Istri Kecil MR. Arogant

Istri Kecil MR. Arogant
Season 2 (Bab 33) "Keputusan Besar Luna"


__ADS_3

Sudah hampir satu jam lebih gadis bermarga Leonil itu duduk termenung seorang diri di kursi tunggu rumah sakit, pandangannya terlihat sangat kosong dan ia terus melamun. Dengan tatapan lurus ke depan.


Hanya sebuah keajaiban yang amat sangat Luna harapkan saat ini. Zian bisa melewati masa kritisnya setelah kecelakaan naas yang hampir saja merenggut nyawanya.


Luna terus menangis, rasa takut akan kehilangan Zian memenuhi ruang kosong dalam hatinya. Dia benar-benar tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika saja Zian tak segera di larikan ke rumah sakit dengan tepat waktu.


Dibantu oleh beberapa warga yang ada di sana, Luna langsung bergegas membawa putranya kerumah sakit Seoul.


Luna terus menunggu selama satu jam lebih tanpa menghiraukan keadaannya yang benar-benar terlihat sangat buruk. Rambut yang acak-acakan, wajah sembab penuh air mata. Luna benar-benar terlihat seperti Zhombi.


CKLEK


Luna langsung berdiri kaku begitu pintu ruangan dibuka, Viona yang bertanggung jawab untuk merawat Zian tampak menghela nafasnya pelan begitu melihat Luna yang nampak sangat berantakan.


"Eonni, bagaimana Zian? dia baik-baik saja kan?" tanya Luna dengan mata berkaca-kaca. "Eonni jangan diam saja, cepat katakan sesuatu," Luna mengguncang tubuh Viona sambil terus berlinang air mata.


"Zian kritis, Luna. Dia kehilangan banyak darah, tapi nasibnya masih beruntung karena jika terlambat sedikit saja nyawanya bisa melayang"


Luna terduduk lemas dihadapan Viona dengan pandangan kosong ke depan. Dia syok setelah mengetahui bagaimana keadaan Zian saat ini. "Tapi dia aman baik-baik saja kan, Eonni?" Luna mengangkat wajahnya dan menatap Viona dengan tatapan hampa.


Viona meraih bahu Luna dan menbawa gadis itu ke dalam pelukkannya."Luna, Zian kehilangan banyak darah, dan dia butuh donor darah secepatnya"


Luna melonggarkan pelukkan Viona. "Lalu apa masalahnya? Kau bisa melakukan donor secepatnya 'kan, Eonni"


Viona mendesah berat. "Justru itu masalahnya, rumah sakit ini sedang kekurangan persediaan darah cadangan"


"Kalau begitu ambil saja darahku, Eonni. Kau bisa mengggunakan darahku sebanyak yang di butuhkan asalkan Zian bisa selamat,"


Viona menggeleng. "Zian memiliki golongan darah yang sangat langka, Lun. Dia memiliki golongan darah Rh-Null. Darah paling langkah di dunia, dan Zian hanya bisa mendapatkan donor dari orang yang memiliki darah yang sama dengannya,"


Luna sontak membulatkan matanya terkejut. "A-apa, Rh-Null?" Viona mengangguk.


Rh-Null sendiri adalah jenis golongan darah yang paling langka di dunia, karena hingga saat ini baru ada 43 orang yang dilaporkan memiliki golongan darah ini. Selain kelangkaannya, golongan darah yang juga dikenal dengan sebutan“Golden Blood” ini dapat ditransfusikan ke semua jenis golongan darah. Namun, orang dengan golongan darah Rh-null hanya bisa menerima transfusi darah dari jenis golongan darah yang sama.

__ADS_1


"Tapi, Eonni. Di mana kita bisa mendapatkan golongan darah tersebut. Aku tidak tau di mana keluarganya dan aku juga tidak memiliki kontak nomor mereka." Ujar Luna yang terdengar sangat frustasi.


"Aku adalah satu-satunya orang yang memiliki golongan darah Rh-Null dalam keluarga Qin." Sahut seseorang dari arah belakang.


Sontak keduanya menoleh dan mendapati seorang wanita setengah baya dan wanita muda yang Luna ketahui bernama Amanda. "Anda siapa?" tanya Viona penasaran.


"Dia adalah, Dahlia Qin. Ibu kandung Zian," jawab Amanda.


Luna langsung berlutut dan menjatuhkan harga dirinya di depan Dahlia. "Nyonya, saya mohon dengan sangat pada, Anda. Tolong selamatkan Zian. Hanya darah Anda yang bisa menyekamatkannya, jebal," mohon Luna sambil terus menundukkan kepalanya.


Dahlia menyeringai dingin. "Baiklah, aku akan mendonorkan darahku untuk Zian, tapi dengan satu syarat,"


"Syarat?" Luna mengangkat wajahnya dan menatap nyonya Dahlia penuh tanya.


Dahlia mengangguk. "Tinggalkan, Zian dan pergi sejauh mungkin dari hidupnya. Jangan pernah muncul lagi di hadapan Zian selamanya,"


"Mama!!" seru Shea mencoba melayangkan protesnya.


Amanda terlihat mengulum senyum penuh kemenangan. Karna dengan begitu tidak memiliki saingan lagi untuk mendapatkan Zian.


"Lima menit. Aku akan memberimu waktu lima menit untuk menemui, Zian,"


Shea menatap gadis itu dengan pandangan Iba. Dengan melihatnya saja Shea bisa langsung mengetahui jika Luna adalah gadis yang baik dan dia rela berkobran demi keselamatan Zian. Luna rela menjauh dari hidup Zian asalkan pemuda itu bisa tetap hidup.


Shea menggepalkan tangannya. "Aku tidak akan membiarkan mereka berdua sampai berpisah. Bagaimana pun juga aku akan membuat keduanya bersatu. Mama, mungkin kau bisa memisahkan mereka dengan cara seperti ini. Tapi lihat dan tunggu saja bagaimana aku akan mempersatukan mereka kembali,"


.


.


"Zian,"


Luna bergumam lirih setelah melihat bagaimana keadaan Zian saat ini. Pemuda itu terbaring lemah dalam keadaan tak sadarkan diri. Perban membalut di sana-sini. Banyaknya perban menandakan seberapa parah luka yang dia alami.

__ADS_1


Luna menghampiri Zian dengan langkah sedikit tertatih, lututnya terluka karna berbenturan dengan trotoar ketika Zian mendorongnya tadi. "Zian, kau harus bertahan. Kau harus tetap hidup dan bahagia. Maaf karna aku tidak bisa berada di sisimu lagi," ujar Luna sambil menggenggam tangan Zian.


Luna menutup matanya, mencoba menghalau cairan bening yang mengalir dari pelupuknya. "Zian aku harus pergi. Maaf jika aku tidak bisa menempati janjiku untuk selalu berada di sisimu. Tapi semua ini aku lakukan demi dirimu. Aku ingin kau selamat dan tetap hidup, kau boleh membenciku sepuas hatimu."


"Aku pasti akan baik-baik saja meskipun nantinya kau akan membenciku. Karna yang terpenting bagiku kau tetap hidup. Zian, aku mencintaimu. Aku juga tidak tau sejak kapan perasaan ini muncul dan bersemi di hatiku. Aku mohon, tetaplah hidup dan hiduplah dengan bahagia," Luna mendekatkan wajahnya untuk mengecup singkat bibir Zian.


Semua orang yang berada di depan ruang tunggu langsung berdiri saat melihat pintu ruang UGD terbuka. Viona menghampiri Luna yang tak terlihat baik-baik saja.


"Oppa, tolong beri tau Nathan oppa supaya menyiapkan tiket pesawat untukku. Malam ini juga aku akan kembali ke Inggris."


"Luna," gumam Viona dengan mata setengah berkaca-kaca.


Luna menghampiri Dahlia. "Tepati janjimu. Selamatkan Zian,"


"Kau tenang saja, sekarang juga aku akan mendonorkan darahku untuknya. Amanda, segera pergi ke Boutique, setelah Zian pulih, ibu akan langsung menggelar pesta pertunangan untuk kalian,"


"Baik, Ibu,"


-


Satu bulan telah berlalu. Setelah mengalami koma selama satu bulan, akhirnya Zian kembali sadar. Mata kanannya terbuka perlahan. Dan hal pertama yang tertangkap oleh mata abu-abunya adalah wajah cantik seorang dokter yang kebetulan sedang memeriksa keadaannya.


Zian mencengkram kepalanya yang serasa ingin pecah. "Di mana aku? Ahhh, kepalaku rasanya ingin pecah. Dan mata kiriku, kenapa yang aku lihat hanya kegelapan?" gumam Zian sambil mencengkram kepalanya. Ia.merasa heran karna hanya kegelapan yang terlihat oleh mata kirinya.


"Zian, kau sudah sadar?" seru dokter itu yang pastinya adalah Viona. "Mata kirimu mengalami cidera, tapi kau tenang saja. Mata kirimu akan kembali normal dalam beberapa bulan asal kau memeriksakannya secara intensif." Ujar Viona panjang lebar.


Zian menggerutkan dahinya. "Zian? Siapa Zian? Apakah itu namaku?" tanyanya memastikan.


Kedua mata Viona membelalak saking kagetnya. Jika Zian tak mengingat siapa dirinya, itu artinya.. Zian hilang ingatan.


-


Bersambung.

__ADS_1


...Wahai para pembaca yang baik hati. Ayolah jangan pelit-pelit buat kasih like komentnya di novel ini. Tiap hari pembaca jumlahnya ribuan tapi like-nya yang nyasar kesini dikit buanget 😭😭 Biar otornya makin semangat buat ngetik novelnya. Karna satu like dan koment kalian sangat berarti buat author 🙏🙏🙏...


__ADS_2