
Simon menjatuhkan tubuh Zian di atas tempat tidurnya begitu saja. Kemudian duduk di sudut tempat tidurnya. Pemuda itu mengamati wajah Zian yang telah terlelap, terlihat begitu damai.
Simon mengerutkan dahinya melihat amplop yang ada di genggaman Zian, dengan perlahan dan hati-hati. Simon mengambil amplop itu kemudian mengeluarkan isi di dalammya.
"Luna Nunna?"
Simon segera membekap bibirnya dan tidak melanjutkan ucapannya, Ia terkejut bukan main melihat foto-foto di dalam amplop itu. Dan kini Ia tau apa yang menjadi alasan Zian bersikap seperti ini.
"Jadi Putri Ibu tiri, Zian hyung adalah Luna nunna?" Gumamnya tak percaya.
Simon memasukkan kembali foto-foto itu ke dalam amplop tersebut kemudiam meletakkan di samping tempat Zian berbaring. Dengan rasa yang masih tidak percaya, Simon melenggang meninggalkan kamar Zian dan berlalu begitu saja.
.
.
Biasan-biasan cahaya yang tak berwarna masuk kedalam sela-sela kamar seorang namja. Cahayanya yang temaram namun menghanggatkan menyinari seluruh penjuru ruangan bernuansa putih itu.
Matahari telah bangun dari peraduannya dan membumbung tinggi di atas sana, cahaya yang agung telah sampai di ujung cakrawala di temani awan-awan putih yang sebenarnya adalah gumpalan uap putih yang lemah. Kicauan burung-burung kecil yang hinggap di atas dahan-dahan menambah keceriaan suasan pagi yang cerah ini.
Semuanya terasa sangat alami. Pemuda bersurai hitam itu masih terlelap dalam tidurnya, bahkan cahaya menyilaukan mentari pagi yang menyinari sekujur tubuhnya tak Ia hiraukan sama sekali. Ia sama sekali tak terusik dan tetap berlayar dalam lautan mimpinya yang indah.
Tak jauh dari tempat pemuda bersurai hitam itu berbaring, tampak pemuda bersurai coklat terang duduk termenung. Menyandarkan tubuhnya pada sandaran tempat tidurnya.
Tatapan matanya kosong seperti Ia tidak memiliki nyawa, fikirannya melayang menembus logikanya. Meskipun tubuhnya berada di kediamannya, namun fikirannya tidak di sana.
Huffftttt ... !!! ....
Helaan nafas panjang meluncur begitu saja dari bibirnya. Pemuda itu menekuk salah satu kakinya menjadi kan sandaran sikunya. Tangannya mengacak kasar surai coklat terangnya kemudian memukul dahinya menggunakan kepalan tangannya.
Kenyataan yang baru saja terungkap masih sangat sulit untuk Ia percaya, seseorang yang selama ini Ia cari ternyata berada begitu dekat dengannya dan yang lebih mengejutkan serta menyakitkan hatinya lagi. Gadis itu adalah orang yang selalu ingin dia lindungi, orang yang telah mencuri dan meluluhkan hatinya yang telah lama beku dengan kebaikan serta ketulusannya.
Pemuda itu meremas dada kirinya yang terasa sesak hingga membuatnya sulit bernafas."AARRRRKKKKH ... !!!! ..." Dan menggeram keras, membuat pemuda yang sedari tadi berbaring di sampingnya terusik karna teriakannya.
"Zian Hyung, ada apa?" Zian memejamkan matanya kemudian mendesah kasar.
Tanpa menghiraukan Simon yang masih berbaring di sampingnya dan menanyakan apa alasan namja itu berada di kamarnya, Zian beranjak dan melenggang menuju kamar mandi.
Drettt ,,, Drettt ,, Drettt,,
Namun dering pada ponselnya membuat Zian menghentikan langkahnya, sontak Ia berbalik dan berjalan menuju ponselnya yang tergeletak di atas meja kecil samping tempat tidurnya. Ada satu pesan masuk ke dalam ponselnya.
"Zian, bisakah kita bertemu? Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu. Bisakah kau menemuiku di taman? Aku akan menunggumu di sana,"
Zian membaca pesan itu dan mendesah berat. Pemuda itu membungkuk dalam posisi duduknya, itu adalah pesan dari Luna. Zian berusaha menghindarinya, tapi kenapa rasanya begitu sulit. Dan jika Zian tetap berada di sekitar Luna, tidak menutup kemungkinan jika dia akan menyakitinya, meskipun Zian sendiri tak yakin jika dia bisa melakukannya.
Kemudian Zian mengetik pesan balasan pada Luna. "Aku tidak bisa, aku sibuk," Zian menggeleng, bukannya menggirimkan pesan itu pada Luna, Zian malah melemparkan ponselnya ke atas tempat tidur begitu saja. Kemudian ia bangkit dari duduknya dan melenggang pergi.
"Astaga, sepertinya Zian hyung sedang menghadapi masalah percintaan yang begitu rumit. Gadis yang dekat dengannya adalah putri dari wanita yang paling dia benci. Semoga ada keajaiban untuk mereka berdua," gumam Simon sembari menatap punggung Zian yang semakin menjauh sebelum akhirnya sosoknya menghilang di balik pintu.
__ADS_1
-
Langit yang berwarna biru cerah bak hamparan samudra yang memayungi seluruh penjuru bumi dengan awan putih menggantung di atas sana, menggambarkan suasana yang tenang, nyaman dan damai. benar-benar indah dan sangat sempurna untuk memulai hari yang cerah.
Seorang gadis dengan balutan dress putih selutut berkombinasi brokat pada lengan dan bahunya terlihat duduk termenung di sebuah taman yang tak jauh dari tempat tinggalnya. Gadis itu terus-terusan memandang ponselnya yang seluruh layarnya tampak gelap. Ia sedang menunggu pesan balasan dari seseorang.
"Ada apa kau ingin bertemu denganku?"
Sontak gadis itu mengangkat wajahnya setelah mendengar suara dingin terlewat datar seseorang yang begitu familiar masuk dan berkaur di dalam telinganya. Gadis itu tersenyum lebar.
"Aku tau kau pasti datang, dan mana mungkin kau bisa mengabaikan diriku!! Tapi, Zian. Apa yang terjadi pada pelipis dan tulang pipimu? Kenapa sampai di perban begitu? Jangan bilang jika kau-"
"Bukan urusanmu," Zian menyela cepat. Nada bicaranya dingin dan tajam.
"Sebenarnya ada apa denganmu? Kenapa kau jadi sedingin ini padaku? Katakan, Zian. Kesalahan apa yang telah aku perbuat padamu?" tanya Luna meminta penjelasan. Suaranya terdengar serak dan kedua matanya tampak berkaca-kaca.
Zian membalas tatapan Luna dengan tajam dan sedikit menusuk. "Aku jelaskan pun kau tidak akan mengerti. Seperti yang aku katakan semalam. Sebaiknya mulai sekarang kita saling menjauh. Dan bersikaplah seolah-olah kau tidak pernah mengenalku. Karna bertemu kembali denganmu adalah sebuah kesalahan yang sangt fatal!!"
DEGGG ,,, !!! ,,,
Luna tersentak mendengar kalimat yang baru saja terlontar dari bibir Zian, gadis itu menatap wajah Zian yang juga tengah menatap padanya. Dari sorot matanya, Luna melihat ada kepedihan yang terpancar dari netra abu-abu itu.
Luna sungguh tidak mengerti mengapa Zian tiba-tiba mengambil keputusan seperti itu.
"Lalu bagaimana dengan janjimu padaku? Apakah kau akan mengingkarinya?" tanya Luna dengan mata berkaca.
"Anggap saja jika aku tidak pernah berjanji apapun padamu. Dan ini adalah yang terbaik untuk kita berdua." Balas Zian dan berlalu begitu saja.
Tak ada yang mampu Luna lakukan, ia tidak bisa menghentikan langkah Zian yang semakin menjauh. Luna mulai menangis, ia menatap kepergian Zian dengan sendu dan terluka. Dan apakah dia bisa? Sedangkan dirinya sudah sangat nyaman berada di dekat Zian. Bahkan ketika dia tau jika Dean telah memiliki pasangan pun rasanya tidak sampai sesakit ini.
"ZIAN....!!" teriak Luna namun di hiraukan oleh pemuda itu.
Zian menutup matanya selama beberapa detik. Kedua tangannya terkepal kuat. Ia merasakan sesak yang luar biasa pada dadanya. Dadanya berdenyut nyeri, rasanya seperti ada bongkahan batu besar yang menghimpit dadanya dan membuatnya kesulitan untuk bernafas.
"Maafkan aku, Luna. Tapi inilah yang terbaik untuk kita. Aku rela sakit dan terluka dari pada aku harus menghancurkanmu. Kau boleh membenciku sesuka hatimu, tapi ketahuilah jika yang aku lakukan ini demi kebaikanmu sendiri," gumam Zian di tengah langkahnya.
Zian meremas dadanya yang semakin berdenyut nyeri. Ia tidak tau kenapa rasanya begitu sakit. Bahkan ketika wanita itu menghinatinya dan meninggalkannya demi pria lain. Rasanya juga tidak sesakit ini.
Dan mungkinkah Zian benar-benar sudah jatuh cinta pada Luna? Entahlah, karna hanya waktu yang bisa menjawab semuanya. Luna memang terluka dengan keputusan Zian, tapi sebenarnya Zian-lah yang jauh lebih terluka dalam hal ini.
-
Luna terus berjalan di tengah hiruk pikuknya malam di Kota Seoul, ia dengan setia berjalan di tengah kesendiriannya di antara para pejalan kaki yang berlalu lalang saat ini. Malam ini cukup cerah untuk mendorong orang-orang menikmati suasana malam Kota Seoul, sehingga trotoar jalanan utama kota itu terasa sesak oleh puluhan bahkan ratusan manusia.
Luna tetap berjalan pelan, menikmati ketukan heelsnya yang bertepukan dengan permukaan trotoar. Sekali-kali ia agak mendongak ke atas, melihat binar lampu gedung di sekitarnya yang cukup untuk menggantikan cahaya bintang yang tak nampak di langit.
Luna sedikit mengangkat sudut bibirnya. Ia tersenyum pahit ketika mengingat-ingat memorinya bersama Zuan kala pemuda itu masih berada sampingnya.
Hatinya sungguh terasa sesak saat mengingatnya. Tapi ia tetap tersenyum, Luna hanya ingin menunjukkan pada orang lain jika dia baik-baik saja. Luna tidak ingin terlihat lemah di depan orang lain.
__ADS_1
Luna ingin menunjukkan jika dia adalah gadis yang tegar meskipun pada kenyataannya dia sangat rapih, tapi serasa hatinya tak mengijinkan. Ia akui jika ia sangat kehilangan pemuda itu. Dan diam-diam Luna merindukan saat-saat bersama Zian. Baru satu hari satu malam, tapi rasanya begitu menyesakkan.
Dan mampukah dia melakukannya dalam waktu yang lama? Luna tidak tau, karna kenyataan tak berpihak kepadanya, takdir tak mengijinkan ia tetap bersamanya sekarang.
Luna sampai di pinggiran Sungai Han, tempat yang penuh dengan kenangannya bersama pemuda itu. Mereka bertemu di sini untuk pertama kalinya saat itu. Terlihat oleh Luna, bayang-bayang Zian yang sedang berdiri di pinggiran sungai sambil menasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya, dengan rambut coklatnya yang terhembus oleh angin.
Dada Luna teramat sesak, ada suatu cairan yang ia rasakan bergumul di pelipir matanya. Tidak! Ia tak boleh menangis! Tidak pernah boleh! Meskipun pada akhirnya pertahanannya tetap runtuh.
Luna duduk termenung di tepian sungai Han. Sepasang binernya menatap air di depannya yang tampak tenang. Dan karna terlalu lama larut dalam dunianya sendiri, sampai-sampai dia tidak menyadari kedatangan seseorang di sana.
"Apa yang sedang kau lamunkan?" tegur seseorang kemudian duduk di samping Luna.
"Huaaa... Irene, kau datang di saat yang tepat," teriak Luna dan berhambur memeluk sahabatnya. "Huhuhu, aku sedang gegana karna seseorang," ujar Luna setengah terisak.
"Memangnya siapa yang bisa membuatmu sampai gelisah, galau dan merana? Omona, jangan bilang jika itu adalah brandalan tampan yang aku lihat menjemputmu tempo hari?" tebak Irene 100% benar.
Lun maengangkat kepalanya dari dekapan Irene. "Jangan sok tau kamu! Bukan karna hal itu," dusta Luna. Luna tau, jika dia mengatakan yang sebenarnya pasti Irene akan terus meledeknya sepanjang waktu.
"Lalu karna apa?"
"Novel,"
"Hah.. Novel?" kaget Irene. Luna mengangguk."Memangnya novel jenis apa yang sedang kau baca itu sampai-sampai membuatmu begitu galau dan merana?" tanya gadis itu penasaran.
"Tentu saja sebuah novel yang sangat menarik. Tapi ada beberapa bab yang hilang. Dan jika kau penasaran, aku akan sedikit memberikan isi dalam cerita itu. Novel itu menceritakan tentang hubungan rumit seorang gadis dan pemuda. "
"Mereka tidak berkencan juga tidak pacaran, mereka hanya sebatas teman. Bahkan mereka juga tidak bisa di katakan terlalu dekat juga sih. Si pemuda itu memiliki kepribadian yang sulit sekali di tebak. Kadang-kadang dia bersikap hangat, kadang-kadang dia bersikap dingin sehingga si gadis tidak tau bagaimana perasaan pemuda itu yang sebenarnya."
"Karna mereka sering bersama, si gadis pun mulai menemukan kenyamanan ketika bersama pemuda itu. Tapi tiba-tiba pemuda itu meminta pada si gadis supaya mereka tidak usah bertemu lagi. Tanpa alasan dan sebuah penjelasan. Bukanlah itu sangat kejam? Dan menurutmu kenapa tiba-tiba dia menjauhi gadis itu?"
Irene memijit pelipisnya. "Jadi kau segalau ini hanya karna cerita dalam novel?" Luna mengangguk. "Astaga, Luna. Aku benar-benar tidak mengerti dirimu!!"
"Habisnya aku prihatin pada si gadis. Dia 'kan jadi galau karna pemuda itu. Kira-kira apa yang menjadi alasan pemuda itu menjauhinya?" Luna bertopang dagu. Sambil terus bertanya-tanya.
"Mana aku tau, lagipula aku 'kan tidak membaca novelnya. Kalau begitu, pinjamkan novel itu padaku biar aku membacanya juga dan bisa membantumu memecahkan teka-tekinya,"
Sontak kedua mata Luna membelalak. "A-Apa? Kau ingin meminjamnya?" Panik Luna. Irene mengangguk. "Hahaha. Kau tidak bisa meminjamnya sekarang, novel itu babnya tidak lengkap. Kau bisa meminjamnya lain waktu saja setelah aku menemukan bagian-bagian dari babnya yang hilang," ujar Luna sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Dan bagaimana bisa Luna meminjamkan novel itu pada Irene. Sedangkan novel itu tidak ada dan hanya karangan Luna saja. Sebenarnya kisah dalam novel yang Luna ceritakan pada Irene adalah kisahnya sendiri. Itu adalah kisahnya dengan Zian.
"Baiklah, tidak masalah. Tapi lain kali kau harus meminjamkannya padaku, oke."
"Baiklah, tapi aku tidak janji. Aku dalam suasana hati yang sangat buruk. Bagaimana kalau kau temani aku makan? Mungkin makan di kedai bibi Jang bisa membuat perasaanku menjadi lebih baik. Tenang saja, kali ini aku tidak akan ngutang lagi padamu, tapi aku akan mentraktirmu," Luna terkekeh. Sepertinya perasaannya sufah lebih baik.
Luna memang sering meminta Irene untuk membayarkan makanan dan minumannya terlebih dulu. Bukan karna dia tak mampu membayarnya, tapi karna Luna sangat ceroboh hingga dia lupa membawa dompetnya. Dan endingnya Irene-lah yang membayar semua makanan dan minuman yang mereka pesan.
"Huft, baiklah."
-
__ADS_1
Bersambung.