Istri Kecil MR. Arogant

Istri Kecil MR. Arogant
BAB 19 "Mahkota Paling Berharga"


__ADS_3

Setelah mendengar permintaan gila Viona. Nathan memutuskan untuk membawa gadis itu meninggalkan apartemennya dan pergi ke tempat yang lebih ramai.


Bukan maksud Nathan membuat Viona kecewa dengan menolak keinginan gadis itu. Meskipun Nathan sudah mendengar alasannya, tapi Nathan tetap tidak bisa mengabulkannya. Nathan memang sangat mencintai Viona, dan karna alasan itulah Nathan tidak ingin mengambil mahkota Viona yang paling berharga kemudian menghancurkan masa depannya.


Menolak bukan berarti tidak menginginkannya... Nathan memang akan melakukannya , namun tidak sekarang. Dia akan menunggu sampai waktunya tiba, waktu di mana dia sudah menjadikan Viona sebagai miliknya yang seutuhnya. Dan mengikatnya dalam ikatan pernikahan.


Sepasang iris hazel milik Viona memindai sekelilingnya. Melihat para gadis dan wanita dewasa yang menatap mereka- ralat, namun pria yang duduk di depannya dengan wajah yang memerah dan tatapan memuja. Dan apa yang para gadis dan wanita itu lakukan membuat laki-laki yang datang bersama mereka hanya merutuk kesal, menggerutu atau semacamnya karna merasa diacuhkan.


Bukan salah Nathan jika dia terlalu tampan dan memiliki daya tarik yang tinggi untuk bisa menarik perhatian lawan jenisnya untuk memuja dan mendambakannya. Baik disadari ataupun tidak.


Viona yang sedari tadi duduk satu meja dengan Nathan mendengus dan memutar bola matanya jengah melihat tatapan semua mahluk yang satu gender dengannya, mereka memandang Nathan seperti gadis yang jatuh cinta pada pandangan pertama. Cara mereka memandang seolah-olah jika mereka ingin sekali menerkam Nathan yang sebenarnya sedari tadi tidak memberikan respon apa pun dan hanya memadang wajah datar.


"Ck." Nathan berdecak lidah. Memangnya orang mana yang tidak akan merasa risih jika di perhatikan terus menerun oleh sekumpulan wanita yang memang sengaja mencari meja yang berdekatan dengannya dan Viona. Mereka menjadi pusat perhatian.


"Oppa, bisakah kita pindah dari sini. Jujur saja , disini sangat tidak nyaman. Apakah tidak ada tempat yang lebih tenang dari tempat ini." gumam Viona sambil mendesah berat secara berulang-ulang.


"Kau ingin pindah ketempat yang lebih privasi?" tanya Nathan yang segera dibalas anggukan oleh Viona "Baiklah kita pindah saja, aku akan memesan ruangan tertutup untuk kita."


"Ya, dan aku rasa itu lebih baik."


Dan saat ini Viona bisa sangat bernafas lega... pasalnya tidak akan ada lagi puluhan pasang mata yang dengan genitnya menatap Nathan yang notbainnya adalah kekasih gelapnya.


Dan tempat ini bisa membuat Viona jauh lebih tenang karna suasananya yang dangat tenang, jauh dari keributan.


"By the way, pasti bajing** itu akan sangat marah dan kesal padamu karna kau menolaknya untuk ikut pulang bersamanya." ucap Nathan.


Tangannya sibuk memotong steak lalu menyuapkan kedalam mulutnya sendiri menggunakan garpu. "Aku takut jika dia sampai berbuat kasar padamu karna hal itu."

__ADS_1


Viona tidak langsung menanggapi ucapan Nathan. Gadis itu sibuk menyuapkan potongan tiramisu kedalam mulutnya , rasa manis dan pahitnya coklat langsung meleleh di lidahnya.. memberikan kesenangan tersendiri untuknya. Viona menusuk lagi potongan lainnya dan kembali mengunyahnya, semua kue yang disajikan di cafe ini memang yang paling terbaik.


"Aku tidak peduli dan aku tidak mau memikirkannya." Viona mengangkat bahunya acuh, tanda tidak peduli. "Dan bisakah kita tidak usah membahasnya."


"Hm, baiklah jika itu yang kau inginkan."


Usai makan malam, Nathan langsung mengantarkan Viona pulang kerumahnya mengingat jika waktu sudah pukul 10 malam. Setibanya di sana, Viona meminta Nathan untuk mampir dan dia tidak bisa menolaknya. Setelah mempersilahkan Nathan duduk, Viona langsung pergi kedapur untuk membuatkan minuman untuknya. Dan tidak sampai sepuluh menit Viona datang sambil membawa secangkir kopi pahit di atas baki kemudian menaruhnya di atas meja sebelum akhirnya duduk disamping Nathan.


"Oppa, kopinya." ucap Viona lalu memyimpan nampan yang kosong disampingnya duduk. "Oppa kau ingin menginap? Ini sudah larut malam, dan sepertinya akan turun hujan."


"Benarkah?" Nathan bangkit dari duduknya berjalan lurus menuju jendela kaca yang berada dibelakang sofa.


Laki-laki itu memandang langit yang berawan merah, pertanda akan turun hujan, angin yang bertiup pun terasa dingin membuat bulu-bulu halus pada lengannya berdiri karna kemeja lengan terbuka yang dia pakai. Nathan berbalik dan menghampiri Vional


"Sepertinya begitu, aku akan menempati kamar tamu."


Mata kanan Nathan yang tidak tertutup apapun mengikuti kemana arah kaki Viona melangkah sampai sosoknya menghilang di balik pintu kamar bercat putih elegan.


Nathan menarik turun benda hitam bertali dari mata kirinya kemudian beralih pada kasa dan plaster yang menjadi lapisan dalamnya lalu meletakkan diatas meja. Salah satu tangannya merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel pintarnya. Ia merasa lega karna kondisi mata kirinya yang sempat mengalami iritasi sudah semakin membaik.


"Oppa, kamarnya sudah siap. Aku juga sudah menyiapkan air hangat untukmu mandi, beberapa pakaianmu yang aku belikan hari itu masih belum kau sentuh.. kau bisa mengganti pakaianmu dengan itu." ujar Viona yang kemudian di balas anggukan oleh Nathan.


"Baiklah , Sayang. Ini sudah larut malam, sebaiknya kau segera tidur." Nathan mengecup singkat kening Viona sebelum melenggang pergi.


Selesai mandi, Nathan tidak langsung tidur. Laki-laki itu membuka laptopnya yang selalu ia bawah kemanapun dia pergi dan meletakkan di atas meja. Tak lupa Nathan juga mematikan penerangan dalam ruangan itu kemudian memusatkan perhatiannya pada layar monitor yang ada didepan matanya. Nathan menggerakkan jari-jarinya dengan lincah di atas keyboard sambil sesekali memindahkan pada mouse disamping keyboardnya.


Wajah tampannya berubah serius saat membaca rentetan tulisan berwarna merah yang memenuhi hampir diseluruh layar laptopnya.

__ADS_1


Nathan kembali beraksi dengan segala kemampuannya , jari-jarinya kembali menari di atas keyboard laptopnya. Setelah memastikan tidak ada kesalahan, Nathan menekan tombol enter dengan cukup keras. Seringai tajam tersungging disudut bibirnya.


"Kawan kecilku , sebentar lagi aku akan mengirim kalian untuk bermain bersama cacing-cacing tak bergunana itu." ucap Nathan sambil memperhatikan benda hitam berukuran kecil yang ia apit dengan kedua jarinya.


Itu adalah Virus yang Nathan ciptakan khusus untuk rival tercintanya. Nathan mengemas virus itu dalam empety software dengan mengabungkan antivirus didalam operasional sofeware. Virus itu memang tidak terlalu berbahaya namun cukup untuk menghancurkan sistem dalam perusahaan milik Derry Ardinata milik ayah Leo.


Nathan menyimpan card itu dalam tempat khusus yang telah ia siapkan kemudian menyimpannya didalam saku jasnya yang tergeletak diatas meja sampinh laptopnya. Melihat jam yang melingkari pergelangan tangan kirinya, jarum pendek berada diangka 12 sedangkan jarum panjang berada diangka 9. Artinya sudah hampir satu jam Nathan duduk diruangan gelap itu.


Mematikan layar laptop-nya kemudian bangkit dari duduknya dan menyalakan kembali penerangan dalam ruangan itu, Nathan berjalan meninggalkan kamar tamu yang dia tempati hanya untuk memastikan apakah Viona sudah tidur atau belum.


"Viona,"


Merasa namanya dipanggil. Viona yang baru saja keluar dari dapur menoleh dan mendapati Nathan berdiri diambang pintu kamarnya. Viona memperhatikan Nathan dari ujung rambut sampai ujung kaki, laki-laki bermarga Lu itu hanya memakai singlet hitam yang kontras dengan warna kulitnya yang seputih porselen dan jeans hitam panjang. Viona tersenyum kemudian menghampiri Nathan. "Kenapa belum tidur?" tanya Nathan memastikan.


"Aku memang selalu terbangun saat tengah malam dan susah untuk tidur lagi, padahal belum ada satu jam aku tidur. Lalu kenapa kau masih terjaga? Apa kau tidak bisa tidur karna kamarnya kurang nyaman?"


Nathan lantas menggeleng. "Bukan karna hal itu. Aku baru saja menyelesaikan pekerjaanku, lalu apa yang akan kau lakukan sekarang?" Viona tampak berfikir dengan meletakkan jari diatas bibirnya


"Entah, tapi aku selalu duduk ditaman belakang saat terbangun dan melihat bintang. Tapi aku rasa malam ini tidak ada bintang karna baru saja turun hujan." ujarnya


"Kalau begitu kembalilah kekamarmu, tidurlah lagi aku juga akan segera tidur." kata Nathan.


Viona menggeleng. "Aku sulit untuk tidur lagi jika sudah terbangun dan kadang sampai pagi." jawabnya


"Baiklah, aku akan menemanimu."


-

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2