
Di luar negeri yang jauh dari Korea, di sebuah Villa yang terletak jauh dari kebisingan kota. Ada seorang pria berambut blonde duduk sambil menemani sang istri tercinta memetik bunga yang ada di bukit belakang Villa tempat tinggal mereka. Wanita yang tengah berbadan dua itu terlihat begitu bersemangat meskipun matahari bersinar dengan teriknya.
Dan karena kehamilan itulah yang menjadi alasan utama kenapa mereka tidak bisa pulang kembali ke tanah air. Zian mencemaskan kandungan Luna yang baru seumur jagung, karena menurut Viona... wanita yang sedang hamil muda justru memiliki resiko lebih besar untuk mengalaminkeguguran daripada ketika usia kandungannya sudah di atas tiga bulan.
Itulah kenapa Zian memutuskan menetap di Yunani untuk sementara waktu, setidaknya sampai kandungan Luna benar-benar kuat dan tidak lagi beresiko. "Apa kau tidak lelah?" tanya Zian memastikan. Luna menoleh dan kemudian menggeleng.
"Aku masih ingin di sini, Oppa. Udara di sini begitu alami dan ini sangat baik untuk pertumbuhan janin di dalam perutku." Ucapnya sambil mengusap perutnya yang masih terlihat rata.
Luna tersenyum lembut. "Kenapa rasanya begitu lama, ya? Rasanya aku sudah tidak sabar menunggu dia hadir di tengah-tengah keluarga kita. Pasti akan sangat menyenangkan bisa melihatnya tumbuh menjadi anak yang sehat dan menggemaskan."
Zian menghampiri Luna kemudian berlutut di depan dia duduk. Zian mengarahkan wajahnya pada perut Luna yang masih terlihat rata kemudian menciumnya. "Hei, Nak. Bagaimana kabarmu hari ini? Papa, harap kau baik-baik saja di sana. Kami akan selalu menunggumu hadir dan melengkapi hidup kami. Jaga, Mama dengan baik dan jangan menyusahkanya." Ujar Zian.
Luna menarik sudut bibirnya dan tersenyum lembut. Hatinya kembali menghangat mendengar kata-kata Zian ketika dia berbicara dengan janin di dalam rahimnya. Luna berjanji akan menjaga janin itu dengan baik. Dia tidak akan membiarkan siapapun menyentuh apalagi sampai menyakitinya.
"Oppa, kita pulang sekarang. Tiba-tiba aku merasa lapar dan ingin makan sesuatu yang asam dan segar." Ujar Luna seraya bangkit dari posisi duduknya.
"Kau ingin jalan sendiri atau aku mengendongmu?" tanya Zian memberi penawaran.
"Jalan saja, aku sedang tidak ingin di gendong. Benarkan, Nak?" Luna menatap perutnya sambil mengusapnya dengan perlahan. "Sepertinya dia sedang tidak ingin manja pada, Papanya. Makanya dia ingin supaya aku jalan kaki saja," imbuhnya menambahkan.
Zian mendengus geli. Dan begitulah Luna yang sekarang. Selalu menggunakan janin di dalam rahimnya sebagai alasan untuk menolak ataupun meminta sesuatu. Dan Zian sudah hapal betul dengan hal itu.
"Baiklah kalau begitu. Jalan hati-hati dan jangan cepat-cepat,"
"Aku tau,"
Zian merangkul bahu Luna dan keduanya pun berjalan beriringan menuruni bukit. Tak jarang Luna menggoda Zian dan menjahilinya dengan menekan-nekan perban yang masih menutup luka di pelipis kanannya. Dan tentu saja hal itu membuat Zian kesal setengah mati. Tapi anehnya dia tidak bisa marah.
Sesampainya di Villa. Luna melihat sang kakak yang sedang duduk santai di ruang keluarga. Mengabaikan Zian yang hanya mendengus melihat tingkahnya. Kemudian Luna menghampiri Viona sambil memeluk puluhan tangkai mawar yang baru saja dia petik.
"Eonni, apa yang sedang kau lakukan?" kemudian Luna meletakkan bunga-bunga itu di atas meja. Perhatiannya kini tertuju pada Viona.
"Tidak ada, hanya membaca beberapa artikel tentang ilmu kedokteran. Tidak banyak yang bisa aku lakukan dan terlalu lama diam membuatku merasa agak bosan. Oya, banyak sekali bunga yang kau petik hari ini, Lun?"
"Mumpung naik ke bukit. Eonni, bagaimana kalau kau bantu aku merangkai bunga-bunga ini?" usul Luna seraya menatap Viona penuh harap.
Viona mengangkat bahu. "Eonni, rasa bukan ide buruk. Baiklah, ayo kita rangkai sama-sama," ucapnya yang kemudian di balas anggukan oleh Luna.
Zian menghampiri Nathan yang terlihat sibuk dengan laptopnya. Wajahnya menunjukkan keseriusan ketika dia menatap layar monitor tersebut. "Kau sudah kembali?" Nathan mengangkat wajahnya dan menatap sosok pria yang kemudian duduk berhadapan dengannya.
"Apa yang sedang kau kerjakan, Hyung?"
"Tidak ada, hanya memeriksa beberapa Email yang masuk. Kalian dari mana saja? Viona, sempat kebingungan mencari Luna." Nathan menutup laptopnya kemudian meletakkan di atas meja.
"Luna merengek dan mengatakan ingin memetik bunga di bukit di belakang Villa. Jadi aku membawanya pergi sebentar. Di mana si kembar dan ketiga pemuda itu?"
"Mereka sedang pergi ke luar. Laurent merengek minta ice cream." Terang Nathan. "Oya, Zian. Mengenai kakak sepupumu itu, apa kau sudah mengambil tindakan untuk menghancurkannya? Bukankah kau pernah mengatakan padaku jika kau ingin membuat perusahaannya bangkrut?"
"Aku memang masih belum mengambil langkah dan tindakan apa-apa, Hyung. Untuk saat ini aku tidak ingin memikirkan apapun. Aku akan lebih fokus pada kandungan, Luna dulu. Dan mungkin aku akan menunda kepulanganku ke Korea sampai Luna melahirkan. Jika di sana aku tidak bisa merasa tenang, pasti banyak sekali orang yang ingin membuatnya celaka dan salah satunya adalah Soojin. Akan lebih aman jika kami tetap berada di sini untuk sementara waktu," tutur Zian panjang lebar.
__ADS_1
"Aku sependapat denganmu. Memang lebih baik jika kalian di sini dulu. Dan sepertinya aku dan, Viona harus kembali lebih dulu. Perusahaan membutuhkan diriku apalagi aku meninggalkan pekerjaanku terlalu lama." Ujar Nathan.
"Aku mengerti, Hyung. Lagipula kami berdua akan baik-baik saja, dan aku juga akan menjaga Luna dengan sebaik-baiknya. Aku tidak akan membiarkan siapapun menyakiti dan melukai mereka berdua. Dan kapan kau berencana untuk kembali ke Korea?"
"Paling lambat Minggu depan dan aku sudah membicarakannya dengan, Viona. Viona setuju, karena dia yakin dan percaya jika kau pasti bisa menjaga dan melindungi Luna."
"Itu pasti, Hyung. Lagipula mana mungkin aku membiarkan hal buruk sampai menimpa mereka berdua. Oya, aku masuk dulu. Tubuhku rasanya lengket semua oleh keringat," ucap Zian yang kemudian dibalas anggukan oleh Nathan.
-
Musim dingin sudah berlalu. Warna putih salju yang membosankan kini berganti pink dan peach mendominasi sepanjang jalan.
Musim Semi....
Adalah musim dimana bunga-bunga mulai bermekaran, sakura salah satunya. Berkuncup kembang dengan indah di pohonnya, menguarkan aroma khas di indera penciuman manusia yang menghirup aroman,a, menebarkan udara nyaman saat melihatnya ataupun merasakannya, itulah musim semi.
Hari itu merupakan hari pertama di musim semi. Burung-burung terdengar berkicau dengan merdu diluar, pohon-pohon dan bunga-bunga tampak bermekaran memberi warna pada bumi yang baru saja di tinggalkan musim dingin.
Udara sejuk musim semi menyapa begitu Luna menginjakkan kakinya di sebuah bukit yang di tumbuhi oleh berbagai jenis bunga yang salah satunya adalah Mawar dan Daisy. Luna melihat ke atas, langit terlihat cerah dengan awan putih yang menghiasi.
Hamparan padang bunga Mawar dan Daisy menghiasi gundukan bukit. Satu per satu tangkai kedua bunga cantik itu bergerak kesana-kemari karna tertiup semilir angin musim semi. Matahari sudah menggantung di ufuk barat. Lembayung senja memayungi permadani langit. Nyanyian burung-burung camar mengalun dari seberang, memanggil jiwa yang lain agar turut serta bernyanyi bersama mereka.
Wanita itu berjalan meniti padang bunga Daisy dengan riang. Langkahnya berjalan seirama dengan kicauan burung camar. Daun-daun pohon maple berguguran menyelimutinya. Tanah bukit menebarkan bau basah yang begitu khas selepas di tinggalkan hujan.
Luna menginjakkan kakinya di hamparan padang bunga yang tengah bermekaran. Warnanya begitu elok dan menyejukkan mata. Campuran warna merah, pink dan putih berbaur menjadi satu. Tanah yang gembur terasa empuk dan nyaman di kaki kecilnya.
Wanita itu tak henti-hentinya berdecak kagum. Wangi bunga Mawar dan Daisy yang bermekaran menggelitik hidungnya, semerbak. Harum bunga membuatnya merasakan kenyamanan dan ketenangan.
"Oppa, lihatlah. Bukankah matahari yang hampir tenggelam terlihat begitu indah dan cantik dari sini? Langit senja di musim benar-benar terlihat indah dan berbeda. Bukankah begitu?" wanita itu tersenyum mana kala sepasang iris coklatnya bersiborok dengan iris abu-abu milik pria itu yang pastinya adalah Zian.
Saat ini kedua insan itu sedang berada di sebuah bukit yang berada di belakang Villa. Entah kenapa Luna tidak pernah merasa bisa meskipun setiap hari mendatanginya. Kali ini bukan untuk memetik bunga melainkan untuk melihat matahari yang mulai tenggelam di ujung barat.
"Kau menikmati pemandangan ini?" tanya Zian.
"Hum," Luna mengangguk. "Bagaimana mungkin aku tidak menikmatinya. Jika pemandangannya saja sebagus itu." Jawabnya."Bagaimana kalau kita mengambil foto? Pasti sangat indah hasilnya, apalagi dengan beckgroundnya secantik ini."
"Baiklah. Ayo kita lakukan," kemudian Zian merangkul bahu Luna.
Zian mengangkat ponselnya agak tinggi kemudian mengarahkan padanya dan Luna. Luna tersenyum sangat manis sedangkan Zian hanya mengurai senyum tipis. "Oppa, berikan ponselmu padaku. Aku ingin melihat hasilnya," Luna terlihat begitu antusias. "Kyyyaaa!! Apa aku kata. Benar-benar sangat cantik bukan? Sekarang aku akan berfoto sendiri. Tunggu, aku akan membuat mahkota dari bunga lebih dulu supaya hasilnya lebih sempurna." Tuturnya.
Dan setelah hampir sepuluh menit membuatnya. Mahkota itu pun sudah jadi. Luna langsung memakainya kemudian dia duduk di tepi danau sambil memeluk lutut dan lengannya sendiri. Gaun putih yang membalut tubuhnya membuatnya terlihat begitu sempurna. Tidak salah bila Zian bisa sampai jatuh cinta padanya.
"Sempurna,"
Kemudian Luna bangkit dari posisinya dan menghampiri Zian untuk melihat hasil jepretan suaminya. Luna tersenyum puas, hasilnya benar-benar sempurna. "Bagaimana? Apa kau menyukainya?" tanya Zian pada wanita di sampingnya.
Luna mengangguk antusias. "Ini sangat sempurna, Oppa. Dan aku sangat menyukainya. Sudah hampir petang, bagaimana kalau kita kembali sekarang?" jalanan akan sedikit sulit di lewati jika sudah gelap. Zian membalas dengan anggukan. Tadinya dia yang ingin mengajak Luna untuk pulang. Tapi ternyata wanita itu malah mengajaknya terlebih dulu.
__ADS_1
-
Awan berarak dengan sangat lamban, seakan-akan ada roda otomatis yang membawanya melewati udara yang berhembus pelan, beratapkan langit yang luas tanpa batasan. Angin menembus rimbunnya daun pepohonan, kehangatannya membawakan nyanyian penuh kebahagiaan di tengah musim kumpulan bunga berkembang.
Sesekali, akan ada warna pink terang tersebar lepas, mengingatkan dunia bahwa sekotor dan senista apapun kehidupan, akan selalu ada keindahan tak ternilai yang tersimpan.
Dua bola mata coklat dan abu-abu itu bereaksi pada gerakan dan warna tertentu, tangan yang terbuka diangkat dan terkatup untuk menangkap. Sepasang mutiara coklat itu menatap sekilas pada benda yang tergenggam oleh jari-jari lentimnya, sehelai mahkota sakura dengan segarnya warna simbol musim semi.
Dia sambut angin lalu dengan telapak tangannya, membiarkan sang mahkota merah muda untuk kembali melanjutkan perjalanannya di udara. Bibir tipis itu menyungging senyum hangat mana kala ada jari-jari besar yang mengusap perutnya yang sedikit membuncit.
"Hanya tinggal 5 bulan lagi," dia berbisik pelan, rambutnya yang panjang sepinggang berkibar tertiup angin, membuat wajahnya yang cantik dan matang dalam kedewasaan seperti dirangkul oleh tirai sutra biru. "Dia akan berkumpul dan hadir ditengah-tengah keluarga kita, rasanya aku begitu tidak sabar menantikannya," bibir itu tersungging dan membentuk tirai indah di sudut bibirnya.
"Ya, dan aku sudah tidak sabar menunggunya untuk memanggilku, Papa." Zian berbisik di depan perut Luna.
Kandungan Luna sudah memasuki bulan keempat. Tidak terasa memang, dan artinya hanya tinggal lima bulan lagi maka mereka berdua akan bisa berkumpul bersama buah dari cinta mereka berdua. Sama halnya dengan Zian, Luna juga sudah tidak sabar, dia ingin anaknya cepat lahir kemudian tumbuh kemudian memanggilnya Mama!!
Hatinya terasa begitu hangat membayangkan ketika seorang bocah berjalan tertatih-tatih kearahnya sambil terus memanggilnya 'Mama' dengan senyum polos yang menjadi ciri khasnya. Luna tersenyum membayangkan moment itu tiba.
"Aaahhh, Oppa... Lihatlah, dia menendang," kemudian Luna mengangkat tangan Zian dan mengarahkan pada perutnya. Perut Luna kembali bergerak. "Aaahhh, dia menendang lagi. Oppa, kau merasakannya juga bukan?" Zian mengangguk.
"Itu artinya dia tumbuh dengan sehat di dalam sana. Udara di sini semakin dingin. Sebaiknya kita masuk, aku tidak ingin jika kau sampai sakit," Luna tersenyum kemudian mengangguk.
"Baiklah,"
-
"Oppa, dapurnya," rengek Luna sambil menunjuk ke arah dapur.
"Ada apa dengan dapur?" tanya Zian.
Luna menelan ludahnya gugup. Dia tahu saat ini akan datang. "Hancur," lirihnya, tapi masih cukup jelas untuk di dengar oleh Zian.
Zian memicingkan matanya dan menatap Luna penasaran. "Bisa kau ulangi?" Suara pria itu dalam, membuat Luna meringkuk ketakutan seperti anak umur 5 tahun yang dimarahi oleh ibunya.
Jemari wanita itu meremas-remas dress yang membalut tubuhnya. Kedua matanya bergerak liar. "Aku menghancurkan dapur." Jawab Luna pada akhirnya.
Zian memutar tubuh Luna menghadapnya. "Kau terluka?" Matanya langsung mencari-cari luka yang mungkin sedang disembunyikan istrinya. Nihil. Tapi, dia masih panik. "Apa kau terluka?" ulangnya, masih dengan nada panik yang sama.
Luna menggeleng. "Aku baik-baik saja." Dia menyentuh lengan Zian, mencoba meyankinkan pria itu jika dirinya memang baik-baik saja."Tapi, dapurnya benar-benar hancur. Aku tadi ingin membuatkanmu omelet tapi malah gagal," jelasnya. "Aku benar-benar minta maaf. Tanganku memang tidak berguna." Luna menatap Zian dengan penuh rasa bersalah.
Tangan di sebelah sisi tubuhnya terkepal. "Aku tidak peduli dengan dapurnya, Sayang. Aku juga tidak peduli meskipun Villa hancur. Karena yang penting bagiku adala keselamatanmu. Aku tidak mau kau terluka." Zian menatap dalam-dalam ke manik conlat yang gundah itu, mencoba meyakinkan pemiliknya untuk tidak merasa bersalah.
Zian mengambil kepalan tangan Luna ke depan wajahnya. Satu per satu jari itu dicium oleh Zian. "Tanganmu sangat berharga, tanganmu yang selalu menyentuhku, memberikanku perasaan nyaman." Zian beralih mengusap lembut wajah Luna yang mulai berderai air mata.
"Hanya karena kau tidak bisa memasak, bukan berarti tanganmu tidak berguna, Sayang."
Luna menyeka air matanya dab langsung memeluk Zian. "Aku mencintaimu, Oppa. Benar-benar mencintaimu." gumamnya di telinga Zian.
Zian tersenyum tipis dan kemudian membalas pelukan Luna. "Aku juga mencintaimu, sangat mencintaimu,"
__ADS_1
-
Bersambung.