandi dan pasti ia tidak sengaja meninggalkannya tadi.
"Oppa, aku menemukannya." Seru Viona seraya menunjukkan ponsel tersebut pada Nathan. Dengan gemas Nathan menyentil kening Viona yang hanya menunjukkan senyum tanpa dosanya.
"Dasar pikun." Wanita itu terkekeh dan berhambur memeluk Nathan. Nathan tersenyum, dengan senang hati Nathan mengangkat tangannya dan membalas pelukan Viona.
-
Bersambung.
__ADS_1