Istri Kecil MR. Arogant

Istri Kecil MR. Arogant
BAB 133 "Rahasia Yang Terungkap"


__ADS_3

Kedua alis Viona saling bertautan saat ia tiba dikediaman Hans dan tanpa sengaja melihat sebuah cetakan kaki sepasang bayi kembar di ruang kerja sang ayah. Dengan ragu, Viona mengambil cetakan kaki tersebut dan melihatnya dengan seksama.


Di sudut cetakan itu ia melihat tanggal cetakan kaki itu dibuat, dan tanggal itu sama dengan tanggal di mana dia di lahirkan bahkan tahun dan waktunya juga sama, hanya selisi 5 menit saja.


Viona membekap bibirnya menggunakan tangan kirinya saat ia menyadari sesuatu. Jika itu memang cetakkan sepasang bayi kembar, maka itu artinya dirinya memiliki saudara? Viona nyaris tak percaya.


"Jadi aku punya Saudara? Lalu dimana Saudara kembarku? Kenapa semua orang merahasiakan hal sebesar ini dariku? Dan appa, kenapa dia tidak mengatakan apapun padaku?" ucap Viona pada dirinya sendiri.


Sekali lagi Viona menatap cetakan kaki tersebut dengan tatapan tak percaya. Air mata Viona menetes menatap cetakan kaki ditangannya. Ia bingung harus merasa sedih tau bahagia setelah ia mengetahui jika ternyata dirinya memiliki saudara kembar. Dan yang menjadi pertanyaannya, lalu di mana saudaranya itu sekarang? Viona benar-benar pusing memikirkannya.


Kriett..


Viona mengalihkan perhatiannya saat mendengar suara pintu terbuka. Tak lama seorang pria setelah baya terlihat masuk kedalam ruangan tersebut dengan aenyum yang terkembang namun Viona membalas senyum lembut Ibunya dengan tatapan yang sangat mematikan


"Vio, kau sudah datang? Lalu di mana sikembar?" tanya orang itu yang pastinya adalah Hans


"Appa, apa maksudnya ini?" alih-alih menjawab, Viona malah balik bertanya sembari menunjukan cetakan kaki bayi yang tak sengaja dia temukan di ruang kerja Hans. "Appa, kau berhutang penjelasan padaku!!" Viona menuntut.


Hans mengambil nafas panjang dan menghelanya. "Jadi kau sudah menemukan cetakkan kaki itu?" ucap Hans seraya menghampiri Viona. "Vio, maaf karna Appa sudah merahasiakan hal sebesar ini darimu. Sebenarnya kau memiliki saudari kembar. Sudah lama sekali Appa ingin memberitaumu, tapi Appa merasa ragu untuk mengatakannya padamu. Jadi Appa tetap merahasiakannya darimu, Appa harap kau tidak marah apalagi kecewa pada Papa,"


"Untuk apa aku harus marah dan kecewa pada Appa, semua yang sudah berlalu biarlah berlalu. Disesali pun tidak ada gunanya, karna semua tidak mungkin kembali ketitik awal. Bukankah begitu?" Hans mengangguk. "Tapi, Appa. Bagaimana ceritanya aku dan Luna bisa terpisah?" tanya Viona penasaran.


"Detailnya Appa juga tidak tau. Karna kau dan Luna terpisah sejak kalian masih bayi. Ibu kalian membawa Luna pergi dan memberikanmu pada Appa dengan alasan dia tidak ingin sampai kerepotan jika harus mengurus dua bayi. Beberapa bulan kemudian Appa mendengar jika Ibumu terlibat skandal besar dengan salah seorang pejabat negara. Dia meninggalkan Luna di sebuah panti asuhan.


Appa berusaha untuk menemukan panti itu tapi gagal, jejak Luna menghilang begitu saja. Tujuh tahun kemudian aku bertemu dengan seorang gadis kecil yang wajahnya begitu mirip denganmu, dari situ Appa tau jika dia adalah Luna. Luna telah diadopsi oleh keluarga yang begitu menyayanginya.


Kemudian Appa mendengar jika keluarga Leonil mengalami kecelakaan hebat yang membuat dua anggota keluarganya meninggal. Appa fikir Luna turut menjadi korban, sehingga Appa tidak berusaha untuk mencaritaunya lagi. Ternyata dugaan Appa selama ini salah, Luna baik-baik saja."


"Jadi begitu ceritanya? Ya Tuhan, rencanamu begitu indah dan penuh dengan misteri," ucap Viona. " Oya, Appa. Cucu-cucumu mungkin sekarang sudah bangun sekarang. Kau ingin melihatnya?"


"Memangnya dimana mereka sekarang?"


"Di kamar,"


"Di kamar? Dengan siapa?"


"Sendiri, mereka hanya berdua saja,"


"Astaga, Viona!! Kenapa kau malah meninggalkan mereka? Bagaimana kalau mereka tiba-tiba bangun dan menangis, kenapa kau ceroboh sekali. Astaga, cucu-cucuku. Tunggu Kakek tampanmu ini, Nak. Kakek datang!!" Hans bergegas menghampiri si kembar yang Viona tinggalkan di kamar.


Melihat hal tersebut membuat Viona terkikik geli. Ini pertama kalinya dia melihat Hans sepanik itu. Viona melanjutkan langkahnya dan menyusul sang ayah.


-


Beberapa pria dalam balutan pakaian serba hitam terlihat memasuki sebuah bangunan bertingkat dua. "Theo, apa kau yakin ini tempatnya?" tanya Nathan dingin pada pria bertubuh kekar disamping kanannya.


"Ya Tuan, saya mendapatkan alamatnya dari sumber yang sangat terpercaya. Dan jika saya salah, maka saya akan mencincang tubuhnya dan memberokannya pada Sonar," jawab Theo.


Note: Sonar adalah macan putih peliharahaan Nathan yang sering mendapatkan jatah makan malam dengan menu daging mereka yang berani membuat masalah dengan Nathan.


"Hn, baguslah,"


Kedatangan mereka langsung disambut oleh todongan senjata yang dari beberapa pria yang berada di sana. Bukannya merasa gentar. Nathan dan keempat orang yang datang bersamanya terlihat santai-santai saja meskipun lebih dari dua puluh senjata mengacung pada mereka.


Nathan hanya menatap datar pada pria-pria dihadapannya. Mata abu-abunya menatap dingin pria-pria tersebut yang mulai berkeringat dingin. Bahkan beberapa diantara mereka sampai ada yang menelan ludah. Nathan memang terlihat paling mengerikan diantara yang lainnya.


"Aku datang bukan untuk membuat keributan, jadi panggil boss kalian keluar," pinta Nathan yang terdengar seperti sebuah perintah.

__ADS_1


"Boss tidak ada di tempat, sebaiknya kalian pergi saja jika ingin tetap hidup," seru salah seorang dari mereka pada Nathan dan orang-orangnya.


"Aku tidak akan pergi tanpa anak buahku yang di tawan oleh bossmu!" tegas Nathan.


"Kau bisa kembali setelah boss datang. Pergilah, kami tidak memiliki banyak waktu untuk meladeni orang-orang seperti kalian!!" jawab pria itu dengan datar.


"Terlalu banyak bicara!!"


Nathan melepaskan tembakkannya pada pria dihadapannya dan membuat tubuhnya tumbang seketika. Dan apa yang Nathan lakukan tentu memancing kemarahan rekan-rekannya yang lain. Hingga perkelahian pun tak dapat terhindarkan lagi. Bentrok kedua kubu itu pun tak dapat terhindarkan lagi.


Suara tembakkan menggema hampir dipenjuru tempat. Mayat-mayat mulai bergelimpangan setelah kepala mereka terkena terjangan peluru yang dilepaskan oleh Nathan dan anak buahnya. Setengah dari lawan berhasil mereka lumpuhkan dan hanya tersisa beberapa lagi. Rumput hijau seketika menjadi lautan merah.


Beberapa orang yang tersisa mengalihkan senjata mereka dan mengacungkannya ke arah Nathan. Nathan hanya menyeringai. Satu Pistol lagi yang berada di pinggangnya juga ia cabut.


Peluru yang Nathan lepaskan nyaris melubangi kepala pria berambut melawan gravitasi tersebut, hanya beberapa senti saja jaraknya. "Aku akan memberimu kesempatan terakhir, lepaskan anak buahku atau kau ingin rata menjadi tanah?" ancam Nathan bersungguh-sungguh.


"Kau tidak memberimu pilihan. Lepaskan pria itu!!"


"Baik Hyung,"


"Keputusan yang bagus," Nathan menyeringai dingin.


Nathan segera memberi kode pada Theo. Theo mengangguk, Theo dan satu orang lagi masuk ke dalam untuk menyelamatkan Alex yang tertangkap semalam.


Tidak sampai lima menit Theo dan anak buahnya kembali bersama Alex. Meskipun wajahnya sedikit babak belur. Tapi dia terlihat baik-baik saja. Dan keenam pria itu pun seger pergi dari sana. Sebelum pergi, tak lupa Nathan meninggalkan kenang-kenangan kecil untuk orang yang sudah berani membuat masalah dengannya.


-


Luna menatap jengah pada langit yang sedang menumpahkan tangisnya dalam jumlah besar. Langit yang semula cerah seketika menjadi muram kemudian menumpahkan air matanya ke bumi.


Dan inilah yang Luna benci dari hujan, karna hujan hanya akab menghambat aktifitasnya saja. Hari ini contohnya, gadis cantik itu terjebak di sebuah cafe yang berada di pusat kota.


"Sabar, Sayang. Aku sangat sibuk akhir-akhir ini. Kita bisa pergi akhir pekan ini, bagaimana?"


"Tidak buruk. Tapi kau harus membelikanku dua tas dan dua sepatu mahal, bagaimana?"


"Bukan masalah,"


Luna hanya memutar mata jengah mendengar perbincangan sepasang kekasih yang duduk dibelakangnya. Dia begitu terganggu dengan perbincangan mereka, yang menurutnya sangat kekanak-kanakan tersebut.


Luna menoleh dan tanpa sengaja iris coklatnya beraiborok dengan sepasang mutiara hitam milik si pria yang terlihat menyeringai padanya. Luna mendesah berat.


"Ck, kenapa harus bertemu dengan si mesum itu di sini sih? Membuat moodku semakin buruk saja," ucap Luna setengah menggerutu.


Pria itu terlihat bangkit dari kursinya kemudian menghampiri Luna yang sedang mendelik tajam padanya. "Mau apa kau kemari?" sinis Luna tak bersabat.


Sepertinya kita memang ditakdirkan untuk berjodoh, Nona. Buktinya kita selalu saja bertemu, bukankah itu adalah sebuah kebetulan yang manis?" ucap pria itu menyetingai.


"Cih!! Amit-amit tujuh turunan jika aku harus berjodoh dengan pria mesum sepertimu!!" sinis Luna menegaskan.


Jacksoon Wang terkekeh. "Sungguh gadis yang sangat menarik. Ini pertama kalinya ada seorang gadis yang berani menolakku. Kau sangat luar biasa Nona, aku jadi penasaran padamu!!"


Luna memutar mata jengah. "Dasar playboy cap kepala ikan. Sudahlah, aku masih banyak urusan. Berbicara denganmu hanya membuang-buang waktu saja! Minggir kau!!" Luna menubruk Jacksoon dan pergi begitu saja.


Jacksoon menarik sudut bibirnya. Pria itu menatap kepergian Luna dengan penuh arti. "Jangan pernah panggil aku, Jacksoon Wang!! Jika aku tidak bisa menjinakkan seekor macan betina seperti dirimu!!"


-

__ADS_1


GLUKK..


Susah payah Doris menelan salivanya saat angin tiba-tiba berhenbus disekitar lehernya, dan membuat bulu kuduknya berdiri. Doris menoleh, namun tak mendapati siapa pun, selain suasana sunyi yang sedikit menyeramkan


Kresekk..


Doris terlonjak kaget setelah mendengar suara-suara aneh dibalik semak-semak. Ia pun berdiri guna memastikan apa yang ada dibalik semak-semak tersebut, dan Doris bisa bernafas lega karna tetnyata hanyalah seekor anak kucing. Dan Doris pun menghela nafas lega.


Tubuh Doris tiba-tiba saja menegang, peluh membasahi hampir disekujur tubuhnya. Suaranya tercekat dan tertahan ditenggorokkannya ketika ia berbalik dan mendapati sosok wanita berbaju putih, berpumur darah ngesot di lantaim Wajahnya tidak terlihat karna tertutup rambut panjangnya yang menjuntai.


"Hihihi..."


Doris menoleh kebelakang ketika dia mendengar suara mirip orang yang sedang tertawa, tapi saat Doris menoleh, tak ada siapa pun di sana.


"Hihihi... Hihihi... Hihihi...."


Suara itu kembali terdengar dan kali ini lebih kencang dari sebelumnya. Doris melihat seorang bocah laki-laki berlarian tanpa busana, wajahnya putih dan kepalanya plontos. Bukan hanya itu saja, Doris juga melihat hantu tengkorak yang sedang menari.


"KKYYYYAAAA!!! HANTU!!!"


Doris berteriak sekencang-kencangnya dan lari dengan tunggang-langgang sambil sesekali menoleh kebelakang dan hantu-hantu itu pun masih tetap mengejar dibelakangnya. Termasuk sosok hantu wanita yang sedang ngesot ditanah.


-


Nathan menghentikan mobilnya dihalaman luas kediaman Hans. Pria itu segera turun dan kemudian masuk ke dalam. Rumah itu terlihat begitu sepi dan legang, bahkan beberapa penerangan dalam rumah itu pun telah di matikan. Tak mengherankan memang, mengingat ini sudah pukul 22.00 malam.


Semilir angin malam terasa lebih dingin dari malam-malam sebelumnya. Namun hal itu tidak lantas membuat Viona ingin pergi meninggalkan suasana kedamaian di balkon kamarnya.


Bukan lagi rahasia bila Viona memang suka melihat bintang kala malam tiba sambil mengingat kenangan yang telah lalu, atau sekedar mengkhayalkan masa depannya.


Lamunannya terhenti ketika ia mendengar derap langkah kaki seseorang yang sepertinya mendekat. Dengan refleks ia menoleh kearah suara langkah itu dan kulihat seseorang yang berjalan menghampirinya. Senyum dibibirnya mengembang begitu lebar ketika melihat siapakah gerangan yang datang.


"Oppa, kau sudah pulang," sebuah peluk cium langsung menyambut Viona ketika Nathan berada tepat dihadapannya.


"Kenapa tidak tidur dan malah berdiri di sini?"


"Dari sore Laurent rewel terus. Dia terus terbangun dan sulit untuk di tidurkan lagi. Aku tidak tau, karna tidak biasanya dia seperti itu," tutur Viona.


"Lalu sekarang?"


"Dia baru saja tidur dengan nyenyak. Oya, kau sudah makan malam? tunggu sebentar, aku akan memanaskan makanan untukmu,"


Nathan menggeleng. "Tidak perlu, karna aku sudah makan malam di luar. Sebaiknya kau masuk sekarang, udara di sini sangat dingin, dan aku tidak ingin jika kau sampai jatuh sakit!!"


Viona mengangguk. "Baiklah," jawabnya. Dan keduanya berjalan beriringan meninggalkan balkon dan masuk ke kamar. Malam ini mereka tidak pulang dan berencana untuk menginap di rumah Hans.


Nathan menghampiri si kembar yang sedang tertidur pulas diatas box bayinya. Sudut bibir Nathan tertarik keatas, jari-jari besarnya mengusap pipi Laurent dan Lucas secara bergantian.


"Malaikat-malaikat kecil, Papa. Papa sangat merindukan kalian, Nak." Mereka menggeliat oleh sentuhan Nathan, bahkan Laurent tersenyum dalam tidurnya.


"Mereka juga sangat merindukan, Papanya. Bahkan Mamanya juga," ucap Viona seraya berdiri di samping Nathan.


Nathan merubah posisi mereka. Sebelah tangannya menarik tengkuk Viona dan mencium singkat bibir ranumnya. Seolah tak puas, Viona balik mencium Nathan lebih panjang dan lebih dalam. Kedua tangannya mengalung pada leher Nathan, kedua mata Viona tertutup rapat, bibirnya terus memagut bibir Nathan atas dan bawah secara bergantian.


Nathan yang tidak suka di dominasi langsung mengambil alih ciuman tersebut. Dan ciuman kali ini sepenuhnya di kuasai oleh Nathan. Nathan terus memagut bibir Viona dengan keras, salah sebelah tangan Nathan membingkai wajah Viona. Dan ciuman yang semula lembut berubah menjadi ciuman panas yang menuntut.


Posisi mereka tidak lagi berdiri. Viona kini berada di bawah kungkungan tubuh Nathan. Malam yang terasa dingin ini akan mereka lewatkan dengan saling menghangatkan.

__ADS_1


-


Bersambung.


__ADS_2