
Mampir juga ya ke new novel Author. "Vampir Cantik dan Sang Pemburu" jangan lupa like koment juga. Author up 5 bab sekaligus 🙏🙏🙏
"Kakek, kami datang,"
Suara Viona melengking dan memenuhi setiap sudut ruangan. Wanita itu meninggalkan Nathan beberapa langkah dibelakangnya. Viona bersikeras ingin pergi menemui Kakek Xi. Awalnya Nathan tidak berniat pergi karna masih harus menyelesaikan pekerjaannya.
Kakek Xi yang mendengar suara cucu menantu kesayangannya segera turun dari kamarnya dan menghampiri mereka berdua. "Cucu menantu, Kakek di sini,"
"Omo!!" Viona terlonjak kaget, nyaris saja dia terkena serangan jantung dadakan setelah melihat penampilan Kakek Xi yang begitu cetar membahana. Sedangkan Nathan hanya bisa mendengus dan menggelengkan kepala.
"Kakek tau kalau Kakek ini tampan. Jadi jangan memandang Kakek seperti itu. Sudah waktunya makan malam, ayo kita makan malam sama-sama,"
.
.
Setelah makan malam. Kakek Xi mengajak Viona ke sebuah ruangan di lantai teratas rumah mewah ini. Mansion milik Kakek Xi memang terdiri dari tiga lantai dan terdapat banyak sekali ruangan di dalamnya. Mereka sampai di sebuah ruangan yang cukup besar yang terdapat di lantai tiga. Banyak barang antik di dalam ruangan ini, dan pada dindingnya dipajang foto-foto berderetan. Mulai dari gambar yang masih berupa lukisan, foto hitam putih, sampai yang foto berwarna.
"Ini ruangan apa, Kakek? karena bingung Viona memutuskan bertanya pada pria tua itu.
Kakek Xi menghentikan langkahnya begitu pula dengan Viona. Mereka berdua sekarang berdiri tepat di depat deretan foto-foto yang terpajang di dinding.
"Ini adalah potret para pemimpin keluarga Xi dari masa ke masa. Yang kedua dari paling ujung kanan itu adalah ayah Nathan, dan yang paling ujung di sebelahnya itu adalah putra sulungku, Pras. Dia meninggal dalam kecelakaan ketika berusia 25 tahun,"
Viona memandang pria tua disampingnya dengan tatapan sendunya, ada kerinduan yang tersirat dalam kata-katanya.
"Oya, Nathan mengatakan padaku jika usia kandunganmu memasuki minggu kesepuluh. Kandunganmu sangat sehat, bayinya juga bertumbuh dengan sangat baik. Dan kelak dia yang akan menjadi penerus Papanya,"
Viona tersenyum mendegar perkataan Kakek Xi, ia mengusap lembut perutnya.
"Ia pasti akan tumbuh dengan baik, ia akan dicintai dan disayangi. Tidak sepertiku," lirih Viona dengan mata berkaca-kaca.
Kakek Xi memandang bingung pada cucu menantunya itu.
__ADS_1
"Kakek, sebenarnya aku memiliki seorang Bibi. Dia adik kandung dari Ibuku dan dia sangat membenciku. Dulu saat aku masih kecil dia selalu mengatakan jika aku ini adalah anak haram dan anak pembawa sial," Viona menundukkan wajahnya yang berurai air mata.
Kakek Xi seolah tidak mempercayai apa yang baru saja Viona sampaikan padanya. Dia tidak menyangka bila cucu menantunya itu memiliki kisah masalalu yang kelam. Kakek Xi segera menarik Viona ke dalam pelukannya. Ia memahami betul apa yang tengah dirasakan oleh wanita dalam pelukkannya ini. Karna Kakek Xi juga pernah berada diposisi Viona ketika masih muda dulu.
"Sayang, kalau kau lelah ingatlah kau punya aku Kakek dan Suaminu. Kami akan selalu menerimamu, karena kau adalah harta paling berharga dalam keluarga ini," kata Kakek Xi tulus.
Viona menyeka air matanya. Sungguh ia merasa beruntung karna bisa mengenal orang seperti Kakek Xi di dunia ini. "Oya, Kakek. Kemana perginya Nathan Oppa? Kenapa aku tidak melihat dia setelah makan malam, apakah dia sedang pergi?" tanya Viona penasaran.
"Suamimu sedang pergi mengurus sesuatu bersama Park Yoong, dan mungkin akan kembali sebentar lagi. Ayo, Kakek akan menunjukkan tempat lain padamu,"
"Siap Kakek,"
-
Kawan pun akan menjadi musuh, kadang hal itu akan wajar-wajar saja terjadi, Donny Kin sama sekali tidak mengetahui bahaya yang tengah mengancam dirinya dan seluruh anggota organisasi setelah dua orangnya menghilang tanpa jejak.
Donny Kin kembali ke markas utama, para pengawalnya mengatakan jika Lucky di bawa pergi oleh seseorang. Donny sangat marah dan meminta untuk memanggil Rotaro.
"Ada apa tuan?" Ucap Rotaro.
"Baik tuan." Ucap Rotaro dan bergegas pergi, dia selalu bekerja sendirian dan tidak perlu bantuan siapa pun.
Ruangan Donny Kin kembali tenang, seorang pengawal berjalan masuk dan terburu-buru, dia tengah menyampaikan informasi jika Izumi, istri Donny Kin tengah di incar seseorang kediaman Kin di serang begitu saja. Donny sangat terkejut, itu adalah alasan kenapa Izumi tiba-tiba di bawa ke Busan. Karna di sana ada Zerro yang akan melindungi Izumi.
"Bagaimana dengan Zia?" Ucap Donny. Zia sendiri adalah adik yang paling Donny sayangi dan satu-satunya saudara yang Donny miliki.
"Nona baik-baik saja, Rico sudah membawa dia ke tempat yang aman."
"Kumpulkan semua orang dan kita harus segera bertindak, aku harus segera menghancurkan akar permasalahan ini." Ucap Donny Kin, dia terlihat sangat marah. Ada kempolotan lain yang berani mengusik keluarga mafia ini. Dan tentu saja Donny tidak akan tinggal diam.
"Baik Tuan,"
-
__ADS_1
Nathan hanya menatap datar seonggok daging yang terkulai dilantai dalam keadaan setengah membusuk. Sudah dua hari satu malam mayat itu dibiarkan tertelerak di lantai. Park Yoong tidak langsung menbuangnya ataupun membakarnya. Dia masih menunggu keputusan dari Nathan.
Nathan mengarahkan kakinya pada tubuh mayat tersebut dan meludah. Beruntung dia memai masker berlapis sehingga bau busuknya tidak sampai terhirup sampai keorgan reparasinya. "Kirim mayat ini pada Tuannya. Dan sedikit berikan kejutan kecil untuknya, aku ingin melihat bagaimana reaksi pria itu. Satu lagi, awasi terus pria bernam Sammy itu. Alu ragu padanya, jika dia berani bertindak macam-macam, langsung bunuh saja!!"
"Baik Tuan,"
Nathan meninggalkan ruangan tersebut. Park Yoong segera menyuruh anak buahnya untuk mengurus mayat Alonso dan mengirimkan pada alamat yang diberikan oleh Sammy tadi sore. Park Yoong segera mengyusul Nathan yang sudah pergi lebih dulu
"Tuan, selanjutnya Anda ingin pergi kemana lagi?" tanya Park Yoong.
"Pulang, aku tidak ingin membuat Viona kebingungan karna aku pergi teralu lama,"
"Baik Tuan,"
-
Nathan tiba di mansion Kakek Xi pada pukul 10 malam dan mendapati Viona sudah tertidur lelap. Wajahnya terlihat sembab, seperti habis menangis. Nathan mendekati Viona kemudian duduk disamping wanita itu berbaring. Jari-jari besarnya mengusap kepala Viona dengan penuh kelembutan.
Melihat wajah polos Viona ketika sedang tidur membuat sudut bibir Nathan tertarik keatas. Hatinya begitu menghangat, sungguh betapa Nathan merasa betuntung memiliki istri seperti Viona yang bisa menerimanya apa adanya, bahkan Viona tak pernah mengeluh meskipun terkadang dia bersikap dingin padanya. Viona selalu sabar menghadapi dirinya. Jika diibaratkan, Viona seperti api yang bisa memadamkan api ketika api itu berkobat tak terkendali.
Dan gerakkan tangan Nathan membuat tidur Viona terusik. Wanita itu membuka matanya yang sebelumnya tertutup.
"Maaf memangunkanmu," sesal Nathan.
"Oppa, kau baru pulang?" kemudian Viona merubah posisinya menjadi duduk. Posisinya dan Nathan saling berhadapan. Kemudian Nathan mebarik bahu Viona dan membawa wanita itu kedalam pelukkannya.
Nathan meletakkan dagunya diatas kepala coklat Viona. "Maaf, karna sering meninggalkanmu secara tiba-tiba," ucapnya penuh sesal.
Viona menggeleng. "Tidak apa-apa,Oppa. Aku bisa mengerti dan memahaminya, kau tidak perlu minta maaf," ucapnya. Viona melonggarkan pelukkan Nathan dan tersenyum lebar. Kedua tangannya menakup wajah Nathan kemudian mengecup singkat bibir kissabelnya. "Aku masih sangat mengentuk, bisakah Oppa menemaniku tidur dan memelukku sepanjang malam?" tanya Viona memohon.
Nathan mengengguk. "Tentu Sayang," Nathan menarik Viona untuk berbaring disampingnya, menggunakan lengan kirinya sebagai bantalan kepala wanita itu. Dan dekapan hangat Nathan segera menghantarkan Viona kealam mimpinya.
"Goodnight Sayang, aku mencintaimu," bisik Nathan kemudian menutup matanya. Dan dalam hitungan detik pria itu mengikuti jejak Viona dan pergi kealam mimpi. Nathan benar-benar merasa lelah, bukan hanya tubuhnya tapi juga batinnya.
__ADS_1
-
Bersambung