
Riders tercinta, jangan lupa baca juga ya new novel Author yang judulnya DIPAKSA MENIKAHI TUAN MUDA CACAT tinggalkan like koment juga. 🙏🙏🤗
-
Luna merasa risih karrna sejak tadi ia dan Zian menjadi pusat perhatian. Banyak mata pria maupun wanita yang menatap mereka berdua dengan tatapan lapar, Ia sungguh-sungguh tidak merasa nyaman dengan tatapan-tatapan itu.
Zian yang menyadari ketidaknyamanan Luna pun tidak tinggal diam, semua orang yang semula menatap Luna serentak menundukkan wajahnya ada juga yang pura-pura menatap kearah lain karna ditatap setajam itu oleh Zian. Tatapan peringatan yang penuh Intimidasi.
"Oppa, kita pindah saja. Aku tidak nyaman disini!"
Zian mengangguk, menyetujui keputusan Luna. Memangnya suami mana yang rela jika Istrinya sendiri ditatap laki-laki lain dengan tatapan penuh hasrat seperti itu. Dan jika saja Ia tidak berada ditempat umum, pasti Zian sudah meledakkan kepala orang-orang itu satu persatu.
Namun sebelum pergi Zian mengirimkan pesan singkat pada Reno, memberi taunya jika Ia dan Luna sudah pergi kecafe yang berbeda. Rencananya Zian akan membahas sesuatu yang penting dengan Reno hari inim
Dan di sini mereka sekarang, disebuah cafe yang letaknya tidak terlalu jauh dari cafe yang sebelumnya. Di cafe tersebut mereka bisa merasa tenang karena cafe ini memiliki tempat privasi, mereka bisa berbincang dengan tenang tanpa harus meributkan keadaan sekitar.
Di sini mereka juga bisa lebih santai lagi tanpa takut orang akan mengawasi setiap gerak-geriknya. Karena ruangan ini kedap suara dan tidak terpasang camera CCTV.
Luna meninggalkan kursinya kemudian menghampiri Zian. Wanita itu duduk di atas pangkuan suaminya lalu mengalungkan kedua tangannya pada leher pria yang sejak lima tahun lalu menjadi suaminya.
"Di sini hanya ada kita berdua, tidak adakah kiss untukku?" ucap Luna sambil menggerakkan jari-jarinya di atas bibir kissable milik Zian.
"Tentu saja aja," jawab Zian dan kemudian menyatukan bibirnya pada bibir Luna.
Tubuh Luna seolah melumer saat ia merasakan bibir Zian mulai memagut bibirnya. Pria itu mencium, memagut, menyapu dan menggigit-gigit bagian bawah bibir Luna dengan sangat lembut dan hati-hati. Tak hanya itu, kedua lengan Zian yang merayap di pinggang dan punggungnya membuat kedua lutut Luna terasa lemas.
Jantungnya pun berdegup kencang ketika Zian dengan erat memeluknya untuk lebih leluasa menciumnya. Luna segera terhanyut. Wanita itu memindahkan tangannya, jari-jarinya Dengan lembut meremas surai keperakan milik Zian.
Dan dengan perlahan, ia mulai membuka bibirnya dan memiringkan kepalanya untuk menerima maupun membalas pagutan Zian yang semakin lama semakin dalam. Matanya terpejam untuk menikmati sensasi ciuman yang diberikan oleh Zian yang selalu bisa membuatnya mabuk kepayang.
Mereka berciuman lama. Saling memagut, mengecup, menggigit, dan menghisap. Gerakan lembut yang diciptakan keduanya seolah-olah menggambarkan bahwa mereka ingin menyampaikan perasaan masing-masing lewat ciuman yang hangat itu.
Kemudian Zian memindahkan Luna dan mendudukkan wanita di itu di atas meja dengan Zian yang berdiri di depannya sambil membingkai wajah cantiknya.
Mereka terus berciuman walaupun posisi mereka sekarang jauh berbeda dengan posisi sebelumnya. Mereka tidak lagi duduk dengan Luna di atas pangkuannya.
Keduanya mengakhiri ciuman yang panjang itu dengan sedikit terengah. Mata mereka saling menatap satu sama lain. Coklat bertemu Abu-abu. Keduanya saling menatap lama hingga jarak diantara mereka tak tercipta lagi karena mereka kembali berciuman.
Namun kali ini ciuman mereka lebih panas dari sebelumya. Zian semakin berani untuk mengecap semua titik di bibir maupun mulut Luna, sedangkan Luna yang tak mau kalah segera membalas ciuman suaminya. Ciuman panas mereka berlanjut, dan sesekali mereka berhenti sejenak untuk menghirup oksigen sebanyak-banyaknya karena asupan paru-paru mereka yang mulai menipis.
Desahan Luna teredam dalam ciuman panasnya dengan Zian yang semakin lama semakin terasa memabukkan. Wanita itu melenguh pelan saat Zian menciumi semua titik sensitif di sekitar leher maupun pundaknya dengan lembut. Terlihat beberapa bercak merah tanda kepemilikan di sana.
Luna merasa tubuhnya sedikit menegang saat ia merasakan Zian menyentuh dan meremas pelan bagian sensitif lain yang ada di dadanya. Ia pun hanya bisa menggigit bagian bawah bibirnya untuk menahan desahannya yang semakin menjadi-jadi karena semua hal yang dilakukan Zian padanya.
__ADS_1
Dan sementara itu...
Reno yang baru saja tiba buru-buru menutup kembali pintu di depannya, pria itu langsung berbalik badan dan kemudian berlari menuju kamar mandi.
Reno langsung mimisan melihat bagaimana panasnya Zian dan Luna yang sedang memadu cinta di dalam sana, meskipun bukan permainan inti, tapi hal tersebut lebih dari cukup untuk membuat dirinya mimisan.
Sepanjang jalan Reno terus saja menggerutu. Merutuki kegilaan Zian dan Luna yang tidak tau tempat, dan berbagai sumpah serapah Reno alamatkan pada pasangan pengantin tersebut.
"Dasar pasangan gila, mesum.. Apa mereka tidak bisa mencari tempat yang lebih aman untuk melakukan kegilaan seperti itu. Aisshh, membuat mata dan otakku semakin ternoda saja. Sial, aku kan jadi terangsa** juga,"
Reno tak mau ambil pusing meskipun banyak pasang mata yang kini tengah menatap aneh kepadanya. Reno mencuci hidungnya kemudian menyumpalnya dengan tisu untuk menghentikan pendarahannya.
Kemudian Reno meninggalkan kamar mandi dan kembali ke ruangan tempat Zian dan Luna berada. Dan kali ini Reno bisa menghela nafas lega, mereka sudah menyelesaikan aksi gilanya.
"Kenapa dengan hidungmu itu?" sebuah pertanyaan langsung menyambut kedatangan Reno di sana. Luna yang merasa penasaran langsung melayangkan sebuah pertanyaan pada Reno.
"Ini semua karena kalian berdua. Bagaimana kalian bisa melakukan hal mesum di tempat yang tidak tepat," protes Reno sambil mencerutkan bibirnya.
Luna menatap Reno. "Bwahahaha...." dan suara tawanya meledak seketika. Membuat Reno semakin kesal karenanya.
"Yakk!! Kenapa kau malah menertawakanku? Kau pikir itu lucu?"
"Hahaha, salah sendiri kau yang datang di saat yang tidak tepat. Aku jadi penasaran bagaimana reaksimu tadi saat melihat aku dan Zian Oppa sedang berciuman manja, kekekke.."
Tanpa menunggu ijin dari Luna dan Zian, Reno langsung duduk dan mulai menyantap makanan yang tersaji di atas meja. Sedangkan Zian dan Luna hanya bisa mendengus dan menggelengkan kepala melihat kelakuan sahabatnya tersebut.
Zian dan Luna segera bergabung bersama Reno. Kemudian mereka bertiga menyantap makan siangnya dengan tenang. Tanpa ada percakapan apalagi canda gurau, hanya terdengar suara dentingan sendok dan garpu yang saling bersentuhan memecah dalam heningnya ruangan.
-
Eric menghentikan mobil yang dia kemudikan di sebuah cafe yang letaknya tidak terlalu jauh dari perusahaan milik atasannya. Eric turun lebih dulu kemudian berjalan memutar dan membukakan pintu untuk Derby.
"Tuan, kita sudah sampai. Apa Anda tidak ingin turun?" tegur Eric dan segera membuyarkan lamunan Derby.
Tanpa mengatakan apapun Derby turun dan berjalan mendahului Eric. Eric mendesah berat, pria itu mengunci mobilnya kemudian menyusul Derby yang berjalan mendahuluinya.
Namun langkah kaki Eric terhenti ketika iris hitamnya tanpa sengaja melihat sebuah mobil yang sangat familiar terparkir tak jauh dari tempat dia memarkirkan mobilnya.
Eric terlihat mengeluarkan ponselnya dan segera mengetik sebuah pesan yang kemudian dia kirim pada seseorang. Dan tak ingin mendapatkan amukan dari Derby karena mengulur terlalu banyak waktu, Eric segera melanjutkan langkahnya.
Ting....!!
Sebuah pesan balasan masuk ke dalam ponsel Eric. Eric hanya membacanya kemudian memasukkan ponsel tersebut ke dalam satu celananya.
"Tuan, Anda ingin memesan apa? Biar saya yang memesankan untuk Anda,"
__ADS_1
"Seperti biasanya saja," jawab Derby datar.
"Baik, Tuan,"
Eric meninggalkan Derby dan pergi memesan beberapa makanan untuknya. Sesekali Eric melirik ke arah Derby dan menyeringai misterius.
Diam-diam dia menaburkan sesuatu ke atas makanan Derby sebelum pelayan menyajikan padanya. Tentu saja tanpa sepengetahuan siapapun termasuk pelayan.
"Derby Qin, nikmati saja hari burukmu. Aku sudah terlalu muak pada keangkuhan dan kesombonganmu!!" ujar Eric membatin.
Eric kembali pada Derby. Pria itu tidak terlalu menghiraukan Eric dan terlihat sibuk dengan ponselnya. "Aku ingin dokumen itu ada di atas mejaku hari ini juga," kemudian Derby memutuskan sambungan telfonnya dan meletakkan ponsel itu di atas meja.
Kemudian Derby mengangkat wajahnya dan menatap Eric dengan serius. "Bagaimana dengan hasil penyelidikanmu? Apa kau sudah menemukan Hacker itu?" tanya Derby memastikan.
Eric menggeleng. "Belum, Tuan. Dia seperti belum dan sangat sulit untuk ditemukan dan Anda harus bersabar," paparnya.
"Tidak berguna!! Kapan kau bisa bekerja dengan benar? Aku tidak mau tahu, segera temukan Hacker itu atau kau yang akan menanggung akibatnya!!"
"Saya mengerti, Tuan,"
Pembicaraan mereka di intrupsi oleh kedatangan pelayan yang datang membawa makanan untuk Derby dan Eric. Eric menyeringai ketika melihat Derby mulai menyantap makanannya.
"Selamat datang di neraka, Derby Qin!!"
Eric mengeluarkan ponsel dari dalam saku jasnya dan segera mengirimkan pesan pada seseorang secara diam-diam, kemudian fokusnya kembali pada Derby yang terlihat aneh, dia membuka beberapa kancing pada kemejanya.
"Tuan, ada apa? Apakah Anda baik-baik saja?" tanya Eric memastikan.
"Panas, uhhh... Kenapa tiba-tiba tubuhku terasa sangat panas. Aku... Ahhhh... Ingin... Uhhh... Aahhhh..."
"Tu-Tuan, apa yang terjadi pada Anda? Tuan, Anda kenapa?" tanya Eric pura-pura panik.
Derby menyentak tangan Eric kemudian menghampiri wanita yang duduk tak jauh dari tempatnya berada.
Tanpa banyak berkata-kata Derby langsung menyerang wanita itu dengan memagut kasar bibirnya. Dan hal tersebut tentu mengundang emosi orang-orang yang ada di sana.
Derby di pukuli dan di seret keluar kemudian tubuhnya di lemparkan begitu saja ke jalanan. Sementara itu, dari lantai dua cafe, seseorang tengah memperhatikannya dengan tatapan yang sulit di artikan.
Orang itu menyeringai melihat hal buruk yang dialami oleh Derby. Orang itu menyeringai tajam.
"Ini baru awal, Derby Qin. Tunggu dan lihat saja bagaimana aku akan menghancurkanmu!!"
-
Bersambung.
__ADS_1