Istri Kecil MR. Arogant

Istri Kecil MR. Arogant
BAB 58 "Kematian Derry dan Leo"


__ADS_3

Baca juga ya new novel Otor.... ISTRI KONTRAK CEO DINGIN , Jangan lupa like komentnya 🙏🙏🙏🤗🤗


-


Kai memarkirkan mobil mewahnya dihalaman sebuah rumah besar nan mewah yang memiliki dua lantai. Pemuda berkulit tan itu segera turun di ikuti Satya, Frans dan Rio yang kemudian berdiri di sampingnya.


Di depan pintu utama terlihat ada dua pria bertubuh kekar berjaga dan mereka bersenjata. Kai melirik tiga pemuda yang berdiri di sampingnya. "Aku harap kalian tidak berbuat yang ujung-ujungnya hanya akan menyusahkanku."


Mereka bertiga saling bertukar pandang. "Kami tidak berjanji." dan menjawab dengan kompak.


Kai mendengus berat. Sepertinya memang tidak akan ada gunanya mengentikan mereka bertiga mengingat jika tingkat kejahilan dan kenakalan mereka sudah berada diluar batas wajar remaja pada umumnya. Sebenarnya bukan hanya Leo saja yang sering menjadi target kejahilan mereka bertiga, tapi Kai juga. Meskipun tidak sesering Leo tapi rasanya Kai sudah kapok berurusan dengan mereka.


"Aku memiliki sebuah rencana untuk mereka. Aku dan Satya akan mengurus mereka berdua. Hyung, kau masuk duluan saja bersama bocah ini." Kai mengangguk. Mengiyakan ucapan Frans.


Satya dan Frana pun langsung menjalankan aksinya. Mereka mengibuli kedua penjaga tersebut dengan membuat sedikit kegaduhan menggunakan petasan yang memang telah mereka persiapkan. Melihat dua orang itu telah beranjak pergi, Kai dan Rio pun bergegas masuk kedalam. Suasana di dalam begitu hening, tidak ada aktifitas apa pun yang bisa mereka temui.


"Bocah, kenapa rumahnya begitu sepi? Apa kau yakin mereka ada di sini?" tanya Kai memastikan.


"Tentu, Paman! Aku sangat yakin karna ketiga mobil milik mereka masih terparkir rapi di halaman, dan aku yakin jika mereka berdua berada dikamar atas."


"Kita cek." Ucap Kai yang segera dibalas anggukan oleh Rio.


Pintu yang tiba-tiba saja dibuka secara paksa mengalihkan perhatian dua orang yang berada didalam kamar bernuansa biru putih itu. Keduanya menoleh pada sumber suara dan betapa terkejutnya mereka saat melihat kedatangan Kai dan Rio di sana. Kai hanya memasang ekspresi wajah datar sedangkan Rio langsung memasang tersenyum misterius yang mencurigakan.


Salah satu dari kedua orang itu bangkit dan menghampiri mereka. "Mau apa kalian datang ke sini?" tanya orang itu 'Leo' sambil menodongkan pistol kearah mereka berdua.


Alih-alih menjawab, Rio terlihat mengeluarkan sesuatu dari balik pakaiannya yang langsung ia arahkan pada Leo, mata Leo dan Kai langsung terbelalak. Sama-sama terkejut namun dengan makna yang berbeda. "Rio Lu, dari mana kau mendapatkan senjata itu?" tanya Kai memekikl "Cepat, berikan senjata itu padaku. Itu bukan mainan remaja sepertimu." imbuhnya.


Alih-alih menuruti, Rio malah mengarahkan moncong pistol itu pada Kai yang sontak membuat pemuda berkulit tan itu langsung mengangkat kedua tangannya. "Yakkkk!!!"


"Hehehhe! Kau ingin mencoba bagaimana rasanya, Paman." ucap Rio seraya menarik pelatuknya.


Sontak saja Kai langsung menutup matanya, bukan sesuatu yang menyakitkan, tapi sesuatu yang dingin seperti air. Kai langsung membuka matanya dan mendapati Rio tertawa keras. "Jadi itu hanyalah pistol air?" pekiknya tak percaya.


"Iyupss!! Dan aku memiliki beberapa tapi dengan peluru berbeda. Apa kau ingin merasakannya juga, Paman?" tawar Rio yang segera ditolak langsung oleh Kai. "Oh tidak lagi-lagi bocah." jawabnya dan membuat Rio terbahak.


DORRR!!!


Suara letupan senjata yang Leo lepaskan membuat Kai dan Rio yang masih saling berbincang terlonjak kaget dan nyaris membuat mereka berdua jantungan "YAKK!! APA KAU INGIN MEMBUNUHKU EO?" amuk Kai dan Rio nyaris bersamaan.


Kini giliran Leo yang tertawa terbahak. "Ya, aku memang sangat menginginkan kalian berdua mati. Terutama kau, bocah setan."


"Aku?" tunjuk Rio pada dirinya sendiri. "Tapi kenapa, Paman? Memangnya kesalahan apa yang sudah aku lakukan padamu sampai-sampai kau ingin membunuhku? Kenapa kau begitu jahat, Paman? Huaaaa.... jahat, jahat, jahat." Rio memukul Leo dengan brutal dengan kedua tangannya, lalu menggunakan pakaian Leo untuk mengusap ingusnya.


"YAKKK!! BOCAH, APA YANG KAU LAKUKAN EO? PAKAIAN MAHALKU." teriaknya marah.


"SUDAH CUKUP." bentak Derry menengahi perdebatan antara Leo dan Rio.


Laki-laki setengah baya itu terlihat bangkit dari posisinya, dengan menggunakan bantuan tongkat. Pria itu menghampiri Leo dan merebut pistol ditangannya lalu menodongkannya pada Kai.


"Katakan apa keperluanmu datang kemari, anak muda? Apa kau datang untuk menghantarkan nyawa?" ucapnya sinis


"Tidak, aku datang untuk membawamu kembali, Tuan Ardinata," jawab Kai.


"Hahahahha!" Derry tertawa tergelak mendengar ucapan Kai


"Membawaku kembali kau bilang? Dalam mimpimu, karna aku tidak akan pernah kembali apalagi tunduk pada bosmu yang seperti iblis itu. Sebaiknya kau pulang saja sebelum amunisi dalam senjata ini berbicara dan meledakkan kalian berdua. Lagi pula aku tidak sudi memberikan apa pun padanya, semua harta itu adalah milikku dan hanya aku yang berhak memilikinya. Aku sudah membuat harta itu menjadi berlipat ganda, dan semua karna hasil jerih payahku. Katakan itu pada bosmu, dibandingkan harus kehilangan semua uang dan aset kekayaanku. Lebih baik aku kehilangan nyawaku." ujarnya panjang lebar.

__ADS_1


"Dengan senang hati aku akan mengabulkan keinginanmu itu." sahut seseorang dari arah belakang.


Sontak saja empat orang dalam ruangan itu menoleh pada sumber suara dan mendapati Nathan datang bersama Henry. Seringai tajam terlihat menghiasi wajah tampan Nathan.


"Bagaimana? Mau langsung pergi ke neraka?" ucapnya seraya menatap Derry dengan seringai yang sama.


Melihat kedatangan Nathan membuat darah Leo semakin mendidih. Dengan kasar dia merebut senjata di tangan ayahnya dan mengarahkan pada Nathan. "Dia serahkan padaku, aku memiliki dendam pribadi pada orang ini." Ucapnya berapi-api.


Leo sungguh tidak memperkirakan bila Nathan akan datang juga. Ia fikir bungsu Lu itu akan bersembunyi dibalik punggung anak buah, adik dan keponakannya saja. Tapi sepertinya Leo masih belum mengenali lawannya itu dengan baik. Karna Nathan bukanlah pengecut yang selalu bersembunyi dibalik punggung orang lain hanya demi keselamatan dirinya sendiri. "Bagus kau datang, sudah lama aku menantikan pertemuan ini."


"Benarkah?" tanya Nathan meremehkan.


"Turunkan senjatamu dari adikku, atau aku yang akan lebih dulu meledakkan kepalamu." ancam Henry berapi-api.


Natgan menyingkirkan senjata Henry dan menggeleng. "Tapi-"


"Bukan sebuah hal sulit mengurus cacing seperti dia." Ucapnya seraya melirik Henry yang berdiri dibelakangnya.


"Aku tidak akan membiarkanmu keluar dari tempat ini secara hidup-hidup, Nathan Lu. Aku pasti akan membalas semua perbuatanmu padaku. Karna dirimu aku kehilangan sumber uangku, kau merebut Viona dariku. Karna dirimu juga aku mengalami kehidupan yang sangat sulit, ketiga bocah setanmu itu membuat hidupku tidak tenang. Dan hari ini kau harus MEMBAYARNYA DENGAN NYAWAMU." teriaknya penuh emosi.


"Cih, kau bermulut besar juga rupanya. Dan apa kau sudah selesai bicaranya?"


"Mati saja kau, Nathan Lu-"


"Terlalu berisik kau, Leo Ardinata." Nathan menyela ucapan Leo seraya melepaskan tembakannya pada kedua kakinya.


"ARRRKKKHHH! KAKIKU." Jerit Leo seraya berguling dilantai.


"NATHAN LU." teriak Derry membentak.


Laki-laki itu beranjak dan menghampiri Nathan dengan emosi berapi-api, tangan kanannya menggenggam sebuah belati kecil. Dengan penuh emosi, Leo mendorong tubuh Nathan dan menghimpitnya pada tembok, menarik kasar perban yang menutup mata kirinya lalu menancapkan belati yang ia bawah pada mata itu yang langsung mengeluarkan banyak darah.


Derry tidak hanya melukai mata kiri Nathan namun juga memberikan sayatan panjang pada pipi kanannya juga lengan kiri atas. Semua terjadi begitu cepat hingga Nathan tidak memiliki kesempatan untuk menghindarinya. "AKU AKAN MEMBUTAKAN MATA KANANMU JUGA, NATHAN LU. HAHAHHA!"


Namun gerakan tangan Leo segera ditahan oleh Nathan yang kini menyeringai tajam. "Tidak semudah itu, Derry Ardinata," ucapnya tenang. Nathan menendang perut Derry hingga laki-laki paruh baya itu terjengkang kebelakang. Awalnya Henry, Kai dan Rio ingin membantu menyingkirkan laki-laki itu namun ditahan oleh Nathan. Nathan ingin menyelesaikannya sendiri.


"HAHAHAH!! TERNYATA KAU TIDAKLAH SEHEBAT ITU. AKU MEMANG YANG PALING HEBAT DAN TERBAIK DI DUNIA INI. AKU MEMBUATMU CACAT, LIHATLAH PUTRAKU... APA YANG TELAH AYAH LAKUKAN PADANYA. DIA CACAT, HAHAHAHHA! DIA CACAT. DAN BUKAN HANYA MATA KIRINYA SAJA YANG AKAN KU RENGGUT, SETELAH INI NYAWANYA.. HAHAHAHHA."


"Terlalu banyak bicara." Sinis Nathan sambil melepaskan dua tembakkan pada Derrt.


"AYAH!!" tubuh Derry ambruk seketika setelah dua timah panas bersarang pada otak dan jantungnya.


Tidak hanya menghabisi laki-laki itu saja, Nathan juga mencongkel kedua matanya. Melakukan persis seperti apa yang Derry lakukan padanya. Tidak ada keraguan sedikit pun saat melakukannya. Henry sampai gemetar dan hanya bisa menutup matanya melihat kekejaman Nathan, sedangkan Rio langsung bersembunyi dibalik punggung Kai. Bagi Rio, ini pertama kalinya dia melihat sesuatu yang mengerikan seperti ini.


"KAU MEMANG IBLIS, NATHAN LU. KAU IBLIS, AKU TIDAK AKAN MENGAMPUNIMU. KAU... HARUS MATI DI TANG-"


"Omong kosong." Sinis Nathan seraya melepaskan tembakkannya pada Jinki.


Tubuh itu pun ambruk seketika setelah kepalanya terkena terjangan timah panas yang Nathan lepaskan. "Aaahh." ringgis Nathan seraya memegangi mata kirinya yang berdenyut-denyut. Tubuhnya terhuyung dan nyaris saja kebilangan keseimbangan jika saja Henry tidak menahan lengannya dengan segera.


"Nathan." serunya. "Lukamu sangat parah, kau membutuhkan perawatan. Kita kerumah sakit sekarang. Kai, urus kedua mayat itu. Aku tidak ingin ada jejak apa pun di sini."


"Baik, Tuan."


"Hiks, Paman aku ikut." seru Leo yang kemudian dibalas anggukan oleh Henry.


"Baiklah,"

__ADS_1


.


.


.


"OPPA,"


Nathan membuka matanya saat mendengar dobrakkan keras pada pintu diserta suara melengking Viona. "Ya Tuhan?" Viona segera membekab mulutnya dan matanya membelalak saat melihat perban berlumur darah menutup mata kiri suaminya serta tulang pipi kanannya dan perban lain membebat lengan kiri atasnya.


Viona tidak tau jika kondisi Nathan seburuk ini, Henry hanya menghubunginya dan mengatakan bila Nathan baru saja dari rumah sakit karna suatu insiden. Dengan langkah tertatih, Viona menghampiri Nathan dan menakup wajahnnya. "O..oppa, apa yang sebenarnya terjadi padamu?" tanyanya terbata-bata dan kedua matanya tampak berkaca-kaca.


Nathan mendesah berat, dengan lembut dia menarik bahu Viona dan membawa wanita itu kedalam pelukkannya. Nathan mengusap punggung Viona dan meyakinkan padanya bila dirinya baik-baik saja. "Jangan menangis. Aku mohon, aku baik-baik saja, sungguh. Luka seperti ini tidak mungkin bisa membunuhku."


Bruggg!!


Dengan kasar Viona mendorong tubuh Nathan dan menatapnya tajam. "Baik-baik saja kau bilang? Keadaanmu yang seburuk ini bagaimana bisa kau mengatakan jika kau baik-baik saja? KADANG AKU BERDOA AGAR KAU MATI SAJA, NATHAN LU!! DARI PADA HARUS MEMBUATKU SELALU MENCEMASKANMU SEPANJANG WAKTU. KAU TIDAK PERNAH MAU MENDENGARKAN DIRIKU, JIKA SAJA KAU TIDAK KERAS KEPALA DAN BERSIKERAS UNTUK PERGI, PASTI HAL INI TIDAK AKAN PERNAH TERJADI. Hiks, kenapa... kenapa kau selalu membuatku ketakutan, Oppa?" Viona menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


Air matanya sudah tidak bisa dibendung lagi dan ia merasa jauh lebih baik setelah memaki Natha . Laki-laki itu menatap Viona sendu, dengan perasaan diliputi rasa bersalah. Nathan membawa Viona kedalam pelukkannya.


"Maaf." lirihnya penuh sesal.


Nathan menutup mata kanannya seraya mengeratkan pelukkannya pada tubuh Viona. "Mulai hari ini kau akan hidup dengan seoramg suami yang cacat. Mata kiriku tidak bisa diselamatkan lagi, dan luka pada wajahmu mungkin akan meninggalkan bekas." Ujar Nathan panjang lebar.


Viona menggeleng lemah. "Aku tidak peduli." jawabnya.


Nathan tersenyum mendengar jawaban Viona. Sungguh betapa dia sangat beruntung memiliki istri sebaik dan sehebat Viona yang bisa menerima bagaimana pun keadaannya dengan apa adanya. Nathan memang tidak salah memilih Viona sebagai istrinya, dan jika saja wanita itu adalah Cherly mungkin keadaannya akan berbeda. Nathan melonggarkan pelukkanya dan tersenyum tipis.


Jari-jarinya menghapus jejak air mata dipipi Viona. "Aku sangat beruntung memilikimu disampingku, Viona Lu. Tidak ada yang lebih berharga dan lebih berarti selain kehadiranmu di sisiku, aku mencintaimu, sangat mencintaimu." Viona menyeka air mata yang kembali mengalir dipipinya.


"Aku juga sangat mencintaumu, Oppa." Viona menutup matanya saat Nathan membawa bibirnya kedalam ciuman panjang.


Nathan melum** bibir tipisnya atas dan bawah secara bergantian. Wanita itu mengalungkan kedua tangannya pada leher Nathan saat dia menekan tengkuknya untuk semakin memperdalam ciumannya. Mata mereka sama-sama terbuka dan saling menatap. Menggunakan lidahnya Natha menekan bibir Viona untuk mendapatkan akses lebih, seakan mengerti apa yang di inginkan oleh Nathan. Viona segera membuka mulutnya dan saat itu juga Nathan menelusupkan lidahnya kedalam mulut hangatnya.


Nathan mengobrak-abrik isi dalam rongga mulut Viona. Mengabsen deretan gigi putihnya dan membawa lidah Viona menari bersama, sesekali mereka saling bertukar saliva. Nathan menarik pinggang Viona agar menempel padanya, tidak ada jarak lagi diantara pasangan itu. Tapi sayangnya ciuman itu tidaklah bertahan lama saat mereka mendengar derap langkah kaki seseorang yang semakin mendekat. Henry datang bersama Tiffany.


"Ya Tuhan, Nathan. Apa yang sebenarnya terjadi padamu?" Tiffany memekik kencang.


Sebenarnya Henry sudah menceritakan pada Tiffany tapi wanita itu bersikeras untuk memastikannya sendiri. "Aku heran kenapa kau tidak langsung mati saja. Dengan begitu kau tidak perlu membuat Viona selalu mencemaskanmu."


"Cih. Diamlah kau betina."


Tiffany menghampiri Viona yang berdiri di samping Nathan. "Aku heran padamu, Vi. Bagaimana kau bisa tahan dengan suami seperti dia. Jika aku menjadi dirimu, pasti aku langsung membunuhnya saja. Dan kau, Nathan Lu. Kau seharusnya masih dirawat dirumah sakit bukan malah ngeyel pulang. Dasar keras kepala." Tutur Tiffany seraya menunjuk Nathan tepat diwajahnya.


Nathan memutar matanya jengah.


"Dia tidak mungkin membunuhku, dan kau terlalu berisik," sinis Nathan.


"Sudah-sudah. Biarkan Nathan beristirahat, sebaiknya kita keluar." Henry merangkul bahu Tiffany dan membawa wanita itu meninggalkan kamar Nathan.


Suasana didalam ruangan itu menjadi hening seketika, tidak ada pembicaraan antara Nathan dan Viona. Wanita itu berdiri dalam diam sambil menatap suaminya yang juga menatapnya. Nathan mendesah panjang, dengan lembut ia menarik lengan Viona dan membawa wanita itu kedalam pelukkannya.


Nathan memahami betul apa yang tengah dirasakan oleh Viona saat ini, dan memang istri mana yang tidak akan sedih saat melihat suaminya terluka. Dan itu pula yang kini tengah dirasakan oleh Viona. "Kau belum makan malam, aku akan menyiapkan makan malam untukmu." Viona melepaskan pelukkan Nathan seraya tersenyum tipis.


"Tidak usah, aku tidak lapar. Ini sudah larut malam, sebaiknya kita segera tidur. Kepalaku sangat pusing, aku akan tidur lebih awal. Viona mengangguk kemudian membaringkan tubuhnya disamping suaminya. Pelukkan hangat pada tubuhnya menghantarkan Vionw menuju alam mimpi.


-

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2