Istri Kecil MR. Arogant

Istri Kecil MR. Arogant
BAB 36 "Akhirnya "


__ADS_3

"Nona, Anda sudah datang?"


Beberapa pria membungkuk hormat pada seorang wanita muda berparas jelita yang baru saja menginjakkan kakinya di ruangan bernuansa putih tersebut.


Di bahu sebelah kirinya terdapat sebuah tatto berbentuk mawar namun berwarna hitam. Wanita muda itu menatap beberapa pria di dalam ruangan itu satu persatu.


"Apa kalian sudah menyiapkan apa yang aku minta?" suara bak lonceng itu langsung menggema memenuhi setiap sudut ruangan yang hening.


Seorang pria bersurai coklat gelap berparas tampan itu lantas mengangguk. "Sesuai permintaan Anda Nona," jawabnya. Wanita itu tersenyum tipis.


"Kalian memang selalu bisa diandalkan," ucapnya dengan senyum yang sama.


"Dan mengenai pria itu, haruskan kami bekerja untuknya juga? Lalu apa yang harus kami lakukan untuknya?"


"Aku ingin kalian setia padanya." Wanita muda itu menyela cepat. Helaan nafas panjang keluar dari sela-sela bibirnya. "Seperti kalian yang selalu melindungiku, kalian juga harus selalu melindunginya. Hidupnya selalu dikelilingi bahaya, nyawanya selalu dipertaruhkan setiap detik menitnya. Lindungi dia seperti kalian selalu melindungiku, meskipun nyawa kalian yang menjadi taruhannya!!" wanita itu berbalik dan menatap keempat pria dihadapnya satu persatu.


Keempatnya membungkuk dan mengangguk. "Kami mengerti Nona!!"


"Tapi Nona, kenapa tiba-tiba Anda memanggil kami? Sebenarnya apa yang sedang Anda rencanakan kali ini? Mungkinkah jika Anda-"


"Kau tidak perlu tau!!" wanita muda itu menyela cepat. Pria itu langsung menundukkan wajahnya dan menghindari tatapan tajam Nonanya. Tangan wanita muda itu tiba-tiba terkepal kuat, sorot matanya tajam dan terlihat berbahaya.


"Black Rose biarkan tetap menjadi sejarah, aku hanya ingin memberi pelajaran pada mereka yang telah menghancurkan keluargaku!! Aku tidak akan membiarkan mereka semua bahagia diatas dukaku. Aku akan membuat hidup mereka seperti di neraka, hingga mereka memilih untuk mati dari pada hidup." Air matanya jatuh dan membasahi wajah cantiknya.


"Nona," seru lirih salah satu dari keempat pria itu melihat kerapuan sang Nona.


Wanita muda itu menyeka air matanya. "Jangan menatapku seolah aku adalah wanita yang sangat menyedihkan!!" seru wanita muda itu dengan suara sedikit meninggi. Sedangkan keempat pria itu langsung menundukkan wajahnya. "Maaf, aku terbawa suasana," sesal wanita itu setelah sadar apa yang telah dia lakukan. Tidak seharusnya dia membentak mereka berempat.


"Sepertinya aku sudah pergi terlalu lama. Aku akan pergi sekarang, sudah lama kalian tidak berpesta. Gunakan uang ini untuk memanjakan diri kalian," wanita itu melemparkan segepok uang pada salah satu dari keempat pria itu.


Mereka adalah orang-orang yang selalu setia dan siapa mati untuknya. Dan jika bukan karna terpaksa, wanita muda itu tidak mungkin sampai memanggil mereka berempat yang sudah lama berhenti dan keluar dari dunia hitam. Mereka berempat tentu bukan pria sembarangan, karna mereka adalah mantan anggota mafia yang tergabung dalam organisasi Japok. Salah satu kelompok mafia yang paling ditakuti dan diwaspadai selain organisasi Phoenix.


-


"Uugghhhh."


Lengkuh kesakitan keluar dari bibir Nathan, laki-laki itu membuka kedua matanya dan tidak mendapati Viona berbaring disampingnya. Lalu pandangannya bergulir pada jam yang menggantung di dinding kamar dan waktu menunjuk angka 12 tengah malam. Susah payah Nathan mencoba untuk bangun dari posisi berbaringnya, salah satu tangannya mencengkram kepalanya yang terlilit perban. Nathan merasakan sakit pada sekujur tubuhnya terutama bagian kepalanya, mata kirinya yang sedikit membengkak terus berkedut sakit dan karna hal itu Nathan menjadi tidak bisa tidur dengan nyenyak.


"Viona?"


Lengang.....


Tidak ada jawaban.


Nathan mengedarkan pandangannya dan tidak menemukan Viona dimana pun. Kamar itu benar-benar kosong dan pintu kamar mandi juga terbuka, pandangan Nathan bergulir pada jendela kaca disamping kanan tempat tidurnya... terlihat jelas jika diluar sedang hujan lebat. Nathan menyambar mantelnya dan berniat mencari Viona, namun kunci mobilnya justru tidak ada begitu pula dengan tas dan mantel gadis itu. Nathan menggeram frustasi karna sang istri yang tiba-tiba saja menghilang.


Cklekk!!


Decitan pintu terbuka mengalihkan perhatian Nathan. Laki-laki itu menoleh dengan segera dan mendapati Viona datang dengan sebuah bingkisan ditangannya, tubuhnya setengah basah termasuk rambut panjangnya. "Oppa, kenapa bangun." Viona membuka mantelnya dan menghampiri Nathan.

__ADS_1


"Kau dari mana saja? Kenapa pergi tidak bilang padaku," geram Nathan menahan amarahnya. Pandangannya dingin dan raut wajahnya begitu datar


"Maaf, aku keluar untuk membeli obat. Kau terus merintih dan berkeringat, jadi aku pergi ke apotek untuk membeli antibiotik dan pereda rasa sakit."


Nathan terdiam untuk beberapa saat, hanya karna dirinya Viona sampai nekat pergi larut malam ditengah hujan pula. Tatapannya melunak dan tidak sedingin sebelumnya. "Lain kali kalau mau keluar bilang dulu padaku, aku benar-benar panik saat tau kau tidak ada. Kau membuatku cemas Viona Anggella." Ujar Nathan.


Viona menundukkan wajahnya, menghampiri Nathan kemudian duduk berhadapan dengannya. "Maaf ,Oppa. Aku janji hal seperti ini akan terulang lagi." ucapnya penuh sesal.


"Pakaianmu basah, sebaiknya segera ganti dengan yang kering. Kau bisa sakit nanti."


Viona mengangguk. "Baiklah."


Setelah berganti pakaian dan memberikan obat pereda rasa sakit pada Nathan. Viona menuruti permintaan Nathan untuk segera tidur. Meskipun belum mengantuk, tapi Viona tetap menuruti permintaan suaminya. Ia tidak ingin membuat Nathan sampai marah.


Viona mengangkat wajahnya dan mendapati Nathan tengah tertidur. Sepasang mutiara hazelnya menatap wajah tampan itu yang kini banyak dipenuhi luka, hatinya rasanya sangat perih apalagi ketika melihat perban yang melilit dahi suamimya. Lagi pula istri mana coba yang tidak akan sedih melihat suaminya terluka seperti ini.


"Viona, aku memintamu untuk tidur. Bukan memintamu untuk memandangi wajahku," sepasang mata itu terbuka perlahan dan bersiborok denga mutiara hazel Viona.


Sepertinya sejak tadi Nathan tidak tidur dan hanya sekedar menutup matanya saja. "Maaf ,oppa. Tapi aku benar-benar tidak bisa tidur. Kau tau sendiri bukan, itu kebiasaanku setelah aku terbangun." ujarnya.


Nathan menarik Viona untuk lebih mendekat lagi. Wajahnya ia benamkan pada dada bidangnya yang hanya tertutup singlet putihnya. Dagunya bersandar pada kepala coklat terang milik gadis itu. "Jika begitu aku tidak akan memaksamu untuk tidur lagi, karna aku sendiri juga tidak bisa tidur."


"Oppa." panggilnya lirih.


"Ada apa, Sayang?"


Viona mengangkat wajahnya dari dekapan Nathan dan menatap wajah pria tampan yang tengah memeluknya, erat. Gadis itu merubah posisinya menjadi duduk. "Bisakah kita tunda kepulangan kita sampai keadaanmu benar-benar membaik? Tidak mungkin kita kembali jika keadaanmu masih seperti ini. Lagi pula kita... hhm, lupakan" Ucap Viona tak melanjutkan ucapanya..


Gadis itu merinding sendiri melihat Nathan tiba-tiba menyeringai seraya menatapnya. "O-oppa, ke-kenapa kau menatapku seperti itu?" gugup Viona.


Alih-alih sebuah jawaban, bibir Viona malah dihadiahi sebuah ciuman. Nathan menakup wajah Viona dan memperdalam ciumannya.


"Sepertinya ada yang mengharapkan bulan madu ditempat ini." ucap Nathan sesaat setelah mengakhiri ciumannya. Viona menggeleng cepat.


"Bu-bukannya begitu."


"Lantas?"


"Aku... Eeemmppp."


Kalimat Viona terpotong saat Nathan kembali menyergap bibirnya. salah satu tangannya berpindah pada tengkuk Viona dan menekannya. Nathan terus melum** bibir atas dan bawah Viona secara bergantian. Tangannya yang lain menarik pinggang gadis itu untuk lebih dekat dan membunuh jarak diantara mereka.


Viona mengangkat kedua tangannya lalu mengalungkan pada leher Nathan, dan dengan senang hati Viona membalas ciuman Nathan.


Nathan memperdalam ciumannya mambuat Gadis itu sedikit gelagapan karna mendapatkan ciuman yang bertubi-tubi dari suami tercintanya. Bahkan laki-laki itu tidak membiarkan Viona untuk menghirup udara meskipun hanya satu detik saja. Hingga Viona tidak memiliki pilihan selain mendorong tubuh Nathan agar ia bisa bernafas, namun sayangnya hal itu tidak berlangsung lama karna Nathan kembali menyergap bibirnya.


Nathan bisa merasakan tubuh Viona yang mulai menegang ketika dia menurunkan bibirnya menuju leher jenjangnya. Matanya menatap wajah merona itu dengan senyum tipis.


Nathan menarik dirinya sesaat untuk menatap wajah sang istri. Gadis itu benar-benar tersipu malu. "Apa kau sudah siap?" tanyanya memastikan, Viona memandang Nathan kemudian mengangguk, namun ada keraguan dari sorot matanya yang teduh dan membuat Nathan menyernyit bingung

__ADS_1


"Apa kau masih merasa takut?" gadis itu menggeleng, berusaha menutupi kegugupan yang dia rasakan. "Lantas?"


"Kau masih sakit, Oppa. Apakah tidak apa-apa kita melakukannya sekarang?"


Nathan menggeleng. "Tidak apa-apa dan aku baik-baik saja, meskipun kepalaku tadi rasanya seperti dihantam batu besar. Tapi sekarang sudah baik-baik saja. Dan kau tau bukan jika aku selalu mendapatkan apa yang aku inginkan? Dan ketika aku sudah mendapatkan izin untuk itu, aku tidak mungkin melepaskannya." terang Nathan, Viona semakin merona dan tersipu.


"Ya aku tau." Jawab Viona. Gadis itu menundukkan wajah. "Hanya saja aku merasa sedikit gugup." akunya.


Nathan menarik salah satu tangan Viona dan meletakkan pada dada kirinya. Awalnya Viona merasa bingung dengan apa yang suaminya lakukan, namun akhirnya Viona mengerti bahwa Nathan ingin agar ia dapat merasakan detak jantungnya. "Apa kau bisa merasakannya, Sayang?" Viona mengagguk.


"Sama seperti dirimu saat ini, jantungku juga berdetak cepat dan itu artinya aku juga merasakan apa yang kau rasakan." Jelas Nathan. "Aku tau kau pasti merasa gugup begitu pula denganku. Karna ini pertama kalinya untukmu." Nathan menjeda kalimatnya dan menatap dalam mata hazel Viona yang begitu teduh. "Ini juga pertama kalinya untukku. Jadi aku tidak tau betapa sakitnya untukmu, Sayang. Tapi aku berusaha agar tidak menyakitimu. Apa kau mempercayaiku?"


Viona menatap Nathan yang juga menatapnya. Gadis itu baru saja menemukan sisi lain dari diri suaminya, Nathan begitu lembut padanya. Tapi jika diingat-ingat, Nathan memang selalu bersikap lembut padanya terlepas dari semua sikap manjanya yang kadang kala membuat Nathan sedikit frustasi.


Viona menakup wajah Nathan dan mengunci manik matanya yang juga menatap padanya, sudut bibirnya tertarik keatas membentuk lengkungan indah di wajah cantiknya.


"Ya, aku mempercayaimu." jawabnya tersenyum.


"Baby. Kau begitu basah dan hangat di sini. Dan aku semakin yakin jika kau akan siap dalam waktu beberapa saat lagi." Nathan menggeram dalam kalimatnya yang terdengar serak mencoba menahan gejolak dalam.dirinya, dan Viona menyukainya.


Viona dapat merasakan nafas hangat Nathan yang beraroma mint dan begitu memabukkan menerpa kulit wajahnya. Kedua tangan Nathan membingkai wajah Viona, bibirnya terus menginvasi bibirnya. Kedua tangan wanita itu menggepal dibelakang leher suaminya ketika salah satu tangan Nathan merem** salah satu titik lemahnya.


Viona merasakan ada kabut tipis yang menghalangi pandangannya ketika Nathan mengakhiri ciumannya. Gadis itu benar-benar merasakan sensasi yang luar biasa, sensasi yang selama ini ia peroleh dari permainan yang ia ciptakan sendiri dengan perpaduan imaginasi liarnya. "Aku butuh merasakanmu sekarang, Baby." Nathan mengangkat wajahnya dan menatap Viona penuh kelembutan.


"Lihatlah, Sayang. Kau begitu sempurna." Bisik Nathan diantara dua paha terdalam Viona.


"Oppa, kumohon jangan berhenti. Ini.... sangat luar biasa." Viona memejamkan matanya menikmati sensasi itu.


"Apa kau sudah siap?" tanya Nathan." Aku butuh berada dalam dirimu sekarang, Sekarang." bisiknya ditengah-tengah kesibukkanya mengecupi wajah dan Viona. Suaranya terdengar berat karna menahan hasratnya. Viona mengangguk tanpa ragu.


Nathan bangkit dari posisinya lalu menarik keluar singlet putihnya melalui kepalanya dan menjatuhkannya dilantai. Pipi Viona semakin merona melihat bentuk perut Nathan yang terbentuk sempurna.


"Mungkin ini akan sedikit menyakitkan. Aku harap kau bisa menahannya." Viona mengangguk.


"Lakukan, Oppa," pintanya serak.


Gadis itu menutup matanya dan meremas sprei dibawahnya. Bibir Nathan kembali membawa Viona dalam ciuman, sementara diri Nathan yang lain mendorong sedikit demi sedikit. Viona meringis merasakan sakit dan perih yang luar biasa.


Nathan tersentak saar melihat lelehan kristal bening mengalir dari sudut mata Viona. "Sayang, are you oke? Haruskah kita menghentikannya saja?" Nathan menarik dirinya sesaat untuk menatap wajah Viona. Nathan merasa tidak tega jika harus membuat istrinya sampai kesakitan seperti ini.


Viona menggeleng. "Aku baik-baik saja, Oppa. Kita harus melanjutkan apa yang sudah kita mulai." Lanjutnya, suaranya parau seperti menahan isakan.


"Kau yakin?" Viona menggangguk. "Baiklah,"


Viona kembali menutup matanya dan meremas sprei dibawahnya saat Nathan kembali mendorongnya lebih keras, dan dalam satu kali hentakkan saja, akhirnya dinding pertahanan Viona pun runtuh. Dan baru saja Nathan merubah status Viona dari gadis menjadi wanita, Nathan juga telah menepati janjinya pada Viona untuk merubah marganya menjadi 'Lu' sepenuhnya. Malam ini akan menjadi malam yang panjang bagi mereka. Bukan hanya bibir mereka yang saling menyatu namun juga diri dan jiwa mereka, bukan hanya melalui kata-kata namun sebuah pembuktian yang nyata.


-


Bersambung.

__ADS_1


Huhuhu 😭😭😭 maaf kalau"" kurang panas. Otor gak berani ngambil resiko, kalau di FB mungkin bisa sampai sedetail mungkin tapi kalau di sini Otor angkat tangan. Semoga para riders mengerti betul alasannya 🙏🙏🙏 setidaknya gawang Viona dah jebol 😂😂. Like koment ya, kalau bisa semua pembaca kasih like biar Otor makin semangat ngetik lanjutannya 🙏🙏🙏


__ADS_2